
Setiap sudut kota telah dilelajahi. " Esok ke kota lain yang ada disekitar, gimana tanggapan sayang dengan kotaku. " tanya Citra saat mereka sudah bergolek di kamar Suilte room Mercuri Hotel.
" Sangat indah dan luar biasa, tapi menurut Rendra tak ada yang lebih indah dari Yang ini." katanya seraya menatapi lekat wajah Citra.
" Boy dikamar kakek, sedang Chalista nempel sama
nenek Rahma. Ini pertanda baik bagi ayahnya. Ngak masalah malam ini berarti Momy milik Dady seorang. " kata Rendra mulai mendekap istrinya tanpa kendor.
" Tapi apa kita ngak butuh istirahat sayang...kan capek. " kata Citra. Rendra tersinggung dengan ucapan istrinya, ia melepas pelukannya, lalu berbaring membelakang.
" Hhem...Tuan suami ngambek ya. Jangan dipunggungi gitu dong. Kan katanya lebih indah dari semua, masak dikentuti, gombalnya tak beraturan." kata Citra memancing suaminya.
" Mana ada aku kentut? " Kata Renda membalikkan tubuhnya menghadap Citra.
" Kenak! teriak batin Citra. Ia tak menyiakan-nyiakan kesempatan itu. Ia mulai membelai muka suaminya. Mencoba menjinakkan singa yang lagi marah itu.
" Emang jadi istri itu ngak boleh bilang capek ya? " tanya Citra kemudian. Maaf kalau ternyata begitu peraturannya. " kata Citra lagi.
" Habis selama ini, istriku tak pernah bilang capek
kalau sudah Rendra sentuh. Ini mentang- mentang dikampung sendiri bilang capek. Apa ngak boleh ya suami tersinggung? " kata Rendra balik bertanya.
" Kok sampe disitu fikirannya, pakai ngubungin dengan kampung segala. Ni suami sensitif amat sih. Ngidam ya ? " tanya Citra tak sadar terlontar begitu saja.
Rendra tersentak. Ia lalu mengusap perut istrinya.
" Sayang? perasaan sudah dua bulan ini kita ngak ada of main. Setiap aku minta tak ada yang namanya alasan tanggal merah. Kamu telat ya? tanya Rendra lagi.
" Entahlah Sayang...Aku ngak terfikir kesitu. Waktu Boy kan ngak KB, tapi ngak hamil kok sampai 4 tahun. Ini aku pasang suntik cuma pas dua bulanan. Habis itu ya biarin aja. Halangan selama ini lancar kok. Dua bulan ini memang ngak datang, akunya ngak terfikir kesitu. Kamunya mau terus sih, jadi aku syukurin aja ngak Mens. Jadi bisa kasih setiap Sayang mau. " kata Citra seraya mendekatkan hidung bugirnya kepipi suami.
" Nyiumnya jangan setengah hati, harus lebih dalam dan dihayati
." kata Rendra.
" Kalau memang sudah ada lagi adik si Chalista disini , tak masalah. Dadynya bakal lebih giat.
" Giat ngapain ? Tanya Citra mulai membalas usapan dan belaian suami yang tampaknya lebih lembut dari biasanya.
" Lebih giat bekerja, terutama nengokin sidedek. " bisiknya dengan senyum mengembang seterusnya
tak perlu ditanya.
" Sahur sembilan bulan untuk puasa dua bulan. " kata Rendra lagi yang berhasil dapat hadiah gigitan dari sang istri.
" Dasar singa lapar! Makan terus yang difikirkan. " kata Citra.
" Habis dagingnya enak dan segar, gimana sang Singa ngak pingin ngelahap terus sih. Kan rugi daging segar dipandangin aja, mending disantap, biar tidur nyenyak habis makan. " kata Rendra lagi.
" Nih suami atau penjajah sih? " tanya Citra.
" Suut...Makan ngak boleh ngomong...Nikmati dan khayati! " katanya memberikan Impuls yang lebih, hingga tak ada lagi kata yang terucap, hanya nyanyian tempat tidur dan deru nafas yang kian tak beraturan. Cinta ! Cinta membuat rasa letih tak berarti, dan hanya penyatuanlah, obat yang paling mujarab bagi dua insan yang selalu dimabuk asmara itu.
Rendra tersenyum senang sehabis kenyang. Ia tak lupa membobokkan sang pemilik Syurganya dengan memijiti tubuhnya. Kemudian mengecup keningnya, saat dengkuran halus terdengar, iapun bergelung posesif disisi kekasih halalnya.
" Setiap kali menatapmu, jantungku selalu berdetak kencang. Kau memang telah menguasai seluruh jiwa ragaku sayang..." katanya sembari menempelkan kepalanya dilengan mungil istri cantiknya, mendongak memandangi keindahan wajah sang istri.
Setelah puas menatap Citranya, ia menarik tubuh yang terlelap itu dengan lembut kedalam pelukannya, meletakkan dengan hati- hati kepala sang istri didada bidangnya. Lalu iapun memejamkan mata, beberapa menit kemudian dengkuran yang lebih keras, mengisi ruang kedap suara itu. Tak ada yang bisa mendengar sih, hanya cicak tersesat yang memandang iri pada kedua pecinta itu.
Boy merasa bebas sekarang, kalau sama uo, ia bebas mau jungkir balik buka leptop atau buka apapun uo hanya akan memperhatikannya, tak ada cerepetan, seperti Momy, paling pertanyaan orang tua itu yang harus dijawab.
Ia mulai membuka Web perusahaannya. Dengan teliti dan gigih ia memeriksa. Tak ada satupun yang luput dari pandangan mata Boy. Sedikit saja celah bisa ia temukan, ia akan mulai mengatur ulang, meningkatkan keamanan Sever. Setelah perusahaannya, ia mulai menjelajah membuka situs perusahaan dan lembaga yang ingin ia ketahui. Sang pembobol cilik memang cekatan.
Kali ini ia ia menggunakan Netsparker.
Pak uo mulai terkantuk. Berkali- kali kepalanya terantuk Kedinding karna tertidur duduk.
" Uo tidurlah dulu, tak usah tungguin Boy. Boy menghentikan sejenak kerjanya, mengatur bantal untuk uo, lalu memintanya tidur. Menyelimutkan pria tua kesayangannya itu. Kemudian kembali bekerja.
" Okey pak uo. Setelah melakukan ini dan memeriksa hasil jipratan Cameraku, Boy mu akan segera bobok. " kata Boy yang membuat Mr Kims menggelengkan kepalanya.
" Setelah ini, ada lagi yang mau ia kerjakan. Kukira habis ini tidur, rupanya masih ada. Terserah deh...yang penting itu yang ia suka, dan tidak membuatnya capek. Ia sendiri sih kayaknya enjoy aja, cuman aku yang capek melihatnya. " kata Tuan Kims bermonolog.
Hu....ah...Ia menguap lagi, tak berapa lama mata tuanyapun terlelap. Sedang si Anak masih betah dengan komputernya.
Jam delapan pagi, usai sarapan, Perjalanan Darmawisata dilanjutkan. Perjalanan keluar kota kali ini dengan menggunakan jasa dua mobil Travel. Joko dan tuan Kims tinggal diHotel. Sedang
semuanya ikut. Mereka hendak menghabiskan hari ini dengan bertamasya ke Solok. Rencananya setiap sisi terindah dari kota Solok takkan ada yang dilewatkan.
Hari keempat, hari yang paling mengejutkan. Citra dan rombongan diajak sama bu Rahma menuju perkampungan.
" Ini kampung apa namanya Bu? " tanya Citra begitu sampai di perkampungan. Ini namanya Jorong S. Lima Km kedalam adalah perkebunan kelapa sawit milik H. Roslan.
" Maksud ibu kakek Citra? tanya Citra heran.
Iya sayang...Kakekmu adalah tuan tanah dulu diwilayah ini. Ia turunan Belanda yang menikahi nenekmu yang berasal dari kampung ini. Kakekmu
pindah kekota untuk mengobatkan nenekmu yang sakit kanker Pneumia. Tah apa itu namanya, tapi harus cuci darah rutin, makanya harus dikota.
" Maksud ibu leukimia? Jadi nenek kanker darah. Berarti Ayah mencari ibu balik kekampung ini. Ibu , kakek dan nenek sudah dikota. Ngak bertemu dengan ayah dikota. Ayah balik ke Jawa, lalu menikah lagi. " Begitu? tanya Citra pada sang Ayah.
" Iya sayang...Setelah nenek dibetawi menikahkan Ayah, baru ayah dapat kabar. Ayah sekolah dokter untuk bisa merawat nenekmu. Tapi malang, saat ayah bertemu alamat yang baru, nenekmu sudah kembali pada Tuhan.
Kami bersama beberapa malam, sebelum ayah berkata jujur. Tapi malangnya, saat ayah bercerita,ibumu tak menerima status ayah yang sudah menikah lagi. Sebenarnya nya itu tahun tersulit bagi ayah. Ayah terpaksa menikah lagi untuk nenek dibetawi, tapi setelah ayah menikah, nenek Jawa juga kembali.
Semua sudah terlanjur. Karna ibumu tak menerima
Ayah karna merasa dikhianati, terpaksa Ayah balik ke Jawa. Ayah kemudian melanjutkan pekerjaan ayah sebagai dokter pribadi dikeluarga Teman Ayah Chen, demi merawat Rendra yang masih kecil yang ditinggal oleh Ayah dan ibunya.
Ayah sangat menderita Citra. Kau ada dirahim ibumu setelah beberapa malam kebersamaan kami. Maafkan ayah sayang...Semua kehendak takdir. Ayah dapat kabar ada dirimu setahun kemudian dari teman ayah, ayah tak putus asa, ayah menemui ibumu lagi, tapi ia tetap tidak mau menerima ayah. Ayah patah hati, lalu fokus pada Rendra yang saat itu sudah dua tahun lebih." kenang Rinto berurai airmata. Citra memeluk sang Ayah.
" Semua sudah terjadi Ayah...ini garis hidup Citra. Tak ada yang salah, semua sudah jalannya. Maaafkan putrimu yang selama ini salah sangka pada ayah. " kata Citra. Rinto kemudian memeluk putri semata wayangnya.
Usai istirahat makan,Kemudian perjalanan dilanjutkan.
Sesampai Citra diKantor perkebunan itu, ia dan
rombongan disambut Hangat.
Pihak managemen menunjukkan laporan keuangan.
" Ini Total hasil perkebunan ini nona Citra. Perkebunan ini atas nama anda. Ini perkebunan sudah peremajaan sekali . Ini ATM dari setoran hasil bersih, Ini PINnya. Silahkan Cek di ATM depan." Jelas Meneger perkebunan itu.
Dengan sigap boy menarik tangan Momy, membawanya ke Mesin ATM.
Boy memasukkan kartu dan memasukkan pin.
" Wow...fantastis! Kakek mom Rich Man! Kok bisa ya mom kuliah dengan kerja keras menyapu jalan. Momy luar biasa! I love you mom! " katanya, berikutnya boy mengganti PINnya. Lalu setelah puas cek ulang saldo Momynya. Kartupun dikeluarkan.
" Ini simpan kartu Momy. Momy ternyata orang kaya bernomor juga dikota P. " kata Boy kemudian.
" Itu adalah harta uomu sayang...nanti akan kita fikirkan untuk membaginya pada yang membutuhkan, agar pahalanya mengalir. " kata Citra.
" Up to Momy..Boy selalu dukung. " kata Boy kemudian.
Bersambung....
Jangan lupa dukung terus cerita ini ya say...Mampir terus, like, fote , komen dan Faforitkan.
Salam 💓💓💓 buat pembaca semua.
M.....h...