
Usia kehamilan mommy Citra sudah memasuki Minggu ke 39. Rendra membawa Istrinya untuk konsultasi dengan dokter mengenai proses kelahiran. Setelah berkonsultasi dengan Catleen . SpOG.
Rendra dan Citra akhirnya mutuskan untuk memilih proses kelahiran secara Caesar, mengingat usia Citra yang sudah tak muda lagi.
Hari ini adalah jadwal yang sudah ditentukan. Untuk kelahiran secara operasi, inilah satu dari kelebihannya operasi caesar, orang tua bisa menentukan kapan waktu yang diinginkan untuk kelahiran sibuah hati.
Yang penting usia baby sudah cukup. Tidak perlu ada tanda- tanda apapun, yang penting sudah cukup umur, sudah boleh memilih hari yang dinginkan dan tinggal mengaturnya dengan jadwal dokter bedah dan dokter anestesinya.
Karna Rendra pemilik rumah sakitnya, ia lebih mudah lagi menentukan waktunya.
Rendra sebelumnya sudah memandikan istrinya sendiri dengan cairan anti septik.
Ya...Ayah posesif ini masih saja sama, ia tak mau kasih sayang dan perhatiannya pada sang istri sampai lusuh dimakan usia.
Puluhan peluk dan cium menghantar Citra keruang operasi. Dokter yang memandang mereka sampai pangling menatap kedua pasangan itu,
Yang terpaksa harus membuat mereka bersabar menunggu. Untung ini jadwal khusus, tak ada jadwal operasi lagi dihari ini, kecuali ada pasien kelahiran Daruri ( darurat ).
" Om sama Tante tak ubahnya seperti pasangan baru yang akan melahirkan anak pertama mereka, pantas sudah usia segini masih dikasih anak. Mungkin mesranya dirumah masih kayak pengantin baru. " batin dokter Catleen.
Satu dokter bedah senior seumuran dengannya, satu dokter muda pilihan, dokter anestesi, didampingi oleh dokter Catleen dan Empat orang perawat, Rendra benar- benar tak ingin kekurangan tenaga medis, dalam penanganan operasi untuk kelahiran sibontot.
Ya ini sibontot, karna setelah ini, mereka sepakat suami istri dengan dokter akan melakukan
sterilisasi pada Citra, mengingat usia yang sudah kepala empat puluh itu, lagian ini operasi yang kedua untuk Citra,
yang pertama operasi pengeluaran peluru. Rendra tak ingin istrinya sampe harus dibius lagi untuk yang ketiga kalinya, walau yang ini hanya bius Epidural ( bius separo ). Dokter anastesi akan menyuntik bagian syaraf punggung pasien. Dan ini juga memiliki efek samping sakit punggung, Rendra tak mau
istrinya semakin banyak keluhan dihari tua mereka, makanya ia setuju, rahim Citra diikat setelah ini.
Walau jutaan orang sudah melakukan operasi melahirkan Caesar, baik- baik saja dirumah sakitnya ini. Tapi Rendra tetap saja gelisah menunggu didepan pintu ruang operasi.
" Tenanglah Daddy...ayo duduk! Ajak Boy pada sang ayah yang gelisah.
Membawa Rendra duduk dikursi tunggu.
" Bella sudah tujuh bulanan ya? Sudah USG gimana hasilnya? tanya Rendra setelah duduk disamping putranya.
" Sudah Daddy...Tapi beritanya surprise, Bella mintanya begitu, ia mau melahirkan normal rencananya nanti, mudah- mudahan harapan kami bisa terujud. " ucap Boy dengan wajah berbinar.
" Amiin...seru Rendra.
Pas dimenit kelima puluh, ruang operasi terbuka. Kedua anak dan ayah itu sontak berdiri, berjalan menghampiri dokter.
" Gimana dokter? bagaimana operasinya?
" tanya mereka serentak.
" Operasinya berhasil, Nampaknya Boy satu- satu pria tampan setelah ayahnya. " timpal Catleen sembari tersenyum bahagia keluar dari ruang operasi.
" Berarti cewek lagi! "
" Ya om...Kalau Boy da..." Catleen tak melanjutkan ucapannya karna dikode oleh tuan muda bermata biru kecoklatan itu.
Untuk Rendra tak begitu perhatian lagi, karna ia sudah buru- buru masuk keruang
operasi. Tak sabar ingin melihat keadaan istri dan putrinya kecilnya.
Rendra masuk bertepatan ketika para perawat akan memindahkan ibu dan bayi keruang perawatan VIV.
Rendra mengikuti istrinya didorong keruang rawat dilantai dasar, yang diikuti oleh Boy juga. Sedang baby cantik dibawa oleh perawat. Sesampai diruang rawat, barulah Rendra bisa menatap anak
dan istrinya dengan lega.
" Selamat mommy dan baby Daddy Rendra ! Gimana sayang...sakit ngak operasinya? " tanya Rendra terdengar konyol.
Citra tersenyum, sembari menatap Rendra kemudian beralih pada Boy yang sudah menggendong adiknya.
" Kita kasih nama Sonia ya mom...Daddy.." usul Boy bertepatan ketika Catleen masuk.
" Itukan nama rekan kerjamu yang dari negri sakura itu!, tak takut Bella cemburu? " ucap Catleen.
" Baiklah...terserah yang punya adik! " Ucap semua serentak.
" Kita akan buat acara aqiqahan setelah Bella melahirkan, sekalian dihari pesta perkawinan Chalista." Ucap Citra lirih, namun berhasil membuat kedua pria kesayangan Citra tersentak kaget.
" Dengan siapa Chalista mau nikah? " tanya Rendra agak keras yang membuat sikecil yang digendong Si abang terkejut dan menangis.
Uha....uha...uha....Uha..." tangisnya menggema diruangan rawat itu.
Cup...cup...cup..." Boy menenangkan sikecil, tapi tangisnya tak reda.
" Sini biar mommy susukan. " Pinta Citra.
Boy memberikan sikecil pada mommy, yang dibantu duduk oleh sang Daddy. Rendra membantu memegangi Sonia saat menyusu, walau sudah beralas bantal sebagai pelindung, tetap saja Rendra khawatir akan menyakiti bekas operasi Citra, jadi ia memeganginya.
Hanya tiga menit saja menyusu. Sikecil sudah tenang.
Rendra mengambil putrinya, dan meletakkannya di box Bayi.
Dengan siapa chalista akan menikah? " tanya Rendra pada Boy.
Boy menatap Mommynya, meminta persetujuan.
Setelah Citra mengangguk,, barulah Boy
mengatur nafas.
" Dengan Amer Daddy...Kan cuma Amer yang bisa mengalahkan egonya! " ujar Boy kemudian.
" Jadi juga kita besanan sama Mak lampir! " ujar Rendra memandang istrinya .
" Jangan gitu dong sayang...kedengaran sama yang punya badan kan jelek!Gimanapun juga kita sebagai orangtua hanya bisa mengikuti keinginan anak, mereka saling mencintai, bahkan Chalista sudah berusaha keras untuk menyelesaikan studynya diawal waktu, agar bisa segera bisa disyahkan oleh Amer. Lagian mereka juga patuh pada aturan kami, tidak bertemu berdua sebelum menikah. " jelas Citra.
" Baiklah...Kapan mereka akan melamar? Apa yang dapat anak itu berikan sebagai mahar?" sarkas Rendra.
" Jangan meremehkan anak muda itu Ayah...Ia sudah menyediakan 2 Triliyun untuk modal awal berumah tangga. " Jelas Boy.
" Dari mana kau tahu itu Boy? " tanya Rendra.
" Apa Daddy sudah lupa aku seorang hacker? tak susah bagiku untuk membuka server bank tempat Anak muda itu menabung yang sudah ia mulai sejak dari kelas satu SMP sampai sudah bekerja sebagai seorang CEO.
" Oke...Boleh juga anak itu...nampaknya ia mewarisi ayahnya yang rajin, ulet dan hemat. Baiklah...aku akan berfikir semalam dulu, sebelum memutuskan menerima lamaran mereka."
Citra menggelengkan kepalanya.Sedang Boy menggidikkan bahunya.
Detik berikutnya terdengar ketukan dipintu, ternyata dokter dan perawat yang
datang untuk memeriksa. Pembicaraan terhenti, setelah Boy menarik pintu, menjawab salam dokter, lalu tim medis itu melakukan tugasnya.
Sepuluh menit berikutnya, dokter dan para perawat meninggalkan ruangan, digantikan dengan rombongan keluarga yang datang.
Ada Wiliam, Anjani dan Bella.
Ada Chalista dan Raisa.
Berikut Adelia dan Arif yang tiba, menambah kehebohan diruang rawat itu.
" Aduh...putri kita sudah lahir ya! " Ucap Anjani Enteng yang membuat jidat Rendra berlipat- lipat, kayak rok bisket yang gosong kena setrikaan.
Sebelum ia sempat protes, Citra berucap lirih." Putri kita mirip maminya, mami dan papi boleh pindah kerumah lagi, bantu ngerawat sikecil sama nungguin Bella lahiran. Kalau cucu kita sudah lahir, kita kasih nama bareng nama anak.
" Iya...Gemasnya...Kita dapat anugrah yang besar tahun ini, anak sekaligus cucu, plus mantu! " girang Adel sembari memainkan dagu sikecil yang sedang dipangku Anjani.
Chalista mulai memerah pipinya, mendengar ucapan terakhir sang calon mertua.
" Sabar...calon mempelai pria takkan dibawa dulu, sebelum waktunya ijab Kobul. " Ujar Adelia yang membuat pipi Chalista tambah memerah.
Gelak tawa mengisi ruangan itu. Tapi sepertinya sikecil menikmati, ia tak terkejut lagi. Malah nampak mulai bermain merespon para ibu dan kakak yang menggelutinya.
Sedang Kaum bapak mulai menyingkir keluar, jengah dengan celotehan para wanita. Mereka bertiga mencari tempat yang nyaman pula untuk berbincang sambil santai.