
" Seleramu sudah setua ini belum berubah Ya Al...Masih mobil Sport juga!." Ujar Rendra menatap sinis pada lelaki yang baru saja tiba didepan rumahnya.
Pria itu hanya tersenyum, sedari dulu ia selalu mengalah dengan pria Possesive ini. Cukup sudah bagi Alden berantem tak berarti dengan Rendra satu kali waktu itu. Toh mau tidak
mau ia harus selalu kalah dan mengalah pada suami sahabat yang ia cintai itu.
" Cinta...Ya sampai hari ini aku masih mencintai Citra. Esok aku akan menikah, bukan berarti cintaku sudah berubah. Tapi pandanganku yang sudah berubah.
Entah mengapa bagiku cinta begitu berarti. Dalam satu menit aku jatuh hati pada gadis yang kutemukan 23 tahun yang lalu, eh bukan gadis, tapi istri orang yang kukira gadis, ternyata butuh waktu seumur hidup untuk melupakannya. Kalau Rendra
sampai hari ini masih mencemburuiku, aku tak bisa melawannya. Toh itu kenyataannya. Bahkan mobilku saja tak bisa kugantikan, karna dengan mobil inilah aku pernah melarikan orang yang kucintai kerumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya. " Kenang batin Alden.
" Kenapa kau terdiam didepan pintu! Tidak jadi melihat istriku? Setiap anakku lahir, kau selalu datang! Tidak peduli kau sedang dibelahan bumi mana, seperti sebuah perjanjian hati kau selalu datang untuk istri dan anakku! " Ujar Rendra masih dengan nada Sarkas.
" Emang Citra melahirkan lagi? Diusia diatas 40? Ini tak mungkin He....He...Kau pasti bercanda! Sejak kapan kau pandai bercanda dengan saingan terberat hatimu tuan Rendra? " Serang Alden dengan pertanyaan bertubi.
" Memang istriku baru melahirkan 50 hari, dengan operasi Caesar, anak keempat putri yang ketiga." ujar Rendra bangga.
" Ternyata sejak punya jenggot bercampur warna, selera bercandamu makin tinggi ya tuan! Aku tak percaya. Kalau aku tahu Citra bakal melahirkan lagi, aku pasti mencurinya darimu dirumah sakit, setelah ia tertembak, karna kau tak pernah begitu pandai menjaganya."
Bughh...Sebuah bogem panas mendarat didada Alden.
" Stop Daddy! Jangan ulang lagi memukuli om Alden ! Besok ia akan menikah, nanti sakit bagaimana acaranya! " Teriak Boy yang baru datang. Suara berat dan kuat Boy membuat penghuni istana yang sedang berkumpul diruang tamu, berhamburan menuju pintu utama.
" Alden!...terdengar seruan Citra dan Adelia dari dalam.
Rendra terdiam dan hanya bisa melongo menatap dua wanita sebaya itu bergantian memeluk Alden. Ingin marah tak mungkin lagi, sebab disitu ada putranya yang tentu akan membela pria ini.
" Ih...Akhirnya bakal nikah juga dia! Akan kutahan kemarahan ku untuk saat ini, mungkin ini pelukan terakhir untuknya dari Istriku. Ini semua gara- gara calon besan Centil SiAdel kodel yang mulai, istriku jadi terbawa arus. " Geram hati Rendra , menyembunyikan tinjunya dibalik punggungnya.
Boy yang melihat Daddynya dengan sorot matanya. Segera mengambil tindakan.
" Om Alden kesini pasti untuk menyampaikan undangan pernikahannya
yang akan diselenggarakan besok. Mari kita semua kedalam berbincang! " Ujar Boy yang langsung diikuti oleh semua.
Raisa baru saja tiba membawa adik kecilnya dari kamar menuju ruang tamu.
" Mommy... adik Sonia pengen nyusu kayaknya! " Ucapnya yang tidak melihat ada tamu baru diruang tamunya, karna
terlalu fokus dengan adik kecilnya.
" Benar ini anakmu Citra! Bukan cucu? " tanya Alden masih tak yakin dengan penglihatan dan pendengarannya.
Kalau cucu belum lahir Al... Masih nunggu hari, Bella menantu kita tak mau
operasi kalau bisa, jadi harus nunggu kapan cucu mau brojol! " Jelas Citra.
Alden menatap takjub pada kelengkapan kebahagiaan Citra. " Betapa beruntungnya dirimu Ren... Kau sudah mendapatkan Satu putra istimewa dan 3 putri cantik dari Citra. Aku baru besok menikah, entah masih dikasih pewaris atau tidak aku tak tahu. " Ucap Alden lirih.
" Aku juga seminggu lagi akan menikah Om...Untung om duluan, Kalau tidak Om kelangkahan lagi! " Timpal Chalis yang baru datang dari atas.
" Ya Tuhan ...Aku sangat ketinggalan sekali dengan berita keluarga bahagiamu Citra! " seru Alden makin kagum.
" Pasti nikahnya dengan Amerkan? buktinya Adel ada disini, tentu kalian akan menyambung hubungan bukan? "
" Ya mereka saling mencintai dan berjanji bakal berikan cucu yang banyak buat kami! He...He...kekeh Adel yang membuat wajah Chalis bersemu merah karna malu.
" Jangan pesimis Man! Kau Pria tua yang masih tampan dan seksi! Kalau istrimu masih muda tentu masih bisa melahirkan 10 anak untukmu! Yang penting kau jangan mati dulu sebelum anakmu besar!
Salahmu sendiri kelamaan menggantikan
nenek Citra dihatimu! He....He...He..." Adel tertawa puas setelah berhasil mengangkat dan menghempaskan perasaan orang- orang disekitarnya.
" Emang istriku sama dengan kucing atau tikus, yang rapat kawin padat anak. Adel- Adel...dari dulu selalu sembarangan tapi tetap menggemaskan. " Batin Alden.
Adelia mendapat pelototan dari Citra yang sedang memimikkan putri kecilnya dengan menyembunyikan gudang nutrisi sang putri dengan selendang yang dibawa Raisa.
Belum lagi wajah geram Rendra. Kemudian Senyum cengengesan dari Alden.
Ketika orang- orang itu berniat menyerang Adel, nasip mujurnya meluncur. Bibi datang mengantarkan minuman dan mempersikahkan mereka semua minum, hingga perhatian teralihkan, semua menikmati minumannya. Sedang Citra fokus pada sikecil.
Sudah sore sekali ketika Alden pergi dari Rumah Istana itu.
Ia semakin mantap menikah esok, melihat kehidupan Citra yang makin bahagia. Sekarang ia tak khawatir lagi, Rendra dan Boy benar- benar bisa membahagiakan Citra.
Alden tersenyum sebelum melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir
rumah itu. Teringat pada penuturan sahabat cantiknya itu.
" Mungkin aku takkan bisa datang dipestamu esok Al...Maafkan aku ya...Lagian kalaupun aku tidak sedang beranak kecil, takkan juga aku datang, takut kau tak sanggup menikahi wanitamu. Walaupun aku nenek- nenek
seperti kata Adel, tapi pesonaku masih saja akan bisa mengalahkan gadis Jepang itu, bukankah aku terlihat sepuluh tahun lebih muda? Jadi aku tampak lebih muda dari calon istrimu! " Canda Citra dengan wajah cerahnya, tak peduli wajah masam suaminya.
" Memang kau masih cantik Cit...pesonamu takkan terkalahkan oleh gadis muda manapun dihatiku. Tapi Boy benar, Omnya butuh pewaris, setidaknya dengan menikah aku akan mendapatkan pewarisku. Itulah sebabnya aku menerima perjodohan yang ditawarkan oleh putramu itu Citra. Aku tak berharap banyak dengan pernikahanku, tapi putramu begitu bersemangat, aku tak ingin mengecewakannya, aku akan memperlakukan istriku dengan baik, demi cintaku padamu dan putramu, semoga ini tidak terdengar konyol. " Batin Alden.
Melihat istrinya begitu mengagumi gadis Jepang yang semula dicemburui istrinya itu. Boy berfikir bagaimana agar hubungan istrinya bisa berlanjut dengan gadis Jepang itu.
" Sonia Yama! Maaf kalau aku lancang...Istriku sangat menyukaimu. Aku punya Om yang sudah berumur namun masih tampan. Kalau kau suka berkenalan dengannya, aku akan mengatur pertemuan kalian melalui anak buahku. " Ucap Boy usai meeting ketiga dengan Sonia Yama.
Tanpa Boy kira ternyata Sonia merespon positif. Wajah imutnya tersenyum senang
mendengar tawaran Boy.
" Serius ada Om mu yang tua, kaya dan tampan? " Tanya Sonia dengan senyum sumbringah.
" Hey...Maksudku bukan tua kali! Baru Empat puluhan Plus dikit. Kalau soal kaya tentu iya... Ia pengusaha kaya keturunan Indo Jerman, pemilik GI group dan beberapa rumah sakit swasta terkenal dibeberapa negara di Asia dan Eropa! "
" Aku cuma bercanda memasukkan kaya sebagai kriteria, aku tak kekurangan uang tuan Bhalendra! Yang penting pamanmu itu sesuai dengan mataku, kalau yang lain akan mengiringi. He...He...." terdengar tawa riang diujung ucapan Sonia.
Anak buah Boy mengatur pertemuan Sonia dengan Alden. Ternyata Alden tahu
semua Rancana yang sudah disusun oleh
Boy. Setelah mengenal Sonia yang memiliki kepribadian cukup baik, akhirnya Alden memutuskan untuk melamar Sonia. Pernikahan mereka ditentukan Esok pagi, kemudian dilanjut dengan resepsi Garden party di taman K JKS.
Bersambung....
Jangan lupa Like, fote, komen ya say...
Baca Juga karya baru kita yang ini Ya...
Jalan menuju Syurga Syafir. Tekan aja Frofil penulis untuk pencarian, atau ketikkan nama penulis/ judul cerita dipencarian ( Beranda NT / MT )