
Boy tak sabar untuk menunjukkan hasil jepretan kameranya hari ini pada Mr Kims. Ia juga ingin menceritakan pengalaman petualangan paling mengejutkan hari ini.
Saat rombongan memutuskan untuk kembali kekota. Karna terjadi Gempa, kepulangan terpaksa ditunda.
"Gempa barusan pusatnya di kota Simpang G nona Citra, barusan aku dapat kabar dari keluarga yang ada disana. Kalau bisa pulangnya besok saja.
Biar nona sekeluarga tak ada halangan dijalan, kita pastikan dulu jalannya tak ada yang terputus." Kata Mr. Ref sang menager perkebunan kakek Haji , yang sekarang sudah diwariskan pada Citra.
Citra tak lupa men seve akta
notaris tersebut di Iphonenya dan menyimpan surat Aslinya.
" Terima kasih pada semua pihak yang sudah menjalankan usaha perkebunan ini dengan Ikhlas.
Kalian semua sudah bersusah payah merawat perkebunan ini, mengelolanya dengan baik. Kakek memang sering bilang dulu kalau hasil sawitnya cukup untuk membiayai kuliah saya, tapi saya yang cuek tak pernah menghiraukannya.
Rekan semua yang sudah susah payah mengelola semua ini.
Jika ada kesalahan kakek, Citra sebagai cucu satu- satunya mohon maaf. Jika ada kelebihan yang kalian ambil dari usaha ini, sudah saya halalkan sebagai pewarisnya. Untuk bonus, selama setahun kedepan, hasil panen bersih perkebunan kita, silahkan pak manager atur, untuk dibagikan adil pada Staff dan karyawan tetap.
Jadi hasil bersihnya baru ditranfer lagi setahun yang akan datang." kata Citra yang disambut tepuk tangan meriah dari para staf dikantor itu.
" Terima kasih Bu Citra. " kata Pak Ref sang pimpinan.
" Sama- sama untuk semua. Karna hari ini juga tepat ulang tahun putri saya, saya minta pada pihak managemen untuk mengadakan pemesanan makanan yang akan kita bagikan pada semua karyawan. Saya yang akan mentraktir perjamuan ini . " kata Citra lagi.
" Apa ada tempat pesan yang cepat disini pak? " tanya Rendra yang ragu mengingat mereka dipedesaan.
" Tenang tuan muda..walaupun namanya perkampungan, kalau rumah makan disini banyak dan bersaing. Soal rasa juga bisa diandalkan. " Kata pak Ref.
Beberapa detik kemudian, sang manager langsung calling rumah makan langganannya. Tiga rumah makan terdekat dihubungi untuk menyediakan seribu limaratus bungkus nasi yang dibutuhkan.
Satu jam saja, tiga mobil pengantar makanan itu, sudah sampai didepan kantor. Setelah pembayaran. Barulah Citra menyerahkan pada managemen untuk mengatur pembagian.
Manager mengutus mobil kantor yang mengantar makanan ke Afdeling. Semua heran juga dengan gaya sang Pemilik Kebun merayakan ultah Putri kecil cantiknya. Tapi mereka tak mau banyak komen. Toh hari ini mereka mendapat banyak kejutan keberuntungan.
" Nona muda yang cantik dan suami tampannya memang orang yang sangat baik. Pantas Tuhan melebihkan Rizkinya. Semoga mereka menjadi keluarga yang bahagia sampai penghujung masa.
" kata hati mereka tersemat doa.
Malam itu rombongan tidur di Mes Perkebunan, sembari menunggu berita akses jalan raya kalau sudah aman paska gempa.
Rendra sekali lagi, meski tidur bareng- bareng pengawal dan petugas Mes tersebut. Cucu konglomerat ternama tidur bergelung dengan beralaskan karpet biasa. Berbincang sambil bergurau hingga menjelang pagi.
Sebenarnya Ada dua kamar dengan fasilitas lengkap di mes itu. Tapi Rendra sudah ketagihan juga tidur merakyat seperti ini. Sejak sang Istri memintanya malam itu.
Tubuh yang biasa enak itu, lumayan bersakitan saat pagi tiba, tapi sebelum mandi, sicantik yang mengerti suami hanya dengan menatapnya saja,
memberikan pijitan sayang menjelang mandi, hingga tak ada kata keluhan lagi yang bisa dikeluarkan oleh pangeran yang menyamar jadi rakyat jelata itu.
" Raja atau rakyatnya dihadapan Tuhan sama sayang...Yang membedakan manusia hanyalah Ketakwaannya. Sedang Dimata manusia, akhlak yang baik yang dipandang. Sehebat dan sekaya apapun seseorang, kalau Akhlaknya nya buruk, orang takkan memandangnya. " Kata Citra sembari memijiti Dady dari anak- anaknya itu.
" Kali ini, mungkin anakku yang dikandungnya, mungkin nantinya bakal jadi Guru, atau malah jadi Ustadz. " kata batin Rendra merespon ceramah Istrinya.
" Terserah anak kita mau jadi apa sayang...Yang penting ia jadi anak yang berguna bagi dirinya, bagi kita, Agama dan negara. " Kata Citra seperti biasa, saat mengandung Ia selalu punya kemampuan menumpas tuntas, isi hati lawan bicaranya.
Pukul Sepuluh pagi, Rombongan mulai perjalanan balik ke Kota. Setelah menghabiskan waktu 3 jam, mereka sampai dilokasi jalan, daerah yang terkena Gempa. Rendra meminta Sopir berhenti sebentar di
posko.
" Ini ada sedikit bantuan untuk para korban pak..Mohon disalurkan dengan baik. " kata Rendra.
" Petugas itu tercengang menerima setumpuk Rupiah itu. Saat bibirnya ingin bertanya, Rendra sudah naik kemobil, dan perjalanan dilanjutkan. Sengaja Rendra tak berlama- lama, karna
tak ada korban jiwa, dalam bencana kali ini. Lagian Boy ingin segera sampai diHotel, mengingat pak tuonya yang sudah sehari semalam tak bersamanya.
Bhalendra Boy Chen, Sisulung yang menyebut dirinya Abang itu. Selain Jenius, dapat mengatasi persoalan Dadynya, senang bergaul dengan orang dewasa.
" Boy kita semalam tak ada tidur sayang... Makanya
ia ketiduran dimobil. " Cerita Citra saat mobil mereka sudah hampir sampai di hotel.
" Pasti mendengar gempa, ia kepikiran kakek. " Tebak Rendra.
" Ia sayang...Ia baru terlelap setelah jaringan ada jam dua dini hari, Sebelum bicara dengan kakek, Boy kita belum bisa bobok. " kata Citra lagi.
" Chalista gimana, apa semalam ia bisa tidur diperkebunan itu? " tanya Rendra, karna semalam mereka memang tidur terpisah.
" Kalau Chalis sih cuma bertanya saja menjelang bobok. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan." Kata Citra.
" Syukurlah sayang...Ia perempuan, masa kecil adalah masa keemasan perempuan, kalau sudah dewasa, ia takkan pernah bisa bebas dari beban fikiran. Sudah kodratnya kaum perempuan, banyak
fikiran. Kita usahakan masa kecil putri kita lebih enjoy sayang...Biar ia batinnya tak lelah setelah dewasa. " kata Sang Dady.
" Emang begitu ya bos? Dapat konsep dari mana? " tanya Citra.
" Dapat konsep dari Dady boy yang pertama. " kata Rendra kemudian.
" Adel Maksudnya? Jadi kangen nih sama Adel sayang..."Curhat Citra seraya tersenyum sembari membayangkan sahabat centilnya yang sudah lama tak jumpa itu.
" Kalau aku tak kangen. Malas kalau kalian sudah bersama, nanti bobok bareng- bareng lagi. Kami para suami dicuekin." kata Rendra mengingat setahun yang lalu, saat Adelia datang katanya melihat calon mantu, sebulan sejak kelahiran Chalista.
Untung saat itu masa berpuasa, kalau ngak, Rendra pasti akan mengusir Adel yang kebanyakan menghabiskan waktu dengan istrinya. Sampai Arifin suaminya dicuekin, putra semata wayangnya saja dibiarkan. Untung suaminya sabar, mengurus sang putra saat istri lebih sibuk ngurus Citra, Boy dan baby Chalista.
" Cepat besar ya cayang...Nanti biar Dinikahin sama bang Almeer! " katanya sama Baby Chalista.
Yang membuat Rendra yang mendengar langsung mencibir.
" Dasar Onty puber! putriku masih bayi saja sudah dilamar. " protes Rendra saat itu.
" Biarin! Dasar Dady Sumpekan ya kan cayang.. gitu aja marah. Awas Lo Dady ntar cepat keriting tu wajah, diselingkuhin sama Momy baru tahu rasa!" kata Adel yang membuat Rendra kian kesal.
Tuh kan muka...mau ngamuk lagi, kayak sapi ketemu baju merah. " kata Adel lagi yang membuat Rendra segera minggat, takut emosinya makin meledak.
" Sayang...Udah nyampe, Ayo turun! " kata Citra membuyarkan lamunan Rendra tentang kekacauan
yang terjadi, kalau istri sudah bertemu dengan sahabat tersayangnya itu. Tapi tak dapat ia pungkiri, perempuan Centil itul'ah yang telah menghantar Citranya dan Boy nya hingga selamat sampai bersama dengan Rendra.
" Ngelamunin Apa sih? " tanya Citra.
" Galau Citra dan Adelia! " jawabnya sekenanya.
" Oo...lagi bikin judul baru ya sayang..." kata Citra yang membuat kening suami mengerut lagi.
" Judul apaan? " tanyanya.
" Ngak ada, bercanda...Ayo turun. Boy sudah duluan masuk tuh. Tak sabar ketemu uonya. " kata Citra menggendong Chalista.
" Sini sayang sama Dady. " katanya seraya mengambil sang putri dari gendongan ibunya. Kemudian mereka berjalan berdampingan.
" Jangan lupa semua bawaan, antar kekamar ya Mex. " kata Rendra menghentikan langkahnya sejenak.
" Beres bos..." kata Mex dengan segera melaksanakan tugasnya.
Bersambung....
Hello Say...Sorry baru nongol nih...
Walau telat jangan dulu umpat ya Cin...
Kasih hukuman aja penulisnya dengan memberi hadiah like, Fote, komen, and faforitkan karya kita ini.
Thank you buat semua...Salam 💓💓 Se Himalaye.