
"Kapan terakhir kali nona datang bulan?"
Aku sangat terkejut dengan pertanyaan dokter itu,aku baru sadar kalau beberapa bulan ini aku belum kedatangan tamu bulanan itu.
"Saya tak tahu pasti dok,tapi seingat saya beberapa bulan ini saya tak mengalaminya,saya terlalu sibuk hingga tak menyadarinya!" jawabku sambil menggeleng lemah.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi anda!" tukas dokter itu.
Aku pun segera dibawa ke ruang USG yang berada di lantai dua,pikiranku sudah melayang akan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Sesampainya aku di ruangan itu dokter lain segera memeriksaku,dia membubuhkan gel diatas perutku dan mulai memainkan peralatan USG diatasnya,beberapa saat kemudian dokter menyudahi pemeriksaan.
Aku segera merapikan kembali pakaianku dan duduk didepan dokter itu untuk mendengarkan penjelasan darinya.
"Bagaimana keadaan saya dok? sebenarnya saya sakit apa?" tanyaku.
"Selamat Nona anda sekarang sedang hamil dan usianya sudah tujuh minggu!" terang dokter itu sambil menjabat tanganku.
Aku sangat terkejut mendengar penjelasan dokter itu,aku tak percaya dengan apa yang baru kudengar.Wajahku pucat pasi dan tubuhku lemas seketika,mana mungkin aku hamil,kami hanya melakukannya sekali, apalagi dalam kondisiku yang sekarang,lalu bagaimana dengan studiku dan bagaimana caraku untuk memberitahu Papa tentang hal ini.
"Bagaimana mungkin saya bisa hamil dok? saya hanya melakukan hal itu sekali" tanyaku bingung.
"Itu bisa saja terjadi Nona,walau hanya sekali bila anda melakukan hal itu disaat masa subur maka akan terjadi pembuahan dan anda akan hamil!" jelas dokter itu sambil tersenyum padaku.
"Saya akan memberi Anda beberapa vitamin dan tablet tambah darah agar anda tidak mudah lelah, ingat jangan terlalu capek dan jaga kesehatan anda karena kandungan anda masih sangat rentan" jelas dokter itu sambil menyerahkan sebuah resep padaku.
"Baik dok, terimakasih!" jawabku dan aku pun keluar dari ruangannya.
Aku berjalan keluar rumah sakit dengan langkah gontai setelah sebelumnya menebus obat di apotek.
Aku bingung bagaimana caraku menjelaskan hal ini pada Papa,dan aku juga tak sampai hati bila harus menggugurkan kandungan ini. Bagaimanapun ini bukan salah anak ini,dan ini juga darah dagingku sendiri.
Sesampainya dirumah aku segera menghubungi Arsen untuk memberitahu akan hal ini
tutttt
tutttt
"Halo...."
"Halo Arsen ini aku Kania..."
"Oh kamu, ada apa? tumben-tumbenan kamu nelpon aku!"
Nada bicara Arsen terdengar sangat dingin di telingaku.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu Arsen" jawabku tanpa berbasa-basi.
"Ada apa?"
"Aku hamil!"
"Apa, kamu hamil????" teriak Arsen terkejut.
"Ya Arsen, aku sedang hamil anak kamu!"
"Aku akan segera menemuimu!" jawab Arsen singkat dan menutup telpon secara sepihak.
Aku sedikit lega setelah berbicara dengan Arsen,setidaknya ia akan menemui ku untuk memberi solusi.
Tapi setelah berbulan-bulan Arsen tak kunjung jua menemuimu.Aku sudah berulangkali mencoba untuk menghubungi Arsen,tapi ia tak pernah menjawabnya.
Dengan terpaksa akulah yang harus datang menemuinya,kandunganku sudah memasuki lima bulan dan perutku mulai membuncit,aku tak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah.
Aku segera mengajukan cuti kuliah dari kampus dan setelah mendapatkannya aku segera terbang ke Indonesia saat itu juga.
Aku sampai di Indonesia saat memasuki jam istirahat kantor,jadi kuputuskan untuk langsung menemui Arsen dikantornya,aku ingin segera menyelesaikan masalah ini.
Tapi sesampainya disana aku dikejutkan dengan pemandangan yang saat ini tengah kulihat.
Tampak sekretaris Dona tengah duduk dipangkuan Arsen,mereka sedang asik bercumbu mesrah.Aku pun langsung masuk ke ruangannya tanpa permisi
Brakkkk!!!
"Apa-apaan ini,apa yang sedang kalian lakukan?" teriakku marah.
Mereka sangat terkejut melihat kehadiranku, sekretaris Dona langsung berdiri dan menjauh dari Arsen.
"Kania kok kamu bisa ada disini?" tanya Arsen salah tingkah.
"Aku sengaja datang ke sini untuk menemuimu, karena kau tak kunjung menemuiku, dan kau juga tak pernah menjawab teleponku. Aku tengah mengandung anakmu Arsen, aku ingin kejelasan darimu sebelum anak ini lahir. Tapi sekarang apa yang kulihat, kalian malah asik bermesraan." kataku berapi-api.
"Memangnya kenapa,kau mau marah? bukankah kau sendiri yang memilih meninggalkan aku? iadi saat ada yang datang mengisi kekosongan hatiku kenapa aku harus menolak?" jawab Arsen enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Dan mengenai anak di kandunganmu itu, aku tidak yakin itu adalah anakku. Apa kau punya bukti yang menyatakan bahwa akulah ayah dari anak itu. Bisa saja itu adalah anak dari salah satu pria yang kau kencani disana. Lagi pula kita hanya melakukannya sekali kan? mana mungkin itu bisa membuatmu hamil!"
plakkkk!!!
Aku menampar Arsen dengan keras,hatiku sangat sakit mendengar tuduhannya.
"Jaga bicaramu Arsen. Aku tak seperti yang kau tuduhkan. Anak ini benar-benar anakmu. Aku tak pernah berhubungan dengan pria manapun selain kau!" air mataku mulai menetes menahan rasa sakit dihatiku.
"Berani kau menamparku!!"
Arsen terlihat sangat marah,ia memegangi pipinya yang memerah bekas tamparanku, kemudian ia maju kearahku dan mencengkeram wajahku dengan kuat.
"auch, sakit Arsen, tolong lepaskan!" aku mengadu kesakitan.
"Sekarang mana buktinya kalau itu adalah anakku!"
"Kumohon percayalah padaku,ini benar-benar anakmu" jawabku mengiba.
"Cihh, kau tak bisa membuktikannya kan,itu karena anak itu bukan anakku!" tukas Arsen sambil mendorongku keras.
aku terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh.
"Sudahlah honey, mana ada maling yang ngaku. Sekali ja**ng, tetap ja**ng!" sekretaris Dona ikut menimpali,Ia melingkarkan tangannya dilengan kekar Arsen.
"Kau jangan asal bicara kalau tak tahu yang sebenarnya!" kataku sambil menuding kearah sekretaris Dona.
"Jaga bicaramu,dia adalah calon istriku!" teriak Arsen marah.
degg
"Jadi selama ini kecurigaanku benar. Kau sudah berselingkuh dengannya!" jawabku,air mataku semakin deras mengalir.
"Memangnya kenapa?" jawab Arsen sinis.
"Sekarang keluar dari ruanganku,aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Ingat, jangan pernah ganggu aku lagi!"
Aku segera menghapus air mataku,
"Kau tenang saja, aku tak akan mengganggumu lagi. Semuanya sudah jelas bagiku. Kau hanya seorang laki-laki pengecut. Dan mengenai anak ini, aku sendirilah yang akan membesarkannya nanti!"
"Bagus kalau begitu. Sekarang juga keluar dari ruanganku atau aku panggilkan security untuk mengusirmu!"
"Tenang saja,aku juga tak mau berlama-lama disini!"
"Ya udah sana pergi,ngapain masih ada disini!" sekretaris Dona ikut menimpali sambil mengibaskan sebelah tangannya padaku.
Aku segera beranjak pergi
"Dasar wanita murahan" hina sekretaris Dona saat aku melintas dihadapannya.
Aku tak lagi menghiraukan apa yang mereka katakan. Aku hanya ingin segera meninggalkan tempat ini.Hatiku hancur berkeping-keping, rasanya sakit, serasa ditusuk seribu belati. Setelah merenggut mahkotaku,ia tega mencampakkanku disaat aku mengandung anaknya.
Aku memutuskan pergi ke taman kota untuk menenangkan diri,tak mungkin aku pulang kerumah dalam keadaan seperti ini.
*
*
*