Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 105



...Hai reader semua, **jumpa lagi dengan author. Author mo minta maaf nih karena beberapa hari ini nggak bisa up. Author mengalami sedikit masalah yang membuat author kehilangan semangat dalam berkarya....


...Terus dukung author ya dengan memberikan like, koment, favorit, vote, dll. Author sangat menanti kritik dan saran dari kalian semua, karena itu sangat berguna bagi author dalam meningkatkan kualitas karya....


...Author sangat berterimakasih kepada kalian semua yang sudah setia mendukung author. Tanpa kalian, author bukanlah apa-apa....


...Ok, jumpa lagi di lain kesempatan. Tetap dukung author ya. Happy reading and keep smile. 🤗🤗🤗**...


...💓💓💓💓💓...


"Buka pintunya. Keluar kalian. Kenapa kalian terus mengikutiku".


Mereka pun keluar dari mobil dengan angkuhnya. ternyata mereka adalah para preman suruhan Tasya.


"Siapa kalian? kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanya Mas Abhi lagi.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas bos memerintahkan untuk membawamu kepadanya" jawab salah satu preman.


"Siapa bos kalian?" tanya Mas Abhi.


"Kami tidak akan mengatakan siapa yang sudah menyuruh kami" jawab preman.


"Kalau begitu, aku tidak akan ikut dengan kalian" jawab Mas Abhi.


"Maka kami akan memaksamu!" jawab preman.


"Coba saja kalau kalian bisa!" ucap Mas Abhi tersenyum sinis.


"Tidak usah banyak bacot. Serang!!!" teriak salah satu preman. Mereka pun maju bersamaan dan langsung menyerang Mas Abhi. Mas Abhi mundur beberapa langkah menghindari serangan mereka.


Dua banding satu, itu bukan hal sulit bagi Mas Abhi. Mereka bukan apa-apa baginya. Mereka bukanlah tandingan yang sebanding untuknya.


Mas Abhi melepas jas yang dikenakannya dan melemparnya ke mobil. Kemudian ia menyingsingkan lengan bajunya dan segera bersiap. Ia memasang kuda-kuda untuk menghadapi serangan mereka berikutnya.


"Majulah kalian!" tantang Mas Abhi, memberi isyarat dengan tangannya


Seorang preman maju kedepan dan melayangkan tinjunya ke arah Mas Abhi. Dengan cepat Mas Abhi berkelit dan menghindar dari serangannya, hingga tinju itu hanya mengenai udara saja.


Preman kedua maju menyerang. Ia melayangkan tinjunya, tapi segera ditangkis dan dibalas oleh Mas Abhi dengan sebuah tinju yang mengenai wajah preman tersebut. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, membuat preman itu semakin marah.


"Kurang ajar!!" teriak preman itu marah, ia menyeka sudut bibirnya yang berdarah dan menyerang kembali.


Kali ini mereka berdua menyerang secara bersamaan. Mereka hendak melayangkan tinjunya kembali tapi kalah cepat dengan gerakan Mas Abhi yang telah lebih dulu menyerang, hingga membuat kedua preman tersebut terhuyung-huyung kebelakang.


Kedua preman itu masih belum mau menyerah, mereka terus berusaha melawan Mas Abhi. Preman pertama kembali melayangkan tinjunya. Mas Abhi menangkis serangan itu dan menghempaskan tubuh preman tersebut ke tanah.


Preman kedua datang membantu.Ia melayangkan tinjunya secara membabi buta seperti orang kesetanan, tapi tak satupun dari serangannya yang mampu melukai Mas Abhi. Mas Abhi membalas serangannya dengan melayangkan sebuah bogem mentah ke preman tersebut.


Ternyata bogem itu tepat mengenai ulu hati si preman, hingga membuat preman itu memuntahkan darah segar dan jatuh ke tanah.


Preman pertama bangkit kembali, ia melayangkan tinjunya dengan sepenuh tenaga. Mas Abhi segera menangkap tangan preman tersebut dan memelintirnya ke belakang serta mengunci pergerakannya. Kemudian ia menendang kaki bagian belakangnya hingga membuat si preman jatuh terduduk.


Ternyata gerakan itu mampu melumpuhkan serangan preman tadi. Terbukti preman tersebut tak mampu melawan lagi setelah itu.


"Katakan, siapa yang sudah menyuruh kalian?" teriak Mas Abhi.


"Cih, aku tidak akan mengatakannya!" meludah dan menjawab dengan sinis.


bugk


Mas Abhi kembali melayangkan tinjunya hingga membuat preman itu mengerang kesakitan.


"Cepat katakan!, atau aku akan menghabisimu" ancam Mas Abhi.


"Silahkan saja kalau kau mau, tapi aku tidak akan pernah mengatakan siapa yang sudah menyuruhku. Kau tidak akan pernah mendapatkan informasi apapun dariku" tertawa sinis dan mengejek.


Mas Abhi terus mendesak agar preman itu mau mengaku, hingga dia pun menjadi lengah karenanya. Hal itu tentu saja tidak disia-siakan oleh preman kedua yang memuntahkan darah tadi. Ia segera bangkit dan mengambil balok kayu yang berada tidak jauh darinya. Ia menghampiri Mas Abhi dan menghantam kepalanya menggunakan balok kayu itu.


"Argk!!" pekik Mas Abhi, memegangi bagian belakang kepalanya yang terkena pukulan. Ia tak menyadari serangan itu. Perlahan pandangannya mulai kabur, dan dia pun kehilangan kesadarannya. Tubuhnya ambruk ke tanah.


Preman pertama segera bangkit dan menghadap kebelakang. "Bodoh!. Kenapa kau memukul kepalanya? itu bisa membuatnya kehilangan nyawa."


"Cepat, periksa denyut nadinya!. Jangan sampai dia meregang nyawa karena perbuatan kita" perintah preman pertama.


Preman kedua segera meraih tangan Mas Abhi dan memeriksa denyut nadinya. Dia juga memeriksa pernapasannya untuk memastikan.


"Dia masih bernapas. Sepertinya dia hanya pingsan saja" ucap preman kedua.


"Syukurlah kalau begitu" ucap preman pertama bernapas lega.


"Aku akan menghubungi si bos untuk mengabarkan kalau kita berhasil mendapatkan mangsanya. Tapi ingat, jangan sampai si bos tahu mengenai hal ini. Dia pasti marah kalau dia tahu".


Preman kedua mengangguk tanda mengerti. Preman pertama mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi Tasya.


"Halo, bos, mangsa berhasil ditangkap. Sekarang kita harus membawanya kemana?".


"Bagus. Bawa dia ke rumahku sekarang. Aku akan mengirim alamatnya pada kalian" jawab seseorang diseberang.


Sambungan telepon terputus. Tak berselang lama sebuah pesan pun masuk. Pesan itu berisikan alamat yang harus mereka datangi untuk membawa Mas Abhi.


"Bos menyuruh kita membawa mangsa ke rumahnya. Dia sudah mengirimkan alamatnya. Kita berangkat kesana sekarang!" ujar preman pertama.


"Baik!" jawab preman kedua singkat.


Mereka berdua mengangkat tubuh Mas Abhi dan memasukkannya kedalam mobil. Kemudian mereka segera meluncur ke alamat yang sudah dikirimkan tadi.


Setelah beberapa lama mereka pun sampai ke alamat yang dituju. Mereka mengangkat tubuh Mas Abhi dan membawanya ke dalam.


"Kita taruh dimana dia, bos?" tanya preman pertama.


" Letakkan dia di kamarku!" perintah Tasya, menunjuk salah satu kamar.


Preman itu pun melakukan apa yang diperintahkan nya. Mereka segera membawa tubuh Mas Abhi ke kamar yang ditunjuk olehnya tadi. Tasya mengikuti di belakang mereka.


"Rebahkan dia diatas kasur!" perintah Tasya lagi.


Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan.


"Sekarang kalian boleh pergi. Sisa bayaran kalian akan segera kutransfer!" ujar Tasya.


Preman itu tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Kemudian mereka segera berlalu dari hadapan Tasya.


"Sekarang kau berada dalam genggamanku, Abhi. Aku akan menjebak mu dan mengatakan bahwa kau telah memperkosaku. Aku yakin hal itu akan membuat Kania menceraikanmu. Dan setelah itu, kau akan menjadi milikku" ujar Tasya menyeringai.


Tasya melepas sepatu Mas Abhi dan juga baju yang dikenakannya. Ia menanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuh Mas Abhi hingga hanya menyisakan boxernya saja, kemudian ia menyelimuti tubuh Mas Abhi.


Ia juga membuat kondisi kamar sedemikian rupa sehingga terkesan bahwa telah terjadi sesuatu disana.


Selanjutnya Tasya merobek beberapa bagian pakaiannya sendiri. Ia sengaja melakukannya agar semakin menguatkan kesan bahwa ia baru saja diperkosa. Dan yang terakhir, dia pun menghubungiku, tentu saja ia takkan lupa dengan air mata buayanya untuk membuatku percaya padanya.


"Halo Kania, bisakah kau ke rumahku sekarang?" ujar Tasya. Nada suaranya terdengar sangat sedih.


"Ada apa Tasya? kau kenapa?" tanyaku lemah lembut.


"Suamimu, Kania, Abhimana....".


"Ada apa dengan Mas Abhi?" tanyaku khawatir. Aku panik seketika saat mendengar nama Mas Abhi disebut.


"Di...dia sudah...." jawab Tasya terbata-bata.


"Cepat katakan, Tasya, ada apa dengan Mas Abhi?" tanyaku semakin khawatir.


"Dia sudah memperkosaku" ujar Tasya, tangisnya pecah seketika.


Duarrr....


Pernyataan Tasya bagaikan sebuah sambaran petir di siang bolong. Tubuhku lemas seketika.


"Aku akan segera kesana!" jawabku cepat.