
Boy dan Hafis mengadakan pertemuan dengan Pengusaha Baja dari C diSebuah RM Padang S di N D Pantai.
Sempat terfikir juga dihati Boy, mengapa CEO PPB dari kota C yang ingin mereka temui memutuskan tempat pertemuan mereka RM Padang. Padahal dari Keterangan Hafis, pengusaha itu bukan berasal dari daerah Minang.
Biasanya sebelum mengadakan pertemuan dengan seseorang, Boy selalu
memeriksa terlebih dahulu Beckground ( Latar belakang ) dari orang yang akan dia temui, tapi karna perhatiannya saat ini masih terfokus ke acara bulan Madu, Boy tidak terlalu memusingkankan calon rekan bisnis mereka kali ini. Baginya yang terpenting adalah mengurus Properti keluarga Kims yang ada di pulau Dewata ini.
" Toh orang manapun banyak pecinta masakan dari daerah mommy Ini, batin Boy.
Tatkala Boy masih senyum- senyum memikirkan perlakuan istrinya semalam.
Boy dikejutkan oleh sebuah suara nyaring yang sepertinya pernah ia dengar sebelumnya.
" Mendengar nama Bhalendra Boy Chen Hapsar yang akan saya temui hari ini, maka saya sendiri yang memutuskan datang kesini dari Denpasar, Ngobrol sambil makan diresto , makan masakan khas kampung halaman, tentu akan terasa lebih nikmat dan santai, apalagi kalau saya tahu, tuanmuda ini sangat menjaga makanannya." Ujar suara itu yang membuat Boy terpaksa menatap pemilik suara yang femiliar itu.
" Aulia Pramesti Wijaya! Dirimu kah? " tanya Boy hampir tak percaya.
" Iya... tuan muda pemilik Cinta sejati! senang bertemu denganmu lagi. " Kata wanita muda itu sembari menatap Boy dengan gembira, lalu mengulurkan tangannya.
" Maaf nona manis..Aku masih sama, tidak berjabat tangan dengan wanita! " Ucap Boy sembari tersenyum.
" Oh ya...Aku selalu lupa setiap kali bertemu dengan pria paling mempesona didunia. He...He... Justru sering lupa, aku selalu patah hati setiap bertemu. Oh ya, Boy, Bagaimana? Sudah jadi menikahi Cinta sejatimu? " tanya wanita itu setelah menghabiskan tawanya.
Hafis hanya tercegang melihat Bosnya dan CEO PPB itu. Mulutnya sampai menganga mendengar percakapan akrab kedua manusia lebay itu.
" Alhamdulillah Udah Aulia! Aku membawanya kesini berbulan madu, rencananya tadi mau dibawa ikut meeting, tapi istri tertidur lagi habis subuh, tak tega membangunkannya." Jelas Boy.
" Oh...Suami sayang istri!, Kalau begitu kepatahhatianku akan lengkap hari ini. He...He...Selamat pengantin baru kalau begitu! Kesal tak diberi undangan, barangkali kau mengira aku takkan sanggup memandangmu bersanding dengan cinta sejatimu itu ya Boy? " Tanya Aulia menggoda teman kuliahnya itu.
" Ngak juga! Hanya pestanya dadakan, sudah tak tahan menunggu lama. He...He..." Kekeh Boy.
" Aku percaya itu, begitu kembali kau akan langsung menjemputnya." Aulia tersenyum pahit,dari dulu ia sudah tahu, Boy sudah mencintai satu orang wanita dihatinya.
Boy menarik kursi, untuk Aulia, Aulia langsung mengerti dan mereka bertiga pun duduk berhadap - hadapan.
" Bos berdua saling kenal?" tanya Hafis setelah dapat menyelip dikit untuk bicara.
" Aku pecinta berat yang ditolak, Kakak senior Bhalendra di MIT. " Jawab Aulia.
" Oh...Pantas!" Hafis manggut- manggut.
" Oh ya Aulia...kita pesan makanan dulu. " Ucap Boy.
" Tenanglah...sudah aku pesan, sebentar lagi akan segera dihidangkan. " Ujar Aulia
santai, namun matanya tetap mencuri pandang pada Boy. Pria tampan yang lebih muda, yang ia sendiri tak mau dipanggil kakak oleh pria itu. Yang menolak cintanya secara spontan tiga tahun lalu, dengan alasan sudah mempunyai kekasih. Aulia berkali - kali menggoda Boy waktu itu, tapi pria itu tidak mampan. Ia baru percaya pria itu punya kekasih, setelah memergoki Boy tengah berjalan- jalan dengan Direktur Wiliiam. Yang dikenalkan sebagai Papi mertua, sejak itu Aulia sadar, gadis yang dicintai Bhalendra pasti luarbiasa, ayahnya saja konglomerat tampan keturuan Eropa, tentu anak gadisnya begitu cantik." Fikir Aulia kala itu.
Aulia tersentak ketika pelayan mengantar
hidangan mereka.
" Eh...Sepertinya kita akan makan besar dulu sebelum berbincang. " Ujar Aulia Pramesti.
" Itu lebih baik...Dari pada nona manis ini bermenung dan nampak jelek, mending kita makan, aku juga sudah lapar. Sebentar kutelfon istri dulu, sudah sarapan atau belum. " kata Boy kemudian meninggalkan Aulia dan Hafis.
" Wanitanya sungguh beruntung...Boy tak pernah menatap perempuan manapun selama dinegri Paman Sam, Kalau tak tahu tentang dia, orang mengira ia pria tampan yang tidak tertarik dengan lawan jenis. Tidak minum, tidak merokok, sangat genius dan tidak suka membuang- buang waktu. " Ucap Aulia memuji Boy didepan Hafis, setelah Boy berlalu dari hadapan mereka.
Iya Non Aulia...kami juga sahabatan sejak di SMK. Selama dia Diluar Negri, saya bekerja Part time ( Paruh Waktu ) diperusahaan Aflikasinya. Dari situ aku belajar cari uang sendiri, dan biayai kuliah sendiri.Belakangan Ia mengangkat ku jadi Asisten pribadinya, bahkan mencarikan jodoh terbaik untukku. " Jelas Hafis.
" Jadi Anda juga sudah menikah ? " Tanya Aulia.
" Iya, Kami menikah dihari yang sama. "Jelas Hafis.
Aulia menepuk jidatnya. " Sepertinya dunia sudah mau kiamat, kayaknya semua pria sudah ada yang punya.! He...He..." Aulia kembali tertawa sumbang.
" Nona manis kan pewaris perusahaan Pertambangan, bagaimana khawatir tentang pria, pasti banyak yang mengincar! " ujar Hafis.
" Kebanyakan tak ada yang tulus. " Aulia tersenyum kecut lagi.
" Maaf agak lama...Ayo kita makan! " Ujar Boy memutus perbincangan mereka.
"Baik...Ucap mereka hampir bersamaan.
Meeting berakhir pukul setengah sebelas.
Boy kembali menelfon Bella, ingin menjemputnya untuk menanyakan keadaannya, tadi pas Boy nelfon Bella belum bangun. Ia mengingatkan Hanna untuk mengajak sarapan setelah bangun.
" Sayang...dah makan? " tanyanya lembut.
" Maaf tuan Muda...Kami barusan siap makan, tapi ada seorang yang menghampiri kami, menyerahkan Mab pada Bella, Habis itu kami kembali kevilla. Telfon Bella dititip ditasku, begitu aku mau mengembalikannya kekamar, kamarnya sudah dikunci. Aku panggil ia tak menyahut. Sebaiknya cek dulu ada apa dengan Bella, tidak mungkin dia tidur lagi." Jelas Hanna yang membuat Boy mengernyitkan dahinya.
" Baiklah...Kami akan kembali dalam Limabelas menit, jagain dia dari luar." Ucap Boy.
" Baiklah tuanmuda, ditunggu segera.." Jawab Hanna.
" Ada apa? " tanya Hafis penasaran.
" Entahlah...Mungkin ada yang memprofokasi Bella, ada musuh kecil kita disini, nampaknya ada yang ingin mengacaukan bulan madu kita." Tebak Boy.
" Siapa kira- kira ya Bos? Apa mungkin Aulia Pramesti? Secara Ia kan menyukai Boy katanya dulu.
" Air beriak tanda tak dalam Hafis... Orang yang bicara spontan takkan melakukan hal- hal yang tersembunyi." Ujar Boy.
" Trus siapa dong? " tanya Hafis seraya mengerdikkan bahunya.
" Aku pasti menemukan pengacau kecil itu. Tapi sekarang kita kembali dulu. Lihat kondisi istri, sekalian makan siang kalau dibolehkan. He...he..." Kekeh Boy.
Hafis yang mengerti makna mesum tawa sang Big Bos, iapun ikut tertawa teringat
Colibrinya. Tanpa sadar Hafis menyentuhnya dengan tangan sendiri.
" Ternyata dirimu tak kalah mesum ya Fis! " Seru Boy seraya menatap kebawah, melihat tangan Hafis. Hafis tertunduk malu, lalu melempar tangannya refleks. Boy meraih pundaknya, lalu berbisik
" Ya sudah...tak usah malu...kalau teringat istri sendiri tak apa, itu gejala yang baik."
Hafispun tersenyum, kemudian mereka berjalan menuju mobil kantor.
*****
Sesampai diVilla Boy mengetuk pintu.
" Sayang...Suami datang apa tak dibukakan juga pintunya? " tanya Boy setelah mengetuk.
Bella didalam yang sedang menangis sesugukan,bersembunyi dibalik bantal setelah memeriksa Fhoto-fhoto suaminya dengan wanita muda berpenampilan manis dan modis.
Sebenarnya tak ada yang istimewa dari fhoto itu, tak ada adegan salaman, apalagi bergandeng tangan. Hanya wanita itu terlihat menatap suaminya penuh cinta, sedang suami tampak tertawa. Sudah berusaha menekan hatinya untuk tidak marah dan cemburu, secara selama ini memang banyak wanita yang memandang suaminya. Tapi digambar ini, Boy nampak menikmati pandangan wanita didepannya,Bella sungguh tak bisa terima akan hal itu.
" Aku ditinggalkan ketika tidur, mana yang ditemui wanita muda pula, apa mungkin ia sengaja tidak membawaku dan Hanna, Agar ia bebas Berbicara dengan CEO Macan ( Manis Cantik ) itu," Batin Bella berprasangka.
Sekali lagi terdengar suara Boy dari luar.
" Sayang...Suami datang apa akan dibiarkan pergi lagi? " tanya Boy masih lembut, tapi tepat mengenai ulu hati istrinya, membuat hati Bella memanas. Dengan merenggut ia menggeser tubuhnya kepinggiranan tempat tidur, menurunkan kaki kelantai, lalu berjalan menuju pintu, membukakan pintu untuk Boy, tak peduli wajah kusut dan mata Merahnya.
Boy menatap Istrinya setelah pintu terbuka. Meraih wanitanya kedalam pelukannya dengan tangan kanannya. Lalu tangan kirinya menekan pintu agar tertutup, lalu menguncinya.
Bella merenggut didekapan Boy, tapi ia tidak melawan pada suaminya. Boy menariknya ketempat tidur, mendudukkannya dengan posisi bersandar di HeadBoard, kemudian mengusap airmata dipipinya dengan jemarinya. Bella mengalihkan tatapannya, tapi Boy tak membiarkannya,
ia menarik dagu istrinya, Menahan tengkuknya, menatap istrinya dalam- dalam.
" Mata dan hatiku hanya akan mengagumi dan mencintai Tiga wanita teristimewa dalam hidupku Bella...sudahkukatakan, kau adalah yang ketiga dan yang yang terakhir. Mengapa masih meragukannya? " Boy kemudian menarik Bella kedekapannya, membenamkan wanitanya didada bidangnya. Tatkala gadis itu terisak lagi, ia mengecup puncak kepalanya, lalu mengusap rambutnya dengan sayang.
" Aku...Aku kesal dan cemburu, kau menemui wanita cantik dan seksi, kau juga menatapnya difoto itu." Akhirnya Bella mengungkapkan perasaannya.
" Dia kakak seniorku sayang...Aku tak tahu ia sekarang yang memegang kendali perusahaan Ayahnya. Kalau kutahu akan bertemu dengan dia, pasti aku akan memaksa membangunkanmu.
Tapi ini tidak kusangka, aku tak sempat memeriksa latar belakang rekan meetingku kali ini. Maaf...Suamimu terlalu fokus pada istri Cantiknya, jadi akhir- akhir ini ia hanya memikirkan dirinya saja. Apa tidak boleh? " tanya Boy riuh rendah dengan rayuan imutnya.
Bella mencubit pinggangnya. Walau sakit, tapi Boy lega, tandanya istrinya tak marah lagi.
" Akan kuperiksa siapa yang mengirim Foto itu padamu. Entah siapa yang ingin
jadi pengganggu kecil, Setelah makan siang kita meeting dengan para manager Resort, Kali ini jangan jauh lagi dariku, aku takkan membuatmu tidur dulu. He.he...
Bella terdiam, tapi bibirnya sudah menyunggingkan senyum.
" Kalau senyum makin cantik! Jadi milih Cottagenya? Kan katanya mau tidur dirumah kayu? Tidak berubah fikiran bukan? " Tanya Boy bertubi.
" Tidak...Aku mandi dan beberes dulu! Takkan membiarkanmu pergi hanya dengan Hafis saja. Aku dan Hanna akan mengapit kalian kemana- mana! " Ujar Bella kemudian.
" Siapa takut? Itu jauh lebih aman dan menguntungkan. He...He...Boy terkekeh kembali.
Bersambung....