
Tasya menghempaskan tangan Mas Abhi dari lengannya. Ia bangkit berdiri dan menghapus air matanya. Sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha yang kau katakan tadi memang benar. Ini semua memang ulahku. Dan asal kalian tahu, aku juga yang sudah menyuruh kedua preman itu untuk membawamu kesini. Aku sengaja melakukannya untuk menjebak mu".
Dinda terkesiap mendengar pengakuan Tasya. Ia tak menduga bahwa Tasya akan sekejam ini. "Kenapa kau melakukan ini, Tasya? kenapa kau sekejam ini pada kania?".
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, aku akan merebut Abhimana dari tangan kania. Aku iri melihat semua kebahagiaan yang dimilikinya" jawab Tasya dengan sorot mata penuh dengan dendam.
"Lalu apa arti pertemanan kalian? bukankah selama ini Kania selalu bersikap baik denganmu? kenapa kau selalu membalas semua kebaikan Kania dengan kejahatan" tanya Dinda.
"Persetan dengan arti kata pertemanan. Bagiku, harta lah temanku" jawab Tasya sinis.
"Aku sungguh tak menyangka kau akan sekejam ini" ujar Dinda, menggelengkan kepala.
"Aku tidak perduli apa pendapatmu tentang ku, yang terpenting aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan" jawab Tasya dengan senyum mengejek.
"Heh, wanita ular!, Kau pikir aku mau menikah denganmu?" hardik Mas Abhi.
"Aku tidak memerlukan persetujuan darimu untuk mendapatkanmu. Aku akan memaksamu untuk melakukannya" jawab Tasya enteng.
Mas Abhi semakin geram mendengar jawaban Tasya. "Aku tidak akan membiarkanmu menang. Aku akan membongkar semua rencana jahat mu pada Kania".
"Kau pikir Kania akan percaya dengan semua perkataanmu. Kania itu sudah percaya sepenuhnya padaku" ujar Tasya tertawa mengejek.
"Aku suaminya, dia pasti lebih percaya denganku" jawab Mas Abhi.
"Oh ya!. Kalau begitu, mari kita bertaruh. Aku atau kamu yang akan dia percayai! " tantang Tasya.
Mas Abhi terdiam mendengar ucapan Tasya. Setelah semua yang terjadi, sebetulnya dia juga tidak yakin apakah aku akan percaya lagi dengannya.
Tasya berbalik membelakangi Mas Abhi, berjalan menuju meja rias dan mengambil sebuah kapas disana. Kemudian dia menggunakan kapas itu untuk menghapus tanda merah yang ada di tubuhnya. "Kania itu memang sangat bodoh!. Mudah sekali dia untuk ditipu. Bahkan dia percaya begitu saja dengan teknik murahan seperti ini!".
"Untung saja aku tadi punya ide untuk membuat tanda merah ditubuhku ini dengan menggunakan cat khusus. Ternyata ini sangat membantu untuk meyakinkan kania".
"Kau memang wanita yang sangat licik. Suatu hari, Kania pasti akan tahu semua kebenarannya" ujar Dinda.
"Kita lihat saja nanti. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan memastikan Abhimana sudah menjadi milikku, dan aku akan menyandang status sebagai Nyonya Abhimana Haidar" tersenyum menyeringai.
"Jangan mimpi! Itu semua tidak akan pernah terjadi" sarkas Mas Abhi.
"Oh ya?. Apa kau yakin?.Aku jadi punya sebuah ide yang sangat bagus. Mari kita buat Kania sendiri yang akan menikahkan kita" ujar Tasya dengan senyuman maut.
"Jangan gila kamu! Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi" bentak Mas Abhi marah.
"Ha ha ha, aku bahkan sudah membayangkan itu semua. Aku jadi tidak sabar menantikan hal itu terjadi" ujar Tasya, tertawa jahat.
"Kau...." geram Mas Abhi, ia hendak melayangkan sebuah tamparan di pipi Tasya tapi segera dicegah oleh Dinda.
"Tidak, Abhi, jangan kau lakukan itu. Kendalikan lah amarahmu. Jangan kau buang-buang energi mu untuk menampar wanita ular ini " ujar Dinda, memegangi tangan Mas Abhi.
"Kenapa kau malah menghentikanku, Dinda?" tanya Mas Abhi marah.
"Maafkan aku, Abhi. Aku hanya tidak ingin dia menggunakan kesempatan ini untuk membuat citra mu semakin buruk di mata Kania" ujar Dinda, menjelaskan maksud tindakannya tadi.
Mas Abhi menurunkan tangannya. Dinda melepaskan genggamannya dari tangan Mas Abhi.
"Yah....kenapa tidak jadi menamparku? padahal aku sangat menginginkannya tadi. Harusnya kau tak menghentikan Abhimana, Dinda. kalau kayak gini kan, aku jadi kecewa" ujar Tasya dengan muka tertekuk, berpura-pura kecewa.
"Kau ini...." geram Mas Abhi marah. Sekuat tenaga ia menahan amarahnya yang menggelegak. Tangannya terkepal erat.
"Bagus. Ayo, sekarang pukul lah aku!"ujar Tasya semakin memprovokasi. Ia mendekatkan pipinya agar Mas Abhi segera menamparnya.
"Hey, itu tidak mungkin" ujar Tasya tersenyum sinis.
"Kenapa tidak? ini adalah rumahku juga. Jadi aku berhak untuk mengusir mu dari rumah ini" ujar Mas Abhi.
"Apa kau sudah lupa? Kania sendiri yang menyuruhku untuk tinggal disini. Apa kau ingin aku mengadu pada Kania kalau kau telah mengusirku!" ujar Tasya, menatap tajam kearah Mas Abhi.
Mas Abhi terdiam mendengar ucapan Tasya.
"Lagi pula sebentar lagi rumah ini juga akan menjadi milikku. Dan bukan hanya itu, rumah yang saat ini kalian tinggali dan juga seluruh harta kekayaanmu akan menjadi milikku semua" lanjut Tasya santai.
"Jangan pernah kau berharap hal itu terjadi. Aku tidak akan tinggal diam. aku tidak akan membiarkan semua rencana mu berhasil" ujar Mas Abhi.
Tasya menanggapi ucapan Mas Abhi dengan menyunggingkan senyuman sinis. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya".
"Sudahlah, Abhi. Tidak usah kau berdebat terus dengannya. Percuma saja kau lakukan itu" ujar Dinda.
"Sebuah pilihan yang sangat bagus!" puji Tasya, mengacungkan jempolnya pada Dinda.
Dinda tak menghiraukan perkataan Tasya dan terus melanjutkan ucapannya. "Lebih baik sekarang kau kenakan kembali pakaianmu. Setelah itu kita pergi dari sini".
Mas Abhi menganggukkan kepala, ia setuju dengan ucapan Dinda.
Mas Abhi memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai dan bergegas ke kamar mandi. Tak berselang lama ia keluar kembali dengan mengenakan pakaian yang lengkap.
"Ayo kita pergi sekarang dari rumah ini!" ajak Mas Abhi.
Dinda mengangguk setuju. Tapi sebelum ia pergi, ia menghampiri Tasya terlebih dahulu.
"Ingatlah satu hal, Tasya. Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan itu maha adil. DIA tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang tidak bersalah di dholimi. Cepat atau lambat, kebenaran itu pasti kan terungkap".
"Ya ya ya, simpan saja ceramah mu itu untuk dirimu sendiri. aku tidak butuh ceramah darimu" ujar Tasya, memutar bola mata malas.
"Sekarang, pergi kalian dari rumah ini" usir Tasya.
Mas Abhi beranjak meninggalkan ruangan itu. Dinda mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka tak menghiraukan lagi semua ocehan Tasya.
Sesampainya diluar Mas Abhi meminta kunci mobil Dinda. "Berikan kunci mobilmu padaku, Din. Biar aku yang menyertir".
"Tidak Abhi, aku sendiri yang akan menyetir" tolak Dinda.
"Aku tidak setuju. Aku ini laki-laki, sudah sepatutnya aku yang menyetir" bantah Mas Abhi.
"Kesampingkan dahulu ego mu itu, Bhi. saat ini kau tidak berada dalam kondisi yang baik untuk menyetir. Aku tidak ingin terjadi sesuatu nantinya. Kali ini lebih baik aku saja yang menyetir".
Setelah perdebatan kecil yang terjadi diantara mereka, akhirnya Mas Abhi setuju. Ia mengalah dan membiarkan Dinda yang menyetir. Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu.
*
*
*
...Hai reader semua, malam ini author kembali menyapa kalian. Di kesempatan kali ini, author ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada kalian semua yang sudah setia mendukung author dalam berkarya. Kritik dan saran dari kalian sangat berharga dari apapun bagi author....
...Di kesempatan kali ini, author juga ingin minta maaf pada semuanya jika ada koment- koment yang belum sempat author balas. Semua itu karena keterbatasan waktu yang dimiliki author....
......Terus dukung author ya dengan memberikan like, komentar, favorit, vote, dll. Semoga kita semua selalu diberi kesuksesan dalam segala hal, amin..........
......Akhir kata, see you and good luck 🤗🤗🤗......