Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 102



Setelah bicara dengan Amer, beban yang menghimpit perasaan Chalista terasa ringan.


Ia ketoilet terlebih dahulu untuk memperbaiki penampilannya. Setelah ini, ia akan menemui PA nya untuk melanjutkan bimbingan Sripsinya . Ia kembali teringat pesan Amer. " Semua niat baik, tak boleh diundur- undur, jika diundur sekali, maka akan terbiasa. Kalau sudah terbiasa, nantinya hidup kita akan kelewat santai.


Setiap yang kelewatan, itu tidak baik adik!


Setelah merasa rapi, Chalista menunggu temannya Mila, usai membaca chatt dari Mila.


Begitu batang hidung Mila nongol, Chalis makin semangat.


" Berat ? sini dibantuin! " Ujar Chalista.


" Ngak usah..Ini bisnis gua, lho yang pesan tinggal beres, Ayo gua antar keruang PA lho, sekalian ngasih spirit buat lho biar makin besar nyalinya. He...He...


" Kekeh Mila riang.


" Siapa yang bilang nyali gue kecil. Tapi ngak apa juga diantar, dari pada sendiri, berdua lebih enjoy kali ya? Thank udah datang tepat waktu. " Cerocos Chalis.


" Iya.. diakui nyali lho gede! tapi ada gue lebih rame kali neng...


" Kan gue bilangnya gitu juga kan gigih! " Chalis membalaskan ucapan Amer pada Mila sahabat nya.


Mila hanya membalas dengan senyuman.


Tanpa terasa mereka sudah sampai didepan pintu ruangan Pak Dr M.


Tok...tok...tok...Chalis mengetok pintu.


" Masuk saja, bapak sudah menunggu." terdengar suara dari dalam.


Selamat pagi pak.." ucap Chalis sembari


menunduk.


Sang dosen memutar kursi putararnya, dari tadi menghadap kejendela, kini menghadap pada tamunya.


" Gimana sudah siap melanjutkan bimbingan? " tanya pak M.


Chalis mengulas senyum terindahnya, sebelum mulai bicara dengan pembimbing PA 1nya itu. Sekotak Nuget dan satu dus Ikan talang kering pesanan Chalis diletakkan Mila sahabat Chalista diatas meja, lalu gadis itu menunduk dan berlalu dari ruangan itu.


" Apa ini Lita? kamu tidak sedang menyogok bapak kan? tanya sang dosen pembimbing berbadan lumayan subur itu Namun senyum tipis tersungging dibibirnya.


" Ngak kok pak ...Kalau adat didaerah asal Momy saya, Bajalan babuah tangan, malangkah babuah batih ( Kalau berjalan tak baik tidak membawa oleh- oleh ) Ini hanya cemilan kesukaan bapak, dan yang satu lagi untuk ibu dirumah, Ita minta tolong bapak bawakan buat ibu, kalau bapak keberatan, biar Ita sendiri yang ngantar. " Ucap Chalis masih dengan senyum terbaiknya.


" Oh...Jangan! biar papak yang bawa, kalau Lita yang datang sering - sering kerumah, ntar ibu cemburu, soalnya Chalista kelewat cantik. He...he..." Canda sang PA.


" Masak ibu cemburu, Ita kan sebaya Jabri pangeran tampannya pak dosen, yang ada kalau sering- sering datang nanti Ita dijadikan menantu sama ibu. " Sanggah Chalista halus.


" Iya...ya...sampe lupa dah punya putra.


Keseringan bergaul sama anak muda ya gitu, terbawa merasa muda pula. He...He...kekeh Pak M.


Menit berikutnya acara bimbingan pun dilaksanakan dengan serius. Hampir satu jam Chalista berkutat menjelaskan skripsinya dihadapan sang dosen. Setelah dijelaskan secara rinci, akhirnya dapat ACC dari PA satu yang terlebih dahulu sudah di ACC oleh PA dua.


" Kreditnya apa sudah selesai Ta? Tanya Dr. M. Msc.


" Tinggal Enam mata kuliah lagi sedang jalan pak, itu saya rasa akan bisa diselesaikan dengan baik, dan mudah- mudahan ngak ada yang bermasalah dengan dosennya. Empat tatap muka dan dua mata kuliah secara online. " Jelas Chalista.


Pak M manggut- manggut." Ya...bapak percaya Lita pasti bisa, Chalista anak yang kecerdasannya diatas rata- rata !" Ujar pak dosen.


" Takdir tidak bergantung pada kecerdasan pak..Yang Chalis tahu, usaha dan doa jalani dengan baik..." Hasilnya kita serahkan pada Tuhan. " jelas Chalista.


" Bapak setuju kalau begitu! Bapak juga turut mendoakan kesuksesan Chalista..." ujar pak M dengan nada terdengar tulus.


" Makasih untuk semuanya pak.." ucap Chalis seraya menyalami Dosennya. Kemudian pamit dengan senyum yang lebih cerah dari sebelumnya.


*******


Sesampai dirumah, Chalis berpapasan lagi dengan Bella yang baru keluar dari kamar Mommy.


" Kak...Gimana mommy? apa sudah baikan? " tanyanya mencoba menyapa sang kakak ipar.


Senyum Bella mengembang.


" Syukurlah...Ia akhirnya mau menegur duluan, dan menanyakan tentang mommy, berarti hatinya sudah membaik." batin Bella terlonjak.


" Aman kak..." jawabnya singkat, namun cukup buat Bella puas dan senang. Disapa duluan saja sudah membuat Bella senang, apalagi bisa bicara begini.


" Syukurlah...Selamat ya sayang...semoga cepat kelar semua urusannya, dan tercapai semua cita- cita." Ucap Bella sembari memberanikan diri mengusap pundak Chalista.


" Amiin...makasih kak...Chalis malah memeluk Bella.


Mendapat pelukan dari adik ipar yang dari awal tidak menyukainya, tentu membuat Bella bak mendapat duren runtuh. " Makasih sayang..." ucapnya lirih dalam pelukan sang adik ipar, tanpa terasa airmatanya menitik saking haru dengan anugrah sore hari yang tak disangka- sangka ini.


" Terima kasih Untuk apa kak?" tanya Chalis sembari melepas dekapannya dari kakak ipar, kemudian menatap Bella yang sudah bersimbah airmata.


" Makaih sudah mau menerima kakak..." Ucap Bella makin lirih.


" Kakak lucu deh...He...He...Siapa juga yang bisa menolak gadis cantik dan terjaga seperti kak Bella. Cup...cup...Cup...udah nangisnya, lucu tahu! " Chalis mengusap airmata sang kakak ipar.


" Ja.. jadi?..." Bella bergetar hampir tak percaya dengan perlakuan adik ipar.


" Dah lama lagi...Ita menerima kakak, sejak Abang menyelesaikan kuliahnya dan kembali, Ita juga sudah menerima kak Bella, apalagi sejak tahu Abang sukanya sama kakak.Ita ya pasrah aja


terserah mau dapat kakak ipar siapa, yang penting baik dan terjaga." Jelas Chalis yang membuat senyum Bella makin mengembang.


" Ita pamit dulu ya kak...mau mandi, nih badan dah lengket semua, jadi ngak pede pas pelak- peluk sama bidadarinyanya Abang yang sudah mandi, rapi dan wangi."


" Chalista...Bisa aja gombalnya...buat kakak jadi malu. Oh Ya dik...kapan lihat mommy ? kalau Chalis belum menemui mommy, mommy mungkin belum akan berani duduk bersama dimeja makan." Jelas Bella.


" Iya kak...Ita mengerti...Siap mandi Ita akan menemui mommy, kali ini Ita takkan


ngacaukan suasana hati mommy lagi.


Suer...Janji pokoknya. " Ucapnya sembari mengulurkan ibu jarinya, yang disambut oleh sang kakak ipar.


" Bagus...itu baru Gadis mommy yang paling baik." puji Bella setelah mempertemukan ujung jarinya dengan ibu jari Chalis.


" Barengan yuk..." kakak juga mau keatas." Ajak Bella.


" Yuk..." jawab Chalis riang.


Malah Chalista menuntun Bella sampai ditangga menuju lantai dua. Mereka nampak mesra sekali sore ini.


Dari bawah sepasang mata sedang menatap kagum pada keakrapan yang baru terlihat dari dua perempuan kesayangannya itu.


Lelaki itu baru saja pulang dari kantornya, ia sengaja diam- diam, tak ingin mengganggu dan membuat kedua perempuan muda itu canggung.


" Syukurlah...akhirnya adikku mau juga menunjukkan sisi terlembutnya pada kakak ipar, jadi mulai sekarang aku tak khawatir lagi akan adanya kato malereng ( Kata Sindiran ) dirumah ini. " Gumam Boy.


" Ada apa Boy? kenapa terdiam disitu dan berbicara sendiri.? tanya Rendra mengejutkan Boy.


" Itu kakak ipar dan adik ipar kayaknya sedang menikmati hari pertama kemesraan mereka. " jelas Boy lirih tak mau suaranya sampai dilantai dua.


"ummm Syukurlah..." ucap Rendra setelah mendongak menatap punggung dua wanita yang sedang meniti tangga bergandengan.


" Kalau begitu sepertinya dengan mommy akan segera aman Boy...Kalian sudah boleh kemana mau melanjutkan bulan madu. " bisik Rendra kemudian.


" Jadi Daddy mengusir kami setelah masalah Daddy dianggap tuntas." ujar Boy berlagak serius.


" Ngak lah...Kemarin Daddy ngak enak saja, kalian baru dua malam diBali sudah dipaksa pulang.


" Tidak masalah Daddy... yang penting semua masalah selesai. Masalah itu tak usah difikirkan, dimana saja kalau dengan orang tersayang semuanya terasa indah.


Bukankah Daddy sama mommy sampai hari ini belum pernah sempat Honeymoon juga.


Ngak Honeymoon kan kami - kami pada nongol juga, malah dapat bonus tambahan calon sidedek baru He...He...


" Boy !...Ngak ada capek - capeknya ngebully Daddy ! ntar Daddy laporin mommy baru tahu! " teriak Rendra yang membuat dua wanita yang sudah menginjakkan kaki dilantai dua terkejut dan reflek berbalik arah mencari sumber suara. Begitu Chalis melihat Boy dan Daddynya dibawah, ia lalu berbisik. " Abang sudah datang, Ita langsung masuk kamar ya kak...tunggu Abang sama - sama keatas."


" Baik...terima kasih, untuk sore yang indah ini." ucap Bella.


Chalista mengangguk sembari melambaikan tangannya, lalu berjalan dengan langkah lebih cepat , kemudian masuk kekamarnya. Ingin istirahat sejenak sebelum mandi.


Mf say baru sempat nongol nih...badan meriang ...kepala pusing, ditambah banjir , mati lampu dan pokoknya mumet deh...Tapi jangan lupa like, fote dan tekan


love bagi yang baru mampir. Salam Cinta buat semua...