
" Aku sudah Syah kata kakek, mana cucu kakek? Citra ingin sungkeman pada kakek bareng suami Citra. Sekalian pada lelaki yang sudah ninggalan ibu Citra. Masak dah punya suami ngak ngelihat batang hidung suami sendiri ? " protes Citra usai menandatangani surat- surat yang diberikan pengawai KUA.
" Yang sabar ya sayang...ntar bakalan ketemu juga sama suamimu. Maaf ayahnya Citra tadi terpaksa pulang cepat, karna ada urusan penting. " kata tuan Kims menjawab pertanyaan Citra yang sekarang, sejak baby-nya sudah bronjol makin cerewet menurut tuan Kims.Sedang tuan Kims keluar cari aman.
" Kalau benar lelaki itu yang menikahkan Citra, usai menikahkan Citra ia langsung kabur, kakek kasih berapa ia uang hingga ia mau menjadi walinya Citra? Dari dulu ia memang lelaki yang tak bertanggung jawab, lebih mementingkan hal lain ketimbang aku anaknya. " kata Citra mulai terisak.
Untung Adelia masuk pada waktu yang tepat. Ia langsung menenangkan Citra.
" Jangan nangis sayang...Ayahmu tak minta apapun imbalan untuk menikahkanmu dengan konglomerat tampan itu. Ia hanya belum siap untuk bertemu dengan Citra. Takut Citra marah- marah habis lahiran. Apalagi nangis - nangis.
Ayahmu seorang dokter sayang...Ia tahu sikapmu menurun dari ibumu, ntar kau tak terkendali, sedangkan dirimu baru melahirkan. Ia ngak mau ambil resiko, putri semata wayangnya mengalami
stres berat habis bongkar mesin. " kata Adel.
" Jadi kau juga sudah bertemu dengannya, kau tega tak memberi tahu pada Citra. Kalian semua menipu Citra.
" Tu kan marah lagi, nangis lagi. Apa ngak takut kulitnya keriting, sama matanya kabur karna kebanyakan bersedih habis lahiran. " kata Adel seraya mengelus pipi mulus Citra.
" Lihat tuh babymu, dari tadi matanya nyalang liar memperhatikan momynya yang terus- terusan sibuk mondar mandirin hatinya. " kata Adel lagi.
" Hey neng...pake bahasa tu gimana sih, masak kau bilang hatiku mondar- mandir segala. Parasaan hatiku stay disaini saja kok. " kata Citra sembari menyentuh dadanya.
" Terserah aku mau ngomong lah...kamu dari tadi memang sibuk protes, marah, nangis. Apa itu ngak mondar- mandir namanya. " kata Adel dengan wajah cemberut.
" Iyalah terserah...Pakar Sastra baru! Akunya sih ngak enak lihat wajah buncutmu. " kata Citra.
" Lebih ngak enak lagi liat wajah marahmu, apalagi yang dimarahi orang tua, ngak ada baik- baiknya. " kata Adelia tak mau kalah.
" Kamu ngak tahu betapa menderitanya ibuku setelah ditinggal pergi lelaki itu Adelia. Ibuku sangat mencintainya, tapi ia kembali kejawa untuk melihat ibunya yang sakit. Eh...bukannya balik, ia malah dikabarkan menikah lagi disini. Ibuku sampai meninggal karna tekanan perasaan. Aku jadi piatu karna pria itu. Sekarang karna ia tak punya anak, ia mau mengakui aku jadi putrinya.
Aku takkan bisa menerimanya Adel. Kau tak pernah tahu gimana sakitnya tak beribu seperti diriku. " Kata Citra mencurahkan isi hatinya tanpa bisa membendung bulir bening yang kembali mengembang dari mata indahnya.
Adelia segera mendekat pada sahabatnya itu, diusapnya kepala Citra.
" Maafkan Adel ya sayang...bukan maksud buatmu sedih lagi, tapi Adel mau Citra membuka hati, tidak semua yang kita kira itu benar. Memberi kesempatan pada orang yang bersalah menjelaskan bagaimana ia berbuat begitu,apa motif ia dari perbuatannya, mempertimbangkan kesalahan orang, serta mengizinkan terdakwa membela diri atau mendapatkan pembelaan atas kesalahannya,
adalah tindakan yang Adil sayang...
Jangan memberi hukuman sebelum melakukan hal itu, karna setiap orang punya hak azazi , bahkan penjahat kelas kakap sekalian. " kata Adelia panjang lebar, ia bermaksud untuk memberi masukan pada Citra agar tidak bertindak gegabah nantinya pada ayah atau suaminya yang akan membuat sahabatnya itu menyesal.
Citra tersenyum mendengar ceramah Adel. " Kalau ngak salah Adelia Rahma Wati itu jebolan Fakultas Ekonomi, kok sekarang kayak alfokad ya. Apa neng
ngak salah dapat suntikan Vaksin ? " tanya Citra seraya tertawa geli.
" Iya kali ya non...tapi ngak apa- apa deh kan hasilnya baik. Takutnya habis divaksin aku rabies, barudeh dituntut yang ngasih Vaksin. " kata Adelia.
" Gitu dong...habis lahiran ketawa...ngak tegang urat , biar nanti pas dua bulanan bisa awet cantik, awet ayu dan gadis lagi, biar suami tampan mu senang belah duren lagi." kata Adelia sembari mengedipkan matanya jenaka.
" Dasar otak mesum kamu dari dulu Del!
"Yang namanya dah bolong mana bisa gadis lagi, paling habis lahiran kalau baik rawatannya agak rapet dikit. Perawan itu hanya sekali, walau operasi sekalipun ngak bakalan asli. " kata Citra
" Emang gitu ya, Adel sih ngak tahu pasti. " kata Adel.
" Ya gitulah...makanya Adel harus jaga tuh baik- baik lubang jangkrik biar ngak dijebol sama tikus sebelum halal." kata Citra kemudian.
" Mudah- mudahan...Semoga ya Tuhan...
semoga ni ,aman dan amin, ntar saat ketemu sama Mas Arifin, habis kangennya sudah segunung. " kata Adelia seraya mengangkat tangannya tinggi- tinggi dan lebar- lebar memperagakan orang berdoa gaya lebay tingkat tinggi.
Membuat citra tak tahan tidak cekikikan saking gelinya melihat tingkah aneh sang sahabat.
" Stop! jangan diterusin, nanti suamimu dan calon suamiku cemburu.
Sejak malam ini sudah ada jurang pemisah diantara kita. Citra sudah ada yang punya berarti Adel harus mundur teratur, sudah ada Dady untuk Boy, berarti Dady palsu kudu pulang kampung. " kata Adel masih dengan nada lebay.
" Kamu serius Del? Citra dan boy pasti sangat kehilangan. " kata Citra seraya menatap putranya yang masih asyik sendiri, dari tadi tak kunjung bobok, tapi ia tak rewel juga.
" Kau mungkin akan kehilangan sahabatmu yang paling cantik dan sopan sedunia ini sayang...Tapi tidak dengan anakmu, karna sebentar lagi ia akan dapat kasih sayang yang lengkap.
" Oh ya lupa. Yang sudah punya suami selamat ya!
Boy sayang...ngak bobok juga, selamat dapat Dady ya sayang..." kata Adel seraya mengangkat Boy kesisi Citra. Ini coba kasih asi, biar ia segera bobok. " kata Adel kemudian.
Citra pun segera buka kantong ajaibnya, untuk segera memberikan boy nutrisi. Boy menatap
momynya tanpa berkedip , saat menikmati SGMnya, aliyas ( Susu Gantung Momy ) Setelah puas menyusu, Adel mengantar boy ke tempat tidurnya.
Kemudian Adelia keluar, Berganti Rendra yang datang, dengan dada berdebar , ia segera memasuki kamar istri dan anaknya, kali ini ia masuk dengan penampilan aslinya, Rendra Pratama sang CEO GNN group.
" Ka...kau...Me...mengapa kau kesini? " tanya Citra dengan tubuh berkeringat dingin. Dadanya bergemuruh, pandangan matanya berkunang- kunang. Rasanya ia tak sanggup duduk lama lagi, Rendra dengan cekatan menangkap tubuhnya, lalu membaringkang istrinya dengan lembut.
Kepala Citra benar- benar berdenyut.Tapi ia berusaha berontak dari lelaki itu, namun tenaganya
tak cukup kuat. Ia terpaksa membiarkan pria brengsek itu membaringkan tubuhnya yang lemah dikasur, dan menyelimutinya, memijiti kening Citra tanpa diminta. Sejenak Citra tersadar, kalau pijitan itu sama dengan yang ia rasakan saat Stefi yang melakukannya.
" Kau...kau...kau...untuk apa kau masuk kekamar kami, untuk apa kau datang lagi dihidupku, kau bahkan menjamahku dengan menyamar, kau sudah menghancurkan hidupku, lalu kau menipuku, semiris itukah nasipku? Hingga aku terus - menerus jadi korban penipuan. " tangis Citra kembali pecah.
"Apa kau juga cucunya tuan Kim? kau juga yang menikahiku?" tanya Citra lagi.
" Setelah aku sehat, aku akan pergi, apa kau kira kau dan kakekmu bisa membeliku dengan harta kalian. Kalian sudah menipuku. Kalian licik. " kata Citra lagi.
" Benar Citra...aku Stefi, aku jugalah Rendra cucu kakek, akulah Dadynya Boy. Maafkan aku...kau boleh menghukum ku dengan cara apapun, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. " kata Rendra dengan mata yang mulai berkaca- kaca.
" Kau tak perlu membeliku hanya untuk mendapatkan pewarismu. Baiklah...aku akan meninggalkannya untukmu. " kata Citra yang kontan membuat putranya menangis histeris, bagai orang yang habis dicubit keras. Citra tersentak karna tangisan putranya, Rendra langsung melompat mengambil baby-nya dibox.
" Lihatlah sayang ... Betapa terlukanya anak kita karna ucapanmu. " katanya seraya mendiamkan sikecil
" Cup....cup....ada apa sayang? ...tenang ya...semua akan baik- baik saja. " kata Rendra yang membuat tangis boy berganti jadi rengekan.
Ehek...ehek..." suara rengekannya.
Citra meminta putranya, dengan mengembangkan tangannya.Rendra segera menyerahkan sikecil kesisi pembaringannya.
"Citra membelai kepanya, boy langsung terdiam, kayak Honda mogok yang direm paten.
" Hukumlah aku dengan cara apa yang kau mau Citra! Tapi aku mohon jangan hukum putra kita karna kesalahanku. Aku menginginkan kalian berdua, kalian berdua dengan segenap jiwaku.
"Kau boleh jadi istri yang kejam. Tapi jangan sekalipun berniat jadi ibu yang tega." kata Rendra yang membuat citra terdiam. Diam bukan berarti setuju, tapi ia diam agar putranya tak menangis lagi.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ya...Late up nih...
tadi penulis sibuk buat naskah MID anak- anak.
Dimaklumi ya say...jangan lupa dukung terus cerita ini.
Buka hati untuk memberi, Like, fote and faforitkan love- love yang banyak.... dari kita untuk kita.
Thank you so much...M...h