Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 59



"Saat ini pasien mengalami koma akibat dari benturan di kepalanya!" ujar dokter itu.


Pias!!


wajahku pucat pasi, tubuhku ambruk seketika, bersamaan dengan kesadaran ku yang ikut hilang.


"Kania!!" pekik Mas Abhi tertahan.


Mas Abhi segera berlari menghampiriku dan merengkuhku tubuhku.


"Kania,kamu kenapa?, ayo bangun Kania,sadarlah!," ujar Mas Abhi mencoba menyadarkanku dengan menepuk-nepuk pipiku.


"Cepat, bawa istri anda ke ruangan itu!" perintah dokter itu sambil menunjuk ke salah satu ruangan.


Mas Abhi pun segera mengangkat tubuhku dan membawaku menuju ruangan yang ditunjukkan dokter tadi.


Sesampainya disana, Mas Abhi segera merebahkan tubuhku diatas kasur yang tersedia disana,dan dokter pun segera memeriksa tubuhku.


Setelah beberapa saat dokter pun selesai memeriksa


"Bagaimana keadaan istri saya dok?, tanya Mas Abhi pada dokter itu.


"Sepertinya istri anda mengalami syok.Saya sudah menyuntikkan obat penenang agar dia bisa beristirahat, tidak lama lagi istri anda pasti sadar," kata dokter itu memberikan keterangan.


"Terimakasih banyak,dok!," ujar Mas Abhi.


"Sama-sama!, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap dokter itu.


Dan dokter pun segera meninggalkan kami.


Tak berselang lama aku pun mulai sadar.


"Argh aku dimana?," tanyaku setelah aku sadar sambil memegangi kepalaku yang masih agak pusing.


Tiba-tiba aku teringat pada Emir.Aku segera bangkit dari tempat tidur dan hendak menemuinya, tapi dengan segera Mas Abhi mencegahku.


"Kamu mau kemana, Kania? kamu harus istirahat dulu!" ucap Mas Abhi.


"Lepaskan aku,mas, aku mau lihat Emir!" jawabku sambil mencoba menyingkirkan tangan Mas Abhi dariku.


"Tenanglah dulu Kania, dokter baru saja memindahkan Emir ke ruang ICU,kau istirahatlah dulu!" ujar Mas Abhi berusaha tetap mencegahku.


"Tidak Mas Abhi, aku harus melihat keadaan Emir!" tolakku.


"Tapi tubuhmu masih lemah Kania, kamu harus istirahat!" jawab Mas Abhi.


"Aku tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja!. Sekarang cepat antar aku kesana,aku mau lihat keadaan Emir!," ujarku tetap bersikukuh untuk menemui Emir.


Mas Abhi pun menghela napas panjang melihatku tetap ngotot untuk menemui Emir.


"Baiklah!,aku akan mengantarkanmu kesana,tapi kamu harus tenang dulu" ujar Mas Abhi akhirnya.


Aku pun mengambil napas panjang untuk menenangkan diriku.


"Sekarang aku sudah tenang, Mas!. Antar aku kesana sekarang!" ucapku.


"Baiklah,kita kesana sekarang!," jawab Mas Abhi.


Mas Abhi pun segera membawaku menuju ruang ICU.


Sesampainya aku disana,aku segera masuk kedalam.Kulihat Emir tergolek lemah tak berdaya dengan beberapa selang yang menancap ditubuhnya.


Aku segera menghampiri tubuh Emir dan duduk disamping tempat tidurnya.


"Hiks hiks kenapa kamu jadi seperti ini, Emir? , bangunlah,nak!,buka matamu!" ujarku sambil sesenggukan,aku tak mampu membendung air mataku lagi saat melihat kondisinya.


"Ini semua salah Bunda!.Bunda tidak bisa melindungi Emir, Bunda bukan ibu yang baik buat Emir!" ujarku menyalahkan diriku sendiri.


Air mataku terus mengalir deras, hingga tak terasa aku pun tertidur disamping Emir karena kelelahan.


...****************....


Sudah sepekan lamanya Emir koma,tapi ia tak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda bahwa ia akan sadar.


Dengan setia aku terus menjaga Emir disampingnya,aku bahkan tak beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya walau hanya sekedar untuk mengisi perutku.


Berulangkali Mas Abhi mencoba membujukku agar aku mau mengistirahatkan tubuhku barang sejenak, tapi dengan tegas aku menolaknya.Aku tak ingin Emir hilang dari pandanganku walau sedetik.


Kubelai rambut Emir dengan penuh kasih sayang sembari mengajaknya bicara.


"Emir, bukalah matamu nak!".


"Bukankah Emir sering bilang, kalau Emir itu anak yang kuat?,Emir jagoannya Bunda?" ujarku sambil meneteskan air mata.


"Emir juga pernah bilang, kalau Emir akan jagain Bunda!,Emir nggak akan ngebiarin Bunda sedih lagi kan!".


"Sekarang bukalah matamu,nak!,jangan membuat Bunda sedih begini!," ujarku lagi sambil terisak-isak.


Melihatku bersedih, Mas Abhi pun duduk disamping Emir berhadapan denganku ikut berbicara dengan Emir.


"Emir,bukalah matamu,nak!"


"Bukankah Emir ingin om Abhi menjadi Ayahnya Emir?. Lihatlah, sekarang om Abhi sudah menjadi Ayahnya Emir bukan?".


"Bukalah matamu sekarang,nak!.Nanti kita akan buat foto keluarga kita,setelah itu Emir bisa tunjukkin ke teman-teman Emir kalau Emir juga punya Ayah!" ujar Mas Abhi.


Aku semakin tersedu-sedu mendengar ucapan Mas Abhi.


Tiba-tiba saja jemari Emir mulai bergerak,dan perlahan ia mulai membuka matanya.


Emir pun menoleh kearahku.


"Bunda..." ucap Emir lirih.


"Iya nak, Bunda ada disini!" jawabku sambil menggenggam jemari Emir.


"Bunda kenapa menangis? Bunda jangan sedih, Emir baik-baik saja kok Bunda!" ucap Emir.


cepat-cepat kuhapus air mata yang mengalir di pipiku.


"Bunda nggak nangis kok,lihat! ,sekarang Bunda tersenyum," ujarku sambil menunjukkan senyum termanis ku.


"Emir senang melihat Bunda tersenyum, karena Bunda terlihat sangat cantik saat tersenyum,!" ujar Emir.


Aku pun tersenyum tipis menanggapi ucapan Emir.


"Bunda harus janji, Bunda akan tersenyum terus seperti ini!" ujar Emir lagi.


"Bunda janji nak,Bunda akan terus tersenyum untuk Emir!," ucapku berjanji.


"Terimakasih Bunda!" ucap Emir sambil tersenyum.


"Ayah..." panggil Emir,kali ini ia menoleh kearah Mas Abhi.


"Iya nak, ini Ayah!" ujar Mas Abhi menyahuti panggilan Emir.


"Terimakasih banyak Ayah,karena Ayah sudah mau menjadi Ayahnya Emir.Emir sayang Ayah!" ucap Emir.


"Sama-sama nak,Ayah juga sayang Emir!" jawab Mas Abhi.


"Emir ingin Ayah berjanji.Setelah nanti Emir tiada,Ayah akan terus menjaga Bunda dan tidak akan pernah membiarkan Bunda menangis lagi!" pinta Emir.


"Kenapa Emir bilang begitu,nak?" sergah Mas Abhi cepat.


"Ayah yakin, Emir pasti sembuh.Emir kan anak yang kuat!" ujar Mas Abhi lagi.


"Tidak Ayah,Emir ingin Ayah berjanji pada Emir!" ujar Emir bersikeras.


Mas Abhi pun menghela napas panjang.


"Baiklah nak,Ayah berjanji, Ayah akan terus menjaga Bunda dan tidak akan pernah membiarkan Bunda menangis lagi!" ucap Mas Abhi berjanji.


"Terimakasih, Ayah!" ujar Emir sambil tersenyum.


Kemudian Emir meraih tanganku dan Mas Abhi dan menumpuknya diatas tubuhnya.


"Emir bahagia,karena sekarang Emir sudah punya orang tua yang lengkap.Emir ingin kalian berdua akan terus bersama selamanya," ujar Emir.


"Kami janji,nak!.Kami akan terus bersama selamanya!" ujarku sambil berurai air mata.


"Terimakasih!" ujar Emir lemah.


Kemudian Emir pun menoleh kearah Dinda.


"Tante Dinda...!" panggil Emir kali ini.


Dinda yang sedari dari hanya diam pun merangsek maju.


"Iya nak,ini Tante!" sahut Dinda.


"Tante,Emir cuma mau bilang terimakasih sama Tante,karena selama ini Tante sudah sayang sama Emir," ucap Emir.


"Sama-sama,nak!" jawab Dinda.


"Emir harap,setelah nanti Emir tiada kalian tidak akan pernah menangis lagi!" ucap Emir.


kami semakin sedih mendengar ucapan Emir.


Setelah berkata begitu tiba-tiba tubuh Emir kejang-kejang,aku pun berteriak histeris.


"Emir, bangunlah nak!, bukalah matamu!" teriakku sambil bercucuran air mata.


Kugoncang tubuh Emir dan berusaha membuat ia sadar kembali,tapi tubuh Emir semakin kejang.


"Mas Abhi, tolongin Emir,mas!" teriakku,pandanganku beralih kearah Mas Abhi.


Mas Abhi pun segera berlari memanggil dokter.


"Dokter dokter tolongin anak saya ,dok.Ia mengalami kejang-kejang" teriak Mas Abhi memanggil dokter.


Dokter pun segera berlari menuju ruang ICU.


"Tolong minggir sebentar!,biar kami yang menangani pasien!" ujar dokter itu.


Kami pun segera menyingkir agar dokter bisa mengambil tindakan.


*


*


*


****Hai reader tersayang, author mau minta maaf karena hari ini author cuma bisa up sedikit.hari ini author kurang enak badan.


Dikesempatan kali ini author mau ngucapin terimakasih banyak karena reader semua sudah setia mendukung author dalam berkarya.tanpa reader semua author bukanlah apa-apa.


sampai jumpa lagi di part selanjutnya,jangan lupa dukung terus author dengan cara like, koment dan vote sebanyak-banyaknya biar author makin semangat up nya.🤗🤗🤗****