
Tidur dalam pelukan Stefi benar- benar membuat Citra nyaman. Bahkan saat tidur saja ia nampak seperti tersenyum.
" Dasar perempuan hamil suka yang aneh- aneh ya. Apasih enaknya tidur dipeluk sama orang seperti itu. Dalam sejarah hidupku baru kali ini aku melihat perempuan hamil ngidam sejelek Citra. Orang ngidamnya makanan, jalan- jalan, atau apa kek. Ini ngidamnya tidur bareng banci. Apa- apaan sih. Mudah- mudahan nanti aku kalau nikah dan hamil, jangan kayak gitu deh. Amit - amit. Gerutu Adelia, ketika menatap Citra yang tertidur pulas dalam pelukan si Stefi.
" Tapi apa mungkin Stefi adalah sebuah penyamaran ya. Mengapa begitu dekat ikatan batin
antara Baby-nya Citra dengan lelaki setengah wanita itu. Apa Stefi adalah ayah bayinya Citra ya. " tanya hati Adel penasaran.
Ia tak dapat tidur lelap disofa itu. Sedangkan mereka enak- enakan mendengkur sambil mepet- mepetan. Rasa penasaran bercampur iri menyelimuti hati Adelia, yang memaksanya untuk bangkit dari pembaringan dan segera memeriksa dua insan yang sedang dimabuk tidur itu.
Adelia menyentuh kepala Stefi, kemudian perlahan menyibak rambutnya yang sebahu. Ketika ia sadar rambut itu tidak menempel di kulit, ia menariknya pelan agar tak membangunkan yang punya kepala, dan juga Citra yang mepet dibahu Stefi. Tatkala wig itu berhasil tercopot, mata Adel terbelalak.
Tapi malang bagi Adel, yang punya kepala ternyata terbangun dengan mudah.
" Apa yang kau lakukan dengan Wigku? Ayo kembalikan. " kata pria itu dengan suara lirih.
" Jadi kau benar laki- laki ! kau ayahnya boy?" teriak Citra kaget.
" Suut...suut...Jangan brisik. " bisik Rendra meletakkan jarinya dimulut.
" Aku akan memberimu uang yang banyak, ayo keluar kita bicara, nanti ia terbangun. " bisik Rendra bangun melepas pelukannya dengan lembut, agar tak membangunkan Citra. Kemudian ia bangkit dan menarik tangan Adelia kasar, membawa Adelia keluar dari kamar itu.
" Syukurlah pintunya tak tertutup, jadi tak ada kegaduhan baru yang bisa membangunkannya. " kata batin Rendra sembari mengelus dada dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih menarik tangan Adel, takut Adel merusak rencananya.
" Aku mohon jaga rahasiaku sampai babyku lahir dan aku sudah menikahinya. " kata Rendra dengan tatapan memohon saat mereka merasa sudah berada diposisi yang aman.
" Jelaskan dulu padaku mengapa kau sampai menyamar seperti ini. " Tanya Adel.
" Berapapun kau minta uang akan kuberi, asal kau tutup mulut. " Kata Rendra lagi.
" Hey tuan! aku memang butuh uang, siapapun pasti mau uang. Tapi aku takkan menjual sahabatku hanya untuk uang. Sekarang aku hanya minta penjelasan padamu, aku hanya takut kau punya niat buruk pada sahabatku. " kata Adelia.
" Tidak ada niat buruk seperti yang kau tuduhkan. Aku adalah cucu Kakek Kims. Aku adalah lelaki yang telah menodai Citra sehingga ia sekarang mengandung. Tapi dari ceritamu pada Asistenku, sampai hari ini Citra belum bisa memaafkan ayah dari calon baby-nya.
" Karna Citra butuh tukang Urut, Jadi untuk bisa bersama dengan ibu dan calon babymu kau rela menyamar jadi perempuan jejadian kayak gini. " Tebak Adelia kemudian tertawa terpingkal-pingkal, hingga ia tak sadar tawanya terlalu keras yang membuat Citra terbangun dari tidurnya, suara tawa Adelia terdengar jelas, karna pintu yang terbuka.
" Stefi!....Adel kalian dimana? Teriak Citra yang membuat Adel terkejut kemudian kontan menghentikan tawanya.
" Ni pake wignya lagi, buruan kekamar, ntar ia sembarang berlari mencarimu, aku takut ia jatuh. " kata Adel seraya menyerahkan Wig yang sedari tadi diselipkan dibajunya , pada Rendra. Kalaulah tidak darurat, Rendra enggan memakai bekas tempelan kulit perempuan itu. Tapi apa boleh buat, benda itu masih berguna baginya.
Rendra memasangkan wignya dan segera menemui Citra. Setelah dekat, ia mulai lagi dengan langkah gemulainya.
" Kemana aja sih? Kok ada tadi kayak suara tawa Adel. " tanya Citra begitu Rendra sudah duduk disisi tempat tidur. Entahlah... Aku juga heran say...makanya aku keluar. Mungkin ia mimpi kali ya. " jawab Rendra asal.
" Emang ia tidur dimana? Tanya Citra lagi.
" Dikamar lain kali say...kan disini ada kita. " kata Rendra.
" Iya ya...A...Aduh..
Stefi...perutku sakit pinggangku juga. Mules pengen pup kayaknya. Antarin aku kekamar mandi ya. " kata Citra tiba- tiba tubuhnya mulai keringatan,
dan wajahnya menegang.
" Aduh sayang...sudah pukul 04 jelang subuh. Ini bukan pertanda mau pup. Mungkin saatnya say akan lahiran. Walau baru delapan bulan seminggu, tapi kata dokter itu biasa, usia kandungannya sudah tua kalau lebih dari delapan. Dihapus Rendra keringat Citra dengan tangannya, kemudian diusapnya perut Citra.
" Kayaknya ia say...Say akan segera lahiran " kata Rendra, ia berusaha untuk tenang walau ia takut dan panik, ia takut kalau ia tegang dan panik, nanti Citranya juga tegang. Ia tak ingin mereka kenapa- kenapa.
" Rileks, tarik nafas, dalam lima menit tim dokter yang sudah disiapkan kakek buat standby akan segera tiba. " kata Rendra seraya menyentuh layar ponselnya untuk menghubungi no sang dokter Obygen
Benar saja, belum sampai menit kelima, Dokter, perawat, bidan sudah sampai dikamar Citra, bertepatan saat Citra dan Rendra baru keluar dari kamar mandi, Rendra yang jadi Stefi, menggendong Citra yang memaksanya tetap mau kekamar mandi, yang katanya mau BAB itu. Ternyata sesampai dikamar mandi bukan pup yang keluar, tapi air ketuban yang pecah.
" Cepat dokter! ketubannya sudah pecah. " teriak Rendra. Kali ini keluarlah suara aslinya. Citra mulanya tercengang, karna sepertinya ia pernah mendengar suara itu. Tapi karna menahan sakit, ia tak sempat berfikir.
Begitu sampai ditempat tidur, dokter ingin segera memeriksa.
" Stop! pak dokter, aku ngak mau tubuhku dijamah- jamah oleh lelaki, biar Bu bidan saja yang memeriksa." kata Citra.
periksa. " kata Rendra setuju permintaan Citra, apalagi dokternya muda dan tampan, Rendra tak mau citranya disentuh oleh pria itu.
Mr Kims dan Adelia menggaruki kepala mereka yang tidak gatal melihat tingkah dari sepasang manusia aneh itu.
" Kamu Ren, eh Stefi, bisa- bisanya setuju dengan Citra. Tak peduli siapa yang menangani yang penting ibu dan bayinya selamat! " teriak tuan Kims
yang membuat tim medis segera melaksanakan tugas mereka.
" Pembukaannya sudah lengkap, baby-nya pintar cari jalan. Adik Rileks, tarik nafas dan turuti dorongan dari baby yang kayaknya sesak pub itu. Itu dorongan dari baby yang pengen keluar." kata bidan itu. Ia sekarang jadi berkedudukan lebih tinggi dari dokternya, karna permintaan yang punya
badan.
" Bisa tinggalkan kami saja? " pinta bidan pada Rendra. Yang membuat Adel dan tuan Kims keluar dari kamar Citra.
" Jangan pergi. " Kata Citra menarik tangan Stefi.
" Biarkan aku disini, aku mau mendampingi Citra melahirkan." kata Rendra seraya mengedipkan sebelah matanya.
" Iya Bu bidan, kami sama, aku ingin ia memegangi ku saat ngedan. " kata Citra dengan tatapan memohon.
" Baiklah...kalau bagimu tak masalah, yang penting harus santai dan enjoy ya. Rasa sakit ini akan segera terbayar, begitu suara babymu terdengar, apalagi melihat matanya. " kata Bu bidan memberi support.
" Iya Bu...Pak dokter bisa keluar kan? Maaf🙏
bukan maksud apa- apa, Citra cuma ingin dibantu sama bidan dan perawat saja. " kata Citra.
Kemudian Rendra berbisik ditelinga sang dokter, dokter yang tadi tersinggung, manggut- manggut, ia segera keluar bergabung dengan tuan Kims dan yang lain.
" Dasar aneh ni Sibumil, dilihatin dokter ngak mau, ditongkrongi bencong mau. " kata hati perawat wanita yang mendampingi Bu Bidan Susi.
Bidan dan perawat wanita menyiapkan popok untuk alas. Kemudian mengarahkan Citra untuk segera mengedan. Citra menarik paha Rendra setiap kali ia kesakitan.
" Ini adil sayang...biar Dady ikut menahan sakit juga kayak momy. " kata batin Rendra sembari meringis sakit karna Citra kerap kepencet benda Ajaibnya.
Syukurlah hanya tiga kali Edan, suara Sikecil menggema, memecah kesunyian subuh itu.
" Baby Boy yang tampan! Wah kau pintar dan pandai cari jalan ya sayang...Untuk ukuran anak pertama sebesar ini, lahir dengan normal dan mudah. This is Amaizing! Sweet! Hansome...You Remarkable." kata Bu bidan takjub, matanya berbinar senang saat membersihkan baby boy dan momynya. Ini kali pertama ia tak begitu susah menolong kelahiran anak pertama.
Selamat Momy! " kata Bu bidan.
" Makasih..." kata Rendra dengan tatapan bahagia, digenggamnya erat tangan Citra. Citrapun membalasnya, kemudian mereka sama- sama tersenyum menatap baby mereka yang sangat tampan.
Citra tak sadar kalau ia sangat nyaman dengan genggaman tangan ayah dari sibaby, yang ia tahu itu Stefi, ia sangat senang menatap bola mata sikecil. Apalagi boy tersenyum lucu pada mereka.
Benar kata bu bidan dan Adel, terbayar
sudah rasa sakit itu, dengan kebahagian yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Untunglah ada Adel yang menyelamatkan putraku dari aborsi. " kenang batinnya dibalut sesal.
Setitik bulir bening keluar dari sudut matanya.
Baby boy sekarang sudah bersih dan berpakaian lengkap,menambah kesempurnaan ketampanannya.
" Beberapa detik kemudian suasana dikamar itu menjadi ramai, gelak tawa bahagia Seisi istana itu menggema, menyambut kelahiran sang pangeran.
Mr Kims berkali- kali mengucap syukur pada Tuhan. Doanya telah diijabah, cucu menantu dan cicitnya sehat dan selamat.
" Tinggal menyiapkan pernikahan mereka. Next mission." kata batinnya.
Bersambung...
Mampir ya.....Kasih dukungan yang banyak...
Jangan lupa nantikan part berikutnya. Sala cinta buat pembaca yang baik hati.