
" Dong dindong cabe...
cabe pedas penggulai Sepat.
Adik Chalista cepat dong gede...
biar kita latihan silat..
" Dong dindong Acar
Acar timun, cabe dan bawang
Adik Chalista cepat Besar
Biar raun kita kepadang..
Dong- dindong manggis
Manggis matang pecah ditangan
Adik Abang jangan menangis
Kalau menangis tak Abang kawan...
Cup...cup...
Cup...cup..Cup..
Adik baik tar Abang kecup.
" Emang Abang mau kepadang Ya? " tanya Rendra saat memergoki Boy sedang mengayunkan adiknya Chalista.
" Iya dong Dady...Kalau adik Chalista sudah bisa jalan, kita ajak Momy ya Dady... Sekalian Boy ingin lihat daerah asal Momy.
" Kalau kota asal Momy sangat indah sayang...Ada Danau kembar, pantai gondoriah , pantai Carocok, Perkebunan teh dan perkebunan kelapa sawit yang luas dan banyak lagi lokasi yang cocok untuk tempat bertamasya. " Kata Citra girang, ia baru saja habis membersihkan diri dari kamar mandi.
Pagi Minggu yang cerah, secerah hati Momy muda itu, saat mengenang kampung halamannya. Maklum saja, sudah Lima tahun ia tidak kembali kekota kelahirannya.
Untuk membersihkan tempat peristirahatan terakhir ibu, nenek dan kakeknya, Citra meminta Bu Rahma mantan tetangganya yang dulu yang mengurusnya. Citra Segaja mentranfer biaya perawatan Pandam mereka setiap caturwulannya.
Sekalian mengurus rumah peninggalan kakek.
" Ibu suruh orang lain yang membersihkan sayang, tapi nak Citra tenang saja, ibu selalu kontrol pekerjaan mereka. " kata Bu Rahma, tiap Citra menanyakan ditelfon.
Tiba- tiba ide nyanyian Boy membuat Citra makin rindu pulang ke Padang. Walau tak ada lagi orang terkasih yang masih hidup, setidaknya, ia ingin berziarah kesana. Mengenang masa kecil dan saat- saat remaja dan kuliahnya dikota tersebut.
Citra senyum sendiri didepan cermin, teringat betapa jauh berbeda dia yang dulu dengan dia yang sekarang.
" Mungkin Bu Rahma akan sulit mengenal Citra saat jumpa lagi nantinya. " Gumam Citra. Ia memang sering telefonan dengan tetangganya itu.
Tapi itu hanyalah panggilan suara saja.
" Bu Rahma pasti senang kok sayang...anaknya yang katanya tampan, sekarang sudah seanggun bidadari, apalagi melihat kedua buah hati kita, Bu Rahma pasti takjup, akhirnya doa dan keinginannya
dan kakek Haji jadi kenyataan. " kata Rendra membayangkan sosok bu Rahma yang sering diceritakan istrinya.
" Aku janji, kalau sikecil sudah bisa jalan, kita pulang ke Padang untuk Ziarah sekalian refreshing. " kata Rendra sembari mengecup rambut istrinya. Wangi sampo Citra memanjakan hidung mancungnya. Kemudian diambilnya sisir, lalu dengan hati- hati disisirnya rambut panjang yang masih lembap itu.
" Makasih ya sayang..." kata sang istri, usai rambutnya dirapikan. Ia Kemudian merapikan kerah
kaus lengan pendek warna jingga yang dikenakan suaminya. Mungkin karna buru- buru mengurus baby, krahnya masih belum pas.
Mereka bertatapan beberapa saat.
"Hem...hem..." Boy pura- pura batuk. Disusul Chalista yang merengek, yang membuat pasangan itu tersentak dari mimpi pagi harinya. Citra segera memeriksa sikecil. Sedang sang Dady menggendong Boy, dan membawanya jalan- jalan ketaman.
" Turunkan Abang Dady...kan malu sudah besal
masih digendong. " katanya.
" Okey tampan! Kita jalan pagi dulu ya, temani Dady,
Dady ingin membuat perut ini kecil lagi, kan malu, perut Momy sudah rata, sedang perut Dady masih kayak ada adiknya. " kata Rendra seraya mengelus perutnya.
Boy terkikik.., ditatapnya perut Rendra.
" Kalau itu kayaknya masih 4 bulanan Dady. Masih bisa dikecilkan.
" Okay... cemon joging Dad! tapi kita pemanasan dulu ya. " kata Boy mengingatkan.
Ia kemudian meminta HP Dadynya dan mulai menelfon seseorang.
" Bawa uoku ketaman om Joko...Biar kita jalan dan menghirup udara pagi bersama. " kata Boy pada Asisten Mr Kims.
" Siapa?" tanya tuan Kims.
" Siapa lagi kalau bukan Bos kecil. Ia meminta kita
ketaman. Apa tuan tidak keberatan. " tanya Joko kemudian.
" Ayo kita segera! Aku juga ingin menghirup udara pagi. " kata tuan Kims. Akhirnya para pria beda generasi itu bersuka ria melakukan olahraga di taman Istana itu.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Boy makin Sibuk dengan urusan adik dan tak lupa terus
memantau perusahaan Dadynya.
Rendra pantas berbangga dan bahagia sekarang. Punya istri yang cantik, anak Genius yang baik yang diusia sekecil itu sudah berhasil membantu memecahkan berbagai masalah diperusahaannya.
Dan sekarang,anak perempuannya makin cantik, imut dan lincah.
Boy tak main- main dengan janjinya, ia benar- benar
melatih adiknya setiap hari. Bahkan untuk belajar berjalan , Boylah yang tampil pertama dan berhasil membuat Chalista kecil berani melangkahkan kakinya, demi untuk menggapai tantangan yang diberikan sang Abang.
" Hebat! adik Abang dah pandai jalan. Ini hadiahnya, kata Boy menyerahkan boneka Barbie, tokoh wayang dan balok Fazel. Tapi nampaknya Chalista sangat berbeda dengan abangnya. Ia lebih senang bermain dengan boneka dan tokoh wayang ketimbang balok pazelnya.
Boy tak memaksakan kehendak pada sang Adik, tapi ia mengontrol permainan adiknya. Ia juga tak lupa mencontohkan pada Chalista, untuk menyimpan dan merapikan mainannya usai bermain.
Dihari santai sang Dady , kala menatap Chalista yang terlelap diayunan. Boy teringat menagih janji kedua orang tuanya.
" Adik Chalis kan sudah pandai berjalan. Gimana kalau kita rayakan ulang tahun pertamanya dikota tercinta itu Dad? " tanya Boy mengingatkan sang Ayah.
" Ide yang bagus sayang...Tapi Dady musyawarahkan dulu dengan momymu dan Uo ya.
Mudah- mudahan Uo ngak apa kita tinggal. " kata Rendra pada Boy nya.
" Uo tak mau ditinggal, daripada ditinggal lebih baik meninggalkan! " kata tuan Kims yang kebetulan datang dengan Joko, saat kedua anak dan ayah itu sedang membicarakannya.
" Kalau kakek tak mau tinggal, berarti kita liburan bersama, sama ayah juga. " kata Citra memberi solusi.
" Memang kakek kuat rupanya terbang ke Seberang? " tanya Rendra pada tuan Kims.
" Masak ngak kuat, sekarang saja kakek yang bergantung kursi roda. Apa kau lupa, dulu kakek raja bisnis yang mengharuskan kakek keliling dunia. Ini cuma sedekat itu, tak seberapa bagi kakek. " kata Tuan Kims bersemangat.
" Kalau begitu semuanya deal kita balik kekampung bersama? " Tanya Citra sembari mengulurkan tangannya pada sang kakek. Tuan Kims menyambut uluran tangan Citra.
" Deal nyonya Rendra. " katanya sembari menatap cucunya. Ia dengan sengaja meremas tangan yang sekarang sudah sangat halus itu. Membuat mata Rendra terbelalak.
" Hey tuan sipit! Jangan genit- genit dengan istri orang, kalau mau biar kunikahkan kakek dengan Bu
Sumi, siapa tahu karna iri terhadapku kakek sudah bisa menerima ibu angkatku. Kasihan sampai tua ia masih menunggu kakek." kata Rendra.
Tuan Kimi terkekeh. Dasar tuan pecemburu, kau kira aku akan berubah fikiran. Asal kau tahu saja, setelah nenekmu, hanya Citralah yang bisa buat kakek jatuh hati lagi. Kalau kau bersedia memberikan Citramu, barulah kakek berubah fikiran. " kata tuan Kims mempermainkan cucu kesayangannya.
Sedang Citra mendukung sang kakek dengan mengecup kening keriputnya, membuat tuan itu makin bangga dan gencar mengolok cucunya.
" Gimana sayang...Apa kau setuju, bila ia mengalah dengan kakek? tanya tuan Kims sembari menatap Citra lalu mengedipkan matanya.
" Kalau aku sih setuju saja kek. Lagian siapa dulu yang menyambut ku. Meminangku, bahkan menikahkan ku dengannya. " kata Citra membela sang kakek.
" Sampai kapanpun Rendra takkan mengalah pada siapapun. Tidak pada Alden, atau siapapun yang mencoba merebut istriku. " kata Rendra dengan muka merah padam.
" Lihat uo...Kalau menyangkut Momy, pasti wajah Dady selalu berubah kayak 🦀 rebus. " kata Boy menimpali.
" Iya ya, dasar Cowok baperan, masak sama kakek sendiri cemburu. Walaupun Istrimu bisa membuat kakek klepek- klepek seperti sama nenekmu, ngak mungkin juga kakek merebutnya darimu sayang..
Ngak usah pake rencana menikahkan kakek segala, hanya untuk menyelamatkan kecemburuanmu itu Rendra. Tega sekali tubuhku yang sudah bau tanah ini,
mau kau nikahkan lagi, hanya demi takut tersaingi. " Kata tuan Kims yang membuat semua tertawa.
Sedang Rendra tersenyum kecut. Yang terfikir olehnya bukan bersaing dengan kakek, tapi saat sang kakek menggenggam tangan istrinya, ia teringat pada Alden yang sampai hari ini masih suka mengirim hadiah- hadiah kecil pada Istri dan anak- anaknya. Itulah yang membuat hati Rendra sering ketar - ketir.
" Baiklah..." kita akan berlibur bersama, sekalian kami akan berbulan madu. Ngak ada buruknya bulan madu kekota sendiri. " kata Rendra kemudian. Yang membuat yang lain hanya menaikkan bahu mereka.
" Up to bos! " kata hati mereka.
Bersambung....
Jangan lupa dukung terus karya ini ya.
Mat mampir buat yang baru mampir, salam setia buat yang lama. Jangan lupa tinggalkan like, fote, komen, hadiah indah, dan tambahkan cerita ini ke novel faforitnya.
Salam akhir pekan...Semoga liburannya mennyenangkan...