
Masa adaptasi didunia kerja akhirnya dapat dijalani
oleh Citra dengan baik. Ia mulai menampakkan berbagai ide cemerlang dan kesan- kesan positif yang membuat kepala kantor cabang tempatnya bekerja mulai melirik kinerja Citra. Sebagai orang yang sudah berpengalaman dibagian pemasaran,
Citra tak perlu pusing memikirkan apa- apa yang harus diperbuat untuk meningkatkan nilai jual produk. Bedanya selama ini ia menjalani bisnis online yang berhubungan dengan konveksi. Ditempatnya bekerja sekarang, ia meski meningkatkan pemasaran produk makanan dan minuman.
Bagi Citra bekerja keras adalah suatu keharusan, dari kecil ia sudah belajar bagaimana mengembangkan usaha dari 0 menjadi berhasil, setidaknya menanggung hidupnya, kuliahnya dan kakek. Tak pernah sampai hari ini, ia mempergunakan uang simpanan kakek dari hasil kebun kelapa sawitnya yang dikampung. Berkali- kali dulu sang kakek memintanya untuk tidak terlalu bersusah- susah, karna tabungan itu memang khusus untuk Citra. Tapi Citra mamang anak yang senang bekerja dan membiayaai hidup mereka dengan usahanya.
" Kata Rasul...Ingat lima perkara sebelum datang lima perkara Kek. Sekarang Citrakan masih sehat, muda, lapang, hidup, walau belum kaya sih,He....He...Kekehnya.
Tapi kita tak boleh sia- siakan usia muda hanya dengan bermanja- manja dan bermalas- malasan.
Selagi masih ada kesempatan dan kesehatan, kerja
apapun yang penting halal dan menguntungkan.
Hajar terus! " begitu Citra mengkampanyekan prinsip hidupnya pada Haji Roeslan, pria Blasteran Minang Belanda itu hanya bisa tutup mulut, kalau bibir ajaib milik Citra mengeluarkan argumentasinya.
" Dasar anak gadis yang terlahir dari keturunan jaminbel. " kata sang kakek sebelum memutuskan benar- benar mengalah dari cucu semata wayangnya.
" Apa itu kek? " tanya Citra kepo.
" Pijitin dulu kepala kakek baru dijawab." kata Haji Roeslan sang kakek memberi persyaratan.
" Jawabnya dulu, baru pijitnya. kalau ngak jawab digelitikin telapak kakinya sampai pingsan.
Awas ya. ngak jawab jejadian ber reaksi. Hi...hi...
hi...." ia mulai memasang kuda- kuda untuk menangkap telapak kaki sang kakek.
" Kau licik, beraninya sama kakek saat kakek sedang bergolek lemah seperti ini, coba kalau sedang latihan dulu, Citra selalu, sampai muntah- muntah karna tak bisa mengalahkan kakek.
" Tentulah...kakek masih ingatkan pesan lima perkara, sekarang Citra dalam masa jayanya. " katanya tersenyum puas seraya mulai melakukan aksi kejadiannya.
Stop...! Stop..kakek ngalah. " kata Haji Roeslan.
" Jadi apa Jaminbel?" tanyanya lagi.
" Katanya bintang kampus, eh, istilah itu saja tak tahu. " kata sang kakek kembali menantangnya.
" Jawa Minang Belanda? " tebak Citra kemudian.
" Masih ada kurangnya, Gadis Jawa Minang Belanda yang diotaknya selalu ada embel- embel. " kata sikakek tak mau kalah dari cucu perempuannya yang tak pernah menunjukkan sikap soft dan feminimnya itu.
" Itu namanya kakek buat istilah suka- suka. Dijamin istilahnya ngak bakal Viral. " kata Citra.
" Ngak penting- penting amat Viral kali ya, yang penting bisa ngalahin Citra udah, yang lain biarkan ia lewat, kayak iklan. Silahkan lewat! " kata sikakek lagi. Ya udah...Citra mengalah bukan berarti kalah, sini dipijitin. " katanya seraya mulai memijit kepala, tangan dan punggung, satu- satunya orang tua yang tersisa dalam hidupnya.
Bayangan tentang masa dikotanya, bersama sang kakek, kembali berputar- putar dibenak Citra.
" Dulu sama kakek sendiri Citra tak mau kalah. Ini, untuk melanjutkan hidupnya yang sebatang kara, ia
mesti mengalah pada kenyataan dirinya sekarang.
Bahwa dia tak bisa tampil macho lagi, harus jadi perempuan elegan untuk melanjutkan hidupnya.
Bahkan pada sahabat yang sudah menghianatinya ia juga mengalah, dengan memaafkannya dan membiarkannya tetap hidup dan mengikuti langkahnya.
" Aku sudah banyak berubah kek, bahkan diriku sudah tak suci lagi. Akankah aku bisa memaafkan orang yang merenggut kesucianku, seperti aku memaafkan penyebabnya? Lama- lama aku merasa semakin tak mengenal diriku yang dulu kek. " gumam Citra sembari tak kuasa menahan tangis yang tiba- tiba tak kuasa ia bendung.
" Tu kan...aku juga makin cengeng. " fikirnya. Kemudian tak sengaja melihat kalender duduk yang segaja tersedia diruang kerjanya. Ia membuka
lembar- demi lembar, sampai bulan saat itu. Ia terbelalak, tatkala ia tersadar, kalau ia sudah telat 10 hari dari jadwal tamu rutin yang tak bisa ia tolak kedatangannya selama ini.
" Astagfirullah...Citra menepuk jidatnya, dadanya mulai berdegup tak menentu, keringat dingin mulai merembes dari pori- pori kulit tubuh dan wajahnya, tatkala bayangan malam panas itu kembali mengusik momory nya.
Ah....Tidak!...Tidak!...Ini terlalu mudah. Ngak mungkin, mungkin ini terlambat hanya akibat beban stres yang kurasakan akhir- akhir ini. Lagian aku tak merasakan perubahan apa- apa. Kata orang hamil muda ada morning siknesnya. Tapi aku merasa okay- okay aja.
" Tenang Citra...Ini ngak mungkin." Kata batinnya Citra membujuk diri sendiri yang sebenarnya batinnya sendiri tak percaya diri.
" Hey cantik...Ngapain dibiarkan wajahmu keringatan gitu? Kan ada AC, ngapain dimatiin. " tiba- tiba Adelia sekretaris pimpinan menerobos masuk keruangannya.
" Adel...Kebiasaan sih, masuk diam-diam. Citrakan jadi terkejut. " kata Citra menutupi kegugupannya.
" Tak apalah, maafkanlah, kan Adel pengen ngajak Citra makan siang bareng. Taunya sicantik malah lagi bingung mandangin kalender, pas aku intip, jadi kepengen kasih kejutan. Eh nyatanya berhasil, orangnya hampir shok, kepergok lagi ngitungin hari.
" Ada apa sih say sampai segitunya natapin tuh kalender? " tanya Adel penasaran.
" Ngak ada pa- apa Del, cuma memikirkan target. " jawab Citra sekenanya.
" Hey nona cantik! jangan dikira hamba udah pikun ya, kan baru kemarin bos muji- muji Lo, soal produk kita yang laku keras sejak ada lho yang mengurus bagia
n marketing. " Kata Adel mengingatkan Citra.
" Itu sih bulan kemarin Del, aku lagi mikirin bulan berikutnya. " kata Citra lagi.
" Sampai keringatan gitu? " tanya Adel menatap Citra dalam- dalam. Citra terdiam dan tertunduk saat mendapat tatapan penuh selidik dari sahabat barunya itu.
" Sudahlah Cit, aku tahu kita baru sebulan ini berkenalan, karna kita setempat kerja. Tapi begitu melihatmu aku merasa nyaman dan percaya menjadikanmu sahabatku. Aku berharap Citra juga sama.
Ayo kita makan, kapanpun Citra siap cerita sama Adel, Adel akan bersedia jadi teman curhat sekalian bahu Adel walaupun lebih mungil dari Citra, boleh juga Citra jadikan tempat bersandar.
Aku bukanlah orang yang gampang membuka diri untuk setiap orang Citra. Tapi begitu Rafdo suamimu cerita kalau kalian sedang ada masalah,
aku turut prihatin. Pasangan semuda kalian sudah ada masalah. Sampai - sampai aku malas ngedekatin sibos, takut Cintaku ini nantinya setelah berhasil, lalu bermasalah pula kayak kalian.
" kata Adelia panjang lebar.
" Emang Rafdo cerita begitu? " tanya Citra heran dengan apa rencana Rafdo dibalik pengakuannya kepada Adel kalau Citra adalah istrinya yang sedang bermasalah dengannya.
" Ia, ia bahkan memintaku untuk menjagamu, mengingatkan makan dan minummu." jawab Adel apa adanya.
Citra menghembuskan nafasnya yang berat.
" Sehabis dari kantin antarin aku kebidan ya Del. " pinta Citra ketika mereka makan siang.
" Kan ia dugaanku benar, kau dan Rafdo akan segera dapat momongan. Jadi baikan sama baikan nih, kalau positif. " Kata Adelia dengan mata berbinar- binar.
" Ngak Del..." kalau positif, aku berniat tidak akan mempertahankan anak ini. " kata Citra seraya memegang perutnya.
Entah mengapa Adelpun mengikutinya.
" Jangan Citra,! anak adalah anugrah, walau kau benci dan tak ingin baikan dengan ayahnya, aku mohon jangan kau balas dendam pada anakmu.
" nasehat Adel seraya menatap Citra dengan tatapan memohon.
" Bisa temaninkan? " tanya Citra gerah.
" Pasti dong kalau buat Citra, asal Citra mau jadi ibu Sholehah,menjaga anak ini dengan baik, toh kalau nanti ia lahir, Citra tetap tak mencintainya kasih aja sama Adel, biar Adel jadiin saudara, mamanya Adelkan kepengen sekali punya anak lelaki.
" Apa Adel yakin anakku laki- laki? " tanya Citra.
" Terserah Tuhan mau kasih apa, yang penting Citra
harus jaga! " Jawab Adel seraya menarik tangan Citra menuju parkiran motor miliknya.
" Ayo sayang...Hati- hati, pegangan yang kencang." dipinggang pragawati cantik ini. " katanya lebay sebelum menstarter Motor Beatnya.
Bersambung...jangan lupa baca terus kelanjutannya. Kasih dukungan yangbanyak dari tangan pembaca yang manis...