
Ketika dapat kabar dari Asisten tuan Kims melalui telfon, tentang menghilangnya Citra dari rumah, tiba-tiba Rendra kalap. Dilemparkannya semua berkas yang ada dimejanya.
Hans!..Cepat keruanganku!.." Teriaknya memanggil Hans melalui Earphone. Yang membuat kuping Hans sampai sakit hingga mendengung kesilaput genderangnya.
Digosoknya berkali- kali lubang telinganya itu, barulah ia bisa berdiri normal, untuk melangkah menuju ruangan Rendra.
" Kenapa ada gempa yang mengguncang kupingku
disiang bolong ini? Mengapa tak ada angin, tak ada
mendung, tiba- tiba datang badai dan gempa? Dasar bumi sudah Edan. Sama dengan para penghuninya, tindakannya gila dan tak terduga, perasaan tadi pagi baik dan aman saja, sekarang kok mengamuk " Gerutu Hans berjalan sambil mengucek kupingnya yang masih sakit.
" Yang berkuasa memang begitu, suka menindas
bawahannya. " gerutunya lagi, sampai dipintu ruangan big bos, matanya terbelalak melihat ruangan yang bisanya rapi itu seperti kapal habis diterjang badai. Pecah berantakan. Sejenak ia terpaku menatap wajah pemilik ruangan itu yang terduduk menunduk diatas sofa dengan rambut acak- acakan.
" A...ada badai ya bos? " tanyanya tak sadar tiba- tiba gerutuannya tadi terucapkan lagi.
" Re Scedul semua meeting hari ini! aku ingin mencarinya, ia kabur dari rumah! " katanya dengan wajah memprihatinkan.
" Apa dia membawa anak kalian? " Tanya Hans setelah mengatur nafas.
" Tidak. Ia pergi sendiri." jawab Rendra ketus.
" Kalau ia pergi tanpa boy mengapa bos panik. Biarkan saja, ntar bos cari mama muda untuk boy. Kan ia sendiri yang ingin pergi. Apa perdulimu, perempuan banyak yang cantiknya tak kalah dengan Citra. " kata Hans spontan, yang langsung mendapat hadiah beberapa pukulan dari Rendra.
" Mengapa memarahi dan memukuliku begitu? Bukankah pewarisnya sudah bersama anda? " tanya Hans sekaligus menguji tuan muda yang lagi kalap itu.
" Mulutmu tak beraturan. Apa kau kira aku lelaki yang gampang buat anak dan mudah berpindah hati sebagaimana yang kau ucapkan itu.
Walau aku melakukannya saat mabuk, aku melakukannya karna aku menyukainya.
Dan kau tahu, ibu dari anakku yang tega itu adalah perempuan pertama yang Kusuka seumur hidupku. Mudah sekali kau bicara main ganti, kayak ganti barang saja. " kata Rendra dengan pandangan nanar.
" Maafkan aku bos. Aku hanya ingin menguji mu, sekarang akan ku atur semuanya. Bos pulanglah,
dengan supir kantor, jangan menyetir sendiri.Tenanglah, akan kusiapkan juga tim untuk menemukannya. Mudah- mudahan ia belum jauh, soalnya kondisi tubuhnya
belum stabil. Kan baru hari kesepuluh ia melahirkan Boy. " kata Hans menenangkan Rendra.
" Justru itu aku khawatir, aku takut kalau ia belum cukup kuat melakukan perjalanan, baiklah aku akan duluan. " kata Rendra dengan langkah gontai.
" Aku tak habis fikir mengapa kau meninggalkan kami sayang...Padahal aku sudah memintamu, tak apa dirimu jadi istri yang kejam, asal jangan jadi Ibu
yang tega. Aku memang bersalah. Tapi anak kita juga kau korbankan.Setipis itukah kasihmu padanya? Lalu mengapa kau pertahankan ia dalam rahimmu sampai sembilan bulan ? " Kata hati Rendra yang berkecamuk.
Citra melihat dirinya dikepung oleh api, ia sangat ketakutan. Ia menangis memohon pertolongan. Tak ada yang mendengarkannya.
" Kenapa ini panas sekali. Astaga inikah namanya neraka? Apa aku sudah mati? Benarkah aku dineraka? Berarti aku memang sudah mati. Dimana
anakku? oh Boy.....! Bhalendra!..." teriak Citra memanggil anaknya.
" Kamu mengigau nona. Nona baru saja melahirkan. Terlalu cepat dibawakan kerja. " kata seorang yang berseragam putih yang Citra kira malaikat.
Citra membuka matanya lebih lebar lagi, lalu memeriksa ruangan itu. Ruangan yang serba putih.
" Aku dirumah sakit ya dokter?Aku kira aku sudah dineraka. " kata Citra setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya.
Anda pingsan selama Dua jam nona. Untung Tuan muda Alden segera membawa Anda kesini. Anda mengalami luka dikening akibat benturan dengan Jalan, tubuh anda sangat lemah, anda menderita Animea, masih dalam masa nifas kok keluyuran?Untung tuan muda Alden cepat, kalau sampai terlambat beberapa menit saja nona bisa tak tertolong. " kata dokter muda itu.
" Mana tuan muda yang anda katakan dokter? " tanya Citra setelah mengumpulkan kesadarannya.
" Ada nona. Tapi ia sedang keluar, katanya cari makanan. " Jelas dokter itu. Beberapa detik kemudian datanglah pria tampan Indo Eropa itu
membawa rentengan.
" Panjang umur tuan muda...Ini orangnya nona. Pemilik Rumah sakit ini. Tuan muda Alden." kata sang dokter membanggakan pemuda yang baru datang itu.
" Oh ya nona cantik, syukurlah anda sudah sadar. Saya menemukan nona dijalan sekitar rumah Tuan Kims. Karna kondisi nona sangat kritis, saya larikan kerumah sakit ini." Cerita Al mengenalkan diri.
" Terima kasih sudah menolongku. " katanya seraya mengusap dadanya, karna ia tak tahan dengan sakit susunya. Baju bagian dada mulai basah karna
luapan ASI. Bibir Citra memucat menahan sakit.
" Oh ya Kenalkan saya Alden, panggil Saja Al biar
lebih enak. " Katanya.
" Aku Citra Hapsari. Biasa dipanggil Citra. " balas Citra.
" Maaf...saya sudah lihat berkasnya Citra. Masih 21 tahun Sembilan bulan hari ini. Kukira masih gadis, Mauku jadikan calon. Eh.. nyosor surat nikahnya meluncur dari tas itu.
" Jadi patah hati sebelum jadi deh saya. " kata Al lagi, sembari memamerkan senyum manisnya.
" Saya juga sudah punya anak dan baru berumur sepuluh hari. " kata Citra kemudian.
" Nekat sekali kabur ninggalin anak. Apa Ayahnya kejam ? " tanya Al heran kenapa Citra kabur dari anak dan suaminya masih dalam masa nifas.
" Ceritanya panjang. Suamiku tidak kejam, tapi aku sedang stres saja, aku merasa selalu ditipu dalam hidup ini." Kenang Citra.
" Dari CVnya Citra, saya lihat Citra orang yang cerdas. Mengapa sampai tertipu?" tanya Alden bingung.
" Ceritanya panjang, dan itu sangat buruk,maaf kalau Citra tak bisa bagi dengan Al." kata Citra kemudian.
" Tak apalah...Al mengerti, ini soal pribadi. Maaf kalau Al terlalu banyak tanya. " kata Alden sembari
menyusun sepuluh jarinya.
" Tak usah kayak gitu kali minta maafnya, Citra jadi segan. " kata Citra menampakkan senyum tipisnya.
" Kalau senyum tuh jangan nanggung Cit, biar cantiknya nambah 1 putaran penuh lagi. " kata Al menggoda Citra. Dan itu berhasil membuat senyum Citra mengembang.
" Al menemukan Citra dikawasan konglomerat asal Tionghoa itu. Apa ada hubungan Citra dengannya?Soalnya tak biasa orang berlalu lalang dilingkungan itu. " Tanya Aden lagi.
Tiba- tiba Citra teringat dengan tuan Kims, kondisi kesehatannya. Apalagi dengan boy putranya. Ia terbayang pada kakeknya Almarhum H. Roeslan
, ia sudah menganggap tuan Kims pengganti kakeknya. Kalau sesuatu terjadi dengan tuan Kims, Citra pasti takkan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Tanpa terasa air mata Citra mengembang.
" Tuan Kims kakek angkatnya Citra. " jawab Citra lirih. Ia menyeka bulir bening yang mengembang.
Oh..." Berarti Aku harus mengantar Citra kembali kesana. " kata Alden.
" Rencananya siang tadi saya ada meeting dengan cucu tuan Kims. Tapi tah mengapa meetingnya ditunda esok. Untung juga begitu. Kan aku masih ingin nungguin sicantik yang ternyata istri orang, mama muda lagi. " kata Al
seraya tersenyum kecut. Yang dibalas senyum tipis
Citra.
Beberapa detik kemudian terdengar kegaduhan diluar. Alden dan Citra mengerutkan dahi.
" Siapa yang mengamuk diluar ya ?" tanya mereka serentak.
Bersambung...Jangan lupa mampir kasih dukungan ya say...Mf telat kali Upnya. Tadi Penulis
terlibat macet....cet....Cet...jadi kemalaman deh
,🙏🙏🙏
Tetap tinggalkan pollownya ya sayang...kasih like, fote and faforitkan karya kita ini.
Salam 💗 Selalu buat pembaca setia. M....h