Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 76



Papa terdiam mendengar perkataanku,ia tak lagi menyangkal ucapanku.


"Kau begitu terluka mendengar ucapan Papa,kau pergi meninggalkan rumah ini tanpa pernah menoleh lagi kebelakang.Kau bahkan tidak ingin datang dan melihat wajah papa lagi" ujar papa,air matanya berlinang membasahi pipinya.


"Tidak, Pa! itu tidak benar" sergahku sambil terus menangis.


"Dalam kemarahan, Papa telah melakukan kesalahan,papa sudah menyakiti hatimu.Papa tega mengusirmu dari rumah,bahkan papa tidak sadar jika Papa sudah membuatmu semakin menderita karena ucapan papa itu.Tapi kenapa kau tidak bisa memahami kemarahan Papa".


"Papa kira kau adalah Papa,dan Papa adalah dirimu.Jadi papa pikir kau sudah paham bagaimana kemarahan Papa,tapi ternyata.....hiks hiks" ujar Papa tak mampu lagi meneruskan ucapannya,air matanya tumpah ruah membasahi kedua pipinya.


"Bukankah tugas seorang anak adalah mendatangi orangtuanya dan meminta maaf padanya,lalu tugas orang tua adalah memaafkan semua kesalahan anaknya,tapi kenapa kau tidak pernah mendatangi Papa?".


"Papa ini memang bodoh!.Papa lebih mementingkan kedudukan dan kehormatan dari pada kebahagiaan anak Papa sendiri".


Jika memungkinkan, maafkanlah lelaki tua ini.Maafkanlah ucapan Papa yang menyakiti hatimu," ujar Papa sambil menangis tersedu-sedu,ia berbalik menghadapku dan ikut bersimpuh dihadapanku,kedua telapak tangannya ia satukan didepan dada memohon maaf padaku.


""Tidak, Pa,kumohon jangan lakukan ini.Jangan meminta maaf pada Kania, karena ini bukanlah kesalahan Papa" sergahku,kupegang tangan Papa agar tak melakukan hal itu.


"Maafkanlah Papa,nak, Papa sangat menyesal!" ujar Papa sesenggukan.


"Tidak,Pa,harusnya Kania yang meminta maaf ke Papa, Kania memang bodoh, Kania tidak bisa memahami kemarahan Papa" ujarku terus menangis.


"Ya,kau memang anak yang bodoh,dan karena kebodohanmu itu kita harus lama hidup terpisah" ujar Papa sambil menghapus air matanya dan kemudian menampar kedua pipiku pelan,ada kasih sayang yang mengalir disetiap tamparannya.


"Lakukan itu terus pa, tampar Kania!,tapi tolong maafkan kesalahan kania" ujarku.


"Papa memang harus menamparmu,jika perlu sepanjang hari Papa akan menamparmu agar otakmu itu bisa sedikit pintar" ujar Papa sambil terus menamparku,setelah itu ia pun tertawa menyadari perbuatannya.


Aku pun ikut tertawa bersama Papa,kemudian kami kembali menangis sambil berpelukan,tapi kali ini bukanlah tangis kesedihan melainkan tangisan bahagia.


Mas Abhi dan bik Ijah yang sedari tadi memandangi kami pun ikut terharu melihat bersatunya kembali aku dan Papa.


Setelah puas menumpahkan semua air mata,kami pun mulai melepaskan pelukan.


"Oh ya Pa,kenalin ini suami Kania,namanya Mas Abhimana!" ujarku memperkenalkan Mas Abhi pada Papa.


"Papa sudah tahu!, Papa bahkan sempat menghadiri pernikahanmu waktu itu" ujar Papa.


Aku terkejut mendengar pengakuan Papa.


"Jadi waktu itu Papa juga datang ke pernikahanku!" ujarku.


"Tentu saja,mana mungkin Papa tidak datang ke pernikahan anak Papa sendiri,ya walaupun itu dari kejauhan".


"Kau itu memang bodoh,kau bahkan tidak mengundang Papamu sendiri dan tidak mau meminta restu dari Papa" ujar Papa.


"Maafkan Kania, Pa! Kania tidak bermaksud begitu,tapi sekarang Papa mau kan merestui pernikahan kami?" ujarku penuh harap.


"Tentu saja!, Papa sangat merestui pernikahan kalian" ujar Papa sambil tersenyum kearahku.


"Kemarilah,nak!,biarkan Papa memeluk menantu Papa" ujar Papa memanggil Mas Abhi.


Mas Abhi pun segera menghampiri dan memeluk Papa,mereka saling memeluk dengan penuh kehangatan.


"Terimakasih,nak karena kau sudah mau menerima Kania apa adanya.Papa percayakan Kania padamu,jaga dan sayangilah dia dengan sepenuh hatimu.Dan jika kau sudah bosan dan tidak menginginkannya lagi,maka kembalikan saja dia ke Papa, Papa akan menerimanya dengan senang hati,tapi Papa mohon jangan pernah kau menyakiti hatinya,karena dia sudah banyak menderita selama ini" nasehat papa pada Mas Abhi.


"Papa percaya dengan ucapanmu, nak, tapi tunggu dulu,kau memanggilku apa tadi?" tanya Papa.


"Saya tadi memanggil dengan sebutan om,memangnya kenapa? ada yang salah ya dengan ucapan saya?" ujar Mas Abhi bertanya balik.


"Kok,om sih.Harusnya kamu itu memanggil Papa,bukannya om,kan sekarang kamu sudah menjadi menantu Papa!" ujar Papa.


"Baik,om,eh Papa"ujar Mas Abhi salah tingkah.


"Nah gitu dong,gitu kan lebih enak!" ujar Papa sambil tersenyum.


Kami pun ikut tersenyum melihat senyum diwajah Papa.


"Oh ya,dari tadi kok Papa nggak lihat anak kamu,siapa namanya itu..."ujar Papa sembari mencoba mengingat-ingat nama anakku.


"Emir,pa! nama anak Kania, Emir!" sahutku.


"Iya itu maksud Papa, Emir! mana dia? kenapa tak kau ajak kemari juga?" tanya Papa.


Aku terdiam mendengar pertanyaan Papa,aku bingung bagaimana menjelaskannya.


"Kenapa kau malah diam,ayo cepat katakan dimana Emir? Papa ingin memeluknya sekarang!" ujar Papa.


"Semua sudah terlambat, Pa!, Papa tidak akan pernah bertemu dengan Emir" jawabku akhirnya,wajahku kembali sedih teringat akan Emir.


"Kenapa Papa tidak bisa bertemu dengannya, Kania? apa kau masih marah dengan Papa hingga kau tak ingin Papa bertemu dengannya?" tanya Papa.


"Bukan begitu,pa!, Kania tidak marah dengan Papa" sergahku cepat,aku takut Papa salah paham lagi denganku.


"Kalau bukan itu lalu apa? kenapa Papa tidak bisa bertemu dengannya?" tanya papa sedikit memaksa.


"Karena dia memang sudah tidak ada! dia sudah meninggal" teriakku histeris,air mataku tumpah seketika.


"Maksudmu apa? jangan bercanda kamu, Kania!" ujar Papa emosi.


"Itu benar, Pa, Emir memang sudah meninggal!" ujar Mas Abhi,kali ini dialah yang menjawab pertanyaan Papa.


"Bagaimana bisa? apa yang sudah terjadi?" teriak Papa tak percaya.


"Semuanya terjadi begitu cepat,Pa,kita bahkan tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini" ujar Mas Abhi.


"Jelaskan sekarang pada Papa!. Tunggu apalagi,ayo cepat ceritakan!" ujar Papa setengah memaksa.


"Semuanya terjadi setelah kita resmi menikah.Tiba-tiba saja Arsen datang,ia marah dan tidak terima dengan pernikahan kami,para undangan pun mengusirnya dari sana,kemudian ia pun pergi setelah mengancam kami".


"Selang beberapa hari dia menculik dan mengancam akan membunuh Emir kalau Kania tidak mau menikah dengannya".


"Kami pun sepakat membuat rencana untuk mengelabuhi dia dengan cara berpura-pura mau menikah dengannya,tapi saat Arsen tahu,ia pun marah dan membawa lari Emir".


"kami pun berusaha mengejarnya,kemudian polisi mencoba menghentikannya dengan cara menembak kakinya.Tapi sayangnya saat Arsen terjatuh,Emir pun ikut terlempar ketengah jalan dan tertabrak sebuah mobil yang kebetulan melintas hingga ia pun terpental ke seberang jalan".


"Kami sempat membawa Emir ke rumah sakit,dan dokter pun mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya.Tapi Kemudian ia mengalami koma selama beberapa hari dan akhirnya nyawanya sudah tidak tertolong lagi, Emir pergi meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya"ujar Mas Abhi menjelaskan secara singkat pada Papa,sedangkan aku tidak bisa lagi berkata apa-apa,air mataku tumpah ruah mengingat kejadian naas yang merenggut nyawa Emir.


"Kurang ajar!,berani sekali dia melakukan ini pada putriku!" teriak Papa marah.