
" Tiba-tiba saja aku malas Bangun pagi ini sayang...
" Kata Rendra seraya meletakkan kepalanya dipangkuan Citra. Saat Citra membangunkannya subuh itu.
" Ada apa sayang...Apa karna kurang enak badan?" tanya sang istri seraya memeriksa suhu badan Rendra.
" Ngak juga, hanya ingin bermanja saja. " katanya mulai menciumi perut buncit istrinya.
" Mana boleh malas kayak gitu Dady, kan ngak biasanya. " kata Citra sedikit heran, karna tak pernah selama ini Rendra malas kerja, biasanya ia yang merengek agar sang suami meluangkan waktunya untuk berlibur.
" Entahlah..tiba- tiba aku pengen pagi- pagi sayang, apa boleh? " tanyanya seraya menatap Citra dengan tatapan bermohon. Tatapan itu membuat darah Citra berdesir, Citra jadi tak tega menolaknya.
" Boleh kok sayang...tapi ayo mandi dan Shalat dulu, habis itu baru ya. " kata Citra sembari sengecup pipi suaminya sekilas.
Rendra bangun dari pangkuan istrinya, membalas kecupan sekilas itu, lalu bersiap- siap mandi untuk subuhnya.
" Usai shalat, ia benar- benar menuntut janji sang istri. Mengungkungnya dengan Posesif. Mendekapnya seperti takut kehilangan. Kemudian
melakukannya dengan khidmad, seperti orang sedang berdoa, penuh fokus dan konsentrasi.
Citra sangat heran dengan gaya suaminya kali ini.
Tapi ia menyimpan pertanyaannya di hatinya. Takut merusak mood suaminya.
Jadilah mereka mandi dua kali pagi itu. Tapi soal itu tak masalah, karna itu sering terjadi, kalau diantara mereka ada yang memulai.
Pagi ini, tiba- tiba Rendra juga ragu memilih mobil
digarasi. Akhirnya ia memakai Knikht XF, mobil berwarna hitam milik sang kakek.
" Kita pakai yang ini ya Hans. " katanya pada Hans, saat Hans menjemputnya pagi itu.
" Jadi yang didepan gimana bos? tanya sang Asisten.
" Masukkan kedalam. Mulai sekarang kita pakai yang ini. " katanya kemudian.
Sebenarnya Hans juga heran, biasanya Rendra lebih senang dengan mobil sportnya yang selalu dibawa Hans. Tah mengapa pula ia memilih mobil
ini. Walau agak bingung, ia tetap mengantar mobil sport itu kegarasi, lalu mulai menghidupkan mobil hitam itu. Setelah manaskannya selama lima menit, Iapun memanggil Rendra untuk segera berangkat.
Kira- kira 1 KM dari rumah, tiba- tiba Hans melihat sebuah mobil Silver mengikuti mobil mereka, lalu beberapa detik berikutnya.
" Ada yang mengikuti kita Bos." bisik Hans.
" Benarkah? Masih pagi begini? sudah ada musuh. " tanya Rendra seraya memeriksa dari kaca spion.
Dor...Dor...Dor...Mobil mereka dihantam oleh tiga peluru beruntun yang berasal dari mobil Silfer itu.
Darah didada Hans terkesiap, sudah lumayan lama mereka tak bertarung dengan senjata api seperti ini. Yang terakhir mereka diserang saat diTokyo, saat mengadakan perjalanan bisnis, itupun karna mereka bersama Mr. Yoshi, serangan itu berasal dari musuh pengusaha kelas atas Negri Sakura itu.
" Sarapan pagi yang menyeramkan, pantas Bosnya
memilih mobil Anti peluru ini, sang big Bos memang meliliki firasat yang kuat, walau Rendra sendiri tak Faham dengan firasatnya sendiri.
Siapa pula ini? " tanya batin Hans.
" Aku sudah merasa ngak enak sejak bangun tidur tadi Hans. Rupanya ini lah alasannya. " kata Rendra seraya mengeluarkan Revolvel miliknya dari dalam tas. Lalu mulai melakukan tembakan balik.
Dor...dor...Rendra membalas tembakan beruntun itu.
Hans melajukan mobil lebih kencang, untuk menghindari daerah sepi ini. Namun kecepatan
Knikht XF milik tuan Kims kalah gesit dengan mobil Silver itu. Entah karna jantung Hans yang berdebar tak beraturan dalam berkendara. Siapa yang tidak nyalinya ciut sih? pagi- pagi belum sarapan, malah sarapan dengan tembakan beruntun.
Beberapa menit kemudian mobil yang mereka kendarai sudah disilang oleh mobil Silver itu.
"Ha...Ha...ha...." gelak tawa menggema dari situa bertubuh tinggi putih dimobil didepan mereka.
" Seret Cucu Kims! Serahkan hidup- hidup padaku!"
perintahnya pada Anak buahnya. Tanpa mereka sadari, sedetik berikutnya, mereka sudah dikepung
oleh tiga mobil. Hans dalam panik, mengeluarkan senjatanya, lalu mulai menarik pelatuk.
" Stop Hans! lawan kita tak setanding. Mereka kurang lebih 35 orang. Anakku masih kecil- kecil, bahkan satunya masih didalam perut. Aku tak mau mati konyol. Kekerasan bukan cara yang pas melawan orang kuat ini.
Simpan saja senjatamu. Kita cari tahu apa mau bos tua ini. " kata Rendra seraya memasukkan senjata kebalik jasnya.
Ketiga mobil itu sudah mengapit mobil black mereka.
Seorang lelaki tua memakai tongkat, turun dari mobil Silver, diikuti oleh anak buahnya yang keluar dari mobil itu dan dua mobil berikutnya.
Situa mendekat dan semakin dekat. Hati Hans panas, saat Rendra diam dan seperti orang pasrah saja. Hans menodongkan senjatanya lagi.
" Suuut ...Kumohon tenang lah Hans." Bisik Rendra lagi.
" Sudah...diam, dengar. Kau lihat semua anak buahnya bersenjata lengkap. Kan mereka belum menggunakan senjatanya lagi. Jadi kita tenang dulu! Perintah Rendra, yang terpaksa membuat Hans diam, lalu mengambil Hpnya, dan mengirim
pesan pada seseorang.
" Selamat pagi kakek! Apa ada masalah? Hingga pagi- pagi kau beri aku sarapan timah panas? " tanya Rendra tenang saat kakek tua itu sudah dekat dipintu mobilnya.
" Kau! Kenapa turun senjata? Apa Kims brengsek itu tak mengajarkanmu cara menembak? " tanya lelaki tua itu.
" Maaf kakek, bukan ia yang tak mengajarkan, tapi aku yang tak fokus belajar. Aku lebih suka matematika ketimbang angkat senjata!
Terdengar konyol bukan? tapi itulah aku, aku tak sama dengannya. Ha....ha...Ha..." Rendra tertawa keras, tak kalah kuat dari tawa lelaki tadi.
" Kepala Hans berdenyut tak karuan. " Bisa- bisanya
ia tertawa disituasi segenting ini. Apa kepalanya kejedot tempat tidur, semalam ya? " tanya batin Hans.
Sementara dirumah, saat membuatkan susu clalista, tiba- tiba gelas yang dipegang Citra jatuh. Saat ia ingin membersihkannya, tangannya terluka, tak urung darah mengalir keluar begitu cepat.
" Kenapa tidak minta bibi saja yang buat susu Non? " kata Bi Noni, kepala pelayan. Kemudian segera menarik tangan Citra.
" Biar kubalut sendiri bi, aku sudah biasa mengatasi
luka Seperti ini.Tolong suruh yang lain membersihkan ini, bibi lanjutkan buat susu untuk Adek. " katanya seraya berjalan pelan menuju kamar.
" Baik nona." kata Bi Noni.
" Ada apa ya? kok sepagi ini aku sudah seceroboh ini? Mudah- mudahan Suamiku dan Hans baik- baik saja. Heran juga sih mengapa pakai mobil itu,
padahal yang biasa sudah jinak. " kata batin Citra menepis pikiran buruk dan ketakutannya, terbayang mobil hitam itu mengalami masalah dijalan.
Citra mempertemukan lukanya setelah membaca doa warisan kakek Haji.Mudah- mudahan setelah dibaca doa itu, darahnya tak menetes lagi.
Lalu Citra membalut luka dijari telunjuknya itu.
" Tanan mom Napa? " tanya Clalista saat memergoki Momynya sedang membalut jarinya.
" Cuma luka kecil, biasa anak perempuan dapat luka seperti ini, kalau kerja sambil berkhayal. " kata cinta lebih pada dirinya sendiri.
" Mikil Dady? " tanya sikecil.
" Iya cantik...Aduh...aduh... Tiba- tiba perut Citra sakit. Sakitnya rasa mau memutus pinggangnya.
Beberapa detik berikutnya ketubannya pecah. Tubuh Citra Mulai keringatan.
Chalista kecil panik melihat Momynya kesakitan, ia berlari keluar, mencari bantuan, untuk melihat sang Momy.
" Aduh non...Kayaknya Momy mau lahiran. " kata Bi Noni yang kebetulan datang membawakan susu untuk Chalista. Ia menuntun Citra ketempat tidur. Lalu menelfon dokter.
Lima menit berikutnya dokter dan bidan datang, lalu segera mempersiapkan segala sesuatu untuk
proses penyambutan anak ketiga tuan Rendra.
" Ya Allah....Cobaan apalagi ini? Kata Mr Kims panik, saat dapat pesan dari Hans.
Cari Boy Ko! pastikan ia dirumah. Ada yang mencegat Rendra dengan senjata dijalan. Jangan biarkan Boy ikut campur. " perintah tuan Kims.
Setelah memeriksa kamar boy, Udin kembali dengan terdiam.
" Ada apa Joko? kenapa kau diam !apa yang terjadi!
Bentak Kim.
" A... anu...Tuan...Joko tak sanggup melanjutkan katanya, takut jantung tuannya kambuh.
" Katakan! bentak Kims lagi.
" Boy menghilang, setelah kuperiksa CCTV, ternyata ia masuk kejok Mobil tuan muda.
Dan non Citra lagi ditangani dokter dikamar, mau lahiran." kata Joko.
Bus...Tiba- tiba jantung lelaki lansia itu rasa copot, ia mengusap dadanya, lalu beberapa detik berikutnya ia terdiam.
" Tuan...tuan...tuan! " Joko histeris, mendapatkan tuannya yang tak sadarkan diri.
" Bangun tuan...Bangunlah..." katanya mulai menangis. Beberapa pelayan mulai berkerumun mendengar teriakan Joko.
" Cepat telfon dokter! " kata Joko dalam ketakutannya.
" Baik, Kata salah seorang dari mereka, lalu bergegas menelfon tim medis Tuan Kims.
Bersambung....
Salam Akhir pekan pembaca tercinta....Jangan lupa Mampir lagi ya, bawa oleh - oleh Like, fote, komen dan Faforitkan bagi yang baru mampir.