Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 100



Usai mematikan sambungan telepon, aku masuk kembali kedalam untuk membuatkan teh hijau untuk Mas Abhi. Dan setelah teh sudah jadi, aku segera menghidangkannya pada Mas Abhi.


"Ini Mas, tehnya!" ujarku datar dan segera berlalu, tapi Mas Abhi segera menghentikan langkahku.


"Kamu mau kemana, honey? duduk disini dulu, temani Mas minum" ucap Mas Abhi.


"Aku mau ke kamar, Mas. Aku capek, pengen langsung istirahat!" ujarku tetap datar.


Mas Abhi mengernyitkan dahi, bingung melihat perubahan sikapku.


"Kamu kenapa honey? kamu nggak enak badan?" tanya Mas Abhi, mengusap kepalaku.


"Aku kan tadi udah bilang, Mas!. Aku capek. Aku mau istirahat" jawabku ketus, menepis tangannya.


Mas Abhi semakin bingung melihat sikapku, tapi sebisa mungkin dia menutupinya.


"Ya sudah kamu istirahat saja!" ujar Mas Abhi.


Aku segera berlalu dari hadapan Mas Abhi tanpa sepatah kata lagi, meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan dihatinya.


"Kania kenapa ya? kok sikapnya berubah aneh gitu. Perasaan tadi waktu aku datang dia baik-baik saja" gumam Mas Abhi.


"Ah sudahlah, mungkin dia memang sedang kecapekan aja".


Mas Abhi segera menyeruput tehnya tanpa berpikir macam-macam. Dan setelah minumannya sudah habis, dia segera menyusulku ke kamar dan ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.


...****************...


Tasya melanjutkan kembali rencananya. Kali ini dia sengaja menunggu Mas Abhi keluar dari kantornya saat jam makan siang. Dan saat kesempatan itu datang, dia segera mendekati Mas Abhi.


"Hai Abhi, kamu masih ingatkan denganku?" tanya Tasya dengan gaya sok kegenitan.


"Kamu temennya Kania yang kemaren datang ke rumahku kan?" ujar Mas Abhi bertanya balik.


"Hi hi hi ternyata kamu masih ingat denganku" ujar Tasya tertawa manja.


"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Mas Abhi dingin.


"Aku kesini tuh mau ngajakin kamu buat makan siang bareng. Anggap saja ini sebagai salam perkenalan dariku" ujar Tasya.


"Maaf, aku tidak bisa!. Aku sedang sibuk" ujar Mas Abhi datar.


"Ayolah Abhi, sekali ini saja. Lagipula ini kan sedang jam makan siang!" ujar Tasya, melingkarkan tangannya di lengan Mas Abhi.


"Aku kan sudah bilang, aku sedang sibuk!" ujar Mas Abhi, menyingkirkan tangan Tasya dari lengannya.


"Satu lagi, jangan pernah berani menyentuhku. Aku tidak ingin ada orang lain yang salah faham karena hal ini" ujar Mas Abhi, penuh penekanan disetiap katanya.


Mas Abhi segera berlalu meninggalkan Tasya. Melihat hal itu, Tasya ikut berlari sambil berteriak mengejarnya.


"Abhi, tunggu. Aku mohon sekali ini saja!" teriak Tasya sambil terus mengejar. Tanpa sadar kakinya terantuk batu, dan tubuhnya pun oleng.


Dengan sigap Mas Abhi menahan tubuh Tasya sebelum tubuhnya menyentuh tanah.


Tasya tersenyum menyeringai mendapati hal itu. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera mendekatkan bibirnya ke pakaian Mas Abhi dan meninggalkan jejak merah disana. Dia melakukan hal itu dengan sangat cepat sehingga Mas Abhi tidak menyadarinya.


"Kamu tidak apa-apa kan" tanya Mas Abhi, membantu Tasya berdiri tegak.


"Tidak, aku tidak apa-apa. terimakasih karena sudah menolongku tadi" ujar Tasya tersenyum manis.


"Kalau gitu aku pergi dulu. Aku masih ada urusan lain lagi!" ujar Mas Abhi, segera berlalu dari hadapan Tasya.


"Kamu boleh menolak ku hari ini, Abhi, tapi akan kupastikan kau tidak akan menolak ku lagi". ujar Tasya setelah Mas Abhi berlalu.


"Hari ini sudah cukup. Setidaknya aku berhasil menyalakan api dalam rumah tanggamu. Begitu Kania melihat tanda merah itu, maka busss....api yang kubuat akan semakin berkobar" tertawa menyeringai.


"Aku yakin, dengan ini akan menimbulkan keretakan dalan rumah tangga kalian. Dan saat itu terjadi, aku akan masuk dan merebut Abhimana".


Tasya melenggang pergi meninggalkan area perkantoran Mas Abhi.


...****************...


"Mas Abhi pasti capek. Sekarang Mas mandi dulu setelah itu kita makan bareng. Aku sudah menyiapkan air hangat untuk Mas Abhi mandi" ujarku.


"Makasih ya, honey. Kamu memang sangat perhatian. Tapi saat ini Mas pengen makan" ujar Mas Abhi tersenyum.


"Belum mandi masak mau langsung makan" protesku.


"Nggak pa pa dong. Kan yang pengen Mas makan itu kamu!" ujar Mas Abhi tertawa kecil.


"Ish, Mas Abhi ini apaan sih" ujarku mencubit kecil perutnya.


"Kita mandi bareng yuk, sekalian main kuda-kudaan" ujar Mas Abhi menaik-turunkan alisnya, menggodaku.


"Nggak mau, aku sudah mandi tadi. Kalau aku mandi lagi, entar aku kedinginan" ujarku memalingkan wajahku.


"Mas nggak ingin ada penolakan darimu. Ini adalah hukuman buatmu karena semalam sudah nyuekin Mas" ujar Mas Abhi, menggendong tubuhku ala bridal style tanpa menunggu persetujuan dariku.


Aku pun tersenyum mendengar ucapan Mas Abhi. Aku melingkarkan tanganku dilehernya.


"Tolong bukain pintunya dong" ujar Mas Abhi saat dia kesulitan untuk membukanya.


Aku pun membukakan pintu, dan kami masuk kedalam. Perlahan Mas Abhi nenurunkan tubuhku dan mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil diatas tubuhku.


Aku tidak tinggal diam. Aku ikut membalasnya dengan mengusap-usap punggungnya. Perlahan Mas Abhi mulai melepas pakaianku satu persatu. Aku pun turut membantunya dengan melepas pakaiannya.


Tiba-tiba tanganku terhenti. Pandanganku tertuju pada noda lipstik di bajunya. Lipstik itu berwarna merah menyala, dan itu bukanlah warna lipstik yang biasa aku gunakan.


"Ada apa, honey? kenapa beehenti?" tanya Mas Abhi sambil tetap mencumbu ku.


"Ini bekas lipstik siapa, Mas? kenapa bisa ada di bajumu?" ujarku melontarkan pertanyaan, menjauhkan tubuhnya dariku.


Mas Abhi menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah yang ku maksud. Dia terlihat sangat terkejut melihat bekas lipstik itu.


"Ma... Mas nggak tahu, honey. Mas juga nggak mengerti kenapa noda lipstik itu bisa ada di bajuku!" ujar Mas Abhi kebingungan.


Tiba-tiba aku teringat kembali dengan jepit rambut yang aku temukan di mobil Mas Abhi kemarin. Hal ini semakin menguatkan dugaan ku jika Mas Abhi tengah berselingkuh.


"Kamu sudah mengkhianatiku, Mas. Kamu selingkuh dariku" ujarku bercucuran air mata.


"Kamu ini bicara apa sih, honey!. Kenapa kamu menuduhku selingkuh?" tanya Mas Abhi semakin bingung.


"Kamu jangan bohong, Mas. Semuanya sudah terbukti! Kemarin aku menemukan sebuah jepit rambut di mobilmu. Itu pasti milik selingkuhan mu kan " ujarku berapi-api.


"jepit rambut apa? Mas semakin nggak ngerti!" ujar Mas Abhi.


Cepat-cepat aku menghapus air mataku dan mengenakan pakaianku kembali. Kemudian aku mengambil jepit rambut itu dan menunjukkannya pada Mas Abhi.


"Ini Mas, inilah jepit rambut yang kumaksud. Ini pasti milik selingkuhan mu kan! Kamu nggak usah mengelak lagi sekarang" ujarku.


"Mas beneran nggak selingkuh, honey. Mas bahkan tidak tahu itu jepit rambut siapa" ujar Mas Abhi.


"Bohong!! kamu pasti bohong. Semua bukti sudah ada didepan mata, Mas. kamu nggak bisa ngelak lagi" teriakku, kembali bercucuran air mata.


"Tapi Mas beneran nggak selingkuh, honey. Mas berani bersumpah!" ujar Mas Abhi menyakinkan ku, mendekat hendak menghapus air mataku.


"Berhenti, Mas!, jangan mendekatiku lagi. Aku tidak ingin kau menyentuhku. Kau sudah membuatku kecewa. Ternyata kamu sama saja dengan pria yang lain" teriakku histeris.


"Kumohon percayalah padaku, Kania. Mas beneran nggak selingkuh!" ujar Mas Abhi bersikukuh.


"Cukup, Mas!. Jangan bicara apa-apa lagi. Malam ini biarkan aku sendiri. Aku tidak ingin berada dalam satu kamar denganmu" ujarku, menyeka air mataku.


"Tidak, Mas tidak setuju!" tolak Mas Abhi cepat.


"Baiklah. Kalau begitu biar aku yang keluar dari kamar ini!" ujarku, beranjak mendekati pintu.


Cepat-cepat Mas Abhi menghentikan langkahku.


"Berhenti, Kania. Kamu tidak boleh meninggalkan kamar ini" ujar Mas Abhi.