
Ramai orang mengantar Almarhum ketempat peristirahatan terakhirnya. Seakan melupakan pesan jaga jarak, orang ingin menyaksikan kakek
itu untuk yang terakhir. Mulai dari yang bermobil, berhonda sampai pada pejalan kaki.
Begitulah hidup, sebesar apapun rasa sayang pada seorang tokoh, paling hanya mengantar mereka kepintu kuburnya, setelah itu semua akan pergi.
Semua memang pergi, setelah pusara ditimbun, dan berdoa bersama.
Sekarang tinggallah Mereka berempat disana.
Citra masih saja berurai airmata, segala kenangan berputar- putar diruang mata. Mulai dari yang pahit sampai yang manis. Kalau bukan karna kepiawaian Almarhum dalam membuat skenario, belum tentu juga ia sudah bersama Rendra sekarang.
" Selamat beristirahat pahlawan kami." gumamnya disela tangis.
" Sudah sore sayang...Kayaknya hujan juga mau turun, sebaiknya kita pulang. " kata Rendra seraya menatap langit yang mulai gelap. Nampaknya istri dan putranya masih enggan meninggalkan pusara
sang kakek.
" Iya nak..Kakek kalian mungkin takkan suka melihat kalian sampai sakit, karna kehilangannya, ia bahkan sudah memperingatkan kita semua, bahwa waktunya telah tiba, jadi sudah sepatutnya kita mengikhlaskannya " kata Rinto sang Ayah, mengingatkan putrinya.
" Raisa mungkin lapar dan haus, ia butuh ASI, sudah dua jam kita tinggalkan dengan ibu" kata Rendra lagi, karna istrinya masih saja menangis
sembari berdoa.
Citra mengusap dadanya, merasakan sakit dan air susu yang mulai merembes, iapun berdiri sembari menggamit tangan Boy.
" Kita pulang ya sayang...Adik sudah haus. " kata Citra pada putranya.
Boy mengangguk. Lalu Rendra menggandeng Citra. Dan Sang ayah menggendong Boy.
" Boy mau jalan kek, Boy ngak mau punggung kakek nanti sakit, menahan berat badan cucu yang makin tumbuh." Protes Boy saat sudah diatas punggung Rinto.
" Hey anak muda! tenang saja diboncengannya. Apakah kau lupa kalau kakekmu ini seorang dokter yang sehat, semangat dan Olahragawan sejati, hingga jadi kuat. " kata Dokter Rinto yang membuat
ketiga orang tercintanya berhasil mengulas senyum walau hanya tipis sekali. Tapi lumayanlah
menjadi obat.
" Baiklah...Tapi awas ya kalau kakek nanti ngeluh, lalu mintak pijit sama Boy. " kata Boy kemudian.
" Sama sapa lagi kakek manja- manja kalau bukan sama cucu? Habis nenek sudah tak ada. " balas Rinto.
" Gimana kalau Boy lamarkan nenek Sumi sama kakek. " kata Boy mulai dengan ide nakalnya, sesampai mereka dimobil.
" Ngak Boy.. Kakek sudah dua kali menikah, dan semua mendului kakek. Capek ditinggal terus. Lagian nenek Suamimu kan sukanya sama Uo
Almarhum. Gimana kalau dijodohin sama Uo Carlos saja, biar ada yang ngurus uo Carlos.
" Boleh juga idenya kakek, nanti kalau uo Carlos, balik dari Amerika kesini. Bakal Boy kenalkan sama nenek Sumi. " kata Boy terlihat bersemangat. Sedang Rendra dan Citra hanya geleng- geleng kepala, mendengar obrolan mereka.
Tanpa terasa, mobil mereka sudah sampai didepan pagar rumah . Disana sudah ada Carlos yang segera menyambut mereka.
" Maaf Cucu- cucuku, kakek baru saja sampai, ngak sempat melihat jenazah. Kemarin pagi Almarhum menelfon kakek, minta kakek secepatnya balik ke Indonesia. Sepertinya Kims sudah tahu, kalau waktunya telah tiba. " Kenang Mr Carlos, kemudian ia memeluk Rendra dan Citra bergantian. Untuk menguatkan mereka.
Sedang kedua cucu itu hanya mengangguk, sembari menumpahkan tangis didekapan bule
lansia itu.
" Apa yang lebih tampan ngak ikutan dipeluk? " tanya Boy.
" Yang tampan pastilah dipeluk. Tapi tunggu antrian..." kata Carlos mencairkan suasana.
Boy menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Oke lah kalau begitu. " katanya kemudian.
" Karna yang tua sudah dapat, sekarang giliran yang muda dan tampan. Sini sayang..." kata Carlos
sembari berjongkok sambil mengembangkan tangannya yang panjang.
Boy langsung menyusup kedalam dekapan tangan panjang yang muat untuk tiga cicit sekali peluk itu.
Boy juga menumpahkan perasaan terdalamnya dalam dekapan Uo Carlos. Carlos lalu mengusap bulir yang mengalir dipipi bocah berwajah kebule- bulean itu.
" Hidup menunggu giliran sayang, ya kadang antriannya adil, kadang tidak. Ya terserah yang punya mau panggil yang mana duluan, diantara semua mahluknya. Sebagai manusia, kita hanya bisa sediakan bekal sebelum pulang.
Uo yakin...Tuan Kims sudah cukup bekal, jadi kita tinggal berdoa saja, semoga tempatnya layak disisi yang Kuasa. " kata Carlos sembari mengusap rambut halus Boy.
" Amin..." kata Boy...
" Gitu dong sayang...Kita pasrahkan ya..." kata Carlos lagi yang hanya dijawab anggukan oleh
Cicitnya. Kemudian Boy membantu Carlos menggunakan tongkatnya lagi, lalu mereka berjalan menuju rumah.
Rendra mewakafkan sebagian properti sang kakek yang dekat dan dibutuhkan untuk keperluan umum. Ia juga meningkatkan perhatian pada panti
Rendra memang sang pewaris sejati, mulai dari kekayaan konglomerat dari Timur, Hingga konglomerat dari barat, hanya punya satu- satunya Rendra sebagai pewaris tunggal. Namun sebesar apapun kekayaan yang ia punya, tak ada yang lebih berharga baginya ketimbang anak dan istrinya.
Ia bahkan lebih merasa kaya karna istri dan tiga anaknya, ketimbang hartanya.
Ia takkan berfikir akan rugi berbagi rezeki dengan yang membutuhkan. Untuk menjaga orang- orang tersayangnya, ia takkan segan- segan mengeluarkan banyak rupiah untuk pelayan, pengawal dan ahli Medis.
Apapun akan Rendra lakukan untuk membahagiakan mereka. Tapi mereka tetaplah orang- orang yang sederhana sebagaimana yang diajarkan oleh kakek dan Momynya.
Hari berganti, bulan, bulanpun berganti tahun, sekarang anak- anak sudah bersekolah. Tumbuh
dan berkembang menurut kemampuan yang Tuhan berikan, dengan kadar yang berbeda tentunya.
Kedua pasangan itu kian banyak
tantangan mendidik dan membesarkan ketiga buah cinta mereka.
" Wow...Rumahmu bagus sekali Chalis. " kata Zahra, teman Chalista. Ia menahan langkahnya,
ragu memasuki istana yang lengkap dengan penjaga yang stanbay dipos yang sangat apik, bak sebuah benteng itu.
" Ini bukan rumahku Zahra.. Ini milik Dadyku. Aku belum pandai berusaha dan belum bekerja, jadi darimana aku punya rumah, kau jangan segan- segan mampir, Momyku wanita yang ramah, ia juga penyayang. Katanya kekayaan tidak dilihat dari harta saja, tapi lebih nyata terlihat dari hati. " kata Chalis menarik temannya masuk.
Begitu sampai diruang tamu, mata Zahra tak berkedip, mengagumi setiap sudut rumah itu.
Ia sampai terjatuh karna celingak- celinguk.
" Saya norak ya? " katanya saat Calista membantunya berdiri.
" Ngak juga...Ini karna belum terbiasa, kalau kau sering ke sini, kau takkan memandang semua ini lagi, yang kau pandang pasti hanya orang- orang rumah ini saja. " kata Sicantik membanggakan keluarganya.
" Wow...banyak sekali piala itu. Siapa yang punya piala sepenuh lemari itu Ra? " tanya Zahra berhenti didepan lemari kaca besar dilantai dasar.
" Ini semua punya Abangku, ia baru saja tamat sekolah menengah pertama, ia mendapatkan semua ini dari banyak perusahaan dan lembaga yang telah dibantunya menyelesaikan masalah Saver perusahaan mereka Sebagian ia mendapatkannya dari sekolah. Dan ini hadiah lomba silat tingkat SD se Nasional. " Jelas Calista pada gadis yatim piatu teman Sekolah Dasarnya itu.
Zahra menatap kagum benda- benda itu.
Abangmu hebat ya Lis? Ia pasti selalu bahagia. " kata Zahra membayangkan Abang temannya itu seperti apa.
" Setiap orang punya masalah sayang...Sehebat manapun manusia, pasti ada masalah. Abangku juga, ia kadang suka buat gurunya kesal, karna kemampuannya dirasa berlebihan. Ia bahkan sering disuruh home Shool dan kesekolah saat ujian saja, abangku tak punya banyak teman nyata seperti aku." kata Calis .
" Trus teman abangmu hantu? " tanya Zahra yang membuat Calista cekikikan.
" Bukan manis!...Zaman sekarang mikir gituan. Ngak deh. Maksudku abangku lebih sering bergaul dengan orang dewasa ketimbang anak- anak sebayanya. Diusianya yang baru Empat belas ini,
ia sudah banyak menyelesaikan urusan bisnis Dady.
Ia lebih banyak bergelut dengan mesin ketimbang dengan teman sebaya. " Jelas Calis lagi.
" Ayo cepat, kita kedapur buat makan. Nanti biar kukenalkan pada kokiku yang ganteng- ganteng. " kata Calista berlagak centil.
" Ngak ah, aku ngak suka temanan sama orang dewasa, aku penasaran sama abangmu. " kata Zahra jujur.
" Ih neng...neng...masih kelas Empat sudah penasaran sama Abang orang. Makanya rajin kesini, biar dikenalin, tapi jangan salah- salah ya. Jangan punya niat jelek, abangku bisa baca fikiran orang lho. " kata Calis yang membuat Zahra melongo
" Udah...cepatan, tutup mulutmu, Abang ngak suka sama cewek yang suka melongo. Ia sukanya sama yang cantik, baik, dan lucu. " kata Chalis seraya menarik tangannya menuju ruang makan yang terasa sangat jauh bagi Zahra. Sampai ia ngos- ngosan baru nyampe.
" Abangku ngak suka sama cewek yang loyo. Makanya harus rajin olahraga. Biar fisiknya kuat. " katanya lagi.
." Susah juga kayaknya mau jadi kakak ipar kamu. " kata Zahra sembari menggaruk kepala dibalik kerudungnya yang tak gatal.
" Makanya masih kecil jangan mikirin Abang orang." Calista mencubit hidung mungil milik
Zahra. Mereka telah tiba didepan meja makan.
Calis dengan sigap memeriksa menu hari ini. Saat ia mengambil piring.
" Biar bibi saja yang ngambilin buat kali ini." kata Noni.
" Aku aja bi, sekalian melayani calon kakak ipar. " katanya yang membuat Bi Noni mengerutkan dahi.
Sedang Zahra tertunduk malu.
Bersambung...
Up lagi nih say...Jangan lupa ya...
Beri dukungan yang banyak, biar Mangat terus.
Masih dengan cara Yang sama.
Salam Kangen selalu buat pembaca Ter💓