
Jam Tujuh pagi, dilantai tiga, dikamar 04.
Seorang gadis cantik dengan rambut sebahu, berkali - kali memeriksa wajahnya didepan kaca.
"Sudah cantik dan cerah, secerah matahari yang baru terbit! " kata Elman suaminya sembari menyingkap tirai jendela kaca kamar mereka, iapun sama, sudah rapi dan tampan tak mau kalah dengan kelincahan istrinya menyambut pagi.
" Yang...
" Ya sayang... Kenapa? Elman mendekati istrinya, memberikan sun kening.
" Aku ingin intip- intip dulu tetangga semua ya, kepo nih ceritanya, boleh?" tanya Elsi.
Elman mengangguk tanda setuju, ia tak ingin membuat istri yang baru ia nikahi merasa langsung terkekang. Elman ingin mendalami pribadi Elsi, lalu pelan- pelan mengarahkannya, andai ada yang tidak baik.
Elsi mengecup pipi suaminya, lalu menekan remot. pintu kamarpun terbuka.
Begitu pintu terbuka. Elsi berlari keluar.
" Bangun hey...bangun!!! dah pada mandi? " Elsi berseru dari pintu ke pintu,
sembari mengetoki pintu- pintu tetangga kamarnya.
Bayu dan Zahra buru- buru keluar dari kamar, mendengar suara Cepring Elsi.
Hafis, Hanna , buru- buru memakai baju.
Sedang Anum dan Alfianan baru selesai mandi berdua. Mereka bergegas mengeringkan badan, tolong- tolongan memakai baju supaya cepat selesai.
" Aduh...malu ni..si Elsi ternyata udah duluan siap bang. " katanya sembari merapikan pakaiannya dan suaminya.
" Udah...santai aja, terlambat bangun mah biasa, namanya juga malam pertama. " katanya sembari meraih remot dinakas.
Begitu merasa sudah rapi, mereka membuka pintu, dan melongok berdua didepan pintu.
Elsi cengegesan menatap Anum dan Hanna yang lupa menutup kepala, sementara rambut mereka terurai masih belum kering.
" He....He...Kalian ketahuan bulan madu semalam...Cie...Cie...Berarti ngak dapat lagi dong tiket bulan madu dari om Rendra." kata Elsi semaunya.
" Tau apa lho Si? Emang lho ngak bius nih istri lho yang resek semalam Man? nampaknya ia Happy - happy aja, ngak loyo sama susah jalan dikitpun. " tanya Bayu heran.
" Ya ngak lah...Gua kan kesini buat nikahan rencananya, ngak buat kerja, jadi buat apa bawa obat?" Elman berpura- pura serius.
" Cie...cie...berarti nyonya lho basah nih kayak nya?" Elsi segera mengejar Zahra. Begitu dekat ia langsung menjinjit untuk memegang sanggul dibalik kerudung Zahra.
Zahra hanya tersenyum membiarkan Elsi menyentuh sanggulnya, kalau ia mengelak ntar Elsi jatuh. Zahra tak mau ada yang cedera dihari- hari bahagia mereka.
" Basah!!!
" Berarti lho semua semalam wik..wik..Ye?" Elsi tersenyum sembari memainkan telunjuknya.
" Ketahuan nih Elman, Istri lho tukang kepo! ". Seru Bayu!
" Siapa yang punya Usul coba? kan kamu tu Yu, yang bilang sampai jumpa besok pagi sama rambut basah. Wajarlah Elsi istriku ngecekin semua." Elman membela istrinya.
Sedang yang lain hanya senyum- senyum malu.
" Kalau nona Bos kira- kira lho berani ngak Si ngepoinnya? " tantang Bayu pada Elsi.
" Berani lah...orang dia teman sekolah gua. Trus mantan saingan gitu.he...he...karna gua suka sama tuan muda Bhalendra. " Elsi menggigit telunjuknya malu mengingat ia sempat memusuhi Bella karna menyukai Boy.
" Ya udah...ngak usah Baper, kan sekarang lho sudah ketemu sama dokter ganteng, yang bisa membius lho dengan gampang...Syukurin tuh neng Laki! " timpal Zahra.
Elman datang memeluk pundak Elsi. " "Kami bersyukur kok. Istriku selain centil juga pintar.Ia tak mudah dilumpuhkan hanya dengan obat dosis rendah. " kata Dokter Elman bangga. Sedang Elsi tersenyum sumbringah sembari melingkarkan tangannya dipinggang suami.
Sedang dari tangga muncul Boy dan Bella. Boy bergamis pria, menggandeng Bella yang juga bermukena.
" Assalamualaikum..." Bella mengucap salam.
" Waalaikum salam, " Semua serentak menjawab.
" Pada ngumpul nih kayaknya. Kalau semua pada siap. Momy pesan kita turun buat sarapan ya! "
" Oke Bos.." Bayu yang langsung menanggapi.
" Gimana Si? berani ngak lho? tantangnya Bayu sembari mengedipkan matanya mengarah ke Bella.
" Tunggu...gue narik nafas dulu, sambil baca mantra. Mhum....He...He...Elsi bergaya seperti mbah- Mbah yang lagi baca mantra komat- Kamit setelah melepaskan diri dari suaminya.
" Restui aku suamiku..." katanya yang membuat semua terkikik. Terkecuali Bella ia heran apa yang sedang direncanakan teman- temannya.
Elsi berjalan santai mendekati Bella, lalu menggapai sanggulnya,dan meremasnya. " Apain sih neng bocor?" tanya Bella sembari tersenyum jenaka.
" Hore!!!!! Kita menang Bel. Sini tangan lho..Kita Sah- sahan dulu." Seru Elsi begitu merasakan sanggul Bella kering.
Semua mengangkat bahu.Sedang Bella yang baru kembali mendapat kehangatan
dari Elsi mantan sahabatnya langsung menerima tawarannya.
Pak...pak...pak..." Sah...Sah...Sah!!!..."
Tiga kali mereka mempertemukan tangan kanan mereka saling menepuk dan berseru.
Yang lain hanya garuk kepala.
" Ya udah...yang mau buka simpanan pisang atau ngak semalam itu tergantung kemauan masing - masing pasangan, kan sudah halal! Sekarang siap-siap sarapan yuk! kan ada yang udah terkuras energinya semalaman." Boy menengahi sembari tersenyum
genit. Bella baru saja ingin mencubitnya, tapi kalah gesit, Boy malah menangkap tangannya, lalu mengecupnya.
Gelak tawa kelima pasang pengantin itu,menghias lantai tiga Istana Rendra pagi itu.
Lalu mereka saling merapat, Dimulai dari Elsi dan Bella. Semuanya menyerukan kata yang Sama. " Syah...Syah...Syah...
Mereka saling mempersatukan tangan, seperti remaja SMA yang habis menang tanding Bola.
Setelah puas bercanda ria,kemudian mereka turun kebawah untuk sarapan bersama.
Dibawah sudah ramai sekali, nampaknya ada pula serombongan tamu yang cukup menghebohkan.
" Sayang...Mantan anak Daddy Adelia...
He...He....seorang wanita manis setengah baya, berkerudung merah menyala datang mengejar Boy dan Bella yang baru turun.
Boy langsung memeluk wanita itu. Tak terasa air matanya menitik.
" Onty...makasih ya...Karna kasih sayang
dan perhatian ontilah Boy bisa sebesar ini, dan sekarang sudah punya istri." katanya dalam pelukan Adelia.
" Sayang...mengapa menangis...ini hari bahagiamu...Onty jauh- jauh datang untuk mengucapkan selamat atas kelulusanmu. Ini Onty dapat anugrah Doble sama mantu cantik juga,jangan buat bedak Onty yang sudah ditebal- tebalin sejak jam lima subuh dipesawat, hanyut terbawa airmata sayang..." Adelia pun tak kuasa menahan keharuan hatinya
Airmatanyapun bercucuran. Ia kembali terbayang ketika malam itu, untung ia datang tepat waktu, tatkala Citra ingin menggugurkan Boy dengan Capsul berbahaya. Karna terkejut dengan
kedatangan Adelia yang tiba- tiba, Capsul yang siap ditelannya terjatuh. Adel langsung menginjak pil itu agar Citra tak lagi bisa menggunakannya. Sejak saat itu
ia terus menjaga Citra dan Baby Boy dalam kandungannya.
" Makasih Onty..." kata Boy sekali lagi, mendengar Adel yang juga terisak, Boy melepaskan dekapannya.
" Onty menangis?" tanyanya sembari menatap Adel dan mengusap airmata
wanita yang begitu berarti dalam hidupnya setelah Momynya itu.
" Jangan mengucapkan terima kasih sayang...Onty melakukan semuanya dengan ikhlas, lebih dari kasih. " Adel kembali terisak, menatap baby kecil yang dulu ia kagumi, sekarang sudah dewasa dan semakin mengagumkan.
" Kan katanya takut bedak yang sudah ditebal- tebalkan dari subuh bakal rontok.
Tuh...mulai hanyut,.. karna airmata. Udah ya nti, nangisnya... " Boy mencoba tersenyum membujuk Adelia sembari mengusap airmata perempuan manis sebaya mommynya itu.
" Ngak cantik lagi ya? Mana cermin? " tanya Adelia masih dengan gaya lebay zaman dulu.
" Ini Cerminnya! dan sekeliling kita cermin hidup pada nyorot. Pokoknya Masih cantik kok nti... bahkan cantiknya masih nomor dua Dimata dan hati Boy." kata Boy menunjuk matanya dan puluhan pasang mata yang menatap pada mereka.
Seperti biasa, Adel memang urat malunya sudah tercabut sejak bayi. Dengan entengnya ia bertanya sembari tersenyum." Berarti cantikan Mommy sama Onty dong dari pada mantu kami?
" Tentu dong nti...Dimata Boy mommy yang pertama, Onty Adelia yang kedua Baru Bella yang terakhir, untuk selamanya... " kata Boy yang membuat Bella tersenyum bahagia.
" Kau memang pandai Sayang..."Ucap Adel." Sini mantu cantik! " katanya lagi, lalu Adelia membawa Bella kedalam pelukannya.
" Hhem...Putraku memang belum mengolah istrinya sebelum mendapat restu dari Daddy palsunya." Gumam Adelia setelah meremas sanggul Bella, merasakan rambut dibalik kerudung Bella masih kering.
Sedang yang mendengar ucapannya hanya tersenyum sembari menggeleng- gelengkan kepala.
" Ada juga rupanya orang yang kayak Elsi." batin Bella.