
Boy menutup leptopnya begitu jam menunjukkan pukul 23 : 00 tepat setelah
menyelesaikan beberapa masalah Aflikasi.
Boy terkejut saat matanya tiba- tiba ada yang menutup dari belakang. Ia meletakkan tangannya pada kedua tangan besar yang menutup matanya. Menyentuhnya dan menarik rambut halus yang menghias punggung tangan itu.
Sebenarnya dari aroma farfumnya saja Boy sudah bisa menebak itu siapa. Tapi nampaknya Boy hendak bermain- main pula dengan pemilik tangan kokoh itu.
" Aduh...sakit! Teriak pemilik tangan itu, lalu reflek melepaskan tangannya dari mata Boy.
" Perampok kena batunya ! " teriak Boy riang, saat berhasil membongkar kedok pemilik tangan kokoh berbulu halus itu.
" Sayang...tega amat sih menarik rambut tangan Dady! Sakit tahu!" keluh Rendra sekali lagi.
" Salah siapa coba, masuk kamar orang diam- diam, tak baca salam plus masuknya pake nutup mata." kata Boy sembari berbalik menatap Rendra dengan senyum penuh kemenangan.
" Can I do for you Mr? " tanyanya lagi heran mengapa Sang Dady datang pake acara bermain - main begitu. Ia lalu berdiri, mencari salap dilaci lemarinya.
Setelah menemukannya, ia langsung meraih tangan Rendra dan memeriksanya. Ternyata tangan sang Dady sampai merah akibat rambut halusnya yang tadi dicopot Boy.
" I am Sory Dady...Tak sengaja Putramu sudah menganiaya ayah sendiri. " kata Boy sambil mengusap punggung tangan Rendra dan mengoleskan salap kebakas memerah itu.
Rendra hanya diam, menatap putranya melakukan pengampunan dosa sendiri.
Setelah Boy selesai mengobatinya, yang dilanjutkan dengan memijiti tangan sang Dady, barulah Rendra tersenyum puas.
" Begitu dong jadi anak...Dady disayang- sayang..jangan dianiaya kayak tadi, ngak takut durhaka?" Tanya Rendra sambil menarik Boy duduk disisi tempat tidur.
" Kok sampe sedalam itu dendam Dady tampannya Boy sih. Padahal siapa yang punya ide jadi penyusup kayak tadi.
Kalau kena batunya dari perbuatan sendiri, mengapa pula anakmu yang tampan ini yang menanggung dosa? " tanya Boy sembari mengedipkan matanya pada Rendra.
" Pokoknya perampok teraniaya tak mau mengaku salah, sipembekuk tetap salah, untuk menembus salahnya, ia harus melanjutkan hukumannya dengan memijit punggung Dadynya. " Kata Rendra seraya merebahkan tubuhnya ditempat tidur Boy.
Boy yang mengerti momynya belum pulih total, ia belum bisa memijit sang Dady.
Maka dengan rela hati, ia mulai memijit punggung Rendra dengan penuh kasih.
Dady kecapean ya? tadi banyak acara dikantor? " selidiknya sambil terus memijiti punggung sang Dady.
" Lumayan sayang...tapi ini efek telah dimanjakan putranya selama sebulan penuh bebas ngantor. Eh begitu mulai sibuk lagi, badan pada bersakitan. " curhat Rendra pada Boy.
Malam ini Rendra sengaja menemui Bhalendranya, setelah mendapat bisikan dari Citra. Ia ingin memeriksa sendiri gajala musim pancaroba yang baru saja dialami remaja tampan kesayangannya ini.
Setelah puas full serfis badan oleh sang buah hati, Rendra duduk disisi Boy.
" Makasih sayang...Tanganmu memang ajaib, tubuh Dady yang tadi bersakitan, sekarang sudah terasa ringan dan rileks.
" kata Rendra memuji Boy.
" Boy tahu Dady...Pasti ada misi lain, sampai bela- belain nyusup kekamar putranya. Apa Dady mengira anakmu yang tampan ini sedang sibuk mengetik
puisi cinta, sampe diintipin begitu? " tanya Boy sambil menebak maksud terselubung kedatangan Dadynya kali ini,
masih dengan gaya Narsis akut turunan
dari sang Dady.
Rendra yang terciduk, hanya tersenyum kecut. " Kapan aku menang dengannya? dari Bayi saja ia sudah membuatku kalah total, ini niat mau mengintrogasi, eh malah diri sendiri yang diinterogasi. " kata Rendra berceletuk dengan batinnya sendiri.
" Mengapa diam Dadyku sayang...Don't worry! anakmu takkan sampe selebay yang Dady bayangkan kalau jatuh cinta.
Putramu terlalu sibuk untuk terlarut dan
terlena dalam khayal yang tak ada untungnya itu. " kata Boy enteng.
" Apa kau yakin bisa sesantai ucapanmu,
kalau hatimu benar- benar sudah jatuh cinta Sayang? " tanya Rendra dengan dahi mengerut.
" I am Sure Dady. Kalau untuk saat ini, putramu masih dalam tahap mengagumi lawan jenis, masih belum jauh seperti yang Dady bayangkan. Jadi tenanglah,
aku akan jadi penguasa bisnis, infestasi,
Aflikasi dan menyelesaikan studi formalku dengan baik dulu, baru membahas soal puisi cinta dan mengambil bagianku dalam dunia cinta.
" Mudah- mudahan keyakinanmu sesuai dengan kenyataan sayang. Dady tak takut kok punya mantu, tapi Dady pengen Boy bijak dalam memilih perempuan yang tepat, jalan yang tepat dan saat yang tepat untuk membawa
mantu untuk kami. " kata Rendra tegas dan lugas.
Boy meraih tangan Dadynya, lalu ia mengecup tangan yang tadi sempat teraniaya.
kekuatanku menghadapi segala tantangan perubahan masa yang akan aku hadapi dalam hidupku. Insya Allah...
dengan Doa Momy dan Dady, anakmu ini
akan baik- baik saja dan berkembang pada waktunya." kata Boy sembari mengulang kecupan hangat dipunggung tangan Dadynya.
Kehangatan yang disalurkan melalui sentuhan kesayangannya, membuat batin
Rendra kian damai.
" Terima kasih ya Tuhan...atas anugrah terindah ini, mohon selamatkan ketiga buah hati hamba dari kejamnya fitnah dunia yang sudah tua Bangka ini. " kata batin Rendra terselip doa.
" Amiin..." jawab Boy, membuat pria dewasa itu tersentak kaget.
Lalu ia tersenyum senang, walau terciduk lagi tak masalah, salahnya sendiri, ia sampai lupa, tak boleh bermonolog didepan simata Elang, ia akan dengan mudah menebak isi hati lawan bicaranya.
💓💓💓
Disebuah mension mewah, Bella sedang rebahan manja diatas sofa. Ia teringat pada Delon yang meminta no hpnya.
Ia meraih iPhone 13 kepunyaannya.
Membolak- balik benda itu dengan tangan halusnya.
" Delon aja minta no Hp, kok aku yang sudah sempat mepet- mepetan dengan Boy ngak kefikiran minta no HPnya ya,
Gimana aku bisa menunjukkan perhatian padanya, sedang no Hpnya aja ngak punya. Cari tentangnya dimetsos ngak bisa pula ditemukan." Bella menyesali kebodohannya sembari terus mempermainkan Iphonnya.
Remaja putri zaman kini biasanya sibuk nonton Youtup , cattingan sama Gim online. Atau soping- soping menghamburkan uang dengan teman sebaya.Ini tidak berlaku dengan Bella, walaupun ia putri tunggal konglomerat, pemilik Stasiun TV swasta terkemuka. Tapi ia bukanlah tipe gadis yang manja dan berlebihan.
Lalu sejak kapan ia tertarik dengan Boy?
Bella tersenyum mengenang saat 3 tahun lalu, ketika ia ujian berdekatan dengan anak Genius itu.
Bella mencegat Boy disamping kelas.
" Hey...udah sekolah pas ujian saja, jawab soal asal pula, masak ujiannya dijawab hanya dalam waktu sepuluh menit trus diantar, Lo tampan- tampan ternyata sableng akut ya! " Gerutu Bella kesal melihat boy yang dengan santainya tadinya pamit pada Bu guru untuk keluar.
Ia tak sabar menyelesaikan ujiannya hanya untuk cepat- cepat mencari Boy.
Waktu itu Boy tak menjawab celutukannya. Ia hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum, kemudian
menghilang bagai hantu. Bella sangat kesal dibuatnya. Sepanjang hari ia hanya menggerutu, bila teringat pada Boy yang dianggapnya cowok aneh itu.
Baru saat pengumuman laporan pendidikan, mata Bella terbelalak, saat lelaki yang dianggapnya sableng itu adalah pemegang juara umum disekolah mereka.
Bella tak tahu kemana menyembunyikan mukanya saat itu saking malunya, apalagi Boy menatapnya
dengan mata elangnya, ketika mereka sama - sama berbaris dimuka panggung, sebagai sesama juara kelas.
Hampir tiga tahun ia berusaha mencari perhatian remaja misterius itu. Baru kemarin ia bisa segitu dekatnya dengan Boy. Eh...minta no HP Boy saja ia tak kefikiran. Bella meletakkan Iphonnya dengan lemas.
Bella tersentak ketika notifikasi pesan
berbunyi, lalu ia membukanya.
Ngapain uring- uringan gitu neng?
Kan masih ada waktu empat hari lagi.
Besok datang cepat lagi!
Dari : bang Mamat.
" Dasar sopir resek! Dimana dia ngintipin aku? " Bella celingak- celinguk mencari bang Mamat. Tapi ia tak menemukan dimana sopirnya itu.
" Tapi benar juga ya kata siresek! Yes! Bella teriak girang.
Waktu ujian ada empat hari lagi, seperti kata Mamat, ia akan punya waktu empat kali lagi untuk mendapatkan no HP sitampan, kalau ia mau berusaha.
Bella tersenyum, manyemangati dirinya sendiri. Detik berikutnya datang lagi pesan dari bang Mamat.
Gitu dong non! 💪💪💪
Bella segera momblokir no sopir resek nya itu.
" Nanti kalau ada perlu, aku telfon mami saja buat hubungin sopir rese ini. Ngak ia nih, dibiarin ikut campur urusan pribadiku. " katanya berbicara sendiri setelah memblokir no sisupir.
Bersambung...