
Sejak seminggu ini, kantor Citra pindah ke Istana tuan Kims. Citra sudah tak kuat lagi untuk bolak-balik kekantor, apalagi meninjau pabrik. Untuk urusan file dan berkas- berkas penting yang memerlukan ACC, atau perlu pemeriksaan darinya, Adelia dan Tina sekretarisnya lah yang harus mengurusnya.
Minggu ini, ia fokus melaksanakan rutinitas yang akan membantunya memudahkan proses kelahirannya, seperti jalan pagi, yoga dan senam hamil
Citra berencana melahirkan normal, karna dari pemeriksaan, ia tidak bermasalah untuk melahirkan normal. Akhir bulan ini, dokter memperkirakan baby-nya akan lahir.
" Yang penting nona Rileks, jangan banyak fikiran, agar tensinya stabil dan bisa melahirkan normal. Kalau untuk ukuran pinggul dan posisi baby semuanya aman untuk kelahiran normal. " Jelas dokter Obygen yang sengaja didatangkan khusus oleh Cucunya Mr Kims, Tuan muda yang mengendalikan semua perusahaan Tuan Kims.
Suatu sore, Citra tiba- tiba ngidam pengen ngopi. Ntah mengapa ia ngidamnya pengen jalan dengan tuan Kims. Mr Kims tak keberatan jalan dengan Citra, tapi ia khawatir, melihat kondisi tubuh Citra yang kian sarat. Perutnya sudah nampak membulat
kebawah.
Mr Kims tak mau kejadian puluhan tahun silam terjadi dengan Citra. Neneknya Rendra dulu meninggal, karna kelalaian dokter dirumah sakit, dan karna kesibukannya yang tak memikirkan untuk menyiapkan dokter kandungan khusus stand bay untuk istrinya itu, hingga kejadian buruk itu terjadi. Mr Kims akan sulit berhenti dari tangisnya kalau terkenang soal itu. Saat ia harus kehilangan cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya.
Karna kejadian itu jugalah yang menyebabkan tuan Kims memutuskan untuk membeli saham rumah sakit tempat istrinya melahirkan Almarhum Chen ayahnya Rendra.
" Gimana kek, apa kakek merasa senang, santai ngopi dengan gadis cantik dan seksi seperti Citra. " tanya Citra saat melihat tuan Kims termenung. Ia mengelus perut buncitnya sembari tersenyum. Yang membuat beberapa Waitres yang kebetulan lewat turut tersenyum geli mendengar penuturan wanita hamil itu.
Mereka juga heran, mengapa tuan Kims tidak bersama tuan muda Rendra cucunya yang dingin itu. Melihat betapa sopan dan hormatnya manager resto dan para Waitres, Citra menyimpulkan kalau kafe Restro terbesar dan termewah dan kawasan JKS ini juga milik Mr Kims.
" Ini kafe punya kakek juga ya? " tanya Citra.
" Ngak, kalau usaha ini bukan punya kakek, tapi ini miliknya. Maksudnya ini usaha barunya yang tidak kakek wariskan. " jelas Mr Kims.
" Maksud kakek tuan muda? CEO kami? " tanya Adel.
" Iya...Kakek punya rencana menjodohkan Citra dengannya. " kata tuan Kims yang membuat citra langsung tersedak.
Uhuk...Uhuk...Air mata mengalir dari sudut matanya akibat pedihnya tersedak kopi itu. Dokter langsung stand bay, memeriksa Citra.
" Uhum...Uhum...Tak apa- apa, cuma kesedak, anakku belum bakalan lahirkok. " katanya seraya mengibaskan tangannya saat tim medis yang segaja dibawa mendekati Citra. Mr Kims merasa bersalah, karna sudah menyebabkan Citra menahan sakit akibat tersedak.
" Maafkan kakek cucu, kakek tak ada maksud mengejutkanmu. " kata tuan Kims menggeser kursi
rodanya, dan segera menghadap Citra, menghapus pundaknya.
" Tak apa kek...Tapi Citra mohon kakek jangan bercanda lagi." kata Citra dengan tatapan memohon.
Sedang Adel hanya tersenyum dikulum. " kalau
ada sikakek , *****sepertinya aku jadi obat nyamuk saja*****. " kata batinnya.
" Hey...jangan bilang Dady sementara cemburu pada kakek ya. " kata Citra yang membuat Adel senyum kecut.
" Maaf, aku udah lupa kalau sigembul pandai baca fikiran Adel. " kata Adel melelet Citra, yang dilelet terkekeh yang diikuti Mr Kims.
" Oh ya sayang...kalau Adel asli bercanda, tapi apa yang kakek bilang tadi tidak bercanda. Kakek ngak mau nanti boy besar tak punya figur seorang Dady.
Sebentar lagi kan Adel bakal balik kekota B dan menikah dengan tunangannya, ia tak mungkin membiarkan dirinya jadi perawan tua hanya untuk jagain kalian. " kata tuan Kims lagi.
" Tapi aku takkan pantas buat cucu kakek itu. Aku hanyalah gadis biasa yang merantau dan dapat makan dari bekerja dari salah satu perusahaannya.
Aku juga perempuan yang hamil diluar nikah, gimana bisa kakek berfikir untuk menikahkan aku dengan tuan muda yang kata orang- orang dikantor
sih pemilik perusahaan sangat tampan, tapi ia tak tertarik dengan wanita. Bahkan model internasional sekalipun tak berhasil menggaetnya.
Mana bisa aku yang seperti ini untuknya???" kata Citra memberi pertimbangan pada sikakek.
" Citra juga tahu kakek nyaman dengan Citra, tapi ngak bisa juga kakek maksain cucu kakek untuk bisa hidup dengan Citra. Belum tentu juga ia nyaman dengan Citra. Ia memang keturunan kakek,
tapi hatinya tidak akan bisa sama dengan kakek. " kata Citra lagi yang membuat tuan Kims terdiam.
Tapi diamnya mantan presiden direktur itu bukan berarti ia menyerah dan setuju dengan ucapan perempuan hamil itu. Bagaimanapun tuanya dia, darah penguasanya belumlah melemah sedikitpun.
" Kalau begitu pendapatmu, baiklah nona cantik, aku akan mencari titik lemahmu untuk bisa memaksamu." kata batin tuan Kims.
" Baiklah sayang...Waktunya balik kerumah, kita akan bicarakan ini next time dirumah kita. " kata tuan Kims. Mereka beserta rombongan, akhirnya meninggalkan kafe Resto itu dengan perasaan masing- masing.
Pagi hari, usai melaksanakan jalan pagi dengan ditemani Adelia, buah betis Citra sakit lagi, walau tak sampe kebalik, tapi itu semua mengingatkannya pada Stefi yang sudah lupa jadwal ngusuknya.
" Oh ya Del, mengapa sistefi ngak datang sudah hampir seminggu ya, akukan kangen dipijitin sama dia. " rengek Citra .
" Emangnya dia bilang apa sama Citra pas kusuk terakhir? Ngak coba nelfon? " usul Adelia.
" Mana aku punya nomornya, yang nguruskan kakek, jadi aku selama ini cuma tahu beres. " kata Citra menyesal ngak ngepoin nomor hpnya sibanci yang sentuhannya membuat citra candu.
" Apanya yang kamu turuti? " tanya Adel curiga.
" Jangan buruk sangka dulu, ngak yang lain- lain kok, kan ia impotant. Jadi jangan kira yang itu." kata Citra.
" Trus dia minta apa Mak labu?" tanya Adel tak sabar.
" Minta dengarkan detak jantung bayiku. " jawab Citra santai.
" Trus kamu bolehkan? " tanya Adel membayangkan Adegan si Stefi yang lagi meletakkan kepalanya diperut Citra.
" Semula ngak, tapi ia ngancam mau ngundurin diri jadi tukang pijit aku. Ya sudah aku bolehin saja." cerita Citra, tanpa beban.
" Berarti kamu sudah bucin sama tu orang ngak jelas non. Masak kamu jadi semurahan itu sama dia. " kata Adel marah. Yang membuat citra menangis, tiba- tiba saja ia jadi cengeng.
Hu...hu....Citra menangis bak balita, membuat Adel bingung mendiamkannya.
" Sudah...sudah...maaf..., aku ngak sengaja marahin Citra. Ampun...Ampun...ngak bakalan sangka buruk lagi. " kata Adel seraya memegang kedua kupingnya tanda permintaan maaf.
Citra kemudian memeluk Adelia. " Tapi serius del ...aku kangen kusuk sama dia, rasanya ngak tahan..." rengek Citra lagi.
" Kalau begitu, ayo kita temuin kakek, biar kakek yang mengurus Stefi. " kata Adel kemudian.
Sebagai sahabat, Adelia khawatir, kalau sampai Citra jatuh cinta sama tukang pijit itu.
Citra sengaja mijitin tangan dan kaki tuan Kims sebelum mengutarakan keinginannya. Tah mengapa untuk menanyakan soal Stefi, ia malu, takut orang tua itu salah sangka seperti Adelia.
" Kalau sudah nyogok pake pijit- pijit kayak gini, ni Mak galon pasti ada maunya. " tanya Mr Kims seraya menggoda Citra.
" Anu kek...bisa ngak minta no Stefi tukang kusuk Citra? Sudah seminggu ia ngak datang. " kata Citra malu- malu.
" Oo...si Stefi...Ia kan sudah berhenti ngusuk sayang, karna Citra ntar lagi mau lahiran. Ia juga sudah pulang ke Papua. " kata Mr Kims.
Bus...jantung Citra mau copot, mendengar penuturan tuan Kims. Tubuhnya melemah, ia langsung duduk melempem di lantai.
" Emang ada orang Papua, berkulit putih, berambut hitam, tinggi dan cantik dan tampan kayak gitu ya kek? " tanya Citra heran, ia bisa berfikir lagi setelah mengatur nafasnya.
" Ia keturunan pendatang. " jawab tuan Kims asal.
" Tapi Citra ingin bertemu Stefi kek, Citra maunya lahiran ditemani sama si Stefi. " regeknya yang membuat Mr Kims terpaksa menyembunyikan senyumnya.
" Kakek akan minta cucu kakek jemput Stefi dengan jet pribadinya, tapi dengan syarat Citra harus mau menikah dengan cucu kakek habis lahiran, kan sudah bersih, jadi boleh menikah" kata tuan Kims.
" Apa kakek sehat? " tanya Citra sembari berdiri dan mengukur suhu tuan Kims dengan punggung tangannya.
" Mengapa kau tanya begitu sayang? " tanya tuan Kims.
" Habis kakek aneh, mau nikahin janda tanpa menikah dengan cucu kesayangannya, kalau aku apa ruginya nikah sama CEO tampan. " kata Citra kemudian.
" Itu berarti tandanya Citra setuju? " tanya tuan Kims lagi, seraya mengulurkan tangannya pada Citra.
" Sekarang kita Deal." katanya.
" Deal. " jawab Citra. Kemudian tuan Kims bertepuk, beberapa detik kemudian muncullah asisten kakek itu yang membawa pena dan lembaran kertas.
" Untuk janji anak zaman now, tak bisa dipegang dengan ucapan saja, apalagi Citra gadis kuat, ntar habis lahiran, Citra akan bisa menggunakan kekuatan Citra lagi. Biar citra tak bisa lari dari pernikahan. Silahkan tanda tangani kontrak ini. " kata tuan Kims.
" Kok pake kontrak segala kek? emang semua pengusaha dimana- mana sama ya, suka main kontak- kontrak . " kata Citra cemberut.
" Tawaran berlaku dalam beberapa detik. Mau apa ngak bertemu Stefi? " tanya kakek Kim mendominasi.
" Sini Citra tanda tangani, apa susahnya sih nikah sama orang kaya, paling yang rugi kakek sama cucu kakek, cuma dapat aku, dasar kakek aneh. " cerocos Citra seraya menandatangani kontrak tanpa merasa perlu membacanya.
" Citra tidak tahu betapa lebih anehnya cucuku dari aku sayang...Makanya kakek mau Citra yang menikah dengannya.
Mr Kims mengelus dadanya, ketegangan karna takut Citra protes isi kontrak, berakhir sudah, karna Citra sendiri tak niat membaca kontrak. Begitu Citra mengembalikan kontrak yang sudah ia tanda tangani, tuan Kims tak hentinya mengucap syukur.
Bersambung...
Jangan lupa pollow ya say...kasih like, fote and masukkan ke cerita faforitnya. Kalau lagi mode baik kasih bintang juga buat karya ini.
Salam love- love sebanyak 🌟🌟🌟🌟🌟 dari penulis.