Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 10



Hari Minggu


Begitu bangun tidur, Rendra merasakan perutnya mual, kepalanya terasa pusing. Ia tak tahan, dan segera berlari menuju kamar mandi, ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Hoek...Hoek....Hoek...


" I....i...itu buk...Tuan muda muntah- muntah dikamar mandi kamarnya. " tadi mas Pardi dengar saat menmbereskan ruangan sebelah. " lapor salah seorang pelayan yang bekerja dirumah Rendra pada bi Sumi.


Ada apa ya? padahal semalam ia baik-baik saja, ngak pulang mabuk? Apa karna masuk angin? perasaan tuan muda tak mudah masuk angin. " fikir bi Sumi seraya berlari menuju kamar Rendra.


Walaupun Rendra sudah besar dan sudah menjadi pewaris GNN group, tapi bagi Sumi, Rendra masih seperti bayi kecil yang jika sakit sedikit saja ia akan cemas setengah mati, baginya Rendra adalah segalanya, Karna Rendra lah yang membuat


ia bertahan hidup sampai hari ini.


" Ada apa tuan muda. Bukak pintunya, biar bibi kerokin! " Teriaknya di depan ruang mandi kamar Redra.


" Ngak usah Bu..Ini cuma pengaruh mabuk pesawat yang belum kelar. " jawab Rendra


" Oh ya Bu...Apa ibu bisa masak sambal asam pedas tongkol? Kalau ngak tolong bilangin sama bang Ujang. Ia mungkin kenal masakan itu. Tiba- tiba Rendara kepengen makan pakai sambal asam pedas itu. " kata Rendra setelah membuka pintu.


" Ngak pengen dipijitin atau dikerokin? " tanya Sumi


menawarkan jasa lagi.


" Ngak Bu...Rendra cuma pengen makan itu, mhu...rengeknya.


" Baiklah sayang...Bibi usahakan, bibi akan masak


sama bang Ujang. " Kalau ngak bisa ntar pesan diRestoran Minang. " kata Sumi.


" Tapi Rendra pengennya masakan rumahan bi. " jawabnya.


" Baiklah...diusahakan nak, Kata Sumi.


Setengah jam kemudian, tengah bergolek- golek ditempat tidur king size miliknya, Rendra tersentak ketika mendengar ketukan dipintu kamarnya.


Tok...tok...tok...


Rendra segera bangkit untuk duduk." silahkan masuk Bu, apa masakan yang kupesan sudah matang? " Ia bergegas menuju pintu, sambil sembari mengusap perutnya dan mendegup liurnya. Saat pintu terbuka, ternyata Yang datang adalah Dr. Rinto, dokter pribadi keluarga Kims.


Walau hatinya sedikit kecut, tapi ia paksakan tersenyum menyambut sang dokter.


" Siapa yang memanggil pak dokter kesini? " tanyanya heran, karna ia tak merasa meminta asistennya atau siapapun memanggilkan dokter.


" Bi Sumi yang memintaku memeriksa tuan Rendra.


" katanya tuan sakit.


" Ibu berlebihan sekali...Padahal aku cuma pusing dan mual- mual saja pak dokter. " kisah Rendra.


" Boleh izinkan saya masuk untuk memeriksa anda tuan? " tanya Dokter Rinto ragu, khawatir Rendra tak ingin diperiksa.


" Boleh pak dokter, silahkan masuk." jawab Rendra seraya tersenyum ramah pada dokter Rinto.


Kemudian dokter Rinto memeriksa Rendra. Setelah dicek suhu tubuh dan tekanan darahnya, sang dokter mengerutkan keningnya.


" Ada apa dokter, apa kondisi saya memprihatinkan hingga ekspresi anda seperti itu? " tanya Rendra penasaran begitu melihat raut wajah sang dokter yang penuh teka- teki.


" Anda sehat dan baik- baik saja tuan. Hanya...Sang dokter menggantung ucapannya karna ia ragu mengingat status Rendra yang Single.


" Ada apa pak, katakan saja apapun yang anda fikirkan dokter. Jangan ragu, apapun itu pasti saya terima, tak perlu segan atau sungkan. " kata Rendra meyakinkan Dokternya.


" Apa anda punya pasangan tuan, a...atau anda pernah berhubungan dengan wanita dalam bulan ini? " tanya Rinto masih dengan nada Ragu , mengingat Rendra yang bukan tipe lelaki yang suka


main perempuan. Bahkan menurut penuturan Mr Kims, cucunya itu belum pernah menyebutkan satu nama perempuan pun yang disukainya sampai detik ini di usianya yang sudah kepala tiga. Hal itulah yang kadang sering memicu penyakit jantung Mr Kims sering kambuh, pengaruh psikologinya yang terlalu memikirkan soal penerus GNN Group.


" Maaf andai tuan muda akan tidak nyaman dengan


pertanyaan saya tuan" katanya masih segan.


" Tanyakan saja dokter, tak apa." kata Rendra seraya menatap dokter Rinto untuk meyakinkannya.


Melihat tatapan mata Rendra yang penuh kedamaian, Sang dokter pun mulai angkat bicara.


" Apa tuan pernah berhubungan intim dengan wanita beberapa Minggu terakhir ini? " tanyanya kemudian melepaskan nafas beratnya.


" Ada pak dokter." jawab Rendra jujur yang membuat mata dokter Rinto membelalak kaget.


" Akhirnya keluarga Kims dan GNN group bakal mendapatkan pewarisnya. " batin dokter Rinto seraya tersenyum senang.


" Mengapa anda senyum- senyum dokter, apa masih ada bekas sampo dikepala saya. " tanya Rendra sambil memeriksa wajahnya dikaca lemari besar pakaiannya.


Dokter Rinto kembali tersenyum.


" Beri kabar gembira ini pada gadismu tuan, sebenarnya kasus seperti ini langka. Dia yang hamil, tuan muda Rendra yang mengidam. " kata Dokter tersebut.


" Memangnya pernah ada yang seperti itu ya dokter? " tanya Rendra minta kepastian.


" Ada beberapa pasangan yang mengalami hal seperti itu tuan. Itu disebut dengan Sindrum Cauvade atau kehamilan simpatik. " Jelas dokter Rinto.


" Kalau begitu, aku harus segera menemukannya, aku akan segera membawanya dan calon baby kami kesini, kedalam kehidupanku. " Gumam Rendra lirih.


" Seharusnya begitu tuan, dan segera nikahi wanitamu, agar bayimu terlahir punya ayah. " kata sang dokter mulai berani, karna mendapatkan Rendra yang sudah begitu terbuka. Walau ia tak mengerti maksud gumaman Rendra tentang wanitanya.


" Terima kasih dokter, doakan semoga kekasih dan anakku sehat dan baik- baik saja, aku takkan melupakan semua nasehat dokter, nanti dihari pernikahanku akan aku hadiahkan padamu sebuah mobil keluaran terbaru. " kata Rendra menjabat tangan dokter Rinto dengan erat, kemudian mencium tangan pria yang sebaya dengan Almarhum ayahnya itu.


" Dokter itu tersenyum senang. Aku tak butuh mobil baru lagi tuan, bagiku kebahagiaan tuan Rendra adalah kebahagiaanku juga. Dari kecil tuan, aku sudah menjadi dokter keluarga ini. Akupun sahabat Almarhum, kebahagiaan anaknya adalah kebahagiaanku juga sebagai sahabat dekat Almarhum Dadymu. " kenang dokter Rinto tak kuasa menahan bening yang mengembang dari kedua matanya. Rendra pun turut menitikkan airmata menyaksikan pria berusia kepala lima itu.


" Maaf membuatmu turut sedih tuan. " katanya kemudian.


" Sudah sering kuminta dokter jangan memanggilku tuan, tapi tampaknya anda sangat enggan, padahal anda mengaku sahabat dengan Dady saya, apa boleh aku memanggilmu Dady ? " tanya Rendra untuk keseribu kalinya sepanjang hidupnya.


" Baiklah nak...karna aku akan segera punya cucu, maka kau boleh memanggilku ayah. " kata dokter Rinto sembari tersenyum. Rendra dengan perasaan


Antara senang dan sedih, membenamkan tubuhnya dalam pelukan dokter itu.


" Doakan Ren Ayah...kalau ia sudah bisa kubawa kerumah ini, akan kupersembahkan tabunan Haji dan Umroh untukmu ayah. " Janji Rendra dalam dekapan sang dokter.


" Pasti doa orang tua selalu menyertai anaknya." kata dokter Rinto kembali meneteskan airmata, ia teringat pada putrinya yang sudah dua puluh tahun ia tinggalkan. " karna ia dijebak oleh perempuan nakal yang sudah menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya kala itu. Takut Rendra melihat sedalam mana kesedihannya , maka Rinto segera melepas pelukannya dan segera pamit untuk pergi.


Ketika bi Sumi menjemput Rendra untuk makan masakan yang ia minta, yang sudah diusahakan olehnya, Ujang dan juru masak membuatnya. Rendrapun turun untuk makan. Tapi baru beberapa suap ia makan, ia lalu menghentikannya.


" Ada apa nak, kenapa berhenti? Apa ngak enak? " tanya Bi Sumi.


" Bukan Bu...masakannya enak sekali, tapi aku buru-buru. Aku harus segera menemukannya, aku yakin ia dan anakku kenapa- Napa. " Jawab Rendra


meninggalkan meja makan. Bi Sumi menggeleng- geleng tak mengerti.


" Ibu tak usah khawatir, sebelum pergi mencarinya, aku akan kerumah kakek dulu untuk memeriksa keadaannya, sekalian minta doa! " teriaknya sambil berjalan menuju pintu keluar secepat kilat.


" Aku juga takkan pergi sendiri, akan ada Hans, Mex dan banyak pengawal! " teriaknya yang hampir tak jelas, karna sudah jauh kedepan.


Bersambung...


Jangan pergi dulu, mampir dulu yuk, kasih lope- lope dengan jari yang yang baik dari pembaca yang baik hati


Makasih...