Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 66



Mas Abhi pun segera mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota.


pertama-tama, Mas Abhi mengajakku mengunjungi Museum Louvre, museum hits yang populer akan Piramida kacanya yang sangat ikonik.Pada awalnya museum ini merupakan sebuah benteng dimasa pemerintahan raja Philip II pada abad ke- 16.


Sesampainya disana kami segera masuk,tampak ratusan karya seni yang sangat legendaris tersimpan disana,salah satunya adalah lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci.


Selain itu juga ada karya seni lain yang legendaris,mulai dari peninggalan Mesir kuno hingga peradaban Yunani, museum ini sudah seperti rumah bagi ratusan karya legendaris itu.


Yang tidak kalah menarik adalah arsitektur dari bangunan ini yang sangat menawan.Perpaduan arsitektur klasik yang elegan dan juga modern yang mewah.


Setelah puas menikmati semua karya seni disana, Mas Abhi mengajakku pergi ke menara Eiffel.


Sesampainya disana aku mengajak Mas Abhi untuk naik keatas agar bisa melihat pemandangan seluruh kota dari atas.


Saat sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan,tiba-tiba cacing diperutku berdemo meminta jatah makan.


krucuk krucuk.


Mas Abhi pun sontak menoleh kearahku ketika mendengar bunyi perutku yang sangat keras.


"Kamu udah laper?," tanya Mas Abhi.


"He he he iya Mas!" sahutku sambil nyengir kuda,mukaku bersemu merah karena menahan malu.


Aku merutuki perutku sendiri,kenapa disaat seperti ini malah perutku berbunyi begitu nyaring.


"Ya udah,kita makan dulu ya!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum.


Mas Abhi pun menggandeng tanganku dan mengajakku menuju lantai dua, disana ada sebuah restoran bernama Le Jules Vernes.


Kami pun segera masuk kedalam dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Mbak!" panggilku pada salah satu pelayan disana sambil melambaikan tanganku.


Pelayan yang tadi kupanggil pun segera mendekat kearah kami sambil menyodorkan sebuah buku menu.


"Apa menu favorit disini?" tanya Mas Abhi pada pelayan itu sambil membolak-balik buku menu.


"Kami merekomendasikan steak dan wine,Tuan!" ujar pelayan tadi.


"Saya pesan minuman lain saja,saya tidak meminum wine!" ujar Mas Abhi.


"Baik Tuan!,kalau begitu tuan mau pesan apa?" tanya pelayan sambil bersiap mencatat pesanan kami.


"Aku pesan stek sama minumannya Fruit tea aja!," ujar Mas Abhi.


pelayan pun mencatat semua pesanan yang disebutkan Mas Abhi tadi.


"Kalau kamu apa, honey?" ujar Mas Abhi lagi, kali ini ia bertanya padaku.


"Samakan dengan punyamu aja Mas," jawabku.


Mas Abhi pun kembali mengulang pesanannya,sedangkan pelayan itu kembali mencatat semua pesanan kami dan berlalu pergi.


Taka berselang lama pelayan itu kembali sambil membawa semua pesanan kami.


"Silahkan dinikmati!" ucap pelayan itu setelah ia menghidangkan makanan diatas meja.


pelayan itu pun berlalu pergi dan kami pun mulai menyantap hidangan tadi.


Aku mengambil sebuah pisau dan memotong sedikit daging dengan bantuan garpu,kemudian aku segera melahapnya.


Tiba-tiba tangan Mas Abhi terulur kearahku dan mengusap sudut bibirku.


"Makannya pelan-pelan aja honey,lihat deh mulut kamu jadi belepotan kan!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum mesrah.


Aku begitu malu mendapat perlakuan begitu dari Mas Abhi,aku sengaja membuang muka untuk menutupi rasa maluku.


"Tidak Mas,tidak usah!,aku suka kok dengan makanannya" ujarku cepat-cepat ambil kembali memotong daging.


Mas Abhi pun tersenyum melihat tingkahku.


"Ya udah kita lanjutkan lagi makannya ya!" ucap Mas Abhi.


Kami pun kembali menikmati makanan kami,dan tak berselang lama aku pun meletakkan pisau dan garpu yang kupegang tadi.


"Kamu nggak mau nambah lagi,honey?" tanya Mas Abhi.


"Nggak Mas, aku udah kenyang!" jawabku.


Mas Abhi pun ikut meletakkan pisau dan garpunya dan mengakhiri makannya.


"Kalau gitu kita pergi lagi ketempat lain, yuk!" ajak Mas Abhi.


Kami pun keluar dari restoran itu dan mengunjungi beberapa tempat lain yang tak kalah menarik,tak lupa kami mencicipi panekuk tipis atau crepe khas Perancis isi pisang dan coklat yang dapat ditemukan di pinggir jalan Paris.


Kami juga mampir ke kafe dan mencicipi sejarah sastra didalam minuman coklat panas dan roti baguette,dan juga dalam semangkuk salada Nicoise.


Hingga malam kami masih mengunjungi beberapa tempat lain dan belum juga kembali ke hotel.


Terakhir Mas Abhi mengajakku menuju Place De La Concorde,sebuah tempat wisata yang menyajikan pemandangan khas Perancis lainnya.


Tempat itu berupa alun-alun berbentuk oktagon yang berada diantara Tuileries Garden dan jalan Champs Elysees.


Tempat ini dirancang sangat cantik dengan keberadaan ornamen taman,air mancur,hingga lampu taman yang sangat indah,apalagi saat malam hari seperti ini.


Tidak jauh dari sana ada sebuah kincir raksasa yang memungkinkan kita menikmati pemandangan kota dari ketinggian dengan pengalaman yang berbeda.


Aku pun segera mengajak Mas Abhi kesana dan naik keatas.Benar saja sebuah pemandangan yang teramat indah terhampar dihadapanku,aku sampai terpesona dibuatnya.


" kau suka, honey? sebuah pemandangan yang sangat indah bukan?" tanya Mas Abhi sambil memelukku dari arah belakang.


Ini adalah kedua kalinya Mas Abhi memelukku dengan posisi seperti ini,tubuhku tak lagi bergetar menerima sentuhannya,aku malah semakin mengeratkan pelukannya ditubuhku.


"Suka Mas,aku sangat suka!,ini sangat luar biasa" ujarku dengan sebuah senyuman mengembang.


"Aku tahu kau pasti suka!, itu sebabnya aku sengaja mengajakmu kesini saat malam sudah tiba,karena memang tempat ini lebih indah saat malam hari" ujat Mas Abhi.


"Terimakasih banyak Mas,hari ini kau sudah membuatku sangat bahagia!" ucapku tulus sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


"Sama-sama!," jawab Mas Abhi.


"Aku senang melakukan ini untukmu, karena aku sangat mencintaimu!" lanjut Mas Abhi sambil membalik tubuhku menghadapnya.


"Bukalah pintu hatimu untukku, biarkan aku mengukir namaku disana!".


"Tunggulah sedikit lagi, Mas!,karena saat itu akan segera tiba" jawabku.


Mas Abhi pun mendekatkan wajahnya ke wajahku,kemudian bibirnya mendarat diatas bibirku, menciumnya dengan penuh mesrah tanpa nafsu.


Aku pun terdiam,tak menolak tapi juga tak membalas perlakuannya.Setelah beberapa saat Mas Abhi pun melepaskan ciumannya.


"Kita balik ke hotel sekarang yuk,ini udah sangat malam!" ujar Mas Abhi.


"Ayo Mas!" sahutku.


Kami pun melangkah beriringan sambil jemari Mas Abhi menggenggam tanganku erat.


Sesampainya dimobil Mas Abhi segera membukakan pintu untukku dan mempersilahkan aku masuk,kemudian ia pun masuk juga,dan setelah itu mobil pun meluncur kembali menuju hotel.


Aku begitu tersentuh dengan semua perlakuan lembutnya padaku hari ini,hingga tanpa kusadari bunga-bunga cinta untuk Mas Abhi mulai tumbuh dihatiku.


Sesampainya dikamar hotel kami langsung beristirahat setelah sebelumnya membersihkan badan terlebih dahulu,kami merasa lelah setelah seharian berkeliling kota.