
Cuaca lumayan cerah hari ini, lebih
gerah bagi seorang pemuda tampan yang sedang termenung sembari menggigit - gigit pipet saat jam makan siang di resto Tesatela LMK JKS.
Ia baru saja menemani adiknya berbelanja di pusat perbelanjaan LMK.
" Dimakan dong bang... hidangannya, masak dari tadi minum aja, bahkan sampe pipetnya digigit begitu, kalau mau nih nambah punya aku. " kata sang adik menatap lekat pada wajah galau sang abang sembari mengulurkan minuman yang belum ia sentuh.
" Abang!!! " teriak adik manisnya ketika Jabri belum juga merespon ucapannya.
" E...eh! Sory dik...Abang lagi pusing dan capek ni, kalau bukan karna menemanin kamu, Abang pasti ngak betah ni berame- rame untuk saat ini."
" Ye...Ye! Yuli tahu Abang lagi patah hati karna bakal ditinggal kawin sama gadis impiannya, tapi ngak gitu juga kali! Kan cewek banyak tu, dijagat raya ini, masak cuma karna seorang Chalista sampe selemot itu. Namanya Chalista memang cantiknya ngak ada yang bisa ngalahin sealumni angkatan bang Jabri. Tapi masak seorang Jabri Nuryanto sang pangeran cahaya bunga, sampe patah arang hanya gara- gara satu bunga." cerocos sang adik.
Jabri menatap adik manis dan imutnya, kemudian menutup bibir yang banyak omong itu dengan telunjuknya.
" Kamu sok tahu kali sih Yuli! " ujarnya memelototi adiknya berpura- pura marah.
" Bukannya sok tahu, tapi memang aku tahu! Walau Abang dikelilingi oleh bunga- bunga, tapi yang dihatikan hanya Chalista, tapi cintanya ditolak sama sang Jawara. Sekarang malah diminta pula nemanin adik mencarikan kado buat sang pematah hati. Jadi deh , sudah jatuh ketimpa duren runtuh." He...He..." Ledek Yuli pada abangnya.
" Mana ada istilah begitu dodol!!! Sudah jatuh ketimpa tangga aja, bisa mampus, apapula ketimpa duren, pernah lihat batang duren aja kamu kagak, pande pula bikin istilah begituan." sanggah Jabri sembari mengetuk jidat Yuli.
" Pernahlah...masak ngak! Bahkan jalan- jalan malah kekebun duren. " Ujar Yuli dengan bangga.
" Kapan? "
" Kakak lupa ya tahun kemaren aku ke Kampung durian Sanggon Banyuwangi sama mama buat mengunjungi bukde, akukan anak mama, kemana- mana dibawa." Ujar Yuli cengengesan.
" Ya...ya... anak mama! Abang tiba-tiba kepengen jalan- jalan kekebun duren dik, untuk mengatasi kegalauan hati ini. Enak kali ya, nungguin duren jatuh. " Ujar
Jabri membayangkan ngintaiin Diraja buah itu jatuh dari pokoknya.
" Enak lah...Seru habis!!! Tapi abang ngak cocok makan duren saat ini. Hati dah panas tambah makan buah panas! Ngak boleh! Bahaya! Sekarang Abang cocoknya minum jus timun sama jus Alpukat yang bannnyaaak...biar adem." kata Yuli seperti seorang tutor binaraga yang sedang memandu pola makan sehat pada binaragawan pemula.
Tuk...Sebuah ketukan kembali hadir dikening Yuli.
" Jangan sering- sering menoyor nih stadiun Maracana kak, ntar terkena denda kamu mau? " tantang sang Adik.
" He...He...Nyadar diri juga kamu punya jidat selebar lapangan bola Brazil ya dik?Makanya kalau ngasih nasehat itu yang waras dikit , biar ngak dijitak!
Ini malah Abang disuruh minum obat mencret, tega abang sendiri Animea karna nurutin saranmu yang ngak masuk gigi itu. " Canda Jabri.
" He...he ..Masuk gigilah ..Karna gigiku kan masuk dengan rapi , Karna mama orangnya tegas, lugas dan kejam kalau urusan tanggal gigi waktu kita kecil dulu, makanya gigi kita pada rapi masuknya, sedikit goyang langsung ditumbang tanpa belas kasih." Jelas Yuli sembari mengenang masa kecilnya.
" Emang ingat ya dik..Kalau mama selalu
sok jadi dokter gigi, karna malas bawa kita kedokter, malah tega buat kita bertangisan ketika kita ditanggal gigi dengan paksa olehnya. " Jabri ikut mengenang.
" Ingatlah...tapi ada untungnya juga punya mama pemberani kayak mama kita. Selain gigi kita pada rapi, apa- apa urusan tak perlu nungguin papa, sama mama semua beres." Yuli tersenyum bangga.
Ketika Jabri membuka mulutnya, Yuli sudah memasukkan sesendok makanan kemulutnya.
Lup...
" Gitu dong... makan ! Jangan cuma sibuk gosipin cewek, mulai dari gadis pematah hati sampe ke gadis pematah gigi! He...He..." kekeh Yuli.
Up...up..up...Jabri buru - buru melahap makanannya karna ingin membalas adiknya.
" Dasar Tulah lho dik...kamu yang mulai duluan, Abang yang disalahkan!
Twing...twing...twing...Hidung Yuli sudah memerah karna diputar oleh abangnya.
Pak...pak....Sekarang Yuli balas menepuk
dada sang Abang.
" Ngak tahu ini hidung aset kecantikan aku nomor dua , kalau penyet lho mau tanggung badan. " Tantang Yuli.
" Dari tadi kek...Jadi ngak jadi tontonan kayak gini! " protes Yuli cemberut, ketika sadar, dari tadi pengunjung restauran yang lain pada melihat mereka.
" Tak apa...Tapi hatiku sedikit terobati karnamu." Gumam Jabri sembari mulai menyendok makanannya.
Begitu selesai makan. Yuli mengeluarkan ponselnya. " Adik punya solusi buat mengatasi patah hati Abang. " katanya dengan wajah serius.
" Apa itu? " tanya Jabri semangat.
" Nih. " katanya sembari menunjukkan fhoto baby perempuan cantik dan imut.
Jabri mengernyitkan dahinya.
" Putri om Rendra bukan cuma Chalista, ada ini juga . Abang tunggu Dua puluh tahun lagi Ya...He...He...Kekeh nya yang langsung ingin dapat hadiah toyoran lagi.
" Stop! Jangan menyentuh adikmu lagi, ntar kau kupecat jadi Abang. Ini putri om Rendra yang lebih paten lagi bang...Mau ngak? tanyanya seperti menyodorkan permen.
" Kalau itu baru paten Yul! " Seru Jabri ingin mengambil HP adiknya memeriksa fhoto gadis berhijab yang cantik dan simpatik itu , tapi Yuli buru- buru memasukkannya ke tas.
" Is...Pelit Amat sih langsung disimpan!amat Aja ngak pelit gitu. " Rungut Jabri.
" Amat pelit ngak pelit ngak urus.! Tapi kalau suka sama ni calon ustazah usaha sendiri, dan mesti nunggu 4 tahun lagi, soalnya ia baru aja lulus seleksi study di
Al-Azhar. Kuat? Ya usaha sendiri! tantang Yuli.
" Kalau begitu Abang sambung S2 Ke Timur tengah Aja! " kata Jabri mantap.
" Whatt? Emang lho kira Gampang! " Mata Yulia membulat.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Sementara Amer pusing tujuh keliling diPlaza, mengikuti mama dan papa yang sedang damam belanja.
" Ngapain sih ma...Belanja banyak- banyak, katanya tadi buat cari kebutuhanku, ini yang kulihat untuk mama semua. " Protes Amer yang merasa trolly yang ia bawa sudah penuh.
Sedang Arifin hanya angkat bahu, karna trolly yang ia bawa juga sudah sarat karna belanjaan sang istri.
" Ini peloncoan Amer! Anggap aja kau lagi belajar berhadapan dengan perempuan. Perempuan kan hobbynya belanja, bila nanti Ita membawamu belanja kamu tak heran lagi, orang ibumu saja lapar mata, tentu istri juga boleh begitu! " ujar Adel memberi alasan yang membuat Amer tambah puyeng.
" Kufikir Ita tidak begitu ma...Ia biasa saja! Ngak nyampe kayak mama begini. " Ujar Amer cemberut.
" Salah! Kamu salah kalau menganggap Chalista biasa! Yang biasa itu Raisa. Kalau Chalista kamu harus bekerja keras seperti papamu, mesti lapang dada besar selera. He.. He..." Kikik Adelia tanpa dosa.
Amer benar- benar mengusap dadanya. Memandang papanya yang hanya semyum- senyum dikulum.
" Apa papa selama ini merasa tertindas? tanyanya setelah dekat dengan Arif.
Arif tersenyum sembari menatap Adelia yang membolakan matanya pada suami.
" Ngak kok sayang...Papa kan cinta setengah hati sama mamamu, jadi ya apa - apa ya ngak diambil hati. " Canda Arifin.
Piut....Pusar Arifin langsung ditarik oleh Adelia. " Jadi cintanya cuma setengah hati ya? Pantas ngak ada adiknya Amer lagi, orang dirimu ngak sungguh- sungguh melakukannya! " pelotot Adelia.
Amer langsung meletakkan trolly dan menutup kupingnya.
" Papa ! Mama! Kok ngomong mesum didepan Bocil...Kalian sudah melanggar undang - undang perlindungan anak. " Canda Amer, yang mengalihkan perhatian sang mama dari menganiaya papanya beralih menganiaya kupingnya.
" Kan mama...Lagi- lagi melanggar UU perlindungan anak, dasar orang tua zaman Now, undang- undang yang banyak, tapi pelanggaran makin merajalela. " Gerutu Amer.
Dreet....dreet...Dering I phone Amer menghentikan persiteruan itu.
" Sekarang Bocil kalian mau beranjak dewasa, jangan ada yang brisik ya! Calon istri nelfon ni. " Ucap Amer sembari menyunggingkan senyum.
Kedua orang tuanya pun diam, mereka mulai mendorong trolly ke kasa, untuk pembayaran, membiarkan Amer
menjawab telfon calon menantu dengan tenang.