
Jauh dari suami, membuat ibu tiga anak itu kurang semangat. Walaupun jarak bukan masalah dizaman Now. Menyentuh wajah dibalik layar tak seindah menyentuhnya didepan pipi. Citra benci sekali telfon dengan Vidio, kalau Ia sedang dilanda rindu.
" Ada apa Dady? tanya Boy tatkala menemukan wajah Dadynya mengerut menjelang istirahat mereka malam ini.
" Momy tak menjawab VC Dady, padahal Dady kan cuma ingin ngucapin Have A nice Sleep saja sambil menatap wajah Momy menjelang tidur. " Curhat Rendra bak remaja yang lagi galau diputusin pacar, matanya menerawang menatap langit- langit kamar rumah duka, Almarhum Joni.
Korban reruntuhan yang akhirnya lewat setelah tiga hari dirumah sakit. Itulah sebabnya Ayah dan anak ini terpaksa menunda kepulangannya. Tapi sengaja Rendra tak menceritakan yang ini, takut
istrinya kepikiran.
Boy cekikikan melihat tingkah Ayahnya, tapi mengingat itu rumah duka, ia menutup mulutnya
agar kekehannya tak kentara. Setelah reda dari tawanya iapun menatap Dadynya dengan kagum." Syukur- syukur...Walau berumur, Cinta mereka masih subur. " Batin remaja itu mengucap
memuji Kedua Idola nya.
" Sudahlah Dad...Tak usah Baper kali, toh besok kita sudah bisa balik. Kayak ngak tahu Momy aja, bukankah dari dulu, Momy paling ngak suka wajah dibalik layar, paling kalau diangkat juga untuk pertengkaran kecil. Momy kan kalau kangennya sudah segunung, ia paling benci lihat boleh pegang
tak bisa. " kata Boy menenangkan Ayahnya.
" Kok tahu? Boy sering ngintip ya ? Dasar anak Dady nakal! " kata Rendra menggelitik pinggang Boy. Boy menutup lagi mulutnya, untuk menahan suara tawanya.
" Udah Dong Dad...Boy tak tahan digelitik, ini kamar
ngak Kedap suara, kayak kamar hotel dan rumah kita. " kata Boy mengingatkan.
Rendrapun menghentikan aksinya. " Lelaki yang penggeli berarti sayang istri! " Bisiknya pada putranya.
" Sekarang Dadynya yang nakal! masak sama anak yang masih muda belia begini sudah membicarakan soal istri. Dady sama Centilnya dengan Calis. " kata Boy memasang wajah pura- pura garang.
" Emang sitengah ngapa? Tanya Rendra penasaran.
" Bisa- bisanya ia berkali- kali bawa teman yang ileran buat dijodohin sama abangnya yang macho ini. " kata Boy mulai naik tingkat kenarsisannya.
" O...Itu tuh gunanya teman ceweknya didandani kayak ondel- ondel, buat narik hati abangnya? " tanya Rendra menatap Boy dengan senyum menggoda.
" Iya, dia fikir abangnya ini punya selera level begitu. " Kata Boy kemudian.
" Iya mungkin khawatir, karna Boy jarang bawa teman sebaya. Yang dibawa kerumah paling Investor, CEO, Eksekutif yang sudah jenggotan,
makanya ia coba dekatin Boy dengan teman sebayanya. " kata Rendra mencoba menebak teka- teki putri tengahnya.
" Iya mungkin ya Dady... Makanya Boy diam saja, walau sebenarnya Boy anti sekali dengan caranya itu. Boy terpaksa manis- manis dikit, agar Sicantik Calista ngak merasa kecil hati, apalagi sampai ngambek menahun.
" Sedang waktu Boy menolak menghadiri pesta ulang tahun temannya tahun lalu, Dady kan tahu gimana lamanya bibirnya dimonyong -monyongin tiap berhadapan dengan Boy. Baru setelah diceramahi kakek setengah hari, saat lebaran, baru ia mau baikan sama Boy. " Kenang Boy sembari tersenyum mengenang tingkah sitengah.
" Iya ya...Segitunya ia perhatian pada Abang..Tapi abangnya tenang saja, kayaknya Abang mewarisi Dady deh. " Kata Rendra.
" Tentulah... kan anak Dady !" jawab Boy singkat.
" Maksudnya soal perempuan. Tapi benar lho yang Dady katakan tadi, orang penggeli sayang istri. Nanti kalau suatu hari Boy jatuh hati, hati Boy akan terikat terus dengan perempuan itu saja, Boy akan menyayanginya selamanya. Sebelum menemukannya, Boy takkan melirik perempuan manapun, secantik apapun. " kata Rendra mengenang dirinya, sebelum bertemu dengan Momynya Boy. Tanpa terasa ia kembali tersenyum,
baper karna Rindu telfon terblokir berganti dengan
" Have A Nice sleep Dady...Ayo cepat tidur, nanti telat bangun, telat terbang, telat nyampe. Ntar pacarnya Dady ngambek lagi, yang rugi siape? " Boy tersenyum puas setelah menggoda Dadynya.
Kemudian ia memasangkan selimutnya, lalu bergelung disampingnya.
Sementara disisi lain, Citra mengusap kepala kedua putrinya sambil menatap langit - langit kamar. Dua bidadari kecil itu sudah terlelap, tapi ia terus mengelus rambut halus mereka, sebenarnya ia mencoba menenangkan hatinya, dengan mempermainkan rambut dua bagian dirinya yang sudah terlelap dengan posisi mengapitnya ditempat tidur Calista.
" Biarkan saja, aku malas mengangkat telfonnya. Janji tiga hari hampir seminggu. Tak pula menyampaikan alasannya." Gerutunya dimalam yang hampir larut itu. Sebenarnya Citra bisa menanyakan pada putranya, tapi ia tidak melakukannya, khawatir anak dan Ayah itu makin sengaja mengerjainya, karna tahu Momynya sangat menunggu dengan gelisah. Ia tak mau kalah dengan dua pria yang makin kompak saja setiap urusan.
Pukul sebelas Siang, Rendra dan Boy mendarat di Bandara pribadi peninggalan sang kakek. Hening tak ada penyambutan, kecuali oleh para pelayan.
" Nona dan anak- anak dimana Pak ? " tanyanya pada Joko, yang sekarang jadi kepala pelayan dirumah ini.
" Dikamar, habis latihan, sarapan, trus masuk kamar. Kalau sudah disana kan bapak tak akan ada hak untuk tahu lagi. " Jelas Joko kemudian mengarahkan yang lain untuk membawa bawaan bosnya.
Boy memandang Dady sambil mengangkat bahu.
Kemudian mereka berjalan menuju gerbang Utama.
" Kayaknya ada Betel Tiga lawan dua nih, nampaknya para wanita sedang membangun pasukan ngambeknya." Gumam Rendra ketika mereka sudah sampai dipintu masuk.
" Bersip- siap saja Jendral menghadapi serangan, paling prajurit cuma bisa bantu- bantu. " kata Boy sembari memasang senyum termanisnya, walau sedikit risau Rendra juga tersenyum.
Menghadapi para wanita itu kepiawaian Dady. Kalau Boy sih mau fokus sama peluncuran produk komunikasi kita yang terbaru. " Minggu depan akan louncing, semuanya harus perfekt. " kata Boy sepertinya mengundurkan diri dari prajurit betle.
" Nih anak baru tiba bukannya mikirin Momy sama adik yang ngak nyambut, tapi malah mikirin produknya.
" Ya udah Mr. perpeks, lanjutkan perjuanganmu, kau tak asyik! biarkan bosmu berjuang sendiri, kan kubiarkan pula kau berfikir sendiri untuk louncing product mu itu. "kata Rendra berpura - pura marah pada putranya.
Lalu mereka berdua tertawa bersamaan, membuat seorang yang mengintip kedatangan Boy dan Dady dengan wajah cerah tanpa beban , apalagi tanda baper menahan Rindu merasa makin tak karuan.
" Senangnya kalian tanpa memberi alasan mengapa terlambat pulang, kami yang resah, kalianya sumringah. " Gerutu batin perempuan itu.
Ketika Boy berpapasan dengan Calista dan Raisa yang sedang berlari- lari kecil menuju kamar Momynya, Boy menahan langkah kedua adiknya.
" Jangan ganggu mereka, Ayo main ketempat Abang, Abang akan menunjukkan sesuatu, oleh- oleh buat kedua adik cantikku. " Rayu Boy pada kedua adiknya.
" Emang kenapa bang sama mom dan Dady? Bisik Raisa pada abangnya.
" Kayaknya bakal ada perang dunia ketiga. Itu urusan mereka, kita tak usah ikut campur. Ogah melihat orang marahan. Yuk kekamar Abang! " ajak Boy seraya menggandeng kedua adiknya.
Bersambung...
Hallo say...Kangen nih...Rasanya pengen meledak- ledak kayak Momy.
Jangan pada lupa mampir ya, terus dukungan seperti biasa. Kasih Like, fote, tinggalkan oleh- oleh, sama faforitkan bagi yang belum.Jangan tinggalkan aku...Jadi ngak semangat nih ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Tanpamu semua.
Salam Kangen bangeeeeet...... dari penulis.