
"Kurang ajar!,berani sekali dia melakukan ini pada putriku!" teriak Papa marah,giginya gemeletak dan tangannya terkepal erat menunjukkan betapa marahnya dia.
"Sekarang dimana Arsen? Papa harus bikin perhitungan sama dia!".
"Tenanglah, Pa!,sekarang Arsen sudah berada di penjara" ujar Mas Abhi mencoba menenangkan kemarahan papa.
"Baguslah kalau begitu!, Papa akan pastikan dia membusuk di penjara dalam waktu yang lama" ujar Papa
"Belum cukup apa Papa menghancurkan perusahaannya,sehingga dia belum juga sadar dengan semua kesalahannya!" ujar Papa.
Aku terkejut mendengar ucapan Papa barusan.
"Tadi Papa bilang apa? Papa menghancurkan perusahaan arsen?" tanyaku pada Papa sambil mengernyitkan dahi.
"Benar!, Papalah yang sudah membuat perusahaan arsen hancur,Papa menghasut para pemegang saham agar mereka menarik saham mereka, Papa juga yang memprovokasi para karyawan agar melakukan demo besar-besaran" ujar Papa,bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman kepuasan.
"Papa sadar tidak dengan apa yang Papa lakukan!,akibat tindakan Papa ini,Emir harus meregang nyawa" teriakku marah.
"Andai Papa tidak menghancurkan perusahaan Arsen,maka dia tidak akan memaksa untuk menikah denganku,dan Emir tidak akan ...." ujarku,aku tak sanggup lagi meneruskan ucapanku,air mataku mengalir deras mengingat kejadian memilukan itu.
Papa tertegun mendengar ucapanku,ia baru sadar bahwa tindakannya itu menimbulkan masalah besar.
"Maafkan Papa, Nia!, Papa tidak bermaksud begitu, Papa hanya ingin membuat Arsen menyesal dengan semua perbuatannya padamu!" ujar Papa tak enak hati,terlihat bahwa ia menyesali tindakannya.
"Sudahlah, Pa!,sekarang itu semua tidak ada gunanya lagi,semuanya sudah terjadi,dan Emir tidak mungkin kembali lagi" ujarku lirih.
"Harusnya Papa tidak langsung pergi setelah ijab Kabul mu selesai!,andai waktu itu Papa menunggu sampai kau pulang,maka semua ini tidak perlu terjadi" sesal Papa.
"Sudahlah Pa! yang berlalu biarlah berlalu,lebih baik sekarang kita saling menjaga dan melindungi satu sama lain,agar kejadian serupa tidak terulang kembali!" ujar Mas Abhi.
"Iya nak,kau benar sekali!,untuk saat ini, itulah yang paling penting!" sahut Papa.
Hening, tidak ada satu pun yang bersuara.
"Papa ada satu permintaan untuk kalian!, Papa harap kalian mau menerima permintaan Papa ini" ujar Papa mulai angkat suara.
"Apa itu, Pa?" tanyaku.
"Papa ingin kalian berdua tinggal dirumah ini,disini, bersama Papa.Papa ingin ada yang menemani hari tua Papa" pinta Papa.
Sejenak aku dan mas Abhi terdiam mendengar permintaan Papa.
"Kenapa? apa kalian tidak mau?" tanya Papa.
"Bukan begitu, Pa! hanya saja untuk saat ini kami belum bisa" sergahku cepat.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian, Papa tidak akan memaksa!,tapi Papa sangat berharap kalian mau mempertimbangkan permintaan Papa ini" ujar Papa sendu,wajahnya terlihat sangat kecewa dengan penolakan kami.
Kami pun terdiam mendengar ucapan Papa,kami hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan Papa.
Keheningan kembali tercipta diantara kami.
Setelah lama saling diam,aku pun memutuskan untuk berpamitan pada Papa.
"Pa,kami pamit pulang dulu ya!,besok kita akan kesini lagi" ujarku.
"Baiklah!,kalian boleh pulang, sampai jumpa!" ujar Papa dingin sambil berlalu pergi meninggalkan kami lebih dulu dan masuk ke kamarnya.
Kami pun terdiam terpaku melihat kepergian Papa, kami merasa tak enak karena sudah menolak permintaan Papa.
Setelah lama terpaku,kami pun memutuskan untuk segera pulang kerumah.
"Mas,aku merasa tak enak hati karena menolak permintaan Papa tadi!" ujarku mengungkapkan perasaanku setelah kami sampai dirumah.
"Sudahlah!,kau jangan terlalu memikirkan hal ini terus.,tidak baik juga buat kesehatan janin dalam kandunganmu.Lebih baik sekarang kau istirahat saja dulu,nanti kita akan membicarakan hal ini lagi" ujar Mas Abhi menenangkan diriku.
"Baiklah, Mas!,kalau begitu aku ke kamar dulu ya!" ujarku.
Mas Abhi pun mengangguk mengiyakan,dan aku pun segera masuk ke kamar dan beristirahat.
...****************...
Sesuai dengan janji ku kemarin, hari ini aku kembali mengunjungi Papa dikediamannya.Kali ini Mas Abhi tidak ikut serta, karena ia ada rapat penting dikantornya,ia hanya mengantarkanku sampai rumah Papa dan setelah itu dia langsung pergi.
"Assalamualaikum, Papa!" sapaku saat memasuki rumah Papa.
Papa pun menoleh kearahku,sebuah senyuman terukir diwajahnya.
"Akhirnya kau datang juga,nak!. Papa pikir kau tidak akan kesini lagi" ujar Papa,kulihat hari ini Papa lebih ceria dibanding waktu aku melihatnya kemarin.
"Mana mungkin Kania tidak datang, Pa!,kan kemarin Kania sudah janji" jawabku sambil tersenyum dan ikut duduk disamping Papa,kemudian aku meraih tangan Papa dan mencium punggung tangannya.
"Oh ya,suamimu mana? kok dia tidak ikut kesini?" tanya Papa sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Mas Abhi.
"Hari ini Mas Abhi tidak ikut kesini, Pa!,dia ada rapat penting dikantornya" ujarku.
"Oh,begitu!" sahut Papa.
Sejenak Papa diam sebelum akhirnya ia bicara kembali.
"Kania, Papa ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu!" ujar Papa, wajahnya berubah serius seketika.
"Ada apa, Pa?, Papa katakan saja!" jawabku,wajahku ikutan serius melihat wajah Papa.
"Sebenarnya Papa ingin mengatakan hal ini dari kemarin, tapi Papa rasa waktunya tidak tepat!" ujar Papa,sejenak ia menjeda ucapannya.
"Sepertinya Papa mengenal suamimu!, Papa rasa dia bukanlah orang sembarangan".
Deg
Hatiku bergetar mendengar ucapan Papa,ingatanku kembali teringat pada ucapan salah satu karyawan salon waktu aku berlibur ke Paris bersama Mas Abhi beberapa waktu yang lalu.
"Memangnya ada apa,Pa? kapan Papa mengenal Mas Abhi? dan kenapa Papa bicara seperti itu?" tanyaku.
"Entahlah,nak! Papa juga tidak begitu yakin" ujar Papa.
Hening,sejenak kami tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Dimana pertama kali kalian bertemu? dan sejak kapan kau mengenalnya!" tanya Papa membuka suara.
"Pertama kali aku bertemu dengan Mas Abhi itu secara tidak sengaja, Pa, itu terjadi sudah lama sekali.Waktu itu dia tidak sengaja menabrakku disebuah toko kue waktu aku ingin membeli kue ulangtahun untuk Arsen dulu, tapi setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi"
"Kemudian kami bertemu kembali saat Kania hamil tua,saat itu kami pun bertemu secara tidak sengaja pula" jawabku.
"Apa selama ini dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Papa membuka suara.
"Iya, Pa!, Mas Abhi selalu memperlakukanku dengan sangat baik,dia banyak sekali membantu Kania saat Kania dalam masalah,bahkan dia pula yang membantu Kania lepas dari narkoba" jawabku.
"Lalu,apa kau pernah mencoba mencari tahu siapa suamimu sebenarnya?" tanya Papa lagi.
"Aku pernah mencobanya sekali,Pa.Dan saat Mas Abhi tahu,dia pun marah besar.Setelah itu Kania tidak pernah lagi mencari tahu".
"Tapi saat Kania berlibur ke Paris beberapa waktu lalu,ada seorang karyawan disalah satu salon disana yang mengatakan kalau Mas Abhi itu orang yang cukup berpengaruh.Aku mencoba mencari tahu lewat karyawan tersebut.Tapi belum sempat ia menjawab pertanyaanku, si pemilik salon keburu datang" ujarku menjelaskan tentang kecurigaan ku juga.
"Baiklah!,biar Papa yang mencari tahu siapa sebenarnya Abhimana" jawab Papa.