Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 55



Sehabis subuh, Citra menjadi guru silat bagi anak- anaknya. Setelah mengajarkan tehnik dasar yang


berupa teory dan mensimulasikan gerakan langkah, Elak, tangkap dan Serang pada kedua murid barunya. Citra langsung menguji kemampuan murid tertuanya.


Iap...Cia...Tiba - tiba sang guru cantik menyerang


Boy.


Up....ha...


Serangan itu berhasil dielakkan oleh Boy hanya dengan satu langkah.


Seluruh Indra Boy waspada, hingga serangan secepat kilat berikutnya


berhasil ditepis.


Lalu detik berikutnya anak dan Mom itu sudah bertarung sampai keringat bercucuran.


Iap...Cia...pertarungan berlanjut makin memacu andrenalin penonton.


Calista menutup mulut Zahra yang menganga kagum dengan kelincahan Boy mematahkan setiap


serangan sang guru.


" Mulut ditutup neng...untung Abang konsentrasi penuh, kalau tidak, ia pasti sudah memalingkan mukanya, saking ilfil sama norak akut mu. " bisik Calis. Ia menggelengkan kepalanya, merasa putus asa akan kesuksesan misinya.


Sedang Zahra hanya tersenyum malu.


" Maaf ta habis abangmu mengagumkan. " katanya Zahra jujur seraya menggaruk kepalanya, trus menggigit jarinya. Membuat hati Calis kian patah.


Saat mentari mulai menampakkan kegagahannya,


pertarungan itupun diakhiri, sang Momy sebagai guru mengacungkan jempol pada murid terbaiknya.


Tanpa sadar Zahra melompat - lompat sambil bertepuk tangan. Hebat! hebat Bang Boy memang


tangguh. " katanya kemudian yang membuat semua mata tertuju padanya, terkecuali yang dipuji. Setelah mencium tangan sang Guru, Boy cepat- cepat pergi meninggalkan lokasi latihan.


" Habis melawan sang Jawara, tiba- tiba badan Momy sakit. " Rengek sang Momy ketika mereka duduk santai melepas lelah dikursi taman.


Mengerti maksud sang Momy, Calis langsung memijit punggung Momy, ia juga tak lupa mengedipkan matanya pada Zahra , berharap temannya itu akan mengerti maksud Calista.


Tapi nampaknya Zahra sibuk memperhatikan bunga mawar yang sedang bermekaran. Hingga


ia tak melihat kedipan mata Calista.


" Anak perempuan itu ibarat bunga lho sayang...


Lebih tepatnya bunga mawar. mawar mekar diantara duri. Agar orang hati- hati memetiknya. Sekuntum bunga akan dipuja dan jadi pusat perhatian saat mekar, bila layu dicampakkan.


Sama juga dengan kita, makanya jangan sampai layu sebelum berkembang. Jadi harus pintar - pintar jaga diri. " Kata Citra memberi nasehat karna melihat Zahra yang sedari tadi memandangi bunga- bunga itu.


" Nyonya dan anak - anak ditunggu dimeja makan


oleh Tuan Rendra untuk sarapan, pesannya barusan segera, karna hari ini Tuan dan Tuan muda


Bhalendra mau berangkat kesuatu tempat, ada urusan mendadak." Kata Seorang pelayan buru - buru menghampiri mereka .


Citra menjawab dengan anggukan.


" Sudah sayang...Kita segera sarapan. " kata Citra segera berdiri dan melangkah dengan menggandeng kedua anak perempuan itu.


Hatinya bertanya- tanya, mengapa tiba- tiba suaminya memutuskan untuk bepergian urusan bisnis, padahal semalam Rendra tak mengatakan


apapun. Apalagi ini hari Minggu, tiba- tiba perasaan


Citra tidak enak.


Sesampai dimeja makan, Citra melihat kedua orang


terkasihnya itu sudah menunggu dengan pakaian rapi siap untuk melakukan perjalanan.


" Mau kemana sih sayang dihari Minggu begini? " tanya Citra sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya. Ia tak tahan menunggu lagi untuk mengetahui perjalanan mendadak suaminya.


" Nantilah sayang...Kita sarapan dulu, baru diceritakan sambil pamit. " kata Rendra menenangkan istrinya. Ia tahu Citra , kalau ia mengatakan masalahnya, nanti istrinya takkan menghabiskan sarapannya karna kepikiran.


Walaupun dengan cemberut, dengan patuh Citra menghabiskan sarapannya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Citra segera menanyakan kembali masalahnya.


" Arif mengalami kecelakaan kerja beserta dua orang stafnya, saat melakukan survey diproyek baru kita diBandung. " kata Rendra yang membuat Citra yang sedang minum tersedak. Hingga


air hidung dan matanya bercucuran menahan perih, Cairan yang ia minum salah jalan, menyumbat pernafasannya.


" Sayang...Rendra langsung berdiri untuk menepuk pundak istrinya. Boy juga membantu mencondongkan tubuh Momynya kedepan agar cairan dimuntahkan kembali.


Air menyembur kembali dari mulut Momy.


Ia dapat lagi mengambil nafasnya.


" Gimana? tanya Rendra setelah Citra nampak tenang.


" Sudah lega. " jawab Citra setelah mengatur nafasnya lagi. Lalu Boy membimbing Momynya untuk duduk dibantu sang Dady. Citra kemudian tersenyum, menyukuri perhatian besar kedua orang tersayangnya.


" Momy sih gitu, om Arif yang kecelakaan, Momy yang hampir lewat. Keterlaluan sekali mikirin orang,


sampe minum saja tak hati- hati. " kata Calis yang mendapat hadiah pelototan dari sang Dady.


Gadis kecil itu memucat, selama ini tak pernah dirinya dapat ekspresi seperti itu dari Dady. Sadar ucapannya salah, ia tertunduk membisu.


Boy berdiri, lalu menghampiri adik tengahnya. Ia menangkup dagu Calista, menatapnya dalam " Kalau ngomong tu hati- hati sayang...


apalagi sama orang tua kita, jangan buat mereka terluka. Makanya cari teman juga kudu hati- hati, jangan yang membawa pengaruh buruk. " kata Boy


sembari melirik sekilas pada Zahra. Zahra hanya diam dapat sindiran dari remaja yang dikaguminya itu.


Calista lalu menangis, ia merasa bersalah pada Momynya. Boy menghapus airmata sang adik dengan jarinya, kemudian mengusap pundaknya.


" Ya sudah...yang merasa bersalah minta maaf ! Okay...Abang sama Dady mau terbang ke Bandung,


minta maaf sama Momy, jaga Momy baik- baik.


Doakan perjalanan kami aman dan selamat.


Kalau ada yang tersinggung dengan Ucapanku, aku


minta maaf. " kata Boy memandang sejenak wajah Zahra yang tertunduk.


Citra dan Rendra diam penonton, saat Boy muncul sebagai penengah dari pertikaian kecil dipagi itu.


Dalam hati kedua suami istri itu bersyukur, memiliki


anak- anak dengan kelebihan tersendiri, saling melengkapi untuk kekurangan saudaranya.


" Sayang...Kami pergi dulu! Telfon Adel untuk menenangkannya. Kalau kondisi semuanya sudah aman, dan masalahnya telah teratasi, kami akan segera kembali. " kata Rendra seraya mengecup pipi ibu dari anak- anaknya itu.


Citra tidak menjawab ucapannya, hanya membalas kecupannya. Lalu ia menyalam tangan suami, kemudian mencium tangannya.


" Kalau sikecil tidak diasrama, dan sudah jadwalnya


ditengok esok, mungkin Momy mau ikut dengan kalian sekarang. " kata Citra.


" Ngak usah mi, kan ada Boy yang jagain Dady. Pokoknya Momy jagain saja tu sicentil, jangan sampai main sembarangan, jajan sembarangan, apalagi ngomong sembarangan. " kata Boy sembari menatap Calista, tersenyum hangat pada sitengah Kemudian naik ke pesawat Jet pribadi yang baru diganti tahun lalu.


Citra sebenarnya tak enak hati, tidak ikut datang menghibur sahabatnya Adel. Mengingat Adel yang selalu bela- belain selalu datang, tiap Citra dalam masalah. Tapi kini situasinya berbeda.


Penting untuknya tinggal disini, memantau kedua anak gadisnya, yang memilih tempat sekolah yang berbeda pula. Apalagi sekarang, ada ayahnya yang sudah tua dan sering sakit- sakitan, yang butuh perhatian Citra.


Citra kemudian berdoa diwaktu Duha, berharap pada yang kuasa, agar suami dari sahabatnya itu selamat berikut staf yang ikut terkena musibah itu.


Juga perjalanan putranya dan suaminya aman dan lancar.


Sehabis Bermunajat, Citra lalu mengirim pesan


pada Adel sahabatnya.


Bersambung...