Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 135



Langit mendung sedari tadi. Hujan turun tak mau berhenti, seakan turut menangisi kepergian salah satu penduduk di muka bumi ini.


Tadi pagi aku mendapat kabar dari rumah sakit jika keadaan Tasya sangat kritis. Aku langsung kesana dengan tergesa-gesa. Tapi sesampainya disana ternyata dia sudah tiada, pergi untuk selamanya, menghadap pada Sang maha pencipta.


Kupandangi tubuh Tasya yang sudah terbujur kaku dihadapanku. Wajahnya terlihat berseri saat melepas semua beban derita yang selama ini menerpa. Tiada penyesalan disana, hanya kedamaian yang tersisa. Bahkan terukir sebuah senyuman di bibirnya.


Setelah mengurus semua administrasi di rumah sakit, aku langsung membawanya pulang untuk segera dimakamkan. Dan disinilah kami sekarang, duduk bersimpuh didekat makam Tasya setelah usai memasukkan dan menimbun tubuh kaku itu ke dalam tanah.


Dinda pun turut serta mengantarkan Tasya menuju peristirahatan terakhirnya. Air mata nampak berderai di kedua matanya. Tak mengira jika Tasya akan pergi dalam keadaan seperti ini.


Awalnya Dinda marah saat mengetahui aku kembali berhubungan dengan Tasya. Tapi saat ia melihat sendiri bagaimana kondisinya, ia pun bisa memahami apa yang kulakukan. Bahkan kebencian dan kemarahan itu sirna seketika, hilang musnah tak bersisa. Hanya rasa simpati dan kasihan yang tersisa.


Ya, Dinda pernah sekali ku ajak untuk menjenguk Tasya dirumah sakit. Saat itulah dia melihat betapa Tasya sudah menuai apa yang dulu ia tabur. Dan hatinya pun melunak dengan sendirinya.


Ku taburkan bunga diatas gundukan tanah yang masih basah itu. Lantunan doa terus terucap tiada henti, begitu juga dengan deraian air mata. "Pergilah menuju pencipta-mu dengan damai, Tasya. Kau sudah menebus semua kesalahan mu. Semoga kau mendapat tempat terbaik disisi-Nya."


Langit sendiri masih menunjukkan ketegaran yang sama seperti saat ia mendengar jika ibunya tidak akan bertahan lama. Meskipun begitu kesedihan nampak jelas diwajahnya. Air mata tetap tertumpah walau sekeras apapun ia mencoba untuk menahannya. Aku sangat salut dengan ketegaran anak berusia lima tahun itu.


Ku rengkuh tubuh kecil yang terbalut baju Koko dan peci itu ke dalam pelukan. Ku usap kepalanya dengan penuh kelembutan. "Lepaskan semua beban deritamu, nak. Tumpahkan semua air mata yang ingin kau tumpahkan. Jangan lagi kau menahannya. Biarkan hatimu lega dengan melakukannya. Tapi setelah ini berjanjilah, jangan ada lagi air mata yang tertumpah."


Sejenak anak itu memandang ke arahku, tapi kemudian ia menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukanku. Air mata tumpah ruah bagai air bah. "Ibuku sudah tidak ada. Aku sekarang sendirian, Bunda, benar-benar sendiri" ucapnya disela-sela Isak tangis.


Ku tadahkan wajahnya, mendongak ke arahku. "Hey, siapa bilang kamu sendiri? Bukankah masih ada kami disini?."


"Tapi Tante bukan keluargaku. Tante hanya teman dari ibuku."


"Memangnya kenapa? Bukankah kau sudah memanggilku dengan sebutan Bunda? Apakah sebutan itu tidak ada artinya bagimu?."


"Bu...bukan begitu maksud aku, Bunda. Tapi...."


"Sudahlah, nak, tidak usah dipikirkan lagi. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi percayalah, nak, ada ataupun tidak hubungan darah diantara kita, aku akan tetap menganggap mu sebagai salah satu anakku. Apalagi ibumu sudah mempercayakan dirimu padaku. Aku akan selalu menyayangimu, sama seperti anak-anak ku yang lainnya."


Langit semakin mengeratkan pelukannya. Air matanya semakin berderai. "Maafkan aku, Bunda. Aku janji tidak akan berkata seperti itu lagi. Dan terimakasih karena sudah mau merawat Langit."


Aku tersenyum mendengar ucapan Langit. "Ingatlah satu hal, nak. Apapun yang terjadi, Bunda tidak akan pernah membiarkanmu menanggung semuanya sendirian. Bunda akan selalu ada untukmu. Jadi jangan pernah berkata kalau kau sendirian."


"Iya, Bunda. Sekali lagi Langit minta maaf!."


"Sudahlah! Tidak usah diperpanjang lagi. Hari mulai malam, lebih baik sekarang kita pulang kerumah."


Langit pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Kami pun bangkit dan melangkah meninggalkan pusara Tasya. Tapi sebelumnya Langit menyempatkan untuk mengusap pusara ibunya. "Semoga ibu ditempatkan di sisi Allah. Jangan risau kan langit lagi, ada Bunda Kania yang akan merawat ku disini."


Kami pun sama-sama melangkah meninggalkan peristirahatan terakhir Tasya.


Langit tak lagi sesedih saat pertama kali ditinggal ibunya. Ia tak pernah lagi menunjukkan air mata, walau ia pun tak juga banyak bicara. Meski begitu aku sedikit bersyukur, setidaknya anak itu tidak lupa untuk tetap tersenyum.


Hari ini aku mendaftarkan langit ke sekolah. Aku memasukkannya ke sekolah yang sama dengan Faruq. Mereka terlihat sangat akrab, apalagi usia mereka juga sebaya.


Langit terlihat sangat antusias saat aku memberinya kabar tentang sekolah. Ia tidak sabar untuk segera memulai belajar. Ia tahu itu tidak akan mudah, apalagi ia sudah tertinggal selama beberapa bulan. Meskibbegitu ia tak patah semangat. Ia belajar sangat giat untuk mengejar ketertinggalannya. Ia ingin menunjukkan padaku bahwa ia adalah anak yang bisa dibanggakan.


Hari demi hari berlalu, tahun pun terus bergulir. Langit ternyata mampu menunjukkan prestasinya. Ia menjadi siswa teladan selama beberapa periode.


Anak-anak ku yang lain pun tak mau kalah, mereka juga menunjukkan prestasi yang tak kalah bagusnya. Kebahagiaan ku terasa sangat lengkap karena memiliki anak-anak seperti mereka.


Tubuh ini semakin menua. Langkah kaki juga tak sekuat waktu masih muda. Tapi ke tiga anakku mampu menjadi penopang hidupku.


Mas Abhi masih setia di sampingku. Cintanya masih sama besar seperti saat kita pertama menikah. Bahkan semakin bertambah seiring bertambahnya usia.


Ke tiga anakku sudah tumbuh dewasa. Mereka pintar dan berbudi pekerti luhur. Aku tak lagi memimpin perusahaan. Aku sudah menyerahkannya pada Naila, seperti yang di wasiatkan oleh Papa.


Mas Abhi perlahan juga mulai menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada Faruq. Ia juga meminta Langit untuk membantunya. Mereka berdua bekerja sama untuk membuat perusahaan semakin maju.


Hidup telah mengajarkan banyak hal pada kami, walau terkadang itu harus lewat sebuah luka. Tapi percayalah, setiap luka yang kita derita, akan semakin mendewasakan diri kita.


Begitu juga dengan kepercayaan. Mendapatkan kepercayaan itu tidaklah mudah. Tapi menjaga kepercayaan itu agar tetap ada jauh lebih sulit lagi. Butuh waktu berpuluh puluh tahun untuk mendapatkan sebuah kepercayaan, tapi hanya butuh waktu sedetik untuk menghancurkannya.


Apapun itu, percayalah! kita akan menuai apa yang kita tabur. Cepat atau lambat semua pasti terjadi. Karena itu sudah hukum alam.


Begitu juga dengan kebaikan. Kita akan mendapat balasan setimpal dengan apa yang kita perbuat. Ibarat kata pepatah, kalau kau menanam rumput, maka jangan pernah harap bisa tumbuh padi. Karena orang yang menanam padi saja bisa tumbuh rumput, apalagi yang memang menanam rumput.


Apapun itu aku hanya bisa berharap, semoga kebahagiaan tidak pernah lagi meninggalkanku.


...~_ SEKIAN_~...


Hai reader, akhirnya karya pertamaku usai sudah. Semoga kalian suka dengan akhirnya.


Banyak kesalahan dalam penulisan, baik kata ataupun tanda baca, ini semua karena author masih dalam tahap belajar. Semoga kalian tidak kecewa dengannya.


Terimakasih banyak author ucapkan pada semua yang sudah banyak mendukung dalam berkarya. Kedepannya author akan berusaha lebih baik lagi.


Dalam kesempatan ini author juga mau memperkenalkan karya terbaru, judulnya *KETIKA CINTA HARUS MENENTUKAN*. Semoga kalian berkenan untuk memberikan dukungan yang serupa.



Akhir kata author ucapkan terimakasih dan sampai jumpa di lain kesempatan. 🤗🤗🤗