
Sementara didalam kamarnya, Bhalendra Boy Cen Hapsar juga menatap wajahnya didepan cermin. Ketika Rendra masuk dan berdiri dibelakang meja rias putranya. Ya... meja Rias ini beberapa hari ini dipesan Citra sang Mommy, untuk menyambut calon mantu yang bakal menjadi teman sekalian penghias hidup putranya.
" Gimana sayang ? Gugup? tanya Rendra sembari menatap penampilan putranya yang malam ini sengaja dibuat aneh.
" Lumayan sih Daddy...Ternyata ini jauh lebih menegangkan dari pada sidang Disertasiku." Curhatnya sembari mengusap wajahnya. Sedang Rendra hanya tersenyum.
" Jadi begitu misinya sukses, acaranya langsung? tanya Rendra masih belum yakin dengan keputusan putranya.
" Ya Daddy...boy tak kuat menahannya lagi, kalau sudah berhasil, dan ia lolos, aku takkan menahannya lagi. Daddy sudah siapkan kan untuk kejutanku pada calon pendamping hidupku bukan?"
" Sudah...dibawah persiapan semuanya sudah beres. Tinggal menunggu undangan datang. Semua acara sudah diatur oleh om Hans mu sebagai IO, syukuranmu kali ini, santai man...jangan tegang gitu. " ucap Rendra sembari merapikan keffiyeh putranya.
" Daddy mengintip dulu siapa yang duluan datang. " ucapnya sembari berjalan kebalkon.
Boy kembali menarik nafas.
" Mudah- mudahan ia takkan lupa dengan ini. " batinnya. Ketika Boy sibuk mengucap doa dihatinya.
Kamar itu menjadi riuh, tatkala serombongan pemuda berpenampilan sama dengan Boy masuk.
" Wow....kita nampak sama. Hanya mata saja yang bisa dikenal oleh para perempuan cantik itu yang akan membedakan kita. " kata salah seorang dari mereka didepan cermin.
" kita semua perlu memakai ini. " kata Boy meraih kotak dilaci dan membukanya didepan kawan - kawannya.
" Lensa kontak???" mereka bertanya serempak. Berarti semua sama dong? "
" Ya harus nampak sama. " kata Boy mantap.
" Apa kau yakin Bos? tak takut Bellamu jadi ragu? " tanya seorang lagi.
" Aku percaya ia mengenalku, melalui desah nafasku. Aura cintaku akan membimbing gadisku memilihku Bai..." kata Boy mantap.
" Okelah kalau begitu. Semoga Zahra tak memilihmu. " karna ia milikku." kata Bayu spontan. Yang membuat Boy dan yang lain mengernyitkan dahi mereka.
" Whatt? tanya mereka kompak.
" Ngak...ngak usah difikirkan, aku hanya bercanda. " Ucap Bayu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Mudah- mudahan Boy dipilih oleh Cintanya, dan yang lain dituntun Allah untuk dipilih pula oleh jodohnya.
Semua kan sudah sepakat menerima semua hasil keputusan ini sebelum memutuskan menghadiri acara ini. Jadi kita yang jomblo bakal bertemu cinta kita
malam ini. Gadis yang salah memilih Boy dengan menangkap diantara kita, berarti itulah awal yang baru untuk memulai hubungan baru. Selanjutnya yang ingin ikut lanjut acara juga ditampung kok.
Bosku malam ini akan membiayai semua pasangan yang memutuskan dihalalkan malam ini, sampai ketingkat resepsinya nantinya." kata Hafis, sekretaris Boy, yang juga ikut andil diacara itu.
" Sip deh...kalau aku pasti siap dengan keberuntunganku berikutnya. " Bayu menjawab penuh semangat. Sementara yang lain terkikik meledeknya.
" You...sih emang dari zaman SMK gitu ya Yu...kalau yang gratisan sampai muntah kuat. " Joni menimpali sembari tertawa . Yang diikuti cekikikan pria muda lainnya.
" Ya udah...jangan gaduh...waktunya hampir tiba, jangan membuka mulut lagi, nanti Ladies yang sudah datang, jangan sampai dapat petunjuk melalui suara. " Ingat...hanya desah nafas yang boleh kita perdengarkan." bisik Bayu sembari meletakkan telunjuk dibibirnya.
Kontan semua terdiam. Boy menatap jam
tangannya. Teman - temannya juga melakukan hal yang sama. Lalu mereka sama- sama mengangguk.
" Nampaknya mobil Bella sudah tiba " kata Rendra yang baru datang dari balkon. Daddy turun dulu menyambut para tamu.
Ketika Bella menginjakkan kakinya didalam rumah, matanya terbelalak melihat betapa ruang lapang rumah itu sudah dihias ala rumah pengantin.
Jamuan juga sudah tersedia di Meja besar yang sudah dirancang untuk menyiapkan perjamuan Ala Prancis.
Citra datang menyambut Bella dan keluarganya. Rendra juga tak mau kalah dari istrinya. Ia bergegas turun, mendampingi istrinya.
" Syukurlah...tak ada rintangan dijalan bukan Will?" tanya Rendra begitu sudah berhadapan dengan papi Bella.
Sedang yang ditanya, menarik nafas panjang.
" Daddy...calon besan diajak duduk dulu, makan dan minum dulu...Jangan langsung ditanyai. " kata Citra menimpali.
berbadan tinggi dan langsing, datang mengatasi para brandalan itu. Ia Jawara Silat. Para brandal muda itu berhasil ia buat lari terbirit- birit, setelah hampir mematahkan tulang- tulang mereka.
Aku penasaran siapa gadis itu, soalnya ia pakai masker, jadi wajahnya tak jelas." Kisah tuan William dengan ekspresi kagum.
" Itu pasti Zahra temanku om...Wow...berarti ia jadi juga datang. Besar nyali juga tuh anak, setelah Calis kata- Katai." timpal Calista sembari senyum cerah.
Citra mengernyitkan dahinya, mendengar penuturan sicantiknya, tapi untuk bertanya, ini bukan saat yang tepat.
Sedang Bella yang mendengar nama Zahra kian berdebar.
" Zahra anggun, baik, Jawara Silat, yang pastinya adik Boy menyukainya, Zahra dan Elsi adalah saingan terkuatku. " Batin
Bella berkecamuk, sedari tadi ia memikirkan siapa gadis yang menolong mereka. Begitu tahu itu Zahra, hati Bella
menciut karna ditilik dari penampilannya
nampaknya Zahra benar- benar mempersiapkan diri.
Melihat Bella yang tertunduk sembari bermenung. Citra segera mendekati putri teman arisannya ini.
" Sayang...Ayo cari tempat, duduk dan bersantai, makan dan minum sembari menunggu. Nanti akan butuh banyak energi sampai puncak acara tengah malam nanti. " Citra menggamit Bella dan Anjani sembari membawanya kemeja perjamuan.
Beberapa menit berikutnya, suasana makin ramai.
Seperti biasa, acara Boy akan jauh dari
acara kebanyakan anak muda lainnya.
Bagi pecinta hiruk pikuk pesta, mereka akan tersenyum sinis menatap kelangkaan acara Boy.
Tapi untuk kali ini sangat mengejutkan. Banyak para gadis muda yang datang memberanikan diri, untuk menjadi calon nyonya Bhalendra. Walau berbeda jauh dengan pesta dansa pangeran dan cindetella dinegri dongeng. Tapi kali
ini diluar dugaan, lebih dari seratus gadis muda sudah tiba dengan berbagai gaya terindah mereka, dengan maksud yang sama.
Semua mata terpana menatap lima pria berpenampilan yang sama, bergaya pangeran dari timur tengah menuruni tangga. Kelima pria itu menutup wajahnya dengan masker berwarna yang senada. Kelima pengeran itu membuat
para gadis semakin penasaran. Akan bagaimanakah cara Boy menentukan gadis pilihannya.
Elsi teman Bella yang menjadi saingannya sejak jatuh cinta pada Boy, memeriksa penampilan seksinya dengan hati yang risih.
" Ah...sial...dari penampilan saja aku sudah drop mental. " ceracau batinnya, matanya menatap Zahra dan Bella yang bisa ia kenal dari sorot mata kedua gadis, yang dalam pandangannya sudah tahu tema pesta Boy.
" Ini curang...Kedua gadis itu kayaknya ada orang dalamnya. " rutuknya kesal menahan cemburu.
" Jangan berprasangka buruk nona cantik dan seksi... Sebagian dari Buruk sangka adalah dosa. Acara ini jujur dan tak ada orang dalam yang tahu apalagi berani membocorkan. Tenang dan fokuslah..." bisik seorang gadis remaja cantik berkerudung warna putih bersih, wajah cantiknya makin bersinar tatkala ia bicara dan tersenyum pada Elsi.
" Busyet! ia bisa membaca fikiranku. " rutuk batin Elsi.
" Belajar dikit dari tuan muda Bhalendra...he...he...Ayo ambil minum dulu biar santai, jangan terus mengutuk dalam hati. katanya lagi, seraya menyeret
tangan Elsi menuju meja perjamuan.
Dapat perlakuan hangat dari sikecil, membuat Elsi kian tenang. Ia tak lagi memikirkan tentang Saingan beratnya.
Tatkala dengan ceria, Chalista membacakan rangkaian acara dengan tiga model ujian yang mesti dilewati. Para gadis kian gaduh. Ada yang mendengus, ada yang gemetar, bahkan ada yang memutuskan untuk pulang saja. Hingga saat Uji pertama digelar, peserta tinggal separo lagi.
" Syukurlah... ternyata tak banyak gadis cantik yang berani melakukan praktek ibadah didepan Kelima bayangan Boy dan pak ustadz sang pembina acara." Batin Boy semakin lega.
" Duh....duh....Boy buat ada- ada saja. Buat acara kok kayak gini, ngak ada romantis- romantisnya sama sekali, tapi aku ngak mau pulang ah...aku coba aja dulu, aku juga penasaran, apa kedua ujian yang lain. " Gumam seorang gadis yang percaya dirinya mulai naik, begitu semua gadis diberi Seperangkap pakain ibadah indah. Kalau soal harga jangan ditanya. Rendra takkan mau tanggung- tanggung mengeluarkan biaya untuk hal indah ini.
" Lima puluh gadis... tersenyumlah dengan manis. Tak nampak lagi perbedaan diantara kalian. Apa yang kalian pakai sekarang menunjukkan kalau semua manusia itu sama disisi yang kuasa.
Sekarang tinggal menunjukkan apakah kalian bisa melewati tantangan pertama.
Dengan membaca Ummul Qu' an kita mulai acara ini. " kata pak ustadz singkat namun penuh semangat, memulai ujian cinta calon nyonya tuan muda.