
Selesai makan, aku mengajak Mama untuk duduk di ruang tengah. Dan aku meminta Mama untuk menceritakan tentang dirinya.
Perlahan Mama mulai memutar kembali ingatannya.
~ FLASH BACK MAMA ~
Aku memutuskan untuk pergi dari rumah suamiku. Aku sudah tidak tahan lagi dengannya. Aku sudah punya pengganti yang lebih segala-galanya dari dirinya.
Berulangkali suami dan anakku memintaku untuk tetap disini, tapi aku kekeh untuk meninggalkan mereka. Aku bahkan memintanya untuk segera menceraikan ku.
Aku sudah menghubungi kekasih gelap ku untuk datang menjemput ke rumah, dan tak butuh waktu lama dia pun datang.
Aku sengaja menampilkan kemesraan ku bersamanya di hadapan Mas Pramono dan Kania. Aku ingin membuat mereka sakit hati agar aku bisa mencapai apa yang kuinginkan, yaitu perceraian.
Hari ini sidang putusan perceraian ku, aku datang bersama kekasihku. Aku sengaja tidak menuntut harta gono-gini dan menyerahkan hak asuh Kania pada Mas Pramono. Aku ingin segera bebas dari hubungan lamaku. Lagi pula kekasihku lebih kaya darinya, dan dia sangat memanjakan ku. Akhirnya hakim menyatakan bahwa kami resmi bercerai.
Selang beberapa hari setelah resmi bercerai, aku melangsungkan pernikahan dengan kekasihku. Awalnya semua berjalan dengan indah. Suami baruku selalu menuruti apa yang kuinginkan. Bahkan dia juga mewujudkan janjinya sebelum menikah untuk membuatku menjadi model bertaraf internasional.
Tapi kebahagiaan itu ternyata hanyalah semu, semua berubah menjadi petaka. Ini bermula ketika aku dinyatakan hamil. Aku memutuskan untuk berhenti dari dunia model dan fokus pada kehamilanku. Lagipula aku tidak butuh apa-apa lagi. Semua yang ku butuhkan sudah terpenuhi.
Suamiku meminta untuk menggugurkan kandunganku dengan alasan kalau dia tidak ingin direpotkan dengan urusan anak, tapi dengan tegas aku menolak permintaannya itu. Dia pun marah besar mendengar penolakan ku. Sejak itu dia berubah, sikapnya menjadi sangat dingin padaku.
Rupanya kehamilanku ini membuat wajahku dipenuhi dengan bintik-bintik jerawat. Tubuhku juga semakin gemuk seiring bertambahnya usia kandunganku. Berulang kali ia marah dan menghina penampilanku sekarang, tapi aku mencoba menjelaskan jika ini karena hormon kehamilan.
Akhirnya aku melahirkan. Dia semakin marah saat mengetahui jika anak yang kulahirkan berjenis kelamin perempuan. Dia sangat membenci anak perempuan, menurutnya anak perempuan hanya membawa nasib sial bagi dirinya. Seketika itu anakku dibuang entah kemana, dan aku tidak tahu dimana dia sekarang.
Mungkin jika aku melahirkan anak laki-laki dia akan menerimanya, tapi apalah dayaku. Itu semua diluar kemampuanku.
Setelah melahirkan, tubuhku semakin gemuk, dan wajahku juga semakin jelek. Dia memintaku untuk melakukan diet ketat untuk mengembalikan bentuk tubuhku yang dulu. Tapi ternyata diet yang kulakukan sangat salah. Dan aku mengidap penyakit usus karena kesalahan itu.
Aku telah menjalani beberapa kali operasi untuk menyembuhkan ku, tapi semuanya hanya sia-sia. Kini tubuhku bagaikan mayat hidup.
Melihat hal itu, dia mulai mencari wanita lain. Dan saat aku memergokinya, dia malah marah dan memukuliku. Yang lebih parah lagi, dia mengusirku dari rumahnya tanpa sepeser uang.
Aku tertatih-tatih dijalan. Mencoba mencari pekerjaan, tapi tak satupun yang mau menerima karena kondisiku. Akhirnya aku terpaksa mengemis demi sesuap nasi.
Saat tiada yang mau memberi uang aku terpaksa mengais makanan sisa dari tong sampah rumah makan. Tidur pun aku di emperan toko, dan menjelang pagi aku harus segera pergi sebelum pemilik toko datang dan memarahiku.
Hidupku yang dulu sempurna berubah menjadi derita, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. kini aku sadar dengan apa yang kulakukan dulu pada Mas Pramono dan juga Kania. Mungkin ini adalah karma bagiku karena sudah menyakiti hati mereka dan menelantarkan anakku sendiri.
~ FLASH BACK OFF ~
Mama mengakhiri ceritanya dengan berderai air mata, aku pun turut menangis mendengar ceritanya.
"Ya Allah, kenapa Mama malah bernasib seburuk itu" ujarku.
"Ini adalah karma untuk Mama, Kania" jawab Mama lirih.
"Kenapa Mama tidak langsung menemuiku saja saat itu, Ma? kenapa Mama malah terlunta-lunta dijalanan?" tanyaku.
"Mama sangat malu untuk datang padamu nak. Ini semua karena kesalahan Mama sendiri" jawab Mama
Hening....
"Maafkan Mama, Kania. Mama sangat menyesal. Kamu mau kan memaafkan Mama?" ujar Mama bercucuran air mata, memandang kearahku.
"Sudahlah, Ma. Kita lupakan saja semua yang terjadi. Kania sudah memaafkan semua kesalahan Mama, jauh sebelum Mama memintanya" jawabku.
"Terimakasih, nak. Kamu memang anak yang baik hati" ucap Mama, menitikkan air mata,kembali menundukkan kepala.
Sejenak kami terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kania ada satu permintaan ke Mama, Mama mau kan mengabulkannya?" tanyaku mulai bersuara.
"Kania minta Mama tinggal bersama Kania. Dsini, dirumah kania" ucapku.
"Maafkan Mama, nak. Tapi Mama tidak bisa" tolak Mama.
"Tapi kenapa, Ma? apa alasannya?" tanyaku.
"Kau sudah memiliki keluarga sendiri, nak. Mana mungkin Mama ikut tinggal bersamamu!" jawab Mama, mengemukakan alasannya.
Mendengar jawaban Mama, aku beralih memandang Mas Abhi.
"Mas Abhi, Mama boleh kan tinggal bersama kita?" tanyaku.
Mas Abhi tersenyum dan mengusap kepalaku saat mendengar pertanyaanku." Tentu saja, honey. Mamamu adalah mamaku juga, yang berarti dia boleh ikut tinggal bersama kita".
"Mama dengar sendiri kan apa kata Mas Abhi?" tanyaku, beralih memandang Mama kembali.
"Baiklah, nak kalau itu kemauanmu. Mama setuju" jawab Mama.
hening.....
"Oh ya, Kania, dimana papamu? kenapa dari tadi tidak kelihatan. Mama juga ingin meminta maaf padanya" ujar Mama.
Sejenak aku terdiam mendengar pertanyaan Mama, tapi tak berselang lama aku mulai angkat bicara.
"Papa sudah meninggal dunia, Ma, dan ini tepat seribu harinya" jawabku tertunduk sedih.
"Astaga! bagaimana bisa? apakah dia meninggal karena sakit keras?" tanya Mama, ia sangat terkejut mendengar berita kematian Papa.
"Papa meninggal bukan karena sakit, Ma, tapi karena tertembak saat mencoba menyelamatkanku" jawabku.
"Bagaimana bisa?" tanya Mama semakin tak mengerti.
"Ceritanya sangat panjang, Ma" ucapku.
"Ceritakanlah, Mama akan mendengarkan" ucap Mama.
Aku pun menceritakan semua peristiwa yang kualami. Dari pertama kali aku bertemu Arsen hingga aku jatuh dalam jerat narkoba saat Papa mengusirku dulu karena hamil anaknya.
Aku bercerita bagaimana Mas Abhi membantuku untuk lepas dari jerat itu dan akhirnya aku menikah dengannya.
Aku juga menceritakan bagaimana Arsen menculik Emir hingga membuatnya meninggal dunia saat aku menolak untuk kembali lagi dengannya.
Terakhir aku menceritakan bagaimana Arsen menuntut balas karena sudah membuatnya berakhir di penjara. Tapi sayangnya, dalam peristiwa itu Papa harus kehilangan nyawanya saat mencoba menyelamatkanku.
Mama tertegun mendengar semua ceritaku.
"Maafkan Mama, nak. Semua yang terjadi padamu tidak luput dari kesalahan Mama. Andai waktu itu Mama tidak pergi, maka semuanya tidak akan seperti ini" ujar Mama, menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah, Ma, jangan menyalahkan diri Mama terus. ini bukan kesalahan Mama. lagi pula aku sudah ikhlas menerima semuanya" ujarku.
" Maukah kau mengantar Mama ke makam Papa? Nama ingin mengunjungi makamnya" pinta Mama.
"Sebaiknya besok saja, Ma, karena nanti malam Kania mau mengadakan pengajian untuk mendoakan arwah Papa" jawabku.
"Baiklah, Mama akan menunggu sampai esok" ujar mama.
"Sebaiknya sekarang kita bersiap untuk acara nanti malam, Ma" ujarku.
"Baiklah, nak. Mama akan membantumu" jawab Mama.
dan kami pun bersiap untuk acara nanti malam.