
Setelah bertemu denganku, Tasya kembali lagi ke toko bunga. Disana dia langsung disambut dengan amarah Dinda.
"Heh, ******, abis ngomong apalagi kamu sama kania? pasti kamu, kan yang udah ngeracuni pikiran Kania supaya curiga dan menuduh Abhimana selingkuh!" ujar Dinda dengan emosi meluap-luap, dijambaknya rambut Tasya dengan kasar.
"Lepasin!. Nggak usah pake kekerasan kali!.Pantas aja nggak ada cowok yang mau sama kamu. Kamu itu cewek bar-bar" ujar Tasya balik menghina Tasya dan menghempaskan tangan Dinda dari rambutnya.
"Itu lebih baik, dari pada menjadi ***** seperti kamu!" ujar Dinda dengan mata berapi-api. Ia tidak terima dengan hinaan yang dilontarkan Tasya tadi.
"Buat aku itu tidak masalah, asalkan uang mengalir deras ke rekeningku" ujar Tasya dengan angkuhnya.
"Dasar wanita ular. Mau kamu itu sebenarnya apa sih? kenapa kau membalas kebaikan Kania dengan pengkhianatan?" Tan Dinda.
"Jadi kamu pengen tahu apa keinginanku?" ujar Tasya bertanya balik.
"Benar. Cepat katakan, apa keinginanmu!" sarkas Dinda.
"Kasih tahu nggak, ya..." ujar Tasya dengan gaya yang sangat memuakkan, membuat Dinda semakin geram dibuatnya.
"Jangan pernah menguji kesabaran ku!. Cepat katakan, atau aku akan menyakitimu lagi!" geram Tasya.
Tasya bukannya takut melihat kemarahan Dinda yang semakin memuncak, ia malah tertawa sinis menanggapinya. Sontak saja hal itu membuat emosi Dinda tak terbendung lagi.
"Kamu itu memang nggak bisa dikasih hati, ya!" geram Dinda dengan tangan terkepal kuat. Ia melayangkan pukulan yang ditujukan ke wajah Tasya, tapi dengan cepat Tasya mengelak sehingga pukulan Dinda hanya mengenai udara.
"Cukup!. Kalau kau mau tahu apa keinginanku, maka akan kuberitahu".
"Aku akan merebut Abhimana dari tangan kania. Aku ingin menggantikan posisinya sebagai nyonya Abhimana!" ujar Tasya tegas.
Dinda tercengang mendengar jawaban Tasya. Walau sebenarnya ia sudah menduga bahwa Tasya memang berniat merebut Abhimana, tapi tetap saja pengakuan Tasya barusan membuatnya sangat terkejut.
"Kau memang tidak tahu balas budi. Kania sudah sangat membantumu selama ini. Dia bahkan mengijinkan mu tinggal dirumahnya. Dia begitu percaya padamu kalau kau sudah berubah. Tapi kenyataannya kau malah ingin menusuknya dari belakang" ujar Dinda, menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak pernah meminta dia untuk membantuku. Dia sendiri yang datang menolongku" ujar Tasya membela diri.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kau melakukan niat jahat mu. Aku akan memberitahukan hal ini pada kania" ujar Dinda.
"Silahkan saja kalau kau mau. Tapi aku tidak yakin kalau Kania akan percaya dengan ucapanmu" ujar Tasya tersenyum sinis.
"Aku sahabat Kania. Aku sangat yakin kalau Kania akan percaya dengan perkataanku!" ujar Dinda yakin.
"Kita lihat saja nanti. Aku atau kau yang lebih dipercaya oleh kania" ujar Tasya dengan senyum mengejek.
"Sekarang juga, kau kupecat! Aku tak ingin kau ada disini lagi" teriak Dinda marah.
"Tidak masalah. Lagipula aku juga tidak mau bekerja disini!" ujar Tasya melenggang pergi tanpa sedikitpun rasa penyesalan.
Dinda semakin geram melihat tingkah Tasya. Ia bertekad untuk segera memberitahukan hal ini padaku dan menyelesaikan kesalahpahaman diantara aku dan Mas Abhi.
Sementara itu, setelah keluar dari toko bunga, Tasya segera menghubungiku.
"Halo Tasya, kenapa kau menghubungiku?" tanyaku dari seberang.
"Maaf, Kania. Tapi bisakah kita bertemu lagi?" tanya tadya.
"Bukankah kita baru saja bertemu?" ujarku bertanya balik.
"Aku tahu Kania, tapi aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu, ini mengenai Dinda" ujar Tasya, nada suaranya terdengar sedih.
"Ada apa dengan Dinda? apa semua baik-baik saja?" tanyaku panik saat mendengar nama Dinda disebutkan.
"Dinda baik-baik saja, tapi...." ujar Tasya, ia sengaja menjeda ucapannya agar membuatku semakin kalut.
"Tapi apa, Sya?" tanyaku semakin panik.
"Baiklah, kita ketemu dimana?" tanyaku, menghela napas panjang.
"Kita ketemu di kafe tadi" ujar Tasya.
"Baiklah!" jawabku singkat, mematikan sambungan telepon dan bergegas meluncur, kembali ke kafe tadi.
Tasya memasukkan kembali handphonenya kedalam tas. Wajahnya terlukis sebuah senyuman licik."Dinda, kau lihatlah. Kali ini aku akan membuat Kania membencimu juga!".
Tasya menyetop sebuah taksi yang kebetulan sedang melintas di depannya dan segera meluncur menuju kafe tadi.
Sesampainya disana, ia segera menghampiriku yang tengah duduk disalah satu meja, menanti kedatangannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama!" ujar Tasya menghempaskan tubuhnya diatas kursi.
"Tidak apa. Aku juga baru saja datang" ujarku tersenyum.
"Oh ya, hal penting apa yang ingin kau katakan padaku ditelepon tadi?" tanyaku, langsung pada intinya.
Sejenak Tasya terdiam, seakan ia ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja!. Kau tidak udah ragu" ujarku meyakinkannya.
"Kania, sebenarnya Dinda baru saja memecat ku!" ujar Tasya lirih, wajahnya terlihat sangat sedih.
"Bagaimana bisa? memangnya apa kesalahanmu?" tanyaku, terkejut mendengar pengakuannya.
"Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tadi saat aku datang, Dinda marah-marah dan langsung memecat ku. Aku sudah menjelaskan padanya kalau aku tadi pergi keluar karena kau yang sudah meminta ku, tapi dia tetap tak mau mengerti. Ia malah mengatakan kalau itu hanya akal-akalan ku saja" terang Tasya.
"Ini tidak boleh dibiarkan. Aku tidak akan membiarkan Dinda memecat mu" ujarku.
Aku segera bangkit dari duduk dan meraih tangan Tasya.
"Kita mau kemana?" tanya Tasya kebingungan.
"Aku akan membawamu kembali ke toko bunga. Dinda tidak bisa memecat mu tanpa persetujuan dariku. Aku juga berhak untuk menentukan siapa saja yang boleh bekerja disana" jawabku.
"Tapi dia itu kan sahabatmu. Aku tidak ingin kau bertengkar dengannya gara-gara aku" ujar Tasya mencoba menghentikanku.
"Aku tidak perduli dengan itu. Aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi padamu hanya karena kesalahan yang tidak kau lakukan" jawabku tegas.
"Baiklah kali begitu" ujar Tasya, ia pun mengikuti langkahku.
Aku segera memacu mobilku menuju toko bunga dengan kecepatan tinggi. Dadaku rasanya ingin meledak setelah mendengar aduan Tasya tadi.
Sesampainya disana aku segera menghampiri Dinda dan melabraknya habis-habisan. Aku bahkan tidak memberinya sedikitpun kesempatan untuk menjelaskan.
"Dinda, berani sekali kau memecat Tasya. Dia adalah temanku, kau tidak bisa memecatnya begitu saja" ujarku penuh emosi.
"Tapi, Nia, aku memecatnya karena..." belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, aku sudah memotongnya.
"Aku tidak perduli apapun alasannya. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan kau memecat Tasya" ujarku masih berapi-api.
"Dengarkan dulu penjelasanku, Nia. Aku memecatnya karena...". Kembali aku.memotong perkataannya.
"Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Aku juga salah satu pemilik toko bunga ini. Jadi aku juga berhak untuk menentukan siapa saja yang boleh bekerja disini!" ujarku.
"Tapi, Nia....".
"Aku bilang, cukup!!!" bentak ku.
Dinda terkesiap melihatku. Seumur-umur baru kali ini aku membentaknya.