
"Kalau kau mau bicara denganku maka biarkan Dinda disini!" jawabku.
Arsen pun menghela nafas panjang,sejenak ia berpikir dari mana ia akan memulai.
Tak berselang lama Arsen pun segera menghampiriku,ia meraih tanganku dan menggenggam jemariku.
"Kania maafkan aku,aku sangat menyesal sudah menyakiti hatimu dulu!" ujar Arsen sendu.
Aku terkejut saat mendengar ucapan Arsen,begitu pula dengan Dinda,ia tak kalah terkejutnya denganku.
"Hey pria brengsek,apa aku nggak salah dengar? kau mau minta maaf? ada angin apa tiba-tiba kau mau minta maaf? atau jangan-jangan ini hanya salah satu akal licik kamu buat nyakitin Kania lagi!" tanya Dinda sinis seraya menunjuk kearah Arsen.
"Tolong jangan dengarkan dia Kania,aku sungguh-sungguh mau minta maaf padamu!" ujar Arsen.
"Alah nggak usah bohong deh kamu,udah Nia jangan percaya dengan ucapan laki-laki brengsek ini!" jawab Dinda seraya menarik tanganku dari genggaman Arsen.
"Kumohon percaya sama aku Nia,aku sekarang sudah berubah Nia,aku benar-benar menyesali semua perbuatanku dulu padamu,aku sungguh minta maaf!" ujar Arsen memohon.
Aku terdiam mendengar ucapan Arsen,sejenak kupandangi wajahnya,kulihat tidak ada kebohongan disana.
"Baiklah Arsen,aku akan memaafkanmu!" kataku akhirnya sambil menghela napas.
"Benarkah itu Nia, kau sungguh-sungguh kan dengan ucapanmu tadi!" tanya Arsen.
aku pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Terimakasih banyak Nia,aku janji aku tidak akan menyakitimu lagi!" ujar Arsen dengan raut wajah berbinar.
Sementara itu Dinda terlihat tidak suka saat aku berkata mau memaafkan Arsen.
"Kau ini kenapa Nia? kenapa semudah itu kau memaafkan pria brengsek ini? apa kau sudah lupa dengan apa yang sudah diperbuatnya padamu?" teriak Dinda marah sambil mengguncang lenganku.
"Tenanglah dulu Dinda,dengarkan dulu penjelasanku,aku tidak lupa dengan apa yang sudah ia perbuat padaku dulu,tapi bukankah memaafkan itu jauh lebih baik dari pada menyimpan dendam" jawabku.
"Allah saja mau memaafkan semua kesalahan hamba-Nya yang mau bertobat,masak kita sebagai hamba-Nya tidak mau memaafkan kesalahan orang lain!" kataku lagi sambil tersenyum.
"Entahlah Kania,aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!" kata Dinda sambil menggelengkan kepala.
"Jadi sekarang kau mau kan kembali lagi denganku?" tanya Arsen tiba-tiba.
aku begitu terkejut mendengar ucapan Arsen kali ini,aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu.
"Maafkan aku Arsen,aku memang sudah memaafkan semua kesalahanmu, tapi bukan berarti aku mau kembali lagi padamu!" jawabku.
"Beri aku satu kali lagi kesempatan Nia,aku janji aku tidak akan mengecewakanmu lagi!" harap Arsen.
"Maaf Arsen,aku tidak bisa!" jawabku tegas.
"Kumohon Kania, setidaknya pikirkan juga tentang anak kita,bukankah dia juga butuh aku sebagai ayahnya?" kata Arsen sambil meraih tanganku.
Segera kutepis tangan arsen dari tanganku.
"Tolong jangan bawa-bawa Emir dalam masalah ini,dan asal kau tahu kami berdua sudah cukup bahagia tanpa adanya kau!" jawabku sengit,aku tak suka karena Arsen membuat Emir sebagai alasan untuk memintaku kembali padanya.
"Kau sudah selesai kan dengan urusanmu,sekarang pergilah dari sini!" kataku lagi.
"Tapi Kania..." ujar Arsen.
"Diam kau,jangan ikut campur urusanku!" bentak Arsen pada Dinda.
"Kumohon pergilah dari sini Arsen,lagi pula aku masih banyak pekerjaan" kataku lirih.
"Baiklah Kania aku akan pergi sekarang,tapi ingatlah satu hal,kali ini mungkin kau menolak untuk kembali padaku, tapi aku tidak akan pernah menyerah,aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu kembali,aku akan meyakinkanmu agar kau mau kembali lagi padaku!" ujar Arsen.
"Sudah jangan banyak bicara,cepat pergi dari sini!" usir Dinda.
Arsen pun segera pergi dari toko bung kami,sedangkan Dinda segera masuk kedalam untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena kedatangan Arsen tadi,sementara aku terus memandangi kepergian Arsen dengan kesedihan.
'Kenapa baru sekarang kau datang kembali Arsen? bahkan luka bekas kau sakiti dulu saja belumlah kering,tapi kini kau malah memohon dan mengharap untuk kembali lagi'.
'Kau tahu dulu aku begitu tulus mencintaimu, bahkan setelah kau mengambil kesucianku pun aku masih tetap mencintaimu,tapi kau malah tega berselingkuh dan bahkan mencampakkanku disaat aku tengah mengandung anakmu'.
'Maafkan aku Arsen, aku tak bisa lagi kembali padamu semuanya sudah terlambat,luka yang kau buat dulu sangatlah dalam hingga aku pun tak tahu apakah aku bisa menyembuhkan luka itu' gumam ku dalam hati dengan wajah sendu.
...****************...
Ternyata Arsen memang benar-benar membuktikan ucapannya padaku waktu itu.Setiap hari dia selalu mendatangi toko bunga kami dan merayuku agar mau kembali padanya.
Berbagai cara dia lakukan untuk meyakinkanku,tapi dengan tegas aku menolak permintaanya.
Tapi nampaknya Arsen tidak menyerah begitu saja,setelah ia gagal meyakinkanku, kini ia mencari cara lain dengan mendekati Emir.
Pernah sekali Arsen menjemput Emir disekolahnya saat emir pulang sekolah dan mengantarkannya kerumah,dan setelah sampai dirumah Emir pun langsung bertanya padaku tentang siapa orang yang sudah mengantarkannya pulang tadi.
"Siapa sebenarnya om tadi bunda? dia bilang katanya dia itu papanya Emir,apa benar begitu bunda?" tanya Emir.
Aku terdiam mendengar pertanyaan Emir,aku tak tahu bagaimana cara untuk menjelaskan padanya.
"Aku rasa sudah saatnya Emir tahu yang sebenarnya tentang siapa pria itu kania!" ujar Dinda saat melihat aku kebingungan menjawab pertanyaan Emir,kebetulan saat itu ia berada dirumahku.
"Tapi Emir masih terlalu kecil untuk tahu yang sebenarnya Dinda,aku takut nanti dia malah akan membenciku setelah dia tahu yang sebenarnya" tolakku.
"Emir itu anak yang pandai dan pengertian Kania,aku yakin dia pasti akan mengerti,dan aku rasa lebih baik dia tahu yang sebenarnya darimu,bukan dari mulut orang lain!" jawab Dinda menepis ketakutan ku.
aku terdiam mendengar ucapan Dinda,aku rasa apa yang dikatakan olehnya memang ada benarnya,lebih baik Emir tahu yang sebenarnya dariku,bukan dari orang lain,karena itu hanya akan memperburuk keadaan.
Aku pun segera memanggil Emir dan memintanya untuk duduk di sampingku.
"Emir kemarilah nak,duduklah disamping bunda!" kataku sambil menepuk kursi disampingku.
Emir pun segera menghampiriku dan duduk disampingku.
"Ada apa bunda? kenapa bunda memintaku duduk disini?" tanya Emir setelah ia duduk.
"Emir ingin tahu kan siapa om itu sebenarnya?" tanyaku.
"Iya benar bunda,cepat katakan siapa sebenarnya om itu bunda!" jawab Emir dengan antusias.
"Tapi Emir janji dulu sama bunda,Emir nggak boleh marah apalagi membenci bunda setelah bunda cerita yang sebenarnya nanti!" kataku.
"Emir janji bunda,Emir nggak akan marah apalagi benci sama bunda!" jawab Emir sambil mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda bahwa ia berjanji padaku.
Aku pun menghela napas panjang sebelum akhirnya aku mulai menceritakan yang sebenarnya.