Possessive Daddy And Genius Boy

Possessive Daddy And Genius Boy
Chapter 65



Bella senang bukan kepalang. Walau harus bela- belaain menunggu berjam- jam untuk ujian, tapi ia senang. Perasaan yang berbunga membuat Bella lebih semangat menjawab soal- soal ujiannya.


Bella juga termasuk siswa yang lumayan dikelasnya.


" Hey...kok dari tadi senyam- senyum aja?


Apa yang terjadi sama lo Bel? cerita dong


sama kita- kita. " kata Cindi teman satu geng Bella.


" O..Ng...ngak kok...Cuma senang aja gua bisa nyelesaikan ujian dengan baik. " jawab Bella gugup.


" Ngak percaya ah...Kalau soal pelajaran Lo biasanya ngak se enjoy ini. Pasti ada yang disembunyiin nih, kayaknya. " Elsi menimpali.


" Ngak ah...baru tahap awal. " kata Bella keceplosan.


" Kan ia...Ada yang diumpetin, muka aja bersemu merah begitu. " kata Cindi sembari meraih dagu Bella.


" Apa- apaan sih Cindi! " Bella menepis tangan Cindi, ntar dikira Lo mau lecehin gue sama anak- anak yang lain." kata Bella menghindari tatapan penuh selidik sahabatnya itu.


" Ih...kayak nya memang ada yang lain nih sama ketua geng Cantik , tuh kan, disentuh aja pakai ngeles dilecehin. Emang siapa yang berani bilang geng cantik ada Buci nya. Ngak lagi!..Kita ini cewek cantik, sehat dan normal." kata Cindi dengan dahi dan mulut dimonyong-monyongin. Ia makin heran mengapa Bella ngaur, saking takutnya ketahuan menyembunyikan sesuatu.


" Plis...Teman - teman gue, geng Cantik semua...ngak ada yang Bella sembunyikan kok. Andai ada perubahan baru atau prestasi yang patut dibagi kabarnya. Gua janji bakal cerita.


Ini belum apa- apa mau cerita apa. " kata


Bella membela diri.


" Iya...iya..Untuk sementara kami percaya, tapi jangan sampe Lo dah


mendadak nikah baru cerita sama kita- kita." kata Hanum yang lebih judes.


" Hanum...Hanum...


mulut lho mau dikasih asam tuh kayaknya. Emang zaman dulu? anak remaja nikah muda. No Way! Ada undang- undang perlindungan anak dibawah umur sekarang, Ngak sama zaman uo- uo dulu, masa penjajahan Belanda dan Jepang,


anak 14 tahun dinikahin, sekarang kalau terjadi bakal dipidanain tahu! " Jelas Bella.


" Ya...iya...Calon Advokat, pintar kali cari


pembelaan diri. " Kata Hanum.


" Iyalah..Siapa gua? Bella kan, mana mau gue jadi korban Bully kawan segeng ndiri." Jawab Bella seraya tersenyum


penuh kemenangan.


" Iya..bukan pengen ngebully, tapi wajarkan kita kepo sama senyam- senyum mencurigakan Lo neng! " kata


Lusi yang dari tadi diam saja.


" Emang gitu ya gue menurut teman- teman? " tanya Bella sembari mengusap wajah dengan pipi kemerahan miliknya.


" Iya sayang!!!..." Seru semua temannya serentak, membuat wajah Bella makin merah menahan malu.


" Nih hati kok norak amat sih..Ngak bisa disembunyikan dikitpun reaksinya. " Batin Bella menggerutu.


Asik berbincang sambil jalan, tak sadar mereka didepan ada yang menghadang.


" Hey Cantik!..Boleh minta no HP nya. " kata Delon, siswa kelas Sebelas C yang sangat resek.


" Sory ngak punya Hendphone untuk disekolah. " kata Bella ketus. Ia segera berlari menuju mobilnya untuk menghindari Delon.


" Untung bang Mamat datang tepat waktu. " batinnya mengucap syukur.


" Ayo naik!..khusus hari ini Lo semua pada diantar pulang, ntar juga bakal


ditraktir es kream kesukaannya." teriak Bella memanggil teman- temanya. Semua pada berlari menuju mobil


Bella, meninggalkan Delon yang melongo.


Detik Berikutnya mobil meluncur, setelah anak- anak pada aman didalam.


" Yang benar nih neng! masak bang Mamat mesti keliling ngantar teman- teman neng?" protes sang sopir sambil jalan.


" Udah jangan banyak omong, turuti aja perintah Bos. " kata Bella sembari tersenyum menggoda bang Mamat.


" Untung bosnya cantik, kalau ngak bang mamat sudah mengundurkan diri." kata Mamat kemudian.


Semua hanya tersenyum, kamudian suasana hening sebentar.


" Non Bella yang senang,


bang Mamat yang susah, nasip- nasip jadi Abdi, kudu patuh sama majikan, kapan bang Mamat makmurnya ya, biar ngak jadi sopir lagi...." Kata Mamat mengumpat, memecah keheningan sekilas itu.


" Emang bang Mamat Pengn tau rahasia jadi makmur dengan instan ya ? " tanya Bella dengan logat serius.


" Emang non tahu caranya ? " tanya mamat antusias.


" Ya tahu lah...


" Gimana ?


" Tinggal ganti aja Mamat jadi makmur!kan beres." kata Bella yang membuat semua terkikik.


Sedang Mamat tersenyum malu, jadi bahan tertawaan lima remaja putri itu.


Kelima bidadari itu mulai terhanyut untuk


mengikuti lagu yang lembut dan penuh perasaan itu. Sejenak mereka melupakan


pengolok- olokan pada sang sopir.


Bella tersenyum membayangkan Boy, seraya memejamkan matanya saat mengikuti lagu syahdu itu. " Thank you bang Mamat, paling top deh kalau milih lagu. " puji Bella dalam hatinya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sesampai dirumahnya, Boy segera mencari Momynya.


" Cepat sekali siap ujiannya sayang..." kata Citra begitu Boy tiba dikamar.


" Iya mom, kan ujiannya ngak ada yang sulit. " jawab Boy seraya mengecup kening Momynya.


" Iya lah...Buat Boy ngak ada yang sulit." kata Citra memuji putranya.


" Ada kok mom yang sulit buat Boy.


" Apa itu nak? " tanya Citra dengan dahi mengerut.


" Saat Momy sakit, Boy sangat takut kehilangan Momy.


Waktu itu paling sulit bagi Boy ." kata Boy seraya menatap Momynya penuh kasih.


" Sayang..." Citra terharu dengan penuturan putranya.


" Oh ya Momy sudah makan? " tanya Boy


kemudian mulai mendorong kursi roda Citra menuju keluar, lalu berbelok menuju


ruang makan.


" Baiklah sayang...Momy akan makan dengan Boy. " kata Citra kemudian.


Sebenarnya ia sudah makan bersama Rendra, tapi untuk menemani putranya, ia


rela makan siang kedua kalinya.


" Ada apa Boy? kalau Momy ngak salah teliti, nampaknya putra Momy sedang senang kayaknya. Kalau boleh mom minta dibagi ceritanya dikit, Boleh? " tanya sang Momy hampir seperti rengek an manja.


" Emang nampak ya mom? " tanya Boy sambil terus mendorong kursi roda Momynya dengan hati- hati.


" Ngak juga sih sayang? " mom tak maksa kok, andai Boy belum siap cerita.


" Kata Citra seraya membalikkan kepalanya menghadap putranya.


" Ngak mom, Boy tadi ketemu teman sekelas di kelas Sembilan dulu."


" Cewek cantik! " tebak Citra.


" Ngak usah dibahas Mom, terlalu


muda untuk membicarakan perempuan, Boy jadi malu. " kata boy menunduk.


" Perasaan itu datang pada anak remaja juga kok sayang...tak usah malu pada Momy sendiri. Walau waktunya berbeda


setiap orang pasti mengalami. " kata Citra.


" Tapi Boy tak tahu apa namanya mom, sama Bella rasanya beda dengan teman perempuan sebayanya yang lain.. " kata Boy jujur. Tapi ini terlalu dini, Boy tak mau


salah menebak mom. " kata Boy kemudian.


Hhem..."Jadi namanya Bella ?


baiklah...buat Momy apapun itu yang Boy rasakan, tak masalah sayang...yang penting anak Momy harus pandai- pandai


membedakan mana yang baik dan yang tidak, dan jangan lupa selalu minta petunjuk pada Allah untuk memberi jalan yang baik untuk menjalani masa pancaroba ini. " kata Citra kemudian.


" Oke mom, mohon doa Momy untuk lebih Afdolnya. " Jawab Boy.


Tak terasa mereka sudah sampai disisi meja makan . Boy dengan cekatan membantu Citra berdiri, dan menuntunnya menuju kursi. Lalu menyiapkan makan Momynya,


baru kemudian duduk dikursi disisinya,


setelah mengisi piringnya juga.


Citra menatap putranya sebelum memulai makan. " Semoga Engkau tetap


membimbing putra dan putri- putri hamba ke Jalan Ridhomu ya Allah..." Doanya didalam hati.


" Oh ya mom...Boy hampir lupa, titip salam dari Bu Guru. " kata Boy setelah


ditatap Momynya.


" Salam balik sayang...Mom kira salam dari calon mantu. " kata Citra.


Boy terkikik dibuatnya.


Setelah tawanya reda, Ia baca doa dan mulai ritual makannya.


Bersambung...