
Kumasukkan kembali benda pipih dengan casing berwarna hitam itu kedalam tas tanganku seusai menerima panggilan telepon dari Mas Abhi. Kemudian aku beranjak menghampiri Langit yang masih tergugu sambil memandangi ibunya dari balik jendela.
"Langit, kamu harus tegar. Kamu anak yang kuat, bukan?" ucapku sambil mengusap rambut anak itu.
Anak itu tak menjawab, ia hanya memandangiku dengan mata dipenuhi lelehan air mata.
Kutatap balik bola mata bening milik anak berusia lima tahun tersebut dengan perasaan yang sulit untuk diartikan. Aku bisa melihat betapa besar kesedihan dibalik mata indah yang coba ia tahan.
Aku menghela napas, mencoba menguatkan diri sendiri. "Yakinlah, nak, kau tidak sendiri. Ada Tante disini. Tante akan selalu ada untukmu!".
"Apa ibuku akan sembuh, Tante?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menghela nafas. "Tante juga nggak tahu apakah ibumu akan sembuh atau tidak. Kita do'akan saja, semoga akan ada keajaiban yang datang untuk ibumu".
Langit kembali diam, tenggelam dalam duka. Tak ada yang bisa aku lakukan untuknya. Hanya bisa berharap semoga keajaiban benar-benar datang. Terlepas dari apa yang Tasya perbuat padaku dulu.
Aku kembali menghela napas, membuang sesak yang mulai memenuhi dada. "Tante keluar sebentar, ya. Tante mau beli makanan dulu". Langit hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Gegas aku meninggalkan anak tersebut, menuju penjual makanan yang ada di luar rumah sakit. Sebenarnya aku tidaklah lapar. Aku hanya tidak kuat berlama-lama berada disana.
Ku susuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Hingga tanpa sadar aku sudah berada di luar rumah sakit. Gegas aku membeli beberapa makanan dan minuman untuk langit. Kemudian aku masuk kembali ke dalam. Kasihan anak itu jika ku tinggal sendirian terlalu lama.
" Ini, nak, makanlah!" ujarku sambil menyerahkan bungkusan makanan dan sebotol air mineral yang tadi ku beli.
" Tidak, Tante. Aku tidak lapar!".
"Jangan seperti itu!. Nanti kamu bisa sakit kalau tidak makan. Lalu siapa yang akan menjaga ibumu kalau kau ikutan sakit. Kau pasti tidak menginginkan hal itu terjadi, kan!."
"Tidak, Tante!" sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, makanlah!."
Langit menerima bungkusan yang ku sodorkan tadi dan memakan isinya. Tak butuh waktu lama semua isinya telah habis tak bersisa. Kemudian ia meneguk air mineral hingga tersisa setengahnya.
"Bagus!. Kamu memang anak yang pintar." Kuberikan senyuman terbaik yang ku punya, ia pun membalas dengan senyuman pula.
"Kalau begitu Tante pulang dulu. Besok Tante akan kesini lagi. Kalau ada apa-apa kamu segera hubungi Tante."
Ku tinggalkan anak kecil seusia dengan anak bungsuku itu sendirian disana. Sebenarnya aku tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, aku juga punya tanggung jawab sendiri pada keluargaku. Untuk sementara biarlah seperti ini dulu, nanti aku akan membicarakan hal ini dengan Mas Abhi.
...************...
"Kamu kenapa bisa berada dirumah sakit? dan untuk apa kamu kesana?" tanya Mas Abhi sesampainya aku di rumah. Setelah tadi menelpon, Mas Abhi tak berhenti mengkhawatirkan diriku. Ia khawatir aku kenapa-napa, apalagi aku tak menjelaskan apa-apa padanya tadi.
"Duduklah dulu, Mas. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu!."
Walau Mas Abhi masih penasaran dengan apa yang aku lakukan di rumah sakit, tapi ia tetap menuruti kata-kataku. Ia duduk di sofa dengan pandangan tak lepas dariku. "Sekarang katakan! hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku".
Aku menghela napas, berpikir bagaimana cara untuk menjelaskan. Ini perkara Tasya, Mas Abhi tidak akan mudah menerimanya. "Sebenarnya tadi aku mengantar Tasya kerumah sakit, mas" ucapku lirih.
"Dia sedang sakit keras, Mas. Dia sedang berjuang antara hidup dan mati. Untuk itulah aku membawanya kesana" ucapku, mencoba untuk tetap tenang.
"Lalu kenapa kalau dia sedang sakit keras? apa hubungan antara sakitnya dia dengan keluarga kita? apa kau sudah lupa dengan apa yang sudah ia perbuat!" ucap Mas Abhi dengan suara agak meninggi.
"Aku tidak lupa dengan apa yang sudah ia perbuat, Mas. Aku melakukan ini hanya atas dasar kemanusiaan!."
"Kamu memang terlalu baik, Kania. Apa kau tidak takut kalau dia akan memanfaatkan kebaikanmu lagi?" tanya Mas Abhi meradang.
"Aku tahu itu, Mas. Dan aku bisa memahami kekhawatiran mu ini. Tapi kalau kau melihat sendiri kondisi Tasya, kau pasti akan mengerti kenapa aku melakukan ini!."
Mas Abhi membuang muka. Ia masih marah dengan apa yang aku lakukan. "Sungguh, aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiranmu" ucap Mas Abhi dengan suara mulai merendah. Ia memijit kepalanya yang agak pening.
"Anggap saja kalau yang kulakukan saat ini memang salah. Tapi ada anak kecil yang sangat memerlukan dirinya. Dia harus tetap hidup demi anaknya."
"Apa maksudmu?" tanya Mas Abhi tak mengerti. Ia sampai mengerutkan dahi karena bingung.
Aku pun menceritakan semua kejadian tadi. Dari bagaimana aku bertemu dengan Langit, bagaimana aku tahu kalau dia tenyata anaknya Tasya, sampai akhirnya aku membawa Tasya ke rumah sakit. Semua aku ceritakan secara rinci.
"Jadi, Tasya saat ini mengidap penyakit HIV/Aids?" tanya Mas Abhi usai aku menceritakan semua.
"Iya, Mas!."
"Seberapa parah?."
"Aku tidak tahu, Mas. Dokter belum bisa memastikan seberapa parah penyakitnya?."
Diam.
"Ini adalah karma untuknya" ujar Mas Abhi kembali setelah beberapa saat saling membisu.
"Aku tahu, Mas. Tapi rasanya tidak adil jika Langit harus ikut menanggung hukuman atas dosa yang tidak pernah ia perbuat."
Diam.
"Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi permasalahan ini. Untuk saat ini aku tidak bisa memutuskan apa-apa" ucap Mas Abhi lirih.
"Aku tahu kamu masih sakit hati dengan Tasya, Mas. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkannya. Tapi biarkan aku memberi perawatan untuknya. Setidaknya lakukan ini untuk anak yang tidak berdosa itu."
"Terserah kamu. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan pernah mengahalangimu. Tapi kau juga harus memastikan bahwa tidak akan ada masalah untuk keluarga kita kedepannya karena masalah ini."
"Aku mengerti, Mas, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku ucapkan terimakasih banyak atas pengertianmu" ucapku tulus.
"Aku ke kamar dulu. Aku capek, mau istirahat!. Lebih baik sekarang kau ke kamar Faruq. Kasihan dia, sedari tadi nanyain kamu terus ".
"Iya, Mas. Nanti aku akan kesana. Tapi sekarang aku mau ganti baju dulu".
Mas Abhi menganggukkan kepala. Kami pun sama-sama masuk ke kamar, tapi dengan tujuan yang berbeda. Mas Abhi menghempaskan tubuhnya yang penat, sedang aku ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang lengket.