
Dikamar istirahat jet pribadi, dalam perjalanan udara dari Bali ke Ibukota.
Sepasang suami istri duduk berdempetan sembari bersandar dikepala ranjang, setelah diam beberapa saat, perempuan cantik itu mulai membuka kerudungnya, agar suaminya dapat Memandang setiap sisi wajahnya
dengan bebas.
"Sebenarnya Mommy sakit apa sih yang? Tanya Bella pada Boy, setelah meletakkan kerudungnya disamping sebelah kiri.
" Mommy telat yang...dikira sudah monopouse, eh ternyata kita mau beradik lagi." Jawab Boy dengan berbisik.
" Benarkah ?? Kalau begitu, Mommy sekarang pasti lagi bingung gimana menanggapi keadaan sendiri.
Jadi kasihan sama mommy, ia merasa
malu juga kali yang." Bella menduga.
Boy mengangguk, menghirup oksigen lalu melepaskannya sedikit kasar.
" Itulah makanya kita pulang yang...Kalau Chalista sama Raisa ngak ngerti gimana mendukung mommy, setidaknya Bella yang dekat dari mommy bisa nenangin dan ngedukung mommy." Ucap Boy sembari memandang Bella dengan tatapan penuh harap.
Bella memegang tangan Boy erat,
sembari menatap nya dalam- dalam. Lalu berkata lagi." Percayakan ini padaku ...Bella ngerti perasaan mommy, Bella juga akan bicara dengan mommy baik- baik, tapi Ayang ngak ikut- ikutan malu kan? " tanya Bella kemudian.
" Kalau suamimu ini ngak ada malunya sih sayang sama Rahmad Allah, walau kadang datangnya tidak diwaktu yang tepat, yang penting orang- orang yang Boy sayangi sehat dan selamat. " Ucap Boy mantap.
" Iya lah...kenapa pula malu, itu rezeki yang... selama 17 tahun mommy Citra ngak KB setelah lahirin Raisa, ngak pernah telat haid, tiba - tiba sekarang berisi, apalagi kalau bukan Rizki." Ujar Bella.
"Mhem...sedekat itu hubungan mommy sama Bella sampe tahu mommy ngak KB segala. Boy tersenyum geli memikirkan kapan kedua orang terkasihnya ini bicara
sampai kemasalah begitu. Yang Boy tahu hubungan mertua sama menantu itu kalau difilm- film selalu ada kayak Gap yang memisahkan, bahkan kadang ada yang menegangkan. Baru Boy temui ada hubungan mertua menantu seperti ini.
" Mikirin apa sih? kok cengegesan gitu! " ujar Bella sembari memencet hidung mancung Boy.
" Eh...ngak ... ngak ngira aja sejauh itu kedekatan ayang sama mommy." Boy tersenyum lagi.
" Soal KB,maksudnya? " Tanya Bella.
Boy mengangguk.
" Kalau Itu aku tahu waktu mommy cerita soal anak sama mami, mommy nanya ngapa hanya Bella seorang. Lalu mereka
berbagi cerita, Bella ada disamping mereka, ya jadi tahu ceritanya, bukan yang lain- lain, kali ini fikiran ayang meleset! " Ujar Bella sembari menggelitik pipi Boy dengan telunjuknya.
" He...He...Iya deh...meleset. Tapi mudah- mudahan yang ini ngak meleset ya! Kalau
sampe meleset, Kao ( kalah ) total dong Akunya dari Daddy. He...He..." Kekeh Boy menertawakan kelana fikirannya.
Bella yang mengerti maksudnya langsung tersipu malu.
Boy mengecup gemas pipi merah jambu istrinya. Lalu membawa Bella kedekapannya.
" Ya sayang, soal yang tadi, Boy dan Daddy yakin pada Bella, makanya kita diminta pulang. Kalau sama Onty Adelia ngak mungkin direpotin lagi, ia baru saja kembali ke kotanya, ngak mungkin kita minta balik lagi, walau ia sendiri takkan keberatan melakukannya.
Kan mommy sudah punya Bella sekarang, bukankah begitu? " tanya Boy menguji istrinya.
" Iya sayang...Ketika Bella sedang galau dalam penantian, mommy yang sengaja datang untuk menenangkan Bella, meyakinkan Bella untuk meyakini kata hati. Kini mommy dalam masalah, mana mungkin Bella membiarkan mommy sendiri, tenggelam dalam berbagai perasaan. Itu takkan terjadi, percayalah..." Janji Bella sembari memainkan dagu suaminya yang mulai kasar karna rambut dagunya mulai menghitam kembali.
Boy menangkap tangan itu, lalu mengecupnya. " Thank you lovely...nampaknya Bella ngantuk lagi! Tidur yuk..." Ucapnya sembari membaringkan Bella dipangkuannya.
Bella memejamkan matanya dan terlelap dalam kenyamanan belaian lelaki pilihannya.
********
Sesampai diIstana keluarga Kims T, Setelah melepas lelah setengah jam.
Bella minta izin menemui mommy Citra pada Suaminya. Sampai didepan pintu ia berpapasan dengan Chalista yang menunduk, sepertinya sengaja menghindari tatapan Bella. Bella yang mengerti hanya diam, membiarkan adik ipar itu dalam perasaannya sendiri dulu.
Citra langsung duduk dari berbaringnya begitu mendengar Bella mengucap salam. Lalu dengan suara serak ia menjawabnya.
" Mommy kalau mau rebahan, rebahan aja mom...Bella tak apa. " Ujar Bella sembari merapikan bantal Citra dan membantunya berbaring lagi.Ketika ia sudah berada ditempat tidur sang mommy mertua.
Bella menatap Momy yang sudah berbaring lagi dengan patuhya. Kedua tangan Bellamulai berkarya memijiti tangan Mommy Citra.
" Mommy banyak menangis ya? Suara mommy terdengar serak. " tanya Bella lirih, kali ini ia memijit kening Citra. Air mata Citra kembali menetes.
" A...Apa Bella ngak malu bakal punya adik yang akan sama besar dengan anak kalian?" tanya Citra dengan suara serak yang bergetar.
Bella mengambil tangan Citra, dan mengecupnya. " Bella tidak malu mom,
dari dulu Bella pengen punya adik. Andai mami tidak sudah diangkat rahimnya,
Bella takkan segan terus meminta pada Allah agar dikasih adik lagi. Mungkin Apa yang Bella harapkan itu, mommy Citra yang diberi Tuhan kesempatan untuk mewujudkannya. Bukankah Bella orang yang paling beruntung dalam hal ini, selain suami tampan yang Bella dapatkan dari mommy, juga
adik sebagai bonusnya.
Bella menarik nafas lembut, lalu berkata lagi."Jangan menangis dan stres lagi mom...Ada Bella disini mendampingi mommy, ada Boy, Daddy Rendra yang sangat perhatian dan
Bella mohon jangan khawatir lagi ya... Doakan biar cucunya mommy juga jadi, biar sekalian rame teman bermainnya mommy dan Bella.
Bella mengusap pipi Citra, menatap lembut Mommy mertua tercintanya itu.
" Tapi Chalista tidak berbicara pada mommy la...Dia sepertinya sangat kecewa dengan mommy. " Curhat Citra.
" Biarkan seperti itu dulu mom...Biarkan ia dalam fikirannya sendiri, yang penting
ia tak boleh memarahi mommy. " Jelas
Bella.
" Ia tak memarahi mommy la...Tapi ia menatap mommy dengan sinis, seperti mommy seorang pendosa saja." ucap Citra lirih.
" Itu karna dia belum dewasa mom, nanti ia akan makin dewasa dan mengerti juga. Biarkan saja dulu.- Bella.
" Makasih sayang...Sudah mengerti dan mau menerima buah kecerobohan mommy. " Ucap Citra menatap Bella panuh kasih.
" Suut....Jangan sebut ini kecerobohan, katakan ini anugrah yang tak disangka -sangka, agar mommy bisa tersenyum bahagia.Ketika kita berada disamping lelaki yang setia mencintai dan menjaga kita, membimbing kita kejalan keridhoan Tuhan, maka tak ada rasa takut, malu ataupun sakit yang tidak bisa kita hadapi.
Allahpun akan menolong orang- orang yang melewati setiap cobaanya dengan syukur dan tidak sekali- kali menyalahkan
diri sendiri. Karna menyalahkan diri sendiri sama dengan menyalahkan Allah, karna apa yang terjadi adalah kehendak Allah. Mommy...maafkan Bella kebanyakan bicara dan sok dewasa, tapi bilamana Bella khilaf dan lupa, Bella selalu ingat dan akan selalu menuntut, mommy pula yang akan mengingatkan Bella." Ucap Bella panjang lebar sembari menggenggam erat tangan mertuanya.
" Bantu mommy duduk La...Mommy ingin memeluk putri mommy yang paling besar. " Ucap Citra kemudian.
Bella dengan senang hati membantu Citra duduk. Kemudian mereka berpelukan dengan penuh kasih sayang.
Tanpa mereka sadari sejak dari tadi Empat pasang mata mengintip mereka dari layar leptopnya.
" Hey anak muda! sejak kapan kau memasang Camera pengintai dikamar tidur kami? " tanya sang Ayah.
" Tenanglah tuan Takur, ini baru kupasang
barusan, begitu baru nyampai . Ketika istriku buru- buru kekamar mandi, aku memeriksa Mommyku dulu. Keberatan?
" Keberatanlah kalau pasangnya sudah lama. " Jawab Rendra jujur.
" Benar ! Barusan kupasang kameranya Daddy... hanya ingin tahu bagaimana orang- orang
bersikap pada ibuku saat seperti ini. " Boy tersenyum pada Rendra.
" Sekarang kau puas ternyata dirimu punya perempuan yang istimewa.
" Tepat ! Perempuan istimewa untuk yang
teristimewa dalam hidupku.
" Mommy!!! Jawab Rendra sembari tersenyum. Namun detik berikutnya senyumnya menghilang berganti dengan bibir yang dijeding-jedingkan.
" Jadi Daddy bagaimana dihatimu? " Tanyanya cemberut.
" He...He...ternyata Daddy cemburu ya?
Ih...lucunya wajah cemberut, Calon kakek yang nyelip ditikungan. He...He.." Kikik Boy menggoda Rendra.
Membuat Mr Posesive makin cemberut.
" Jangan khawatir Daddy...Kau juga istimewa bagiku, walau dari dulu hanya bisa buat Mommyku susah. Aku salut padamu, sampai seusia inipun Boy mu masih kalah darimu. Selamat jadi ayah lagi sebelum jadi kakek! He...He..." Ucap Boy sebelum terkikik lagi.
" Dasar Anak nakal! Tak bosannya kau membully Daddy sendiri! " Seru Rendra sembari menggelitiki pinggang putranya.
" Siapa yang lebih nakal He!...Boy balas menyerang Daddynya.
" He...He....Nakal sama milik pribadi kurasa tak ada dosanya. " bisik Rendra
setelah menghabiskan tawanya, Kemudian anak dan Ayah itu saling berpelukan. " Maafkan Daddy ya nak, ini sungguh diluar rencana." Ucapnya lirih.
Boy menjawabnya dengan mengeratkan pelukannya.
Pelukan mereka mengendor tatkala iPhone Boy bergetar disakunya.
Boy mengeluarkan iPhonenya dan memeriksa.
" Hum....ternyata orang ini pengganggu kecilnya. " Boy manggut-manggut menatap Vidio yang dikirim seseorang yang sudah ia utus diBali.
" Siapa Boy? Tanya Rendra.
" Hanya penggemar rahasia bidadari dibalik cadar." Jawab Boy puitis. Tak peduli dengan tatapan kepo sang Daddy.
" Urus mommyku baik- baik, awas sampe membuatnya sedih. Boy mau cabut Ya Daddy...Ingin menelfon sebentar untuk membereskan masalahku. Jangan bermenung disini, dikamar mommy sendirian. Simpan Cameranya, Itu kutarok dimeja rias, Kutempel dikotak Make up mommy, kalau merasa tak ingin kuintipi aktifitas pribadinya. " Ucap Boy sembari matikan leptopnya, kemudian bermaksud meninggalkan ruang baca.
" Baiklah...Daddy saja yang duluan pergi, kan sudah diusir juga. Terima kasih sudah menjadi anak nakal yang paling baik." Ucap Rendra kemudian melangkah menuju pintu. Ia teringat Citra belum makan, maka Rendra mempercepat langkahnya.
Bersambung....