
Menunggu beberapa hari rasa berbulan- bulan, begitu yang dialami oleh orang yang sedang dilanda Asmara.
Tak terkecuali yang dirasa oleh kedua catin itu, dalam menjalani masa pingitan mereka.
Tatkala Ita terbangun dipagi hari, ia tidak lagi menemukan Raisa yang semalam memeluknya. " Ternyata nona ustazah sudah pergi shalat, berarti aku bangun tarlambat." Gumam Ita sembari melompat dari tempat tidurnya.
Dikira langsung kekamar mandi untuk siap- siap menunaikan kewajibannya, malahan gadis itu mendahulukan mencari HPnya dimeja Nakas.
" Uih...Ngak ada panggilan tak terjawab! Sebal! pasti ia merasa nyaman dimension mewah itu, sehingga melupakan aku!" Ucap Chalista menggerutu.
Tuk...tuk...tuk...
Chalista menepuk jidatnya tiga kali. Melihat cahaya terang dibalik jendela kaca kamarnya.
" Kalau soal cinta sama Allah, aku selalu kalah dengan Raisa." batinnya sembari beranjak kekamar mandi mewahnya.
Amer memang sejak bangun, yang teringat pasti kekasihnya. Begitu ingin menelfon, Habis menunaikan kewajibannya, ia berfikir dua kali, karna teringat kalau calon nyonya nya terbilang bandel urusan ibadah.
" Tak usah ditelfon pagi- pagi! Nanti malah mengganggu aktivitas wajibnya, seharusnya aku bersabar dulu, kan waktunya tidak lama lagi. Sabar Amer!!!.." Bujuknya pada diri sendiri.
Jadinya Amer mengalihkan perhatiannya pada perusahaannya, Amer mulai sibuk mengirim Email pada Asistennya.
" Nak Amer! Ayo kita sarapan kata tuan dan nyonya! " panggil Bi Miftah didepan pintu.
" Baik bi...Amer akan segera datang. " Ujar Amer sembari menyunggingkan senyum.
Bi Mifta membalas senyuman Amer, ia tidak bermaksud ingin pergi, sebelum putra Arifin itu melangkah maju. Karna ia tahu Amer belum mengenal mension ini, ia tak mau calon mempelai itu harus berjalan- jalan, hanya untuk menemukan ruang makan.
" Telfon apa ngak ya, untuk ngajak sarapan ? " Amer menimbang didalam hati.
" Ah...nampaknya bibi menunggu, biar kutelfon nanti saja selesai makan, ngak baik juga membiarkan om Willi menunggu, ia pasti mau siap- siap kekantor." Gumam Amer.
Amer kemudian meletakkan Telfonnya dinakas, tidak jadi melakukan panggilan.
Sabar ya sayang..Abang juga kangen, tapi tunggu Abang telfon habis makan, kasihan biMifta, kelihatannya sengaja menunggu Abang." Batin Amer.
Dengan langkah pasti, kemudian Amer, berjalan keluar, mengikuti bi Mifta, karna Amer belum tahu ruang makan keluarga Om Willi.
" Makasih udah nunggu Amer bi. " Ucap Amer tulus.
Chalista mencak- mencak dikamarnya, ditatapnya jam dinding, sudah waktunya makan pagi, berharap akan dapat panggilan Vidio, malah pesanpun tak ada.
" Hah...Untung ngak ada anak perempuan
Tante Anjani selain kak Bella, kalau ngak pasti hatiku sudah demam cemburu. Apa ia sengaja mengujiku. Tapi biarlah..Aku sebaiknya pergi sarapan, agar tidak kerempeng kali pas pesta nanti. " Chalista menghibur dirinya sendiri.
" Selamat pagi Catin!!! Aku datang dengan rombonganku, sesuai janji kita, kami kesini untuk membuat kue pernikahanmu! Belum pikun dadakan karna stres jelang kawin kan? " Seru Mila teman kuliah Chalista, melihat dahi Chalis yang berkerut.
" Hai...Ita! Aku Yuli Absen! Belum lupakan. " Canda Yulia adik Jabri putri PA Chalista.
" Hai... Aku Ceni, rekan bisnis Mila. " kata gadis rambut sebahu mengenalkan diri.
" Hai...Aku Rifa!
" Ya Ita! kami berempat, mulai bekerja pagi ini, tolong tunjukkan dimana dapurnya.
" Pinta Mila.
" Ya..Ayo kita sarapan bersama dulu. Kalau sudah kenyang baru boleh bekerja, nanti kukenalkan kalian dengan 4 kokiku yang akan membantu, sekalian. Sekarang makan dulu, kalau ngak pada kenyang aku takut kueku kebanyakan dicicipi, calon mempelai lagi kikir nih! " Canda Chalista.
Sementara.
Raisa sudah selesai berdoa pada Tuhannya, habis menunaikan Sunnah Duha.
Lama gadis itu bermunajat,
ia merasakan waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi pria yang disayanginya akan menikah dengan kakaknya. Tak ada yang salah dengan rencana pernikahan mereka, karna mereka saling mencintai.
Sedang Raisa sendiri adalah pecinta dalam diam, ia tidak punya hak apa- apa pada Amer, toh Amer juga tidak pernah menatapnya.
Kalau untukku, mohon jangan biarkan hatiku berlarut dalam kesedihan ini ya Allah...karna orang yang kucintai adalah jodoh kakakku sendiri, tak boleh perasaan ini berlangsung lama lagi, apalagi setelah mereka nantinya Syah."
Doa Raisa.
Tiba- tiba Raisa teringat adik kecilnya.
Iapun berlari- lari menuju kamar sang mommy.
Sesampai didepan kamar, Raisa tak perlu
mengetuk, karna pintunya terbuka lebar.
Daddynya sedang sibuk menggendong sikecil.
" Bisa aku minta adik Sonia Daddy! Teriak
Raisa didepan pintu.
" Sayang...Kau mengejutkan Daddy saja! Untung adikmu gadis yang Cemumut, ia tak terpengaruh dengan suara mirip kapal beletmu itu. " Tegur Rendra sembari menyerahkan Sonia pada Raisa.
Raisa membawa adik kecilnya keruang tamu. Setelah melihat tak ada orang dan pelayan yang berlalu lalang, iapun curhat pada baby Sonia. " Kau beruntung lahir tidak sebaya dengan kami dik..Jadi kau tak perlu turut merasakan jatuh cinta pada pria yang sama.." Gumam Raisa sembari mengusap airmatanya.
Hek...Hek...hek...Sikecil Sonia malah merengek, wajah imutnya tampak memelas, air matanya pun menetes. Raisa terpaksa menghentikan tangisnya, dan mulai sibuk menimang adiknya. Wajah ceria Raisa membuat senyum imut Soniapun mengembang. Ia bahkan mengedut- ngadutkan bibirnya, seperti sedang merayu sang kakak.
" Baiklah...kakak tidak akan sedih lagi cayang.. Kita pasti bertemu dengan jodoh yang tepat dimasa yang tepat, patah hati adalah bahagian dari cerita
kehidupan yang akan menghantarkan kita pada cinta yang sesungguhnya.
Kemudian Raisa terhibur sendiri setelah bercurhat ria dengan bayi Imut itu.
" Untung mom sama Daddy dianugerahkan dirimu lagi dik...Jadi kakak tidak merasa ditinggal sendiri. Ada
adik dan diriku yang tak mendapatkan posisi sebagai menantu Onty Adel, kalau kakak karna kalah pesona, sedang dirimu kalah usia. Intinya kita sama- sama kalah. He...He..." Akhirnya Raisa tertawa sendiri dengan gumaman konyolnya. Seperti mengerti Babby Sonia juga tersenyum lebar.
" Tentang apa kalian sama kalah sayang? " tanya sang mommy yang membuat Raisa terkejut.
" Jangan sampai mommy mendengar semua Ya Robb. - Doa Raisa dalam hati.
" He...He...Ngak ada kok mom...Cuma main- main saja sama sikecil." Kilah Raisa.
" Main - main kok matamu merah? selidik mommy Citra.
" UM...Adik kecil nakal...Tadi ia menggapai mataku, hingga berair." Raisa berusaha bersikap biasa agar kecurigaan
mommy tak berkelanjutan.
" Iya mom...Adik Sonia memang suka begitu, kemarin mata Boy yang dicongkel. " Boy tiba- tiba datang membela Raisa.
" Benarkah...Kayaknya adik kecil memang suka mata kalian, karna nampak indah dan selalu berbinar! " Ujar Citra sembari tersenyum.
" Mata indah titisan Dewa dan Dewi penguasa dua benua! " Sarkas Raisa dan Boy serentak.
" Untung Abang datang tepat waktu, jadi aku tak harus gugup menghadapi pertanyaan mommy sang penyelidik handal." Syukur Raisa dalam hati.
Ketika Mommy sudah kembali kekamar dengan babby Sonia, Boy mengusap kepala dibalik kerudung instan sang adik.
" Orang yang bersabar, akan dapat hadiah yang lebih besar sayang... Jangan fikirkan cinta, bekali dulu dirimu dengan ilmu dan Amal, insya Allah kau akan diberikan Allah cinta yang terbaik! " Ujar Boy.
" Amiin...Abang memang selalu datang tepat waktu! " puji Raisa.
" Itu karna adik doanya mantap, setiap ada masalah, selalu datang pertolongan dari Allah. Abang hanyalah Alat saja, Tuhan yang Maha pengatur.
Mampir juga ke novel baru kita ya say...