
Boy sangat sibuk hari ini. Pagi- pagi sekali , ia sudah siap dengan seragam lengkap Sekolah Menengah Pertama.
Hari ini, ia akan melaksanakan PTS disekolah. Seperti biasa, khusus ujian, Boy akan dipanggil kesekolah untuk melaksanakan ujian langsung.
Untuk belajar sehari- hari, gurunya lebih senang Boy belajar online saja. Baru-baru ini Boy berhasil menciptakan
dan mempresentasikan
Aflikasi belajar online untuk anak Dekolah Dasar, SMU dan SMA.
Bagaimana gurunya tidak kewalahan, saat gurunya masih memperlancar kemampuan IT nya, siswanya malah sudah pandai membuat Aflikasi sendiri. Bukannya tak suka dengan anak setampan dan segenius Boy.
Akan tetapi, gurunya sering
pusing menghadapi kemampuan Boy yang lebih, itupun sifat keingintahuan Boy
yang sangat tinggi sering membuat gurunya salting menjawab pertanyaannya. Sebenarnya, selain genius, Boy merupakan anak yang sopan dan hati- hati dalam berbicara, Namun tetap saja gurunya segan kalau terus kalah dengan Boy.
" Boy bolehlah belajar dirumah saja. bebas bekerja dan berkarya, tapi tiap ujian ibu akan memanggil Boy. " kata Eva sang wali kelas pada Boy. Jadilah Boy satu- satunya siswa yang terjarang masuk sekolah.
Bhalendra Boy Chen menyelesaikan ujian Agama, Bahasa dan Matematika, masing-
masing hanya dalam 10 menit.
Saat diperiksa oleh guru bidang studinya, mereka segera saling memperlihatkan hasilnya.
" Ya Tuhan..ini bukan siswa kita, ini murid Momy dan Dadynya. " Kata Eva sang wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesianya, ketika guru Agama dan matematika,mendatanginya memamerkan nilai Boy yang sempurna.
" Untung tidak semua anak seperti ini, kalau semua begini, kita pasti tak punya pekerjaan lagi. Lama-lama bakal dinonaktifkan " kata mereka hampir bersamaan, kemudian mereka
cekikikan bertiga.
" Besok Boy lanjutkan ujian berikutnya.
Kalau bukan untuk mengikuti prosedur, ibu lebih senang Boy kerjakan ujian berikutnya dirumah. Tapi ibu takut
memicu kecemburuan sosial lagi." jelas
Eva sang wali kelas.
" Tak apa Bu...besok Boy datang lagi, no problem, soalnya Momy sudah berangsur
pulih total. " kata Boy senang mengingat kesembuhan momynya.
" Titip salam buat Momynya Boy ya,.. ibu belum punya kesempatan membezuknya dirumah sakit. " kata Eva sang wali kelas sungkan.
" Tak apa Bu...Alhamdulillah sekarang Momy sudah dirumah. Sudah sembuh sih, tinggal menunggu proses kelanjutan pemulihan saja. " kata Boy.
" Syukurlah kalau begitu, Semangat dan terus berbakti! " kata Eva yang disambut
senyum manis remaja tampan itu.
Kemudian Boy pamit sebelum meninggalkan Eva sang wali kelas, yang masih menatapnya kagum.
Boy melangkah pasti namun tetap berhati- hati. Dalam perjalanan menuju gerbang sekolahnya, bisik-bisik anak sif berikutnya yang memperhatikan setiap langkah Boy, terdengar sayup- sayup dikuping tipisnya.
Boy tersenyum sembari melambaikan tangannya pada teman sebayanya itu. Ada yang membalas dengan tersenyum balik, dan ada pula yang memandang penuh iri.
Bukan Boy namanya kalau tidak bisa menguasai keadaan. Ia dengan langkah pasti tetap percaya diri.
Pernah dulu ada yang mencegat dan menyerangnya saat berjalan seperti ini, tapi begitu mereka dapat sambutan yang mengejutkan dari Boy, para penyerang
Kapok setengah mati. Mulai hari itu tak ada yang berani lagi menyatakan perang
dengannya, yang pada awalnya mengira anak jenius itu lemah, kini mereka semua tahu, dia bukan hanya kuat fikiran, tapi tangguh fisik dan mental.
No Way...tak ada lagi yang berani berpandangan meremehkan Boy.
Sedang kaum remaja putri, Makin banyak
yang mencoba bermimpi jadi perempuan
yang dapat dilihat oleh tatapan Boy yang lurus dan dingin, kalau berurusan dengan
teman wanita.
Disisi lain, seorang remaja putri yang cantik, sejak dari subuh sudah menyiapkan diri dengan make up minimalis, full Latihan menampilkan senyum termanis, untuk bertemu dengan
Remaja pria impiannya.
" Kok cepat sekali putri mami wangi dan rapi? bukankah jadwal masukmu siang Bel? " tanya Winda pada putrinya dengan dahi mengerut. Sedikit curiga terlintas dihati mami muda itu.
" Iya mi...tapi Bella nunggu sif siangnya disekolah saja, takut terlibat macet. " katanya mencoba menghilangkan kecurigaan sang Momy. Kemudian Bella meraih tangan Winda dan menciumnya.
" Mami cantik dan paling baik sejagat, Bella berangkat dulu ya. Da...da...mu....ah..." katanya meninggalkan sang mami yang masih menatap kepergian putrinya dengan bingung.
" Tuh anak perempuan suka bikin puyeng
tingkahnya, kadang malas sekolah sampe capek ngebangunin. Eh giliran ujian masuk siang, pagi- pagi dah mau pergi. Berapa jam ia mesti nunggu disekolah sampai jam masuknya tiba?
Bella!...Bella...Apa sih sebenarnya yang sedang kamu incar ? " tanya batin Winda
Didalam mobil, tak hentinya Bella bercermin, sambil merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai
menyebarkan aroma samponya yang wangi dan lembut.
" Neng Bella Enjoy pisan sih kayaknya. " kata Supir Bella sembari mengintip bayangan majikan mudanya dari kaca spion.
Bella memang selalu duduk dibangku tengah mobil, kalau sedang hanya ada dia dan pak sopir. Kalau didepan, ia merasa kurang nyaman,
apalagi Bang Mamat sopirnya Bella,sangat sibuk mengomentari setiap perbedaan yang ada pada Bella. Kalau Bella ditengah ia bebas rebahan atau pura- pura tidur, saat Bella merasa tak penting menjawab pertanyaan bang Mamat, ia akan melakukannya, seperti pagi ini.
" Aduh...Barusan senyum- senyum, kok ditanya malah tidur, non...non.... " Gerutu
bang Mamat sambil menyetel musik lembut.
" Biar boboknya adem dan dapat mimpi indah. " katanya lagi sambil terus fokus memegang kemudi.
Sesampai didepan sekolahan.
Bella langsung turun begitu pintu mobil dibukakan bang Mamat untuknya.
Dengan langkah anggun dan tanpa pamit, Bella langsung angkat kaki dari hadapan sopir cerewetnya itu .
" Setelah beberapa langkah pergi, ia berbaik sejenak. " Awas ya bang...sampe ngadu sama mami tentang apa yang bang temukan dan lihat nantinya. Bakal
aku non aktifkan Abang megang tongkat bulat. " ancam Bella sembari tersenyum
manis.
" Tenang saja! kalau masih wajar dan ngak melanggar Etika, ngak bakal bang Mamat adukan! " teriak pria paruh baya itu.
Sedang Bella kembali melanjutkan langkahnya dengan anggun.
" Ya Tuhan...Tolong lancarkan pertemuanku dengan cintaku" doa Bella
sambil melangkah. Dilihatnya jam tangan
Rolex miliknya.
" Hhem...kayaknya waktunya pas. Sitampan jenius, akan sudah selesai menyelesaikan ujiannya. " katanya lagi.
Akan sepi bagi Bella menunggu sampai jam siang nanti. Soalnya hanya dia anak siang yang datang pagi. Anggota Gengnya bahkan tak ia beri tahu, kalau Bella datang pagi- pagi sekali hanya untuk memandang sitampan keluar dari kelas, menuju gerbang, menanti sang sopir menjemput.
Bella berjalan sembari memikirkan wajah
tampan yang dirindukannya, tapi sukar dijumpai. Tanpa sadar ia tersenggol sesuatu. Tubuhnya hampir saja tersungkur ditanah, tapi Tuhan menolongnya melalui tubuh kokoh yang dengan sigap menahannya, tak urung tubuh mungil nan indah milik Bella, tertahan dibalik dekapan tubuh kekar itu.
Bella menarik nafas panjang, sebelum memberanikan diri mengintip pemilik tubuh tinggi dan wangi tempatnya bersandar. Ia mendongak menatap wajah didepannya.
Saat tataan mereka beradu. Jantung Bella terasa berdegup tak karuan.
" Ampun...mimpi apa aku semalam...Niat lihat doang dapat pelukan gratis! " teriak batin Bella.
" Hhem...Kalau jalan hati- hati, sampai batu bulat seperti itu kau jadikan bola, kalau jatuh kakimu luka, bagaimana kau konsen ujianmu?" tanya Boy membuat Bella makin terkesima.
" Ak...aku..tak sengaja. " jawab Bella gugup.
Boy melepaskan tubuh Bella dengan lembut.
" Maaf...aku terpaksa menyentuhmu. " kata Boy tanpa sengaja merapikan rambut Bella yang sedikit kusut. Tentu saja Bella makin salting dibuatnya. Ia tertunduk menyembunyikan wajahnya
yang bersemu merah itu.
" Sudahlah...Lanjutkan perjalananmu dan masuk kelaslah... Sif dua akan segera mulai" kata Boy kemudian.
Bella hanya manggut- manggut.
" Berhati- hatilah..." kata Boy lagi sebelum
berlalu, ia segara menuju mobilnya yang baru saja tiba.
" Makasih! Bye..." kata Bella setengah berteriak.
Sebelum memasuki mobilnya,Boy membalas lambaiannya.
" Awal yang bagus..Terima kasih ya Tuhan..." gumam Bella sembari tersenyum manis.
Lalu setelah itu ia keperpustakaan,
harus rela menunggu jam masuk siangnya sampai 5 jam berikutnya.
Demi sekedar melihat Boy, Bella rela melakukannya.
Ini bukan cuma melihat, ia bahkan dapat perhatian kecil darinya. Bella tersenyum bahagia untuk pencapaiannya hari ini.
" Ternyata hikmah bangun subuh itu besar ya? pantas selama ini mami selalu sibuk membangunkanku pagi- pagi. " kata batin Bella.
Bersambung....