Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 134



"Tante tidak usah bingung mencari cara bagaimana untuk menjelaskan padaku, karena aku sudah tahu semuanya."


Sebuah suara sukses membuat kami terkejut. Sontak kami pun menoleh ke sumber suara. Ternyata dia adalah Langit. Entah bagaimana tiba-tiba ia sudah berada di depan kami.


Cepat-cepat aku menghapus air mata yang meleleh di pipi. "Ma... maksud kamu apa berkata seperti itu, nak?" ucapku terbata-bata.


"Tante tidak usah berpura-pura tidak tahu maksud perkataanku, karena aku sudah dengar semuanya. Aku tahu, ibuku tidak akan bertahan lebih lama lagi. Ia akan meninggal, bukan!."


Ucapan Langit sukses membuat tubuhku lemas. Air mata ini kembali luruh. "Dari mana kamu tahu, nak?."


"Aku mendengar dengan telingaku sendiri kalau dokter berkata seperti itu!." Tanpa sepengetahuan kami, ternyata langit telah mengikuti kami saat ke ruangan dokter tadi, dan dia pun mendengar dengan jelas semuanya.


Aku segera berlari menubruk tubuh kecil itu. Kubawa ia ke dalam dekapanku. "kamu yang kuat, Langit. Tante ada bersamamu."


Kupandangi wajah anak berusia lima tahun itu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada air mata yang keluar dari kedua bola bundar bercahaya itu, tapi kesedihan tergambar jelas diwajahnya. Meskipun ia tak menunjukkannya dihadapan kami kami. Ia berusaha untuk tetap tegar. "Tante jangan khawatir. Aku anak yang kuat. Aku bisa mengatasi diriku sendiri. Satu yang kuinginkan sekarang, aku ingin menghabiskan lebih banyak lagi waktu bersama ibu, sebelum ia benar-benar pergi!."


Aku seperti ditampar melihat ketegaran yang ditunjukkan oleh anak kecil berhidung mancung itu. Aku sangat malu dengan anak yang berusia jauh dibawah ku itu. Bahkan aku tidak setegar itu saat Papa meninggal. "Kau benar sekali, nak. Kita harus menghabiskan waktu bersama ibumu sebanyak yang kita punya. Tante juga ingin membuat kenangan indah di sisa-sisa umurnya."


Mas Abhi tak banyak berkata. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jujur, ia sendiri pun merasa terpukul mendengar kenyataan ini.


Setelah saling menguatkan, kami pun kembali ke ruangan Tasya. Dan sesampainya disana ternyata ia sedang menerawang ke langit-langit rumah sakit, akan tetapi ia terlihat lebih tegar, sepertinya ia bisa menebak apa yang dikatakan dokter tadi.


"Tasya" ucapku sambil menyentuh tangannya. Ia tersentak melihat kehadiran kami. Sejurus kemudian ia menyunggingkan sebuah senyuman pada kami. "Kalian sudah kembali!." ucapnya. Aku menganggukkan kepala sebagai sebuah jawaban.


Aku pandangi wajah pucat yang tengah terbaring di atas ranjang itu. Tidak ada yang bisa kukatakan padanya. Hanya ada kebisuan yang tercipta.


"Aku tahu hidupku tidak akan bertahan lama, dan aku sudah ikhlas menerimanya. Semoga penyakit ku ini bisa melebur semua dosa-dosa ku" ucapnya beberapa saat kemudian, memecah kebisuan yang mendera.


"Allah maha penyayang. DIA pasti memaafkan semua kesalahanmu!".


"Aku cukup lega mendengarnya. Setidaknya tidak akan ada penyesalan lagi saat aku menjemput ajalku nanti!."


Tidak ada yang berkata-kata lagi. Kami sama-sama tenggelam dalam kesedihan kami.


"Kania, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Tasya, kembali memecah kebisuan.


"Katakan!."


"Maukah kau menjaga Langit untukku setelah aku tiada nanti!."


Sebutir air mata kembali lolos dari pelupuk mata mendengar permintaannya.


"Aku tahu permintaanku ini sangatlah tidak tahu malu, mengingat apa yang pernah kuperbuat dulu padamu. Tapi aku tidak tahu pada siapa lagi untuk meminta tolong. Aku ingin ada seseorang yang merawatnya setelah nanti aku tiada."


Aku ingin segera mengiyakan permintaan temanku itu, tapi aku tetap menahan diri untuk tidak melakukannya. Aku ingin meminta persetujuan dulu dari suamiku. Bagaimanapun dia adalah imam keluargaku.


Kuarahkan pandangan ke arah Mas Abhi, seolah-olah meminta persetujuan darinya. Mas Abhi pun mengerti dengan apa yang kumaksud. Ia menjawab dengan menganggukkan kepala. Aku pun tersenyum melihat persetujuan darinya.


"Kau tenang saja, Tasya. Kami akan merawat Langit seperti anak kami sendiri. Dia anak yang manis dan sopan. Kami tidak akan keberatan dengan keberadaannya ditengah-tengah kami" ucap Mas Abhi.


"Kalian berdua memang orang-orang yang sangar baik. Aku menyesal karena pernah berbuat jahat pada kalian" lanjutnya.


Kali ini pandangan Tasya beralih pada putra semata wayangnya itu, mengisyaratkan padanya untuk mendekat.


Langit langsung berhambur memeluk ibunya. "Ibu....." Hanya itu yang bisa ia katakan. Selebihnya hanya air mata yang bicara.


"Jangan menangis, nak, ibu tidak apa-apa. Langit mau, kan tinggal bersama Tante Kania dan Om Abhimana setelah banti ibu tiada" ucapnya sambil membelai rambut anaknya.


Langit tidak menjawab. Hanya Isak tangis yang semakin keras terdengar.


"Jadilah anak yang kuat dan pemberani. Turuti semua perkataan Tante Kania dan Om Abhi. Jangan membuat mereka susah."


Langit makin tergugu dalam Isak tangisnya mendengar ucapan sang ibu.


Hari semakin siang, terik matahari membakar bumi. Kami memutuskan untuk pulang dulu kerumah. Ada anak yang menantikan kehadiran kami disana.


Mas Abhi kembali memacu kecepatan mobilnya setelah mengantarkan ku pulang. Ia ada meeting dengan klien yang tidak bisa ditunda. Sedang aku kembali berkutat dengan pekerjaan rumah. Sejenak melupakan kesedihan yang sempat mendera.


...************...


Semakin hari kondisi Tasya semakin memburuk, tapi kini senyuman tak pernah lekat dari wajahnya. Ia seakan sudah siap bila sewaktu-waktu Tuhan datang mengambil nyawanya.


Satu hal yang membuatku senang dengan sosok Tasya, ia tidak lagi melupakan ibadah pada Tuhan. Bahkan ia tetap melakukan kewajibannya ditengah sakit yang semakin mendera.


Langit pun semakin enggan beranjak dari sisi ibunya. Ia takut ibunya tiada saat ia tidak berada didekatnya. Anak itu benar-benar ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya selama masih ada kesempatan.


Setiap hari aku datang untuk menjenguk. Sekadar membawakan makanan atau baju ganti untuk Langit. Sesekali aku datang bersama ke dua anakku. Sekaligus ingin mengajarkan bekas kasih pada sesama pada keduanya.


Langit sudah bisa mengakrabkan diri dengan kedua anakku. Merekapun bisa menerima keberadaannya. Bahkan sesekali mereka tampak bersenda gurau.


Pribadi Langit memang sangat menyenangkan. Itu sebabnya tidak membutuhkan waktu lama untuk mendekatkan mereka. Bahkan kini mereka seperti saudara. Apalagi Langit seusia dengan Faruq.


"Langit, nanti kita sekolah bareng, ya. Pasti sangat menyenangkan bisa bersekolah denganmu" ucap Faruq suatu ketika.


"Tapi aku belum pernah bersekolah. Aku tidak yakin apakah aku bisa nantinya" jawab Langit sendu. Wajah tertunduk karena beban kesedihan yang menumpuk.


"Jangan khawatir! Kami akan membantumu belajar. Bunda juga pasti akan membantu. Iya kan, Bunda!" ucap Faruq lagi sambil menatap ke arahku, seolah meminta pembenaran dari kata-katanya.


"Tentu saja, nak. Kami akan membantumu. Kamu akan bersekolah nantinya. Kamu berhak untuk mendapatkan pendidikan juga" ucapku sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak, Tante!."


"Satu lagi, jangan memanggil Tante lagi. Panggil saja Bunda, seperti kak Naila dan Faruq memanggilku".


"Baik, Tante, eh, Bunda?."


Aku pun tersenyum melihat Langit yang masih belum terbiasa memanggilku Bunda .