Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 84



"Kenapa kalian terlihat sangat tegang? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dinda kebingungan.


"Kebetulan kau ada disini, nak!. Kami ingin memberitahumu sesuatu yang penting" jawab Papa.


"Masuklah kalian semua keruangan Papa!, Papa akan mengatakan semuanya didalam".


Kami pun mematuhi perintah Papa dan masuk keruanganya, sedangkan Dinda semakin kebingungan dibuatnya, tapi tak urung jua dia pun ikutan masuk.


Sesampainya didalam kami pun duduk di kursi dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Papa.


"Dinda, om sudah mendapatkan bukti-bukti tentang kejahatan pamanmu terhadapmu!" ujar Papa mulai membuka suara.


"Benarkah!" ujar Dinda dengan raut muka tak percaya.


"Syukurlah akhirnya kebenaran itu terungkap sudah. Sekarang mana bukti-bukti itu Om!, aku akan segera melaporkannya ke polisi".


"Tunggu dulu Din!, ada hal penting lain yang ingin Om sampaikan ke kamu!" ucap Papa.


"Ada apa lagi, Om?" tanya Dinda.


"Ternyata selain membunuh keluargamu, pamanmu juga sudah melenyapkan keluarga Abhimana!" ujar Papa.


Dinda sangat terkejut mendengar penuturan Papa.


"Apa??".


"Ya, itu benar!. Ini bahkan terjadi jauh sebelum apa yang menimpamu" lanjut Papa.


"Ma maafkan aku Bhi!, aku sungguh tidak tahu mengenai hal ini" ujar Dinda, ia merasa ikut bersalah atas kejadian yang menimpa keluarga Mas Abhi.


"Ini semua bukan kesalahanmu, Din!. jadi kau tak perlu minta maaf padaku!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum kearah Dinda.


"Dan bukan hanya pada keluarga Abhimana saja, pamanmu bahkan banyak melakukan kejahatan lainnya. Ini semua ia lakukan atas hasutan dari nenekmu!, ibu kandung dari Alex, pamanmu!" ujar Papa meneruskan ucapannya tadi.


Dinda semakin terkejut mendengar penuturan Papa.


"Jangan-jangan kematian kakek waktu itu yang terkesan mendadak juga ulah dari mereka!" ujar Dinda menduga-duga.


"Kemungkinan memang iya. Kami menduga jika nenekmu menderita kelainan jiwa, itu sebabnya ia sangat suka menyakiti orang lain" tukas Papa.


"Untuk itulah kami berencana untuk membalas semua perbuatan mereka!" sambung Mas Abhi.


"Apa rencana kalian?" tanya Dinda.


Papa pun menjelaskan semua rencana yang sudah ia sepakati bersama Mas Abhi tadi.


"Kenapa kita tidak melaporkannya langsung ke polisi? bukankah lebih baik jika kita menyerahkan kasus ini ke pihak yang berwajib" ujarku tak setuju dengan rencana mereka.


"Penjara bukanlah hukuman yang setimpal untuk mereka, nak!. Lagi pula jika kita menyerahkan hal ini ke polisi, bisa saja ia menggunakan uang dan kekuasaannya agar bisa lolos dari hukuman" ujar Papa memberi penjelasan.


" Yang dikatakan Papamu itu benar, Nia. Aku sudah pernah melaporkannya ke polisi, tapi ternyata dia bisa meloloskan diri" ujar Dinda ikut menimpali.


"Tapi bagaimana jika mereka menuntut balas lagi pada kita?" sanggahku.


"Papa akan memastikan mereka tidak akan bisa melakukannya!" jawab Papa meyakinkanku.


...****************...


Hari ini Papa dan Mas Abhi mulai menjalankan rencananya. Mula-mula mereka menghasut para pemegang saham untuk menarik saham mereka dari perusahaan alex, dan para pemegang saham itu pun dengan suka rela melakukan apa yang dikatakan olehnya, karena mereka tergiur dengan iming-iming yang ditawarkan Papa ke mereka.


Alex pun kalang kabut saat mengetahui saham perusahaannya anjlok secara tiba-tiba, ia pun marah besar dan memecat sebagian karyawannya hingga membuat keadaan semakin kacau. Saat itulah perlahan-lahan perusahaan Alex mulai goyah.


Setelah rencana pertama dirasa berhasil, mereka pun melanjutkan ke rencana yang kedua, yaitu membuka semua kejahatan Alex selama ini dihadapan publik.


Benar saja, sesuai dengan perkiraan Papa, perusahaan Alex pun bangkrut seketika saat berita itu mulai tersebar, dan ia pun jatuh miskin.


Setelah rencana kedua dirasa juga berhasil, mereka pun melanjutkan ke rencana terakhir, yaitu pembalasan dendam. Tapi untuk rencana kali ini mereka memutuskan untuk tidak ikut turun tangan secara langsung. Papa tidak ingin mengotori tangannya sendiri dengan darah mereka hanya untuk masalah seperti ini. Selain itu Papa juga tidak ingin ada bukti apapun yang mengarah kepadanya jika ada masalah dikemudian hari.


Papa memutuskan untuk menyuruh beberapa orang untuk menculik dan menyiksa Alex dan ibunya. Ia memerintahkan agar membalas semua perbuatan mereka sama persis seperti apa yang mereka lakukan. Ia juga memerintahkan untuk merekam semua adegan penyiksaan itu dan mengirimkan videonya padanya.


Papa dan Mas Abhi tersenyum puas setelah melihat video yang dikirimkan oleh orang suruhannya itu. Ia merasa lega karena sudah membalas perbuatan Alex dan ibunya.


Setelah tidak ada tanda-tanda kemunculan Alex, Papa pun memutuskan untuk mengembalikan apa yang menjadi hak Dinda seharusnya.


Saat itulah Mas Abhi berniat untuk melakukan konferensi pers untuk mengungkap jati dirinya ke publik. Ia pun mengutarakan maksudnya tersebut pada Papa.


"Pa, aku ingin mengadakan konferensi pers untuk mengungkap jati diriku sebenarnya" ujar Mas Abhi suatu hari.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu, Abhi?" tanya Papa.


"Aku sangat yakin, Pa!. Lagi pula sekarang musuhku itu sudah tidak ada lagi didunia ini, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi" ujar Mas Abhi penuh keyakinan.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu!, Papa akan membantumu mempersiapkan semuanya" ujar Papa.


"Terimakasih banyak, Pa!" ucap Mas Abhi.


Keesokan hari, Papa sudah mempersiapkan konferensi pers di gedung perusahaan Mas Abhi. Selain memperkenalkan Mas Abhi sebagai pemilik perusahaan, konferensi itu juga diadakan untuk memperkenalkanku sebagai istrinya.


"Kau sudah siap Abhi?" tanya Papa.


"Apa aku harus diperkenalkan juga sekarang?" tanyaku tak yakin.


"Tentu saja!. Apa kau tak ingin dikenal sebagai Istri pemilik perusahaan besar, honey?" tanya Mas Abhi sambil tersenyum dan menoel daguku penuh mesrah.


"Bukan begitu, aku hanya sedikit khawatir ada orang yang masih iri denganmu, apa lagi aku hamil besar sekarang!" ujarku mengungkapkan kekhawatiranku.


"Kau tenang saja, honey. Bukankah suamimu ada disampingmu. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, jadi kau tenang saja, ok!" ujar Mas Abhi sambil tertawa kecil.


"Baiklah!" ujarku akhirnya.


Aku percaya dengan ucapan Mas Abhi jika ia akan melindungiku, untuk itulah aku setuju untuk ikut.


Kami pun segera memasuki sebuah aula yang sangat luas. Disana sudah ada beberapa wartawan yang menunggu kedatangan kami. Kilatan cahaya lampu flash dari jepretan kamera menyilaukan mata kami.


"Saudara-saudara sekalian terimakasih banyak atas kehadirannya, disini saya Adityawarman selaku wakil direktur dari perusahaan Jaya Makmur sekaligus asisten direktur akan memperkenalkan wajah asli pemimpin perusahaan ini!" ujar Pak Aditya lalu mempersilahkan Mas Abhi untuk bicara, dia adalah orang yang selama ini Mas Abhi gunakan sebagai wajah dari perusahaan.


"Perkenalkan saya Abhimana Haidar selaku direktur utama perusahaan Jaya Makmur, putra dari Abimanyu Haidar. Dan disebelah saya adalah istri saya Kania Larasati, putri dari Pramono" ujar Mas Abhi singkat.