
Tiga wanita cantik dengan versi yang berbeda, sedang khusuk bermunajat.
Entah apa yang mereka minta pada Tuhannya, tentulah itu rahasia hati mereka dengan Yang Kuasa.
Usai berdoa, mereka saling pandang dan berjabat tangan. Lalu melepas mukena masing- masing.
Citra tersenyum manis, menatap menantu dan calon besannya bergantian.
" Kami sudah bicara sayang...kami berencana untuk segera menjodohkan kalian dengan segera. Mommy kesini datang untuk melamarmu untuk putra kami satu- satunya. Apa kau sudah siap nak?
" Menjadi istri itu tidaklah mudah, setelah Bella menikahinya, menikahinya, sama artinya mengikat hubungan dengan seluruh anggota keluarga besar keturunan Mr.Kim, berikut para pekerja yang dirumah. Akan banyak ujian dan cobaan berumah tangga.
Ia punya saudari yang mungkin bisa jadi teman bisa pula musuh bagimu. Tapi itu tidak akan lama, hanya butuh beberapa waktu saja untuk menaklukkan sitengah." Kata Citra sembari meremas jemari lentik Bella.
" Iya sayang...kalau Bella sudah siap, maka kami para ibu akan mengatur segalanya. " Anjani menimpali.
" Ku...ku...pikir ia dijodohkan dengan gadis lain mi, ia mengatakan begitu, itulah sebabnya aku manangis, aku sampai menggigitnya karna marah." curhat Bella menghambur kepelukan Citra.
" Ia masih saja seperti bocah nakalku yang dulu. Ia paling suka menggoda orang. Tapi untuk mempermainkan hati Bella, itu akan masalah baginya.
Nanti mommy akan menghukumnya. Kalau ia tak menangis pula, takkan Mommy hentikan. " Janji Citra sembari mengusap kepala Bella. Belaian sang mommy membuat sanggul Bella terbuka, rambut panjang nan lebat milik Bella tergerai Indah.
Citra mengumpulkannya,lalu menyanggulnya lagi.
" Putraku pasti beruntung, mendapatkan gadis semenarik dirimu sayang..." Ucapnya menatap kagum kewajah Bella.
Sedang Bella tertunduk malu.
Citra kembali memeluk Bella
" Tapi ada sedikit masalah dirumah sayang...Besok Bella akan diuji lagi.
Boy mengadakan syukuran, sekaligus acara pemilihan calon istri untuknya,
untuk mengatasi masalahnya dengan Calista.
Bella harus datang dan memenangkannya, akan ada sebuah drama, bermainlah dengan cantik ya sayang... Siapkan? " tanya Citra.
" Iya momm...Bella siap, ini pasti ada hubungannya dengan Zahra lagi bukan? " tanya Bella.
" Ya sayang...mommymu sudah cerita." Anjani akhirnya angkat bicara, setelah dari tadi asyik menonton pertunjukan mesra calon anak mantu itu.
Peluk cium ketiga wanita itu, mengakhiri pertemuan jelang sore itu. Citra kemudian pamit, menemui para pria diruang tamu. Anjani mengikuti langkah
Citra.
" Sudah selesai urusan para wanita? tanya Rendra ketika Citra sudah dihadapan tiga pria yang mengaku paling mempesona dan setia itu.
Citra mengangguk.
" Kalau begitu kami pamit Mr William.
" Okay Mr.Rendra....mudah - mudahan semua rencana berjalan lancar..
" Amiin ...kata kedua mommy muda itu hampir bersamaan. Kemudian tuan rumah mengantar tamunya sampai diparkiran .
Bella mengintip kepergian mereka, dari jendela kamar lantai dua.
" Jadi semua yang terjadi hanya sebuah ujian? termasuk ketika papi begitu gencar menjodohkanku. Ternyata hubungan mereka sedekat itu. Mengapa Bella tak pernah tahu ya ? Bahkan papi tidak segannya merangkul uncle Rendra.
Sejak kapan mereka berteman? Padahal
pria menyebalkan itu selalu mengejekku setiap ada kesempatan, apa ini juga bagian dari sandiwaranya? Dasar para pria menyebalkan. " bisa - bisanya bekerjasama membuat rencana untuk mengatak Atik hati Bella, seperti kalian biasa mengotak atik hardware and software. Bella memejamkan matanya sejenak memikirkan betapa ia sudah banyak menangis karna perbuatan papi dan kasihnya, dua laki - laki hacker ini, tiba- tiba Bella teringat tentang perjalan an tahunan papinya kenegri Paman Syam, " Astaga .." j
jangan - jangan kedua hucker nakal itu tiap tahunnya bertemu untuk membicarakan perusahaan Aflikasi mereka. " kata Bella bicara sendiri.
" Bukan hanya itu sayang...Tiap tahun mereka bertiga berkumpul. Papimu akan menyerahkan Vidiomu pada Boy, yang sengaja ia buat dengan cara meledekmu, memancing emosimu. Merekamnya kadang langsung, kadang dengan mengambil rekaman CCTV, begitulah cara mereka mencintaimu, tapi menurut mereka, mereka adalah pria paling romantis dan setia sepanjang masa." Jelas Anjani pada Bella.
" Lalu sejak kapan mommy dekat dengan mommy Citra? " tanya Bella berbalik pada Anjani.
" Kalau mommy sih sudah lama Bel, cuma awalnya Mami tak tahu, kalau anak lelaki yang Bella suka adalah cicit Almarhum Mr. Kim, Konglomerat no 1 yang dulu datang melamar bi Miftahmu
untuk bang Mamat, yang mami tahu ia seorang model seperti cerita Bella diawalnya.
" Trus sejak kapan kalian akrab?
Menjelang keberangkatan Bhalendra ke USA lah baru Momy tahu, karna Citra meminta pertemuan rahasia dengan mami, dengan bantuan bang Mamat.
" Makasih mi...Sudah merestui cinta Bella, mendukung setiap usaha Bella. Pokoknya mami bagi Bella The best deh...Ngak kayak papi yang pura- pura menantang, tapi hatinya sayang.
" Bagaimanapun cara kami menunjukkan cinta, tapi kami adalah orangtua yang setia sayang...He...He...Anjani terkikik meniru gaya suaminya.
Bella pun tersenyum bahagia, sembari memeluk maminya.
" Ayo mami biar mami Bella kunci dikamar Bella. Kita nginap sini saja nanti malam, biar papi nyesel sudah bermain - main dengan Bella. Plis....bantu Bella sedikit balas dendam pada ayah yang sudah tega merpermainkan hati putri semata wayangnya, untuk menyenangkan hati rekan bisnisnya sekalian calon mantu idamannya." pinta Bella sembari tersenyum sinis.
" Mengapa dendam pada papimu? bukankah Bella senang dengan boy? " tanya Anjani curiga. Ia takut putrinya berubah fikiran.
" Rileks...mommku sayang..Bella cuma ingin melihat bagaimana Bule bangkot itu merengek, ketika tahu putrinya mengurung istrinya, kan sudah lama Bella ingin membalas ledekannya, tapi saat ingat,itu sudah pergi. Pas dia kembali, Bella sudah sibuk dan lupa lagi.
" Oke sayang...Deal..." Anjani mengulurkan tangannya pada Bella.
Deal..." mereka berjabat tangan, lalu Anjani melempar tubuhnya ketempat tidur Bella.
Bella mengambil I phonenya dan remot dinakas. menyentuh tombol, hingga kamarnya terkunci. Detik berikutnya ia mulai melakukan panggilan Vidio, seraya berbaring disisi mami.
" Maafkan Bella Cin...Bella sudah kabur dari istanamu tanpa pamit." kata Bella setelah telefon tersambung.
" Hum...tak apa deh...kalau cinta sudah mendarat, taik kambing rasa coklat.
Bunga cempaka jatuh di rumput
Buah Keling kayak rambutan
Kalau cinta sudah menjemput.
Yang sekeliling mah terlewatkan.
" Ih Cindi...apaan sih norak tau! " teriak Bella dari telfon.
Ha...ha...norak- norak kan lu suka juga.
Tuh pipi sampe merah begitu. Neng...neng...yang lagi berbunge- bunge
karna sidia akhirnya datang juge He...He... " Cindi cengengesan didepan layar.
" Tauk ah... ngak tahu aku kamu nya kawan atau lawan, senangnya cuma ledekin Bella dari dulu." Bella merungut membuang muka dari Camera.
" Cek i le...jangan ngambek neng...ntar ngak cantik jadi anak dara nya.
" Apa? emang aku Anak dara kok, siapa yang bilang anak cowok. " Bella Makin merenggut.
" Anak Dara dalam bahasa kampung camer Bella tu artinya pengantin wanita, ngak cuma anak gadis seperti bahasa kita.
" O...aku kan ngak paham bahasa Padang Cindi. Mana ketehek..." ujar Bella.
" Maka ne...belajar tu sama mommy mertua.
" Eh....emang kamu tahu dari mana Cin kalau aku dilamar? tanya Bella heran.
" Makanya neng...jadi orang jangan suka
melamun. Sampe anak - anak sudah pelak-peluk sama tu calon laki saja dibelakang you, you ngak tahu.
" Emang sudah lama ia disana? "
" Lumayan sih...Sejak anak - anak kabur dari sisi you sih.
" Huh...kamu sama anakmu sama aja, kompak- kompaan ngibulin aku... " dengus Bella sembari.
Kemudian muncul tiga wajah dilayar..
celamat nte antik! Kami dah peluk Om - antengnya kok... Thank you...****...kami duluan... ante lakangan. He...he.....Muah..." kata kedua bocah Cindi setelah terkikik riang.
" Tak apa cayang...muah..." balas Bella sebelum menutup telfon.
" Mak sama anak- anak sama aja." Bella menggeleng sebelum beranjak menuju kamar mandi.
Sedang mami sudah terlelap,nampaknya
rencananya akan berhasil.