
"Baiklah. Anggap saja aku percaya dengan kejadian yang menimpamu. Tapi bagaimana kau menjelaskan dengan tanda merah yang ada disekujur tubuh Tasya?".
"Itu semua hanya tipu muslihatnya saja. Dia sengaja membuat tanda itu untuk membuatmu percaya dengan ucapannya!" jawab Mas Abhi.
"Maaf, Mas. Itu bukanlah jawaban yang ingin aku dengar!".
Mas Abhi mendengus kesal. Ia mengusap wajahnya kasar. "Dengan cara apa aku menjelaskan padamu?. Aku harus bagaimana untuk membuatmu percaya padaku?".
"Aku hanya percaya dengan apa yang kulihat!" jawabku dingin.
"Tidak semua yang terlihat adalah nyata. Bisa saja itu hanya tipuan semata" ujar Dinda menimpali. Sedari tadi ia hanya diam mendengarkan kami bicara. Ia mulai membuka suara saat melihat pembicaraan kami tidak menemukan titik terang.
Aku terdiam memikirkan ucapan Dinda. Dia memang tidak pernah ikut campur dalam setiap urusan kami sebelum kami yang meminta. Tapi ia akan berbicara bila memang ia rasa itu perlu.
Hatiku mulai bimbang. Ucapan Dinda barusan begitu mempengaruhi pikiranku.
"Pergilah, Mas. Biarkan aku sendiri dulu. Aku ingin menenangkan diriku dan memikirkan semuanya dengan kepala dingin" ujarku sendu sambil menundukkan kepala.
"Tapi...."
"Kumohon...." mengangkat wajahku dan memandang ke arahnya dengan tatapan sayu. Air mata menggenang di kelopak mata.
Mas Abhi mendengus kesal sambil membuang pandangan. Ia paling tidak bisa melihatku memohon seperti ini.
"Kania benar, Abhi. Biarkan dia sendiri dulu" ujar Dinda, menepuk bahu Mas Abhi, menenangkan.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu sendiri untuk sementara waktu. Tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk menyakinkan mu bahwa aku tidak melakukan hal itu".
"Terimakasih untuk pengertianmu!" jawabku lirih.
Aku melangkah menuju kamarku, meninggalkan mereka berdua yang masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak berselang lama terdengar deru mesin mobil meninggalkan pelataran rumah Papa.
"Tuhan, berikan petunjuk-Mu padaku. Tunjukkanlah kebenaran padaku".
Aku tergugu dalam tangisku. Ku tenggelamkan wajahku ke dalam bantal. Ingin rasanya percaya dengan semua ucapan Mas Abhi dan melupakan apa yang terjadi. Tapi bayangan tanda merah disekujur tubuh Tasya membuatku tidak bisa abai dengannya.
Hubungan, cinta, kepercayaan, dan keyakinan
Semua ini adalah kebutuhan hidup
Dunia berada dalam genggaman kita
Impian ada di telapak tangan
Kenapa hati ini berteriak?
Kenapa imanku melemah?
Mengapa hubungan ini melemah?
...****************...
Mas Abhi tak pernah gentar dengan penolakanku. Ia terus berusaha meyakinkan dan membuatku percaya dengannya. Dia juga terus meminta agar aku kembali lagi ke rumah.
"Mas, apa kau tidak capek melakukan hal yang sama setiap hari?" tanyaku suatu hari.
"Aku tidak akan pernah lelah sebelum kau percaya denganku!" ujar Mas Abhi tegas.
Aku menghela napas berat. " Tapi aku yang lelah, Mas".
"Kumohon, percayalah padaku!"
"Jujur, Mas, rasanya aku ingin percaya denganmu. Tapi aku tidak bisa begitu saja abai dengan Tasya".
"Sebegitu percayakah kau dengan Tasya? lalu bagaimana dengan Abhimana? apa kau tidak mempercayai suamimu sendiri? apa kau tidak ingin memberikan Abhimana kesempatan untuk membuktikan diri?" tanya Dinda memberondong ku dengan beberapa pertanyaan.
"Bagaimana mungkin aku tidak percaya dengannya? kau juga melihatnya sendiri kan kejadian kemaren" jawabku.
"Lalu bagaimana jika memang Tasya yang salah, dan Abhimana yang benar? apa kau tidak pernah berpikir tentang kemungkinan itu?" tanya Dinda, membalik keadaan.
"Kau jangan pernah lupa dengan anak kalian. Pikirkan juga bagaimana perasaan Naila jika kalian terus seperti ini. Bagaimana pun, Abhimana adalah Ayahnya. Kau jangan egois dengan memisahkan mereka berdua hanya demi membela Tasya yang belum tentu benar" lanjut Dinda.
Kembali aku dibuat diam dengan perkataan Dinda, dan semua yang dikatakannya memang benar.
Aku ingat, beberapa kali Naila mengajukan pertanyaan mengenai Mas Abhi. "Bunda, Ayah kemana? kenapa dia tidak pernah menemui kita? bahkan ayah tidak pernah menelpon kita".
Waktu itu aku menjawab jika Ayahnya sedang sibuk, dan dia tidak bisa diganggu. Tapi Naila adalah anak yang cerdas. Di usianya yang masih kecil, ia sudah bisa membaca keadaan.
"Bunda, kenapa Bunda berantem dengan Ayah? memangnya apa salah Ayah sehingga membuat Bunda marah dan tidak mau memaafkannya?".
Jika Naila sudah bertanya seperti itu, aku hanya bisa diam. Aku tak ingin mengatakan hal yang membuat ia membenci Ayahnya sendiri.
Semua yang terjadi bukanlah kesalahannya, tapi seakan dialah yang menanggung akibatnya. Rasanya egois sekali membuatnya menderita atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.
Kucoba menepis egoku. Semua demi Naila. "Baiklah Mas, aku akan pulang ke rumah" ucapku akhirnya.
"Benarkah?" tanya Mas Abhi, mencari kebenaran dalan ucapanku.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Terimakasih banyak, honey" ujar Mas Abhi berbinar-binar, sorot matanya menunjukkan betapa bahagianya dia mendengar keputusanku.
Hari itu juga aku mengemasi barang-barangku dan pulang lagi ke rumah. Mas Abhi menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka. Ia hendak membantu membawakan barang-barangku, tapi aku malah menepis tangannya kasar.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri" ujarku dingin.
Mas Abhi menanggapi sikapku ini dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Aku tak ambil pusing dengan apa yang ia pikirkan. Aku segera melangkahkan kaki menuju kamar tamu. Melihat hal itu, Mas Abhi segera menghentikanku dengan menahan lenganku.
"Kenapa kau malah masuk ke sana, honey? apakah kita tidak akan tidur bersama?" tanya Mas Abhi lunak.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa!".
"Bukankah kau sudah setuju untuk kembali lagi kerumah?. Bukankah itu berarti kau sudah percaya denganku?. Tapi kenapa kau masih tidak mau tidur denganku? " tanya Mas Abhi tak mengerti.
"Aku memang setuju untuk pulang lagi ke rumah, tapi bukan berarti aku mau tidur sekamar lagi denganmu. Aku mengambil keputusan ini hanya demi Naila".
"Sekarang semuanya tidak lagi sana, Mas. Kau sudah membuatku kecewa".
Mas Abhi mendengus kesal, ia mengusap wajahnya kasar. "Harus bagaimana lagi untuk membuatmu percaya, Kania?".
"Biarlah waktu yang menjawab semuanya, Mas. Untuk sementara, biarkan seperti ini dulu. Inilah yang terbaik untuk kita semua".
Mas Abhi menghela napas berat. "Baiklah kalau itu keinginanmu. Aku hargai semua keputusanmu. Paling tidak kau sudah mau kembali lagi ke rumah ini."
Aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar tamu, meninggalkan Mas Abhi yang masih terpaku ditempatnya.
Dering telepon dari handphone Mas Abhi, ternyata itu panggilan dari Dinda. Mas Abhi menekan tombol hijau untuk menerima panggilan darinya.
"Iya, halo, Din!" ujar Mas Abhi dari balik telepon.
"Apa Kania dan Naila sudah sampai di rumahmu?" tanya Dinda dari seberang.
"Mereka sudah sampai dari tadi. Tapi....".
"Tapi apa, Abhi?".
"Tapi Kania masih belum mau tidur sekamar denganku?"
Dinda menghela napas panjang. "Untuk sementara biarkan seperti ini dulu. Nanti kita cari cara lain untuk meyakinkan kania".
"Iya, Din. Makasih banyak atas semua bantuan mu padaku".
"Sama-sama. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Aku tadi menelpon hanya ingin memastikan keberadaan mereka".
Dan sambungan telepon pun terputus. Mas Abhi memutuskan untuk masuk ke kamar. Ia ingin beristirahat, sejenak melupakan semua masalah yang terjadi.