
"Perkenalkan, saya Abhimana Haidar selaku direktur utama perusahaan Jaya Makmur, putra Abimanyu Haidar. Dan disebelah saya adalah istri saya Kania Larasati, putri Pramono!" ujar Mas Abhi singkat.
Riuh suara wartawan saling melemparkan pertanyaan, hingga tidak ada satupun yang terdengar dengan jelas.
"Mohon tenang saudara-saudara, jika ada yang ingin mengajukan pertanyaan tolong angkat tangan satu persatu!" ujar Papa menengahi.
Akhirnya sesi tanya jawab pun berjalan dengan lancar sesuai dengan arahan Papa.
"Kenapa anda menyembunyikan jati diri anda sebenarnya?".
"Itu saya lakukan untuk melindungi diri saya dari orang-orang yang ingin melenyapkan keluarga saya, juga agar daya lebih fokus dalam membangun perusahaan baru tanpa ada kekhawatiran lagi".
"Apa pelakunya sudah ditemukan?".
"Sudah!".
"Apa pelaku tersebut sudah mendapatkan hukuman?".
"Tentu saja!, saya akan menghukumnya dengan menggunakan cara saya sendiri".
"Kapan anda menikah?".
"Kami menikah hampir setahun".
"Kenapa anda terkesan membunyikan pernikahan anda?".
"Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, saya tidak ingin istri saya ikut terseret dalam masalah ini sebelum saya menemukan pelaku sebenarnya".
Mas Abhi pun memberi isyarat pada asistennya untuk menutup sesi tanya jawab karena dirasa semakin ingin tahu urusan pribadinya.
"Sekian konferensi pers hari ini!".
Dan kami pun melenggang meninggalkan para wartawan yang masih memiliki banyak pertanyaan.
Papa memutuskan untuk kembali langsung ke rumah, sedangkan Mas Abhi membawaku ke ruang pribadi dikantornya. Inilah pertama kalinya aku berada di kantor Mas Abhi. Aku pun segera menghambur kedalam pelukannya.
"Mari kita hidup bahagia bersama, tapi tolong jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku!" ujarku sambil berlinang air mata bahagia.
"Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu. Kuharap kau mau menerima baik-burukku setelah tahu semuanya" ujar Mas Abhi lirih.
Aku pun mengangguk dan semakin mengeratkan pelukanku. Perlahan aku mendaratkan sebuah ciuman dibibir Mas Abhi, aku tak perduli lagi dengan yang namanya urat malu, yang kuinginkan sekarang adalah bersama dengan suamiku.
Mas Abhi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ini adalah kali pertama aku mencium bibirnya terlebih dahulu. Mas Abhi membalas ciuman itu, lidah kami saling beradu dan membelit, makin lama semakin dalam hingga kami pun tenggelam dalam lautan asmara.
Mas Abhi tergeletak kelelahan di sebelahku setelah kami mengarungi lautan asmara.
"Terimakasih karena kau sudah mau menerimaku" ujar Mas Abhi lirih.
Aku pun membalas dengan sebuah senyuman. kemudian Mas Abhi mengecup pucuk kepalaku penuh mesrah dan membawaku kedalam pelukannya.
...****************...
Sementara kami tenggelam dalam gelora asmara, seseorang dibelahan lain tengah berteriak kesetanan setelah menyaksikan siaran langsung konferensi pers tadi.
"Kurang ajar!. Ternyata anak itu masih hidup" teriaknya sambil menghancurkan barang-barang disekitarnya.
"Berani sekali dia menyuruh orang untuk menculik dan menyiksa kami hingga membuat ibuku tewas, untung waktu itu aku masih selamat!".
"Ini tidak boleh dibiarkan!, aku harus menuntut balas atas kematian ibuku" sambil mengepalkan tangan.
Ya, orang itu adalah Alex. Dia terkapar tak berdaya setelah para pesuruh Papa menghajar mereka habis-habisan. Dan setelah memastikan bahwa mereka berdua telah tewas, tubuh mereka pun dilempar ke dasar jurang, tapi ternyata mereka keliru besar, karena ternyata Alex masih bernapas.
Alex merangkak keluar dari dasar jurang itu. Ia berjalan tertatih-tatih sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya hingga ia tiba di tepian sungai dan tergolek lemah tak sadarkan diri disana. Kemudian ada seorang warga yang menemukannya dan merawat luka-lukanya.
Kini ia kembali untuk menuntut balas setelah ia tahu dalang dibalik penculikan dan penyiksaan dirinya.
"Tunggu dulu!. Dari tayangan tadi kulihat istri Abhimana sedang hamil besar. Kalau aku melenyapkan istrinya, itu pasti menjadi pukulan terbesar untuknya. Karena selain kehilangan istrinya, dia juga akan kehilangan calon anak yang berada dalam kandungan istrinya itu" ujar Alex menyeringai menakutkan.
"Ya!, sekarang aku harus menyusun rencana untuk melenyapkan istrinya itu" penuh keyakinan.
Berhari-hari Alex terus membuntuti dan mengawasi gerak-gerikku, mencari kesempatan untuk menjalankan aksinya, dan akhirnya kesempatan itu datang juga.
...****************...
"Mas, nanti siang aku mau ke toko bunga sebentar, tadi Dinda menelfonku, katanya disana ada sedikit masalah" ujarku sebelum Mas Abhi berangkat ke kantor.
"Tidak bisakah Dinda saja yang menyelesaikan masalahnya, honey?" tanya Mas Abhi.
"Ya nggak bisa gitu juga, Mas!. Aku nggak bisa lepas tangan begitu aja, biar bagaimanapun aku juga salah satu pemilik toko bunga itu, jadi aku harus ikut menyelesaikan masalah itu juga" ujarku memberi penjelasan.
"Tapi nanti siang Mas ada meeting penting, Mas nggak bisa mengantar kamu kesana!" sanggah Mas Abhi.
"Nggak pa pa, Mas. Nanti biar sopir yang mengantarku kesana" ujarku.
"Tapi....".
"Udahlah, Mas!. Mas nggak perlu terlalu mengkhawatirkan ku seperti itu, aku bisa jaga diri kok!. Lagian aku kan perginya diantar sama supir" sergahku.
"Baiklah, tapi nanti kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi Mas ya!" ujar Mas Abhi mengalah.
"Pasti!" ujarku sambil mengacungkan jempol dan tersenyum.
"Makasih banyak ya, Mas, udah mengizinkanku kesana" ujarku memeluk Mas Abhi.
"Ya sudah, Mas berangkat sekarang ya!" pamit Mas Abhi.
"Iya Mas!" jawabku sambil merengkuh tangan Mas Abhi dan mencium punggung tangannya, yang dibalas Mas Abhi dengan mengecup keningku.
"Mas, berangkat sekarang!" ujar Mas Abhi sambil berlalu meninggalkanku.
...****************...
Siang hari aku segera bersiap dan berangkat ke toko bungaku. Seperti yang kubilang tadi, Aku pergi diantar oleh supir, dan tak butuh waktu lama aku pun telah sampai disana.
Aku segera masuk dan menemui Dinda.
"Ada masalah penting apa Din?" tanyaku sesampainya dihadapannya.
"Ini Nia, bunga-bunga banyak yang mati mendadak. Aku juga tidak tahu penyebabnya apa" ujar Dinda sambil menunjuk kearah bunga-bunga.
Aku pun menghampiri bunga itu dan memeriksanya.
"Sepertinya tanaman ini kena hama" ujarku menarik kesimpulan.
"Hama?" tanya Dinda.
"Iya hama!. Hama ini memang menyerang tanaman di musim-musim tertentu.
Aku pun memberi penjelasan pada Dinda tentang hama tersebut, selain itu aku juga menunjukkan cara untuk mengatasinya.
"Oh gitu!. Ya udah biar nanti aku yang mengatasi hama itu!" ujar Dinda.
"Eh Din, aku tinggal beli tahu gejrot disana sebentar, ya!. Aku lagi pengen makan itu nih" ujarku sambil menunjuk kearah penjual tahu gejrot yang mangkal tidak jauh dari sana.
"Sini!, biar aku saja yang belikan" tawar Dinda.
"Nggak usah, biar aku saja. Kamu mending layanin pembeli tuh!" ujarku sambil menunjuk ke arah pembeli yang baru masuk.
Aku pun berlalu begitu saja tanpa memperdulikan lagi ocehan Dinda, tapi saat aku hendak menyeberang jalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku.
"Kania, awas!" teriak Dinda.
brakkkk
argk....
Dinda pun segera menelpon Mas Abhi untuk mengabarkan kecelakaan itu.