Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 25



Mentari pagi bersinar sangat cerah,embun pagi menetes membasahi dedaunan,udara nan sejuk menambah indahnya hari.Burung-burung dan serangga kecil bersenandung saling bersahutan membentuk sebuah simponi nyanyian alam.


Dinda menyibak selimut yang masih membungkus tubuhku.


"Hey pemalas ayo bangun!"kata Dinda sambil terus mengguncang tubuhku mencoba membangunkanku.


aku hanya menggeliat kecil dan kembali bergelut dengan bantal empukku.


"Kania ayo cepat bangun!"kata Dinda tak mau menyerah.


"Ada apa sih,kenapa pagi-pagi sekali kau sudah membangunkan aku"kataku sambil mengucek mataku yang masih mengantuk.


"Mulai sekarang setiap pagi kau harus jalan pagi!"


"Tapi untuk apa,nggak ah aku malas!"sahutku kembali merebahkan tubuhku.


"Eh nih anak malah balik molor,ayo cepat bangun"


"Iya iya aku bangun!"


"Ya udah sana cepetan cuci mukamu setelah itu kita lari pagi bersama!"


daripada terus mendengarkan ocehan Dinda yang membuat telingaku panas lebih baik aku segera bangun dan menuruti semua keinginannya.


Selesai mencuci muka aku segera menghampiri Dinda yang ada di teras rumah.


"Aku sudah siap,sekarang kita mau kemana? kataku sesampainya didekat Dinda.


"Kita akan jalan pagi disekitar sini.Jalan pagi itu sangat baik buat kesehatan apalagi dalam kondisimu yang sekarang,bukankah usia kandunganmu memasuki bulan kesembilan? ini bisa membantu memperlancar proses persalinanmu nanti!"cerocos Dinda panjang lebar.


"Kamu mau terus nyerocos atau kita akan jalan pagi!"kataku menghentikan ocehan Dinda.


"He he he maaf, ya udah yuk kita jalan sekarang"


kami pun berjalan beriringan menyusuri jalanan yang masih lengang,sesekali aku berhenti dan mengambil nafas sejenak saat aku mulai ngos-ngosan.


"Kamu udah capek ya,kita istirahat dulu yuk!"


aku pun mengangguk mengiyakan dan segera mencari tempat untuk kita duduk


"Apa kamu sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan?"tanya Dinda sambil mengelus perutku yang semakin membuncit setelah kita mendapatkan tempat duduk.


"Belum!"kataku sambil menggelengkan kepala.


"Aku harap kau dan bayimu selamat saat persalinan nanti!"


aku begitu terharu dengan perhatian yang ditunjukkan oleh Dinda,aku rasa tidak akan ada sahabat yang sebaik dan setulus dirinya.


"Dinda makasih banyak ya kamu sudah baik padaku,kamu memang sahabat yang paling hebat.Aku juga mau minta maaf padamu karena aku terus saja menyusahkanmu"kataku sambil menggenggam tangannya.


"Kamu ini ngomong apa sih,kita ini kan sahabat jadi wajar dong kalau kita saling membantu dan lagi aku tak pernah merasa direpotkan olehmu"kata Dinda sambil meletakkan tangannya diatas tanganku.


"Kau tahu sejak kehadiranmu aku tak pernah merasa sendiri lagi,aku merasa seperti memiliki keluarga lagi"lanjut Dinda.


aku begitu tersentuh dengan ucapan Dinda


"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih,aku janji suatu saat aku akan membalas semua kebaikanmu"kataku sambil menitikkan air mata


"Kau tenang saja suatu saat aku akan meminta imbalan ku karena janji itu adalah sebuah hutang dan hutang itu harus dibayar!"kata Dinda dengan mimik wajah lucu.


"Iya iya aku tahu!"kataku dan kami pun tertawa bersama.


"Udah siang nih kamu udah nggak capek kan? kita pulang yuk aku sudah lapar nih!"


"Yuk aku juga sudah lapar"


kami pun kembali berjalan menuju kearah rumah,tapi saat ditengah jalan seorang pria tiba-tiba menabrakku dan membuatku kehilangan keseimbangan.Dengan sigap pria itu menarik tanganku dan sebelah tangannya menahan tubuhku agar tidak terjatuh,sejenak kami saling berpandangan.Aku segera melepaskan diri dari pelukan pria itu saat aku merasakan tubuhku tiba-tiba bergetar hebat saat bersentuhan dengan pria itu.


"Eh maaf saya nggak sengaja!"kata pria itu.


"Nggak pa pa"


"Kau Kania kan!"


"Iya itu aku,kau siapa?"tanyaku sambil mencoba mengingat-ingat nama pria itu.


aku merasa seperti pernah mengenal pria itu.


"Kau Abhimana kan!" kataku setelah mengingat namanya.


"Ternyata kau masih ingat juga denganku"kata pria itu yang ternyata bernama Abhimana sambil tersenyum padaku.


"Oh ini Abhimana, pria yang dulu tak sengaja menabrakku di toko kue dan sekarang dia kembali menabrakku"kataku sambil tersenyum kecil.


"Abhi kenalkan ini sahabatku Dinda!"kataku lagi sambil memperkenalkan Dinda.


"Hey salam kenal"kata Abhimana sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.


"Salam kenal juga!"jawab Dinda sambil membalas jabat tangan Abhimana.


"Sekali lagi aku minta maaf ya"


"It's ok nggak pa pa"jawabku sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong kok kamu ada disini,emangnya kamu tinggal disekitar sini?"


"Iya rumah kami ada di ujung gang itu,kamu mau mampir nggak?"tawarku.


"Boleh..."


kami pun berjalan beriringan menuju ke arah rumah.


.


Sesampainya didepan rumah aku segera membuka pintu dan mempersilahkan Abhimana masuk.


"Mari silahkan masuk!"kataku mempersilahkan.


Abhimana segera masuk kedalam,diedarkannya pandangan matanya keseluruh ruangan sepertinya ia sedikit bingung dengan keadaan rumah kami


"Silahkan duduk!"kataku lagi


kami pun duduk diatas lantai dengan beralaskan tikar lusuh.


"Oh ya Kania suamimu dimana? kok kalian hanya tinggal berdua?" tanya Abhimana saat kami telah duduk.


mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Abhimana aku tak bisa menjawab apa-apa,seketika itu wajahku berubah menjadi sendu.


"Kania kau ini sangat tidak sopan masak kau membiarkan tamumu kehausan,ayo cepat sana ambilkan air minum buat Abhimana!"kata Dinda sambil mendorongku dan sedikit memaksa.


sebenarnya Dinda sengaja melakukan itu saat melihat perubahan diwajahku,ia tak ingin aku terpengaruh dengan pertanyaan Abhimana.


"Tolong jangan tanyakan hal seperti itu lagi pada Kania,aku tak ingin ia kembali teringat dengan masa lalunya!"kata Dinda setelah aku pergi.


"Aku minta maaf, tapi apa yang terjadi sebenarnya?"


"Sebenarnya Kania belum menikah!"


"Apa?" Abhimana terlihat sangat terkejut dengan perkataan Dinda.


"Kalau dia belum menikah lalu bagaimana ia bisa hamil?"tanyanya lagi.


"Ssstt tolong pelankan suaramu,nanti Kania dengar!"


"Sebenarnya Kania itu diperkosa oleh....."


belum sempat ia menyelesaikan ucapannya ia melihatku datang,seketika itu juga ia mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu sendiri tinggal dimana?" tanya Dinda sambil matanya memberikan kode pada Abhimana agar menengok kearahku.


"Aku tinggal di jalan xx" jawab Abhimana mengerti dengan kode yang diberikan Dinda.


"Silahkan diminum!"kataku sambil menyuguhkan secangkir teh dihadapan Abhimana.


"Kalian tadi lagi ngomongin apa? sepertinya serius sekali!" tanyaku setelah kembali duduk di samping Dinda.


"Ah bukan sesuatu yang penting kok,kami cuma ngobrol tentang kegiatan kita sehari-hari"kata Dinda menepis keraguanku.


"Iya benar bukan sesuatu yang penting"kata Abhimana ikut membenarkan ucapan Dinda.


"Oh gitu!" kataku percaya.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya!" pamit Abhimana.


"Loh kok buru-buru,nggak diminum dulu tehnya!"


"Terimakasih tapi maaf lain kali saja aku masih ada urusan penting,lain kali aku pasti mampir lagi kesini"


"Baiklah kalau begitu"


dan aku pun mengantar kepergian Abhimana sampai depan rumah.