
Kembali ketempat kerja, walau Adel sudah banyak memberi nasehat pada Citra, namun sebagai manusia biasa, Citra tak semudah itu dapat menerima kenyataan yang harus ia terima saat ini.
Sampai menjelang sore ia tak dapat berkonsentrasi
dengan baik dalam bekerja. Untunglah menjelang sore itu ia tak ada tugas berat yang berkaitan dengan pekerjaannya, perencanaan promosi produk dan pemeriksaan hubungan antar sales sudah dilakukan pagi tadi sebelum ia periksa ke dokter kandungan itu. Sekarang ia hanya banyak bermenung sambil merapikan file- file yang sudah disiapkan sebelumnya.
Sebagai seorang yang perhatian terhadap Citra, Adel tak lupa memantau kondisi Citra, sekali sejam. " Kasihan Citra, aku takut ia berbuat nekat, kalau dibiarkan galau sendiri. " kata batinnya tiba- tiba timbul ide dikepalanya.
Adelia segera menuju ruangan Kepala bagian. Ia ingin membicarakan langsung rencananya pada sang kekasih.
Tok...tok...tok...Adel mengetuk pintu Ruangan Arifin.
" Masuk...! terdengar suara berat tunangan sekaligus bosnya itu.
" Yang datang sekretaris atau pacar ? " tanya Arif bercanda?
" Coba tebak kalau gaya masuknya seperti ini, minta tanda tangan atau minta kecupan? " tantang Adelia becanda balik.
" Melenggang dengan tangan kosong. Berarti yang datang minta kecupan, kata Arif langsung berdiri dari kursi dan berjalan mengecup Adel sekilas.
" Kamu sih mas, kalau ngecup tanggung gitu. " kata
Adel sambil menatap mesra tunangannya.
" Karna belum halal ya segitulah dulu daftar dosa nya sayang...Kalau kelamaan ngecup nanti bisa jadi dosa besar. Jangan sampai terjadi, karna kalau sudah melakukan dosa besar seperti itu, itu tandanya kita berada dititik derajat paling rendah, kata Buya Yahya. " kata Arifin memberi pencerahan pada sang kekasih.
Ser....Tiba - tiba darah Adel berdesir. " Jangan sampai Citra dengar penuturan mas Arifin barusan,
kalau sampai ia dengar, hatinya akan kembali merasa terpekul . " batin Adelia memikirkan perasaan sahabatnya itu.
" Ada yang mau aku omongin yang...Aku mau izin sama mas, untuk pindah kekosnya Citra.
" Ada apa gerangan, kok mau ketempat Citra? " tanya Arifin sedikit heran.
" Anu... anu mas...Kan Adel ngak pandai masak. Jadi Adel mau belajar masakan Minang sama Citra." Kata Adelia sekedar alasan.
" Kalau mas sih okay- okay aja, yang penting ngak nyusahin Citranya. Jangan hancurin dapurnya Citra, kayak Adel pas ngacaukan dapurnya mas. " kata Arifin mengenang kekonyolan kekasihnya yang belum bisa memasak selain mie instan itu.
" Tenang aja mas, aku ngak maksud hancurin dapurnya kok. Tapi kalau kejadian sendiri, apa boleh baut. He...He...He..." Adel tertawa terkekeh.
" Aku curiga pasti kamunya tak serius belajar masak. " tanya Arifin menatap Adel dengan tatapan penuh selidik.
" Apa aku harus bilang dari awal, biar mas ngak salah sangka kedepannya. " tanya batin Adel penuh pertimbangan.
" Hey....jangan bermenung manis..." kata Arifin sembari memainkan dagu Adel. Mereka sekarang sangat dekat. Nafas Arifin terasa berhembus keleher Adel.
" Kan tadi udah wanti- wanti pesan Buya Yahya. " kata Adel seraya mendorong tubuh Arifin.
" Maaf...habis adik kalau lagi ngelamun menggemaskan. " kata Arifin.
" Ngak mas...aku selain belajar masak, aku mau jagain Citra.
" Emangnya Citra kenapa?" tanya Arifin heran, karna yang ia tahu, Citra sehat dan punya banyak ide cemerlang.
" Ia baru berpisah dengan Rafdo suaminya, sedangkan ia hamil muda. " jawab Adelia.
" Tapi CVnya Citrakan statusnya belum menikah dik? " tanya Arifin lagi.
" Itulah masalahnya mas, belum sempat bikin KK, rumah tangganya sudah masalah. Jadi kasihan Adel mas. Boleh ya aku jagain Citra?" tanyanya dengan rengekan manja.
" Baiklah...kalau tujuannya baik, mas sih ngak ada masalah. " jawab Arif, ia juga terfikir betapa sulitnya masa- masa yang akan dilewati Citra, kepala bagian pemasarannya yang miliki Inner beuty itu. Diam- diam Arifin bersyukur, dengan kepribadian Adelia calon istrinya kian menampakkan sisi lembutnya.
" Yes! akhirnya maksud hatiku tersampaikan sudah, dan untungnya tidak ada larangan dari mas Arif. " teriak batin Adelia senang. Senyumnya mengembang sempurna dari bibir manisnya.
Disisi lain.
Rendra sudah berkeliling ibu kota untuk mencari keberadaan Citra. Tim pencarian juga sudah bergerak untuk mencek distasiun, Bandara, atau terminal kalau- kalau Citra meninggalkan Jakarta menggunakan kereta, pesawat atau bus. Mex sebagai pangawas tim, baru saja melaporkan pada Rendra, kalau belum ada titik terang kemungkinan
lokasi Citra saat ini.
Rendra sedari tadi masih pusing dan mual. Hans merasa kasihan pada sang tuan yang terlihat sangat lemah dan galau. Ia tak lupa mengingatkan sang big bos untuk minum obat anti mual yang sudah diberikan oleh Dr Rinto, dokter pribadi Rendra.
" Apa bos sudah minum obat mual itu? " tanyanya seraya mengusuk punggung Rendra yang nampak makin kurusan akhir- akhir ini.
Ia tak habis fikir, mengapa Bisnisman sukses seperti Rendra harus mengalami gejala ibu- ibu hamil muda seperti itu.
" Sudah Hans, tapi kayaknya obatnya ngak bereaksi, kalau aku sedang mikirin Citra.
" Gimana, apa ada sedikit ringan? " tanya Hans.
" lumayan Hans. Tapi aku mengangkatmu bekerja sebagai sekretaris, bukan sebagai tukang urut. Aku segan kalau kau melakukan ini semua.
" Sejak dulu kutawarkan pertemanan denganmu Hans. Tapi terus saja kau memanggilku yang bos lah, yang tuan mudalah. Aku tak habis fikir, mengapa hari ini kau balik yang menawarkan. Kalau kau mau dipanggil teman, mulai sekarang kau harus memanggilku Rendra saja kalau diluar kantor. "kata Rendra.
" Baiklah...bos, panggilan ini hanya akan berlaku saat kita sedang bekerja." kata Rendra kemudian terbersit dihatinya sebuah ide baru.
" Bagaimana kalau kita mencari Citra dengan cara mengirim fotonya ke kolega dan para rekan bisnis diberbagai daerah bos. Aku kira Citra orangnya pasti dimanapun ia berada ia akan segera mencari kerja. Maksudku, kita mulai pencarian baru dengan mengarahkan pada tempat kerja." Jelas Hans.
" Idemu bagus juga Hans. Tapi aku tak mau nantinya setiap bos- bos yang kau kirimi Fotonya diantara mereka ada yang malah tertarik dengan Citraku. Bukannya mendapatkannya, aku justru malah semakin jauh darinya. Aku tak mau ada orang lain yang diam- diam malah menikungku dari belakang Hans." kata Rendra kemudian.
" Aduh bos...belum juga nikah sudah posesive minta ampun. Gimana nanti nasipnya Cewek yang biasa bebas merdeka itu kalau sudah jadi milikmu. " kata Hans dalam hatinya.
" Kamu ngatain aku ya Hans? " tanya Rendra begitu melihat Hans yang komat- Kamit sembari geleng- geleng kepala.
" Habis bos lucu." kekeh Hans.
" Apanya yang lucu." tanya Rendra menghapus mukanya, takut ada sesuatu noda dimukanya.
" Belum juga Nemu sudah cemburu! " kata Hans yang membuat Rendra akhirnya tersenyum tipis, sadar kalau ia sudah memiliki ketakutan yang berlebihan.
" Kalau begitu, silahkan kita mulai usaha pencarian sesuai idemu tadi. Mudah- mudahan ini berhasil tanpa resiko yang tadi. " kata Rendra dengan nada ragu.
" Sejak kapan seorang pemilik GNN group takut sama resiko? " tanya Hans seraya tersenyum jenaka.
" Iya ya, aku baru sadar, sejak divonis ngidam sama dokter Rinto, Sikapku juga berubah kayak mak- Mak. He...He...He..." kekeh Rendra.
" Syukurlah...akhirnya bos bisa ketawa juga. " kata Hans sembari tersenyum senang.
Malam harinya.
Tanpa aba- aba dan tanpa berita, Adelia segera pindah ketempat kos Citra. Waktu menunjukkan pukul 19 : 40 saat Adel tiba dikamar Citra yang tidak terkunci. Adel masuk tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam, dengan membawa bag dorong besar. Citra terkejut dengan kedatangan yang langsung menerobos itu, hingga kapsul yang baru saja ia ingin memasukkan kemulutnya terjatuh kelantai.
" Apa yang mau kau lakukan Citra? kau mau bunuh bayimu! " teriak Adel histeris saat sadar Citra sedang mau meminum kapsul penggugur kandungan. Bergegas diinjaknya pil itu, sabalum Citra mengutipnya lagi dilantai.
" You jangan Grazy Citra! Untung aku datang tepat waktu. Kalau ngak kau pasti sudah membuat dosa baru. " Gerutu Adel sembari memeriksa nama obat yang hampir saja ditelan Citra.
" Dari mana kau dapatkan obat ini? " tanya Adel dengan dahi berkerut.
" Aku susah mendapatkannya dari apotek, kau malah menghancurkannya. " kata Citra mulai terisak.
" Sini! Adel segera menarik tangan Citra dan meletakkan kedua tangan perempuan cantik yang sedang digerayangi iblis itu, meletakkan kedua tangan itu diperut Citra.
" Aku tahu kau perempuan tomboy Citra, tapi aku tak habis fikir, perempuan sepertimu tak punya kah jiwa keibuan sedikitpun, hingga sampai berani kau mau membunuh darah daging sendiri. Emang kalau orang sudah berbuat salah sekali pasti mau nambah salah lagi ya, seolah berbuat salah menjadi candu buat mereka. " Sindir Adelia tajam menusuk langsung keulu hati Citra. Membuat tangisnya kian kencang, memecah kesunyian malam itu.
Adel akhirnya tak tega, ia kemudian memeluk Citra.
" Maafkan ucapanku yang sudah sengaja menyinggungmu Cit. Tapi aku hanya ingin kau sadar, kalau perbuatanmu keliru. Siapa yang dapat mengira, jika anakmu ini suatu saat bisa menjadi penolongku? Kalau kau mengambil hak hidupnya, bagaimana kau bisa merasakan bagaimana indahnya jadi seorang ibu?
" Sadarlah sayang...jangan melakukan perbuatan yang akan membuatmu menyesal seumur hidup. Untung aku datang. Kalau tidak gimana jadinya nasip babymu, juga dirimu. Bagaimana kalau kau mati bersama babymu, apa kau siap untuk menanggung siksa kubur dan neraka?" tanya Adelia seraya menghapus airmata Citra. Citra hanya diam, dengan airmata yang kian bercucuran tak terbendung.
" Ta...Tapi aku benar- benar kalut Del...hu....hu... kata Citra dalam tangisnya, setelah berhasil menggerakkan lidahnya yang terasa kelu.
"Menangis lah sayang...maafkan aku sudah menyakiti perasaanmu. Mulai malam ini dan seterusnya aku akan tinggal disini, menjagamu dan babymu. " kata Adel yang membuat citra tercengang, dipandanginya wajah Adel, lalu matanya tertumpu pada bag besar milik Adel.
" Atas perintah siapa? " tanyanya heran.
" Atas perintah hatiku." jawab Adel tegas.
" Mulai sekarang jangan pernah ada niat lagi untuk mambunuh babymu. Aku akan menjadi Dady srmentara untuknya. " kata Adel.
" Apa kamu normal Del? " tanya Citra tak tahan menahan geli, seulas senyum mengembang dibibir
mungilnya.
" Normal lah, tahun depan aku akan menikah dan segera membuat baby pula sama mas Arif. " kata Adel Percaya diri.
" Kok bilangnya jadi Dady, ngapa ngak anty? " tanya Citra lagi.
" Habis kata orang kalau lagi berhadapan sama orang sinting kita juga kudu pura- pura sinting.
" Adau sakit! " teriak Adel saat Citra tiba- tiba mendaratkan cubitan panas dipinggang Adel.
" Kalau dicubit ngk pa- apa, kalau aku pukul nanti kau bisa pingsan. " kata Citra.
Bersambung....
Jangan lupa pollow cerita ini ya. Dengan cara kasih like, fote, komen and lope- lope yang banyak...
Makasih...