
" Adik perempuanku sudah lahir? Ya Tuhan... pak uo...Sekarang Boy mu sudah jadi Abang benalan! " teriak Boy girang saat dapat kabar dari paman Hans dirumah sakit. Ia berlari menghampiri pak uonya dan memeluknya.
" Iya sayang...Sekarang rumah kita makin rame!kalau pak uo, sudah tiada Boy sudah punya teman bermain. " kata Mr Kims . Yang membuat Boy langsung melepas dekapannya ditubuh renta itu.
" Ngak asyik ah...orang lagi senang, dia ngomong pergi- pergi. " kata Boy merenggut.
" Ngak boleh gitu dong ganteng! Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Jadi tidak tabu omongan Pak uo mu. Boy kan sudah jadi Abang, jadi ngak boleh sensitif. Ayo minta maaf..." kata Dokter Rinto pada cucunya.
" Kalau belum minta maaf, kakek ngak akan biarin Boy ikut kakek kerumah sakit. " kata Rinto lagi, saat Boy masih terdiam.
Boy lalu menyentuh tangan tuan Kims, menatap matanya.
" Maafin boy ya pak uo...tapi Boy kan pengennya pak uo sehat dan bisa sama- sama dengan Boy dan
adik sampai kami dewasa. " kata boy berlinang airmata.
" Itu bergantung pada Tuhan sayang...tapi boy berdoa terus ya, untuk kesehatan pak uo. " kata Rinto lagi. Sedang Mr Kims hanya menangis haru, karna bahagia mengetahui betapa putra Rendra begitu sangat menyayanginya.
" Pergilah kerumah sakit dengan kakekmu sayang..." katanya setelah bisa membuka suara.
Boy kemudian pamit, dan mengikuti langkah kakeknya dengan langkah- langkah mungilnya.
Semua orang bahagia. Apalagi si Abang, menatap baby perempuan yang berwajah imut, bibir merah dengan rambut lebat dan lurus, hidung mancung,
Dadunya bergayut indah, seperti dagu Momy. Sedang garis wajah mirip dengan punya Dady.
Untuk mata baby girl ini, tidak sipit dan tidak pula lebar.
" Adik Abang yang paling cantik dari semua....
Betapa imutnya dirimu sayang...
Gimana kalau Abang panggil adik Chalista Dady? " tanya Boy minta persetujuan pada Rendra saat memangku adiknya dirumah sakit. Boy meminta Dadynya meletakkan dimungil dipangkuannya.
" Gimana Mom? " tanya Rendra balik pada Istrinya.
" Apa Artinya sayang? " tanya Citra menatap putranya.
" Anak perempuan yang paling cantik dari semua. Kita kasih pendek aja namanya ya Dady,biar
Dady ngak susah nikahin dia kelak, pun Adik Chalista mudah diatur, kalau namanya kepanjangan, anaknya bawel ntar, Boy inginnya adik yang rajin, imut dan nurut. " kata Boy.
" Yang nurut diapain aja tu boneka sayang...bukan adik, kalau yang namanya manusia, pasti ada bawel dan tangkangnya sayang..." kata kakek Rinto menimpali.
" Nama itu doa kek, kalau namanya saja sudah ribet, gimana orangnya mau santai. " kata Boy memberi alasan.
"Iya deh...terserah yang punya adik aja. Pokoknya Dady setuju, yang penting Boy senang, mom senang dan semuanya bahagia. Okay?
" Yes! Boy akan jadi Abang sekaligus Gulu buat Chalista, makanya boy ingin adiknya yang lucu, imut dan nurut." kata Boy.
" Mudah- mudahan adiknya dengar tuh keinginan abangnya! " kata Aruna yang baru datang langsung
nimbrung.
" Eh...ada om ganteng yang Balu datang tu cayang, tuh liat " kata Boy pada adiknya.
" Kayaknya udah Couple nih om? " kata boy lagi menatap pria yang datang- datang sudah berdua itu.
" Iya lah sayang...kan Gitu maunya ponakan tercinta. " kata Aruna seraya mengecup kening Boy dan berganti pada Chalista.
Sedangkan Anne menyerahkan buket bunga dan kado pada Citra.
" Selamat atas kelahiran putrinya nyonya Bos..." kata Anne pada Citra.
" Ngak usah gitu manggilnya lah ne, panggil Citra saja, lagian ntar lagi Lo juga bakalan jadi nyonya Bos juga. " balas Citra.
" Belum pasti juga ny...Eh Cit. Udah 8 bulan belum dilamar juga nih. " Curhat Anne.
" Segera lah halalkan dia Arun! Emang mau cari kemana lagi, ntar dunia kiamat, kan rugi kalau Lo belum juga tuh ngerasain gimana dicerepetin sama
istri. " kata Rendra.
" Kalau punya istri hanya buat dicerepetin, aku ogah ah, mending di Cancel ! " kata Aruna seraya tersenyum geli.
" Justru diomelin itulah nikmatnya punya istri. Kalau belum punya istri ngak ngerasain gimana indahnya menaklukkan Siceriwis yang akhirnya jadi manis setelah dikasih gula- gula Cinta . " Kata Rendra yang membuat dua perempuan diruangan itu tersipu malu.
" Makanya Om, Boy ngusulin nama Chalista ngak usah dipanjang- panjangin. Biar Dady ngak makin keriting keningnya, kalau harus berhadapan dengan dua perempuan yang sama ceriwis. " kata Boy yang membuat semua orang tertawa terbahak,
sedang si Imut langsung merengek.
Hek...hek....Uha....Uha...." tangisnya mulai berirama. Dengan sigap Rendra mengangkat si imut dari pangkuan abangnya, dan diserahkan pada sang Momy untuk dikasih ASI.
Tuan Kimi berkaca- kaca menatap baby Girl mungil yang ada dipangkuannya. Sesampainya dari rumah sakit, Rendra langsung membawa sikecil kekamar kakek. Ia memamerkan putri kecilnya
pada sang kakek. Meletakkan Chalista dipangkuan Mr. Kims.
" Putrimu sangat cantik dan imut Ren. Kok bisa ya mirip dia? " Kata tuan Kim.
" Mirip siapa kek? " tanya Rendra penasaran.
" Mirip Almarhum nenekmu. Matanya, sama bibirnya. " Kata tuan Kims makin haru.
" Ya bisalah kakek ku sayang...kan Mak uo nya. Kan
sampai tujuh turunan rupa itu masih berpengaruh kek. Mungkin ia mengambil rupa dari nenek, karna waktu ngandung Chalista kan Momynya cintanya makin getol sama kakek. Dia saja mau nyetak anak perempuan buat nyenangin kakek.
" Kok kamu bilangnya gitu Ren, ngak karna masih cemburu sama kakek kan? " tanya tuan Kims dengan tatapan menyelidik.
" Ngaklah kakekku yang tampan, istriku sekarang sudah jatuh cinta setengah pingsan sama babang Rendra. He....He..." Kekehnya yang diikuti pula oleh sang kakek.
" Emang istriku ngomongnya gitu kek, kalau Boy lebih banyak ngurusin aku ketimbang aku yang ngurus dia sekarang sayang...Sedang kakek jauh lebih sehat, dan akan lebih sehat lagi kalau kita ngasih adik perempuan buat Boy..Katanya saat merengek, minta kerja dikantor jadi sekretarisku. " kenang Rendra.
" Mungkin karna itu juga kali ya? Oh ya sayang...siapa tadi nama si Imut ini? " tanya tuan Kims lagi, ia sekarang sudah banyak lupa, maklum usianya sudah lanjut. Untung akhir- akhir ini, jantungnya tak pernah kambuh lagi.
" Chalista..." jawab Rendra singkat.
" Kok bisa mirip juga ya, apa dirimu yang kasih nama itu? " tanya Mr Kims.
" Boy yang kasih nama Adiknya kek, sebenarnya tadi aku mau protes, karna nama nenekkan Chalina. Tapi mendengar putraku punya banyak alasan memberi nama itu pada adiknya, aku tak tega juga merusak suasana hatinya dengan penolakan ku.
" Ya memang ngak boleh ditolak, ini nama yang cocok dengan keanggunan putrimu. Boy memang
pandai memberi nama pada adiknya." puji tuan Kims.
Rendra akhirnya lega, ternyata apa yang diperkirakan istrinya benar, kakek sangat bersemangat punya cicit perempuan.
" Berarti kau jadi tokoh evolusi keluarga kita Ren! " tiba- tiba tuan Kims berseru.
" Maksud kakek?
" Kau merubah secara pelan- pelan,tatanan keturunan kita, dari anak satu lama- lama beranak dua, trus empat tahun lagi lahir lagi yang kembar mungkin. Mudah- mudahan turunan kakek makin banyak melalui dirimu sayang..." kata tuan Kims sembari mengusap pundak cucunya.
" Kalau nambah lagi, itu Rendra serahkan pada Tuhan kek, kalau dikasih lagi diterima dengan senang hati. Yang penting bagi Rendra sekarang, kita semua sehat walafiat. " kata Rendra kemudian.
" Amiin...." jawab tuan Kims.
Sedang si imut, hanya brrmain- main seraya mengerjapkan mata indahnya dipangkuan pak uonya.
" Sini Rendra bawa dia pada momnya ke,,, mungkin kakek sudah lelah. " katanya.
" Biarkanlah dulu sampai ia menangis keras mintak mimik. Baru kita berikan pada ibunya, sekarang kakek masih kangen! " kata tuan
Kims sembari tersenyum jenaka.
" Dasar tuan licik! " Semprot Rendra yang membuat
tuan sipit itu kembali terkekeh.
Bersambung....
Pagi- pagi baru bisa Up ni say... 🙏🙏🙏
kemarin hari yang sibuk, hingga ngak sempat, tapi jangan kapok mampir dan kasih pollow terus
ceritanya kita. Kalau waktu lapang kita lebihkan Up-nya.
Salam kangen selalu dari penulis. M...💓💓💓...h