
Bella hampir tak dapat bicara, menahan kecamuk hatinya setelah Syah menjadi nyonya Bhalendra dipertengahan malam Jumat ini. Bagaimanapun begitu Bella menginginkan kekasihnya untuk segera menghalalkannya, tapi untuk malam ini sungguh diluar perkiraan Bella.
Ketika makan bersama duduk ditikar permadani, bareng semua pengawai KUA , penghulu, pak Ustadz, kekuarga, serta pengantin lainnya, Bella tak dapat menelan dengan baik makanannya. Tiba - tiba tubuhnya terasa demam panas, dan selera makannya hilang.
Boy menatap istrinya dengan cemas.
" Sayang...Apa kau menyesal menjadi milikku? " tanyanya dengan berbisik dikuping Bella.
Bella tersintak kaget mendapat pertanyaan se Ekstrim itu dari Boy, hingga ia makin gugup.
" Bu....bukan begitu...Kenapa pertanyaannya seperti itu? " protesnya juga berbisik.
" Habis Ekspresimu aneh sih...Aku tahu aku terlalu tergesa- gesa. Tapi kulakukan ini supaya ikatan kita menjadi halal. Santailah sayang...aku takkan memasksamu...jangan berfikir yang aneh- aneh, kita bisa pacaran dulu, tak usah takut. " bisik Boy lagi sembari mencuci tangannya.
Setelah memastikan tangannya bersih dan kering habis dilap dengan tisu. Boy pun menyentuh wajah istrinya.
Bella menatapnya, mereka saling bertatapan. Kedamaian mulai mengalir kehatinya melalui tatapan lembut suaminya. Boy menyentuh kening istrinya
dengan bibirnya, tak peduli semua menghentikan makannya menatap Meraka.
" Silahkan dilanjutkan makannya, biarkan mereka berkembang. Yang penting jangan sampai berkembang biak didepan
kita. " Kata William yang membuat semua hadirin terkikik.
" Dasar papi Bar - bar. Putri sendiri digituin. " celutuk batin Bella begitu sadar
mereka yang jadi bahan ledekan.
" Tak apa mereka pacaran didepan kita...Toh mereka pacaran halal. Pandangan seperti ini mah sudah biasa, dijalanan lebih dari ini, tak tahu halal apa haram, anak muda zaman now sering pamer kemesraan yang lebih mengerikan. " timpal pak Ustadz menengahi.
Sedang Zahra dan Bayu yang sedari tadi terus tersenyum bahagia, terdiam akibat sentilan yang tak sengaja menyinggung Kaleng kosong mereka yang kebetulan dipinggir jalan. Mereka saling pandang,
tanpa terasa airmata Zahra menetes.
" Kita banyak dosa sayang..." bisik Zahra tatkala Bayu mengusap bulir bening yang tak terbendung itu.
" Iya Zahra...tapi mulai malam ini, kita takkan berbuat dosa lagi. Boy sudah membantu kita membuka lembaran baru.
Mudah- mudahan kita bisa memperbaiki diri dan semoga Yang Maha pengampun menerima Taubat kita. " Kata Bayu juga berbisik.
Zahra mengangguk. Sentilan itu benar- benar menghentikan makan pasangan itu.
Sementara Elsi dan Elman saling senyum sambil suapan. Setelah menikah ternyata hati Elsi melunak, ia tak lagi menatap Boy. Walau Elman tak setampan Boy, Dokter Anestesi teman Boy ini berhasil membius hati Elsi untuk tertarik padanya hingga bersedia dihalalkan malam ini.
Sedangkan Hafis, sekretaris Boy mendapatkan Hanna. Mereka juga nampak makan dengan anggun dan malu - malu, namun dari sorot mata dan ekspresi tubuh, mereka saling mengagumi. Untuk saling menyayangi takkan sulit, dari wajah dan nama saja mereka sudah mirip.
Pasangan kelima, duduk paling pojok, mereka lebih keren lagi. Mereka makan dengan tangan kanan, sedang tangan kiri saling bertautan. Sesekali remasan yang menghangatkan menjadi kesahduan makan malam syukuran nikahan masal itu. He...He...sebut saja nikah masal, karna yang nikah lebih dari Atu Ama Ua pasang.
Pasangan yang terakhir ini. Alfian dan Anum. Mereka baru kenal malam ini. Jakarta dan Selandia Baru yang menjadi ruang pembatas diantara mereka. Tak disangka, undangan Bhalendra mempersatukan mereka. Pria manis asal M. ini baru saja menyelesaikan studi di Selandia Baru, Fakultas C yang ada di Selandia Baru. Pria ini sudah lama menetap diNZ karna Ayahnya bekerja di Kantor DuBes Indonesia di SB.
" Seperti kata mendiang ibu asuhku Sumi. Pernikahan itu memang Ajaib. Pantas Rasulullah menyatakan kalau menikah adalah Sunnahnya. Begitu Allah dengan mudah mengikat hati mereka yang baru berjumpa, setelah Ijab Qobul berlangsung, hati merekapun saling bertaut, padahal sebelum ini mereka belum mengenal. " Kata hati Rendra, tatkala bergantian menatap kelima pasangan baru yang nampak mesra dengan persi masing- masing.
Rancak rundingan dek dipaiokan.Rancak Pasan dek disampaikan. Rancak nak gadih dek lah dinikahkan. Rancak padi lah jadi Bareh, Bareh ditanak jadi nasi. Nasi dimakan paruk Pun Kanyang.
Gandang ganduik tali kacapi, Kanyang paruik sananglah hati.( Cantik persoalan kalau sudah diselesaikan dengan mufakat, Bagus pesan kalau sudah disampaikan,Cantik nak perempuan begitu sudah dinikahkan.Cantik padi kalau sudah jadi beras. Beras dimasak jadi nasi. Nasi dimakan mengenyangkan. Perut kenyang hati senang).
Karna kita orang tua sudah pada kenyang dan senang melihat kelima pasang pengantin ini. Maka saatnya kita persilahkan mereka melanjutkan perkenalan ke kamar masing- masing yang sudah disiapkan nyonya rumah dilantai Tiga. Kami- kami yang tua akan melanjutkan obrolan sambil bergolek hingga pagi. " kata Mantan dokter yang sekarang sudah tampak segar lagi, diusia
Kepala tujuhnya.
Sedang semua yang mendengar tersenyum setelah bahasa yang mencengangkan diterjemahkan oleh pemuda Jawa yang pernah tinggal diMinang Kabau ini. Walau peribahasa yang ia gunakan jauh dari keindahan Sastra Minang, tapi entah mengapa ia ingin menyampaikannya dihadapan semua. Mungkin kelima pasang pengantin muda ini, membawa pria tua itu bernostalgia kemasa mudanya tatkala
dulu ia bertemu dengan bundanya Citra.
Siapa lagi kalau bukan Dokter Rinto ayah Citra. Pria itu nampak bahagia malam ini, menyaksikan cicitnya beserta keempat temannya menemukan jodohnya.
Rinto selama dua tahun terakhir makin sehat, karna putrinya begitu telaten merawatnya.
" Iya sayang...Malam sudah larut...kalian masing- masing sudah Syah, seperti kata kakekmu, sebaiknya kalian semua boleh keatas untuk istirahat atau melanjutkan perkenalan yang belum tuntas. Soal resepsi biar Paman Hans yang mengurus. IO Yang dimiliki Tante Nahda dan paman Hans masih kurang Jobnya hanya untuk kelima pasang kalian. " ucap Rendra seraya menepuk pundak putranya.
" Ya...keataslah...besok baru kita bicarakan yang lainnya." Hans yang terkantuk- kantuk menambahkan.
Dilantai Tiga. Kelima kamar sudah dirias khusus untuk malam pengantin. Setelah mendapat kabar kelima pasang setuju untuk melanjutkan kejenjang pernikahan.
Nahda dan semua timnya mulai bekerja dengan antusias menghias, tatkala pernikahan sedang dilangsungkan.
Bahkan kamar itu sudah diberi nomor. Hingga pengantin tak ada kemungkinan salah masuk.
" Hhem...Kayaknya semua kamar kita sudah diberi tanda, silahkan masuk karna pintunya tak dikunci. Dinakas masing- masing ada remot. Jangan lupa pintu dikunci begitu sudah ditempat tidur. Karna semuanya bisa saja terjadi, jangan sampai ada yang mengintip. " Celutuk Boy ketika sampai didepan pintu kamar pengantinnya.
" Siapa pula yang mau ngintip Bos, semua sudah punya, jadi ngak ada yang bakalan irihati lagi sama Bos kita. " Balas Bayu.
" Iya Bos, nampaknya semua bahagia, siapa pula yang patah hati malam ini. Paling si Dealer tuh yang mondar- mandir
dijalanan. " Celetuk Hafis tak mau kalah.
" Ya Udah...terserah...tapi pintunya tetap ditutup, jangan sampai ada anak kecil yang lewat." kata Boy sembari menuntun Bella masuk.
" Bye...bye...Sampai jumpa dengan rambut basah besok pagi!!!!" kata Bayu melogokkan wajah sumbringahnya dibalik pintu.
" Dasar sipemburu gratisan. " Gerutu Hafis. Yang disambut cekikikan oleh Bayu. Sedang yang lain mulai hening.
🌹🌹🌹
Boy menuntun Bella duduk ditempat tidur. Bella bersandar diheadboard sembari memejamkan matanya.
Boy duduk disisi Bella sembari menatap istrinya yang nampak sengaja memejamkan matanya, karna kegugupannya. Pelan dibukanya cadar Bella, berikut kerudungnya. Darah didada Bella kian berdesir, tapi ia tetap berusaha menutup matanya. Takut mengintip mata elang sang kekasih.
Boy tersenyum menatap lekat istrinya. Mengusap wajah Bella dengan lembutnya. Kemudian memijit pelipisnya,
dan rambut hitam dan lebatnya Bella tergerai indah karna sanggulnya dilepas Boy.
Boy membelai rambut itu dengan penuh kasih sayang.
" Sudah...jangan takut, malam ini kita tidur. Kan sudah Isya berjamaah tadi.
Yuk sayang..." katanya membaringkan istrinya dengan lembut. Tangan kanannya mulai beraksi membuka kancing kebaya Bella.
Bella gemetaran dalam Kungkungan Boy. Ia tak kuasa tidak membuka matanya.
" Ka...katanya bobok...Kok.buka- buka? " protesnya menatap Boy yang sudah berhasil membuatnya tinggal memakai dalaman saja.
" N...ngak...sayang...Tak baik tidur berbaju seperti itu didekat suami. Biar kugantikan dengan piyama. " katanya sembari berlalu mengumpulkan gamis model kebaya Bella yang baru ia copot.
Boy lalu memasukkan ketempat pakaian kotor. Memilih piyama didalam lemari yang sudah disediakan mommynya untuk
Bella. Sejenak matanya terhenti pada ligeria merah nyala yang digantung didekat piyama.
" Ah.. tidak...biar istriku sendiri yang berinisiatif memakai ini, kalau ia sudah siap. " Kata batin Boy menimbang rasa.
Kemudian ia memilih piyama biru muda untuk dipakaikan pada Bella.
Bella pasrah kala suaminya dengan enteng membolak balik tubuhnya untuk memakai piyamanya. Ia hanya menatap Boy dalam diam.
Boy yang sudah rapi dengan piyama warna senada, kemudian bergelung disisi Bella, setelah menarik selimut sampai sepinggang. Beberapa menit berikutnya iapun terlelap sembari memeluk Bella dengan posesif. Rasa ngantuk dan lelah akhirnya membuatnya melewatkan pemandangan indah disisinya
Bella yang tak bisa tidur menatap lekat wajah tampan kekasih halalnya.
" Kau begitu sempurna untukmu sayang...hingga aku begitu gugup, tapi biarlah, kita lihat saja sampai dimana kita kuat menjalani masa pacaran ini, sekalian menghukummu yang sudah begitu enteng mempermainkan hatiku selama ini.
" Takkan bisa lama Bella...takkan kuat dirimu mendendam ku terlalu lama..." kata Boy yang membuat Bella terkejut. Ia kemudian mengedipkan matanya beberapa kali, menatap suaminya yang ternyata bicara sedang matanya tertutup rapat.
Bella menggoyang tubuh Bhalendranya, tapi nampaknya suaminya benar- benar tidur.
" Ya Ampun...sedang tidur saja kau masih membuatku terkejut." Gumam Bella.
Aduh...Nyampe nih kayaknya say...Jangan lupa tekan jempol, telunjuk, atau apa aja deh, yang penting like, fote, faforit dan komennya juga. Pakek
Mpol Ki tak ape ( Jampol kaki ). Tapi kasihan juga HP Cantik dikaki in...He...He...Terserah say...I Miss you semue nye...M....h...