Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 126



Selesai mengobati lengan Mas Abhi, aku meletakkan kotak obat diatas meja. Kemudian aku menatap intens wajah Mas Abhi.


Menyadari aku terus menatapnya seperti itu, Mas Abhi pun bertanya, "Ada apa, honey? kenapa menatapku terus seperti itu?"


"Tidak, Mas, aku hanya ingin minta padamu" jawabku.


"Untuk?".


"Untuk semua kesalahanku padamu. Aku menyesal, Mas karena tidak mempercayaimu sedari awal. Andai aku tidak melakukan itu, pasti ini semua tidak akan terjadi" ujarku, tertunduk karena merasa malu pada Mas Abhi.


Mas Abhi tersenyum mendengar ucapanku. Ia mengangkat daguku. Pandangan kami saling beradu. Kemudian ia berkata, "Aku tidak marah denganmu, honey. Aku justru bersyukur akhirnya kau menyadari kesalahanmu!"


"Aku benar-benar menyesal, Mas. Aku mohon maafkan aku" meminta maaf dengan sepenuh hati.


"Aku tidak mau mendengar permintaan maaf lagi darimu. Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Ini hanya kesalahpahaman saja. Jadi berhenti minta maaf padaku, ok!" ujar Mas Abhi lembut.


Mendengar ucapannya, aku langsung berhambur ke dalam pelukannya. "Kamu memang suami uang baik, Mas. Aku beruntung mempunyai suami seperti kamu".


Mas Abhi tersenyum memdengar ucapanku. Ia balas memelukku, saling mengeratkan pelukan kami.


Setelah beberapa saat saling berpelukan, kami mulai melepaskan pelukan kami.


"Oh ya, tadi gimana ceritanya sampai Mama disandera oleh Tasya?" tanya Mas Abhi.


"Jadi gini ceritanya, Mas, tadi itu aku mau mengantarkan susu untuk Tasya ke kamarnya. Tapi kemudian aku terhenti karena melihat Tasya mengeluarkan sebuah bantal dari balik perutnya. Ternyata selama ini dia hanya berpura-pura hamil dihadapan kita".


"Apa? dia hanya pura-pura hamil?" tersentak kaget. Ia sama terkejutnya dengan Mama ketika mengetahui kebenaran ini.


"Iya Mas, itu benar!".


"Lalu, bagaimana dengan hasil USG itu? apa itu juga palsu?".


"Hasil USG itu memang benar, Mas, tapi namanya sudah diganti dengan namanya. Itu milik wanita hamil yang dia bayar".


"Benar-benar licik dia!. Pantas dia bisa membuktikan kalau dia beneran hamil, ternyata ini yang dia lakukan" ujar Mas Abhi, menggeleng-gelengkan kepala.


"Bukan hanya itu saja, Abhi. Tasya bahkan berencana membuatmu mengusir Kania dan juga Naila dari rumah ini setelah kau menikahinya" ujar Mama ikut menimpali.


"Apa???" Mas Abhi lebih terkejut lagi saat mendengar hal ini.


"Mama berkata benar, Mas. Tasya memang merencanakan hal itu. Dia....." aku pun menceritakan semua yang kudengar tadi pada Mas Abhi.


Mas Abhi berdecak sambil sesekali menggelengkan kepala saat mendengar ceritaku. Ia tak menyangka Tasya bisa sekejam ini. "Benar-benar tidak waras tuh orang. Bisa-bisanya dia mau melakukan sesuatu yang jahat pada orang yang sudah menolongnya" komentar Mas Abhi setelah aku selesai bercerita.


"Apapun itu, kita patut bersyukur, Mas. Karena Tuhan telah melindungi kita dari semua rencana jahatnya" ucapku.


"Kamu benar, Kania. Kita memang harus bersyukur!" ujar Mama.


"Syukurlah semua sudah berakhir. Kebenaran telah terbongkar sebelum semuanya hancur" timpal Mas Abhi.


"Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Aku janji, kedepannya akan lebih percaya lagi padamu" ucapku.


"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf lagi. Lagi pula ini juga bukan kesalahanmu, Tasya lah yang salah".


"Hatimu sangat baik. Kau tidak pernah menilai orang lain jahat. Kau menganggap semua orang itu baik. Karena itulah kau mudah ditipu. Tapi ini bukan kesalahanmu, mereka lah yang bersalah karena telah mengambil keuntungan dari wanita sebaik dirimu" ucap Mas Abhi sambil tersenyum.


"Aku bersyukur karena mempunyai suami yang pengertian seperti dirimu" ucapku.


"Akulah yang beruntung karena mempunyai istri sebaik dirimu, honey" ucap Mas Abhi.


Kami saling berpelukan, bahagia karena masih memiliki satu sama lain.


Setelah cukup lama, aku pun melepaskan pelukan. Kemudian aku berkata, "Ada satu orang lagi yang harus aku mintai maaf, Mas. Dialah yang paling terluka dalam hal ini".


"Siapa?" tanya Mas Abhi, mengerutkan dahi.


"Orang itu adalah Dinda. Aku harus minta maaf juga padanya. Aku sudah sangat kasar padanya. Kata-kataku kemarin sangat melukai hatinya".


"Kau benar, Kania. Kau harus minta maaf padanya" ujar Mama.


"Mas Abhi mau, kan menemaniku untuk minta maaf pada Dinda?" tanyaku penuh harap.


"Tentu saja!" jawab Mas Abhi.


"Kalau begitu, ayo kita ke rumah Dinda sekarang. Aku mau langsung minta maaf padanya" ucapku antusias. Aku menarik tangan Mas Abhi agar bangkit dari duduknya.


"Ada apa, Mas? Kenapa Mas Abhi malah menarikku lagi? Apa Mas berubah pikiran? Mas Abhi nggak mau menemaniku?" tanyaku kebingungan, ada sedikit kekecewaan karena sikapnya ini.


"Bukan begitu. Aku mau menemanimu untuk minta maaf ke Dinda. Tapi nanti, bukan sekarang!" ujar Mas Abhi, menjelaskan sikapnya tadi.


"Tapi kenapa, Mas? bukankah lebih cepat lebih baik?" tanyaku masih tak mengerti.


"Aku tahu. Tapi sekarang aku mau minta jatahku dulu. Karena masalah Tasya, kamu jadi menjaga jarak denganku. Aku sangat tersiksa karena tidak bisa berdekatan dengan istriku" ujar Mas Abhi, menjelaskan maksudnya.


"Mas Abhi apaan sih? malu, Mas, ada Mama!" ucapku dengan wajah merona.


"Nggak pa pa dong. Iya kan, Ma?".


Mama yang ditanya begitu oleh Mas Abhi hanya tersenyum kecil.


"Tuh, kan. Mama aja nggak masalah" ucap Mas Abhi. Mengganggap senyuman Mama tadi sebagai pembelaan untuk dirinya.


"Jadi gimana? boleh kan?" bertanya sambil mengedipkan mata.


Bertepatan dengan itu tiba-tiba Naila melintas di depan kami. Ia bingung melihat tingkah Mas Abhi. Ia pun bertanya, "Ayah kenapa? kok matanya begitu-begitu?".


Kami saling berpandangan mendengar pertanyaan Naila yang polos.


"Oh, Naila tahu. Mata Ayah sedang kelilipan, kan!. Sini, biar Naila tiupin matanya" ujar Naila, melangkah mendekati Ayahnya.


"Ti...tidak usah Naila" ujar Mas Abhi gelagapan. "Mata Ayah sudah tidak apa-apa kok. Sekarang Ayah baik-baik saja!" menyunggingkan senyuman agar Naila tidak lagi khawatir.


"Oh, gitu. Syukur deh kalo gitu" ucap Naila ikut tersenyum.


Kami bernapas lega mendengar ucapan Naila.


"kalau gitu Naila ke kamar dulu ya" ucapnya lagi.


Kami pun mengangguk. Gegas Naila menuju kamarnya.


"Jadi gimana? boleh kan?" ucap Mas Abhi mengulang kembali pertanyaannya setelah Naila pergi.


"Boleh" ucapku sambil senyum-senyum malu.


"Yes!!!" bersorak mendengar persetujuan dariku.


Mas Abhi mengangkat tubuhku ala bridal style, melangkah menuju kamar. Mata kami saling memandang.


Tanpa disangka-sangka ternyata Naila melihat kami. Ia kembali bertanya, "Ayah mau bawa Bunda kemana?".


"Ayah mau bawa Bunda ke kamar. Mau main kuda-kudaan" jawab Mas Abhi asal.


"Hore main" bersorak gembira. "Naila ikut, ya?".


"Nggak boleh!" jawab Mas Abhi cepat.


"Kenapa?" tanya Naila sedih, kepalanya tertunduk.


Mas Abhi kelabakan melihat Naila bersedih. Sedang aku terus berusaha menahan tawa yang sedari tadi ingin keluar. "Makanya, Mas, kalau ngomong sama anak kecil itu dijaga. Sekarang pusing sendiri kan".


Mas Abhi lantas menurunkan aku dari gendongannya. Kemudian ia berjongkok, mensejajarkan diri dengan Naila. "Bukan begitu Maksud Ayah. Kami sedang ada hal penting yang mau dilakukan" ujarnya menjelaskan.


Naila tak merespon ucapan Mas Abhi. Kepalanya tetap tertunduk. Mas Abhi garuk-garuk kepala, bingung bagaimana cara menjelaskan. kemudian ia mempunyai sebuah ide, "Naila ingin punya adik bayi, nggak?" tanyanya.


Naila mengangkat kepalanya, matanya terlihat berbinar. "Beneran Ayah mau kasih Naila adik bayi?".


"He'em. Tapi dengan satu syarat!".


"Apa Ayah?" tanyanya antusias.


"Naila nggak boleh gangguin Ayah sama Bunda dulu. Kami mau buatin Naila adik".


"Baik, Ayah. Naila nggak akan gangguin kalian".


"Anak pintar!" puji Mas Abhi, mengusap rambut Naila.


Mas Abhi gegas membawaku masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat agar tak ada yang menggangu saat kami memadu kasih. Sedang Naila berjalan menuju Oma nya untuk bertanya, "Oma, gimana sih caranya buat adik bayi?".