Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 98



"Memangnya kamu nggak liat, gimana cara dia memandangku tadi?" tanya Mas Abhi.


"Memangnya seperti apa, Mas? aku rasa tadi dia biasa-biasa saja!" jawabku polos.


"Kamu ini polos atau memang nggak peka sih!" ujar Mas Abhi kesal.


"Kok Mas Abhi malah ngatain aku? aku kan memang nggak ngerti" ujarku cemberut, Aku tidak terima dikatain begitu olehnya.


Mas Abhi semakin kesal melihatnya.


"Gini ya, Kania, aku kasih tahu. Cara Tasya saat memandangku tadi bukan cara pandang biasa. Tatapan mata itu menyiratkan kalau dia menaruh hati padaku. Makanya aku sengaja bersikap dingin padanya, agar dia tahu kalau aku tidak tertarik sedikitpun dengannya. Di hatiku cuma ada kamu" jawab Mas Abhi panjang lebar.


"Ha ha ha...kamu ini ada-ada saja, Mas" ujarku, tawaku meledak seketika mendengar ucapan Mas Abhi.


"Kok kamu malah tertawa?" tanya Mas Abhi bingung.


"Maaf maaf" ucapku setelah menguasai tawaku.


"Gini ya, Mas. Mas Abhi nggak usah kege'eran deh. Mana mungkin Tasya suka sama kamu. Kan dia sudah tahu kalau kamu suamiku, mana mungkin dia merebut mu dariku".


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah mengatakan apa yang kulihat. Dalam pandanganku, dia bukanlah wanita baik-baik. Dan sebaiknya kamu jangan mudah percaya dengan perkataannya. Aku tidak ingin dia menghancurkan rumah tangga kita!" ujar Mas Abhi penuh penekanan.


Aku terdiam memikirkan semua ucapan Mas Abhi. Rasanya aku ingin percaya dengannya, tapi aku juga tak percaya jika Tasya menaruh hati pada suamiku. Aku yakin dia pasti sudah berubah.


"Ngomong-ngomong tadi kamu masak apa?" ujar Mas Abhi mengalihkan pembicaraan.


"Tadi aku masak makanan kesukaan kamu, Mas. Mas Abhi mau makan sekarang?" tanyaku.


"Boleh, kebetulan Mas sudah lapar" jawab Mas Abhi.


"Ya sudah, yuk kita makan".


Kami pun berjalan beriringan menuju meja makan dan menikmati makan siang bersama.


...****************...


Sementara didalam mobil Tasya nampak sedang bergumam sendiri dalam lamunannya.


"Suami Kania sangat tampan. Kelihatannya dia juga sangat kaya. Beruntung sekali Kania bisa menjadi istrinya. Aku harus mencari tahu semua hal tentang Abhimana".


"Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus merebutnya dari kania. Aku tidak suka jika dia bahagia. Lagipula. dia kan sudah punya segalanya. Jadi tidak apa jika aku merebut suaminya".


"Persetan dengan yang namanya pertemanan. Aku bahkan tidak pernah percaya dengan yang namanya teman. Bagiku di dunia ini hanya uang lah temanku".


"Kalau aku bisa merebut Abhimana dan menjadi istrinya, maka aku akan menjadi nyonya besar, dan aku tidak perlu lagi susah-susah buat cari uang. Tinggal duduk santai dirumah dan menikmati semua fasilitas".


"Tapi tunggu dulu, selama ini Dinda selalu mengawasi semua gerak-gerik ku. Dia itu wanita yang sangat cerdas. Dia pasti langsung curiga kalau aku tidak hati-hati. Lagipula dia kan sahabat Kania. Dia pasti tidak akan membiarkanku melakukannya. Dia pasti melakukan segala cara untuk menghentikanku ".


"Sepertinya aku harus menyusun rencana yang matang untuk mengadu domba mereka berdua. Dan setelah persahabatan mereka hancur, maka jalanku untuk mendapatkan Abhimana akan lebih mudah. Secara, Kania itu sangat bodoh. Dia mudah sekali untuk dibohongi. Jadi untuk merebut Abhimana tidak akan sulit bagiku".


"Kita mau kemana lagi, mbak? tanya sopir taksi membuyarkan lamunan Tasya.


"Kita langsung kembali ke toko bunga tadi aja, pak!" ujar Tasya, tersentak dari lamunannya.


Sopir pun mengemudikan mobilnya menuju toko bunga. Dan tak berselang lama, mobil pun sampai.


"Semua sudah dibayar sesuai aplikasi ya, pak!" ucap Tasya setelah ia turun dari mobil.


Sopir pun mengangguk dan berlalu pergi. Sementara Tasya segera masuk ke dalam. Saat di pintu, dia berpapasan dengan Dinda.


"Kamu sudah datang, Sya?" tegur Dinda.


" Iya, ini aku baru sampai" jawab Tasya.


"Kania belum berkata apa-apa. Aku langsung pergi setelah menyerahkan laporan itu" jawab Tasya.


"Oh gitu!" ujar Dinda singkat.


Sesaat Tasya terdiam, sepertinya dia ragu untuk bertanya.


"Emm Din, boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Tasya ragu.


"Mau nanya apa?" ucap Dinda.


"Tadi pas di rumah Kania, aku bertemu dengan suaminya. Kalau boleh tahu, suaminya itu kerja di mana ya? dan jadi apa?" tanya Tasya.


"Maksudmu si Abhimana? dia itu Direktur Utama PT Jaya Makmur" jawab Dinda.


"Oh gitu!" ujar Tasya mengangguk-anggukan kepala.


"Memangnya ada apa? kenapa tiba-tiba kamu nanya soal Abhimana?" tanya Dinda mulai curiga.


"Nggak, nggak ada apa-apa kok. Aku cuma nanya aja. Kalau gitu aku balik kerja lagi ya" ujar Tasya, ia memilih berhenti untuk bertanya saat menyadari


jika Dinda mulai curiga dengannya. Ia segera berlalu dari hadapan Dinda.


"PT Jaya Makmur kan perusahaan yang sangat besar. Aku jadi semakin yakin untuk merebut Abhimana dari tangan kania. Lagipula aku lebih cantik dari pada dia. Tubuhku juga lebih seksi. Aku yakin Abhimana pasti tergoda olehku" gumam Tasya dalam hati penuh dengan keyakinan.


Tasya menyibukkan diri dengan menata pot-pot bunga yang ada dibelakang agar Dinda tidak curiga lagi dengannya. Sementara Dinda tenggelam dalam pikirannya sendiri setelah mendengar pertanyaan yang diajukan Tasya tadi.


"Sepertinya Tasya menaruh hati pada Abhimana.Ternyata dugaanku selama ini benar. Wanita ular itu tidak akan pernah bisa berubah. Dan sekarang dia mulai menunjukkan taringnya. Aku harus segera memberitahukan hal ini pada Kania. Aku harus memperingatkan dia agar lebih berhati-hati".


Akhirnya Dinda memutuskan untuk segera menemuiku.


...****************...


Malam hari Dinda datang berkunjung ke rumahku. Aku segera membuka pintu untuk menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia sudah mengabariku jika dia ingin datang. Jadi aku langsung tahu jika dialah yang datang saat bel rumah berbunyi.


"Hai Dinda," sapaku didepan pintu.


"Hai juga kania" ujar Dinda.


Kami pun saling berpelukan seperti biasa.


"Kita masuk dulu yuk" ajakku setelah saling melepas pelukan.


Kami pun berjalan beriringan dan duduk di kursi ruang tamu.


"Oh ya, Din, aku minta maaf. Aku tadi belum sempat membaca laporan darimu" ujarku setelah duduk di kursi.


"Tidak apa" jawab Dinda.


"Oh ya gimana keadaan toko? semuanya baik-baik saja kan!" tanyaku.


"Kamu tenang aja, semuanya aman terkendali" jawab Dinda.


"Syukur deh kalo gitu!" ujarku lega.


"Kania, sebenarnya tujuanku kesini ingin ngomongin sesuatu yang penting ke kamu!" ujar Dinda, raut wajahnya berubah serius seketika.


"Hal penting apa?" tanyaku, aku menjadi risau karena melihat perubahan wajah Dinda.


"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati lagi. Jaga Abhimana baik-baik. Jangan sampai suamimu tergoda oleh wanita lain. Karena sekarang wanita ular itu mulai menunjukkan taringnya. Jangan sampai kau terkena bisanya" peringat Dinda.


"Maksudmu apa? aku nggak ngerti sama sekali dengan semua ucapanmu. Dan siapa wanita ular yang kau maksudkan tadi?" tanyaku bingung.