Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 71



Anjani menatap putri semata wayangnya yang sudah tertidur dengan lelapnya.


Sebelum ia memejamkan matanya, ia kembali memeriksa selimut Bella. Ia tak mau kalau Bella sampai masuk angin,


Karna cuaca sekarang lumayan dingin,


musim hujan telah tiba. Cuaca berawan dimana mana, siap - siap sedia payung sebelum hujan.


" Bocah Cantik, energik, dan simpatik


namun tetap anggun dan misterius ." kau adalah satu- satunya yang kami punya." batin Anjani tatkala merapikan selimut Bella.


Tadinya Bella yang mengurus


selimut mami nya, sekarang gantian sang mami yang memastikan kalau selimut itu tak lolos dari pemakainya.


Bella remaja berwajah Jawa, Berkulit Eropa. Dengan rambut hitam legam dan panjang. Bentuk wajah bulat penuh, bercahaya mengalahkan purnama, bibir merah bak delima yang baru merekah,


Dagu indah bak lebah bergayut. Garis Alis yang jelas dan tegas, bulu mata legam lebat dan panjang melentik, berhidung mancung kecil, dengan pipi putih mulus,bersih tanpa noda. Nampaknya satu jerawat saja sangat segan tumbuh dipipi


yang akhir- akhir ini sering berwarna kemerah - merahan itu. Bila Bella tersenyum ia akan memamerkan gigi putih besih nan rapi.


Gadis yang baru tumbuh itu tampak tersenyum ketika tidur. Suasana hatinya membuat tidurnya nampak damai, itu membuat pesonanya kian terpancar kala ia terlelap.


Bella adalah putri satu- satunya, dan akan


terus tunggal untuk Anjani dan Rehan Wiliam , terkecuali jika mereka mengangkat adik untuknya. Tapi nampaknya, Anjani tak tertarik untuk itu.


Sebagai mami muda yang masih berusia 33 tahun, sebenarnya Anjani masih dalam usia subur. Tapi memang takdirnya Bella tak diberi kesempatan oleh Tuhan untuk beradik lagi.


Anjani pernah mengalami kecelakaan ketika ia mengandung adik Bella. Waktu itu usia Bella 3 tahun. Anjani keguguran dan mengalami pendarahan hebat, yang menyebabkan dokter terpaksa melaksanakan histerektomi ( operasi pengangkatan rahim ) pada Anjani, untuk menyelamatkan nyawanya hanya itu, jalan yang dapat ditempuh waktu itu


Kesedihan Anjani dan Rehan terobati dengan tingkah manis dan lucu Bella.


Tidak ada putra, setidaknya Tuhan telah menganugerahkan pada mereka putri yang sangat cantik dan lincah. Mudah- mudahan kelak ia mendapatkan jodoh yang tepat, lelaki yang pantas, yang bisa menjadi menantu sekaliigus putra bagi


mereka. Begitu selalu mereka berharap


dan berdoa setiap waktu.


Anjani tak dapat tertidur lelap disisi putrinya. Rasa penasaran akan siapa lelaki yang ditaksir putrinya, membuat Anjani kembali duduk.


Anjani memeriksa IPhone Bella, berharap ada sebuah nomor atau foto yang istimewa disana. Hatinya mengucap syukur, karna ternyata tak ada foto yang tidak layak dari unggahan putrinya. Bahkan Foto dengan laki- laki saja belum ada.


Ia terus memeriksa Galeri, dan matanya terfana pada foto lelaki tampan yang tampak jauh lebih besar dan tinggi dari Bellanya.


Anjani makin penasaran dengan foto itu.


Foto dengan Caption ( Sisipan ) " The right one for the prince of my dreams ".( Pangeran Impianku ) Cukup membuat Dada Anjani berdesir.


" Nampaknya Bella tidak hanya sekedar mengagumi teman sekelasnya ini. Aku kira putriku sudah menaruh harapan yang


besar masa depannya terhadap anak itu.


Aku harus cari tahu siapa anak itu.


Kalau dari wajahnya sepertinya sangat Familiar. Dimana ya aku pernah melihatnya? Apa karna ia seorang model? Entahlah...Besok aku akan mencari tahu. " tekadnya sebelum kembali ketempat tidur.


🌺🌺🌺🌺


Sekembali dari kamar Mommy dan Dady, pukul Tiga dinihari itu, Boy tak lagi tidur. Setelah menunaikan Sholat malam, iapun


kembali ke Ke leptopnya.


" Aku akan mencoba membuat Aflikasi terbaru lagi, menjelang pagi. Bismillah...


" Gumamnya sebelum mulai bekerja.


Kalau sudah mulai bekerja, jangankan


Bella, bidadaripun yang turun dari langit,


datang mengganggu, ia takkan peduli.


Apalagi sekedar mengingat Bella, tentu semua itu lolos dari memorynya.


Hanya panggilan Azan, aroma farfum Dady, atau sapaan lirih sang Mommy yang akan bisa menghentikan pekerjaannya.


Dapatkah Bella bertahan mendampingi lelaki seperti itu? Tak perlu


difikirkan, mereka masih terlalu muda.


Biar waktu dan takdir yang mengatur semua masa transisi dalam hidup manusia. Mereka hanya perlu menjalani saja.


Anjani tak sabar menunggu pagi tiba.


" Kita kemana Nyonya? " tanya Mamat sopir Bella ketika Ia sudah duduk didepan kemudi.


" Kesekolahnya Bella! Aku ingin melihat


anak remaja yang bernama Bhalendra secara langsung. " katanya yang membuat dahi Mamat mengerut.


" Non Bella gimana? " tanya Mamat kemudian.


" Dia kan masuk siang..Jadi nanti saja dijemput, sebelum Zuhur. Bukankah katamu jadwal ujian anak itu pagi - pagi?


Aku tak mau ketinggalan, Ayo jalan! Menunggu lebih baik daripada kehilangan kesempatan. " kata Anjani


tak sabar ingin melihat langsung wajah anak remaja yang ditaksir putrinya.


Mamat mulai melajukan kendaraan roda Empat yang memiliki harga Lumayan Fantastis itu dengan kecepatan sedang.


" Hari masih terlalu pagi Nyonya...Kita santai saja." Katanya lirih.


" Baiklah...terserah padamu, pokoknya aku tak mau sampai terlambat. Bukankah


anak itu kalau ujian dapat menyelesaikannya dalam hitungan menit saja. Makanya kita datang cepat, biar tak kehilangan momen melihat datang dan pulangnya anak itu. " Jelas Anjani.


" Anak sama Mak sama saja, ngak sabaran dan suka memaksa kalau sudah ada maunya. " Gerutu batin Mamat.


Seperti anak gadis yang sedang gelisah menunggu kekasih yang sudah janjian ketemuan. Anjani duduk gelisah dikursi taman depan Sekolah Swasta terkemuka diJS itu. Sebentar- sebentar menatap layar HPnya dan sebentar kemudian menatap kegerbang.


Mamat yang menunggu didalam mobil, hanya geleng- geleng kepala. Ia juga sedikit deg- degan, karna kali ini ia bertugas, memberi kode, kalau Bhalendra Boy Chen sudah datang.


" Aduh...nyonya ada- ada saja. Kalau sekedar pengen tahu, tanya saja kepihak Yayasan, atau tanya bang Mamat aja. Secara bang Mamat kan mantan sopirnya Bos Besar sejak zaman si Genius masih orok. " Gerutu Mamat sembari mengenang Mr. Kims.


Dengan Mr Kims ia bekerja saat usianya masih muda. Joko teman seperjuangan Mamat sekarang masih setia bekerja dengan keturunan Konglomerat tegas namun berhati lembut itu.


Mamat memang seorang Sopir, dan hanya seorang sopir sampai hari ini.


Tapi kasih sayang tuan Kims tak bisa ia lupakan. Pria kaya raya yang betah menduda karna kehilangan cinta pertamanya itu, pernah menawarkan Mamat untuk membiayai kuliahnya seperti Hans, agar ia bisa ditempatkan disalah satu perusahaannya.


Tapi Mamat menolaknya, ia malah pasrah dengan otak tumpul amburadulnya.


Tuan Kims tak lepas tangan. Ia yang melamarkan gadis pilihan hati Mamat, dan ia juga yang membiayai pernikahan mereka. Bahkan pernikahan Mamat dengan Miftah jauh lebih mewah dari pernikahan Rendra, cucu kesayangannya


Mamat bersyukur dengan Takdirnya.


Walau Hans , teman sebayanya telah sukses dan memiliki sebuah perusahaan


saat ini. Mamat tak menyesal, " aku hanya seginilah kadarku, yang aku tahu aku bahagia. " begitu prinsipnya.


Deg...Dada bang Mamat berdebar, tatkala mobil yang membawa Boy berhenti didepan sekolah.


Dengan tangan bergetar ia segera mengetik pesan.


" Itu Anak sudah datang, mobil yang berwarna hitam itu adalah mobilnya. " Mamat segera mengirim pesan.


Boy baru akan membuka pintu mobil, ketika mobil hitam satu lagi datang.


Deg...Jantung bang Mamat benar- benar Rasa ingin terjatuh.


" Kok bisa datang pula mobil Delon Ya?" Takutnya nyonya jadi bingung. " batinnya kesal sembari menepuk jidatnya.


Benar saja perkiraan Mamat, Anjani bingung celingak- celinguk memandangi siapa yang keluar dari mobil hitam yang ada dua baru berhenti, pandang sana pandang sini, hingga tak sadar ia tertabrak Delon yang buru- buru keluar dari mobilnya sembari berlari - lari kecil.


Tak Ayal mami muda itupun tubuhnya oyong.


Sebagai jagoan silat yang memiliki langkah secepat jitah, Boy berlari menangkap tubuh ramping perempuan berhijab sebaya mommy nya itu.


Sedang Delon hanya mendengus kesal, karna sakit dikeningnya terbentur kening Anjani.


" Dasar ibu- ibu melongo! " Gerutunya sebelum pergi, dengan mata melotot.


Maaf mom...mungkin Delon buru- buru." kata Boy Refleks sembari merapikan kerudung Anjani seterusnya mengusap kening yang memerah itu.


Mami muda itu terpana, menatap mahluk sempurna didepannya. Andai ia memegang pisau, tentu ia takkan sadar melukai jarinya, seperti ibu- ibu yang terpana menatap Nabi Yusuf dimasa Siti Julaikha ingin mengembalikan nama baiknya.


" Oh My God.. Darling...Bang Rehan... Ini malaikat atau calon mantu ? " Gumamnya norak tanpa sadar.


Boy mengernyitkan Dahinya tak mengerti, namun kemudian ia tersenyum.


" Mami...!!!!! " teriak seseorang dibalik helm, turun dari Ojek online.


Semua mata beralih pada suara Lima oktaf gadis remaja itu.


Tekan jempolnya say...tekan Like, Fote dan Faforitkan Cerita ini.